…menulis untuk mencicil ketidaktahuan

Gerhana 1983 dan Kisah Saribulang

Posted in Abu Dhabi, cerita, Indonesia, Kenangan, Sejarah, Sulawesi Selatan by daengrusle on March 8, 2016

1-yfrvSXDpSLzHRW7rNBS5qg

Larangan pemerintah Orde Baru untuk menyaksikan gerhana matahari total 1983 dengan mata telanjang, yang ancamannya konon adalah kebutaan permanen, juga memunculkan kisah Saribulang, dukun perempuan cilik yang menemukan tuah di tengah riuh gerhana.

Ingatan tentang gerhana matahari di tahun 1983 selalu memunculkan satu nama di kepala saya, Saribulang. Beberapa hari selepas peristiwa gerhana matahari — yang oleh pemerintah Orde Baru diperlakukan sebagai peristiwa yang “berbahaya bagi mata”, nama Saribulang melesat kondang terutama di utara Makassar.

Awalnya Saribulang hanya anak perempuan biasa, kalau tak salah saat itu ia seumuran dengan saya, masih duduk di kelas 1 SD. Saribulang dan keluarganya menetap di salah satu rumah sederhana semi permanen di daerah pekuburan Beroanging, tepat di belakang rumah saya. Kala itu, wilayah di sekitar Beroanging adalah rawa-rawa yang kemudian ditimbun. Awal 1980-an orang-orang mulai berdatangan dan menjadikannya pemukiman, sebahagian besar menjadi petani tambak garam. Selebihnya menjadi pekerja bangunan. Kisah tentang Saribulang akan saya lanjutkan kemudian.

Kisah tentang gerhana matahari di bawah otak pemerintah Orde Baru adalah kisah yang sesungguhnya menyeramkan. Beberapa hari menjelang gerhana matahari total hingga puncaknya tanggal 11 Juni 1983, pemerintah melalui TVRI, satu-satunya siaran televisi saat itu, selalu mengulang-ulang peringatan tentang bahayanya menyaksikan gerhana matahari total dengan mata telanjang. Ancamannya ngeri; mata bisa buta permanen, dan tak bisa disembuhkan bahkan dengan operasi sekalipun. Dalam setiap “iklan” peringatan itu, pemerintah juga menyelipkan tatacara agar terhindar dari ancaman kebutaan; misalnya menutup rapat-rapat semua celah dan kisi-kisi rumah yang bisa dimasuki sinar matahari, tidak menyaksikan pantulan matahari bahkan melalui genangan air di baskom, dan sebagainya.

Peristiwa yang nampaknya mengerikan itu menjadi bahan obrolan semua anak-anak dan dewasa kala itu, hingga kami menunggu datangnya peristiwa langka dengan hati berdebar. Apalagi Makassar disebutkan sebagai salah satu kota yang akan terpapar gerhana matahari sempurna itu. Siapa yang tak takut ditimpa kebutaan permanen, yang tak ada obat yang bisa menyembuhkannya?

Pada hari kejadian gerhana matahari total itu, 11 Juni 1983 yang jatuh pada hari Sabtu, suasana di dalam rumah betul-betul gelap. Tak ada yang berani menyalakan lampu, juga semua celah yang bisa ditembus cahaya matahari ditutup dengan kain, sarung atau apapun yang kira-kira bisa dipakai. Kejadian yang berlangsung kira-kira 5–10 menit itu sangat mendebarkan. Saya pastikan kota Makassar saat itu lebih sepi daripada kuburan. Tak ada yang berani keluar rumah. Di rumah, mata kami terpaku pada layar kaca, saluran TVRI yang menyiarkan langsung kejadian tersebut. Dalam hati saya sempat khawatir, jangan-jangan TV saya juga akan mengalami kebutaan sempurna karena menyiarkan gerhana matahari total itu. Untunglah TV saya rupanya baik-baik saja selepas itu. Saudara saya yang lain, saking takutnya, membenamkan diri ke bawah bantal di kamar gelap, sambil menunggu gerhana berlalu.

Animasi kejadian gerhana matahari total 11 Juni 1983 bisa dilihat di link ini:

http://www.timeanddate.com/eclipse/solar/1983-june-11

*** (more…)

Advertisements

Riwayat Sebuah Buku Tua Tentang Makassar

Posted in Indonesia, Sejarah, Sulawesi Selatan by daengrusle on November 13, 2013
buku Gervaise ttg Makassar

buku Gervaise ttg Makassar

Buku kecil bersampul coklat itu dicetak dalam bahasa Perancis dengan judul “Description Historique du Royaume de Macaçar” (Deskripsi Sejarah Kerajaan Makassar). Penulisnya disebutkan bernama Nicolas Gervaise, seorang pendeta Jesuit berkebangsaan Prancis. Buku yang terdiri dari tiga bagian itu khusus mengulas tentang Kerajaan Makassar bertarikh tahun 1700.

Di laman website forumrarebooks – forum kolektor kitab kuno berbasis di Belanda, buku kecil berukuran setengah halaman folio itu tak tanggung-tanggung dilelang dengan banderol € 4,950 atau setara dengan Rp 75juta. Dalam katalognya bertema khusus Indonesia, buku ini termasuk yang paling mahal. Buku antik itu senilai dengan puluhan jilid ensiklopedia keluaran terbaru atau bahkan bisa membeli satu unit mobil murah asal pabrikan Jepang saat ini. Padahal, bagi pembaca di zaman sekarang tak ada yang begitu istimewa dari isi buku yang tebalnya 280 halaman itu, apalagi yang dipaparkannya tergolong informasi yang umum bahkan beberapa bagian malah sudah tak akurat lagi.

Usianya yang lebih dari 310tahun-lah yang mungkin menjadikannya teramat mahal dihargai oleh pengelola situs kurator kitab kuno itu. Diterbitkan lebih dari tiga abad silam, bisa menjadikannya sebagai buku resmi pertama yang diterbitkan oleh Eropa tentang Sulawesi Selatan. Bahkan mungkin termasuk buku terbitan Eropa paling awal yang mengulas Hindia Belanda, nama Indonesia saat itu. Sebenarnya buku yang dilelang ini hanyalah edisi kedua dari buku yang edisi pertamanya diterbitkan di Paris 12 tahun sebelumnya, 1688.

Meski dipercaya bahwa Sumatera, Jawa dan kepulauan Maluku sudah terkenal sebagai penghasil emas, padi dan rempah jauh sejak sebelum permulaan abad masehi, namun belum ada buku khusus yang diterbitkan mengenai Indonesia hingga tahun 1688 ketika buku edisi pertama “Description Historique du Royaume de Macaçar” diterbitkan. Buku “History of Java” karangan Sir Stamford Raffless yang terkenal itu, baru diterbitkan di tahun 1817, demikian juga buku Adolf Bastian yang mula memperkenalkan nama Indonesia “Indonesien oder die Inseln des Malayischen Archipel” baru diterbitkan tahun 1884.

Menarik bahwa dari penelusuran riwayat hidupnya, penulis buku ini diyakini tak pernah menginjakkan kakinya di Makassar, sehingga patut dipertanyakan dari sumber mana Gervaise menuliskan buku deskriptif dengan tebal 280 halaman ini. Dengan memberikan informasi detail tentang sejarah, tetumbuhan, adat kebiasaan, hingga makanan orang Makassar, ditengarai bahwa sang penulis memperoleh asupan informasi dari orang asli Makassar yang saat itu bermukim di Prancis. Apa yang dilakukan oleh orang Makassar di negeri yang jauhnya hampir separuh bola bumi di masa itu? Juga, mengapa yang disebutkan adalah kerajaan Makassar, bukan Gowa-Tallo sebagaimana yang umumnya dikenal. Makassar memang cukup dikenal oleh VOC dan para pedagang asing sebagai kota pelabuhan atau nama suku tetapi ia bukanlah nama resmi kerajaan maritim yang pernah sangat berkuasa di kepulauan timur nusantara abad 16-17M itu. Saat buku itu diterbitkan, Kerajaan kembar Gowa-Tallo baru saja ditaklukkan oleh persekutuan VOC – Bone yang dipimpin CJ Speelman – Arung Palakka dalam perang Makassar 1667-1669.

Riwayat buku tua tentang Makassar ini melebar jauh. Keberadaannya meninggalkan jejak sejarah; migrasi awal orang Makassar ke Eropa pada akhir abad 17 saat buku tersebut diterbitkan. Konon, itulah jejak diaspora orang Makassar pertama ke daratan Eropa yang dapat dilacak. Dua Indonesianis asal Prancis; Denys Lombard dan Christian Pelras memerlukan melakukan riset mendalam mengenai buku kecil ini. Hasil riset mereka kemudian diterbitkan dalm Jurnal Archipel terbitan Paris, Prancis edisi tahun 1971 (Lombard) dan 1997 (Pelras).

Tagged with: , ,

Wisata “Kembali” Ke Kampung Bugis

Posted in Indonesia, Kenangan, Sulawesi Selatan by daengrusle on April 6, 2012

WISATA “KEMBALI” KE KAMPUNG BUGIS:
Meretas Jalan Bagi Penyusur Jejak Pulang

Potensi wisata dengan menyajikan kenikmatan psikologis yang mengembalikan kenangan para perantau atau keturunannya sejatinya menjadi ceruk wisata yang menarik untuk digarap. Bukankah jutaan orang Bugis, Makassar, Mandar dan Toraja yang hendak kembali menelisik romantisme masa lalunya itu, menjadi pangsa pasar yang menjanjikan bagi lini pendapatan pemerintah daerah di sektor wisata?

Rumah Bugis (sumber: panoramio.com)

Rentang jejak perjalanan manusia terhampar karena dua hal; memuaskan hasrat keingintahuan atau menyusuri jejak ingatan yang tertinggal. Perjalanan wisata pun terkadang didasari oleh dua hal ini, dan kesadaran membangkitkan keinginan melakukan perjalanan yang paling kuat adalah untuk merawat kenangan, mengembalikan yang terlupa, dan memelihara ingatan untuk kembali: ke kampung halaman. Setiap menjelang libur lebaran, kita menyaksikan fenomena mudik yang massif hingga menjadi bahan liputan media massa. Juga di masa-masa libur sekolah, tidak sedikit orang memilih untuk kembali ke kampung bersama keluarganya.

Sejak bangsa-bangsa yang berdiam di semenanjung selatan pulau Sulawesi riuh dalam gejolak kekerasan dan peperangan di abad 17M, jutaan orang-orang Bugis dan Makassar meninggalkan negerinya ke seluruh penjuru bumi. Sebutlah misalnya yang termaktub di kitab-kitab sejarah: Karaeng Galesong dan keturunannya di Malang, Syekh Yusuf di Banten-Srilanka-Johannesburg, anak cucu Tiga Daeng di Johor Malaysia, Kaum Angke’ di Jakarta, kaum Loloan Bugis di Bali, pasukan Wajo di Bima, keturunan Daeng Mangkona di Kalimantan Timur, dan sebagainya. Sebahagian besar diantaranya berdiaspora karena mencari tanah yang lebih layak untuk dihuni secara ekonomis dan politis dibanding kampung asalnya.

Hal ini kemudian memunculkan satu segmen baru dalam laku budaya mereka yakni tradisi merantau, terutama bagi kaum Bugis dengan istilah “massompe” (bahasa bugis: berlayar, merantau). Hingga di abad modern kini, dengan motif yang berkembang hingga dorongan mendapatkan pendidikan yang lebih baik, setiap saat anak-anak dari suku bangsa deutero Melayu ini masih eksodus keluar dari negerinya.

Tradisi massompe’ kemudian melekat kuat sebagai cita-cita hampir semua lelaki di daerah ini, sekuat bayangan kesuksesan tergambar di benak mereka. Meskipun kemudian menetap dan beranak pinak di negeri rantau, namun dalam ingatan para passompe’ (bhs bugis: perantau, pelayar) ini masih tersimpan kenangan yang terawat awet, sebaik mereka menyimpan keinginan untuk menengok kembali tanah leluhurnya; menyusuri romantisme jejak pulang yang terlukis dalam bayangan mereka. (more…)

Siri na Pesse’ dalam Kekerabatan Masyarakat Bugis Makassar

Posted in Indonesia, Sulawesi Selatan by daengrusle on June 16, 2011

Takunjunga’ bangung turu’, nakugunciri’ gulingku, kualleangnga tallanga natoalia.

(Layarku telah kukembangkan. Kemudiku telah kupasang. Kupilih tenggelam daripada melangkah surut)

– Syair Sinrilik Makassar

 

Tidak ada yang lebih berharga dari sebuah kehormatan. Sejak manusia diturunkan ke bumi, maka berulangkali kita membaca bahwa penegakan kehormatan terkadang menjadi asbab munculnya banyak kronik-kronik yang berlintasan di lini masa sejarah manusia. Perang dan penguasaan adalah salah satu kancah yang distimulus oleh penegakan kehormatan ini.

Glory, Gospel dan Gold yang menjadi semboyan penaklukan bangsa eropa terhadap benua asia dan amerika juga dilandasi oleh semangat menancapkan kehormatan sebagai manusia yang unggul. Demikian juga bagaimana Hitler dan partai Nazi nya meluluh lantakkan Eropa dan sebagian Asia dan Afrika hanya demi didorong oleh prasangka keunggulan ras yang notabene juga adalah sebuah representasi penegakan kehormatan primordial. Hal yang sama juga dikenal dalam kultur Jepang: semangat bushido. (more…)

Tagged with: , , ,

Nama Makassar di Empat Negara

Posted in Indonesia, Sulawesi Selatan by daengrusle on June 7, 2011

 (foto: pelabuhan Makassar abad 17)

Makassar, selain dikenal sebagai ibukota propinsi Sulawesi Selatan, rupanya juga merupakan nama kota/tempat di empat daerah lain. Hampir semuanya punya kaitan historis yang erat dengan kota Makassar, di Sulawesi Selatan.

Berikut ini empat tempat yang bernama Makassar.

1. Kampung Makassar di Jakarta Timur

Kawasan yang dahulu termasuk Kampung Makasar dewasa ini meliputi wilayah kelurahan Makasar dan sebagian dari wilayah Kelurahan Kebon Pala, Kecamatan Kramat Jati, Kotamadya Jakarta Timur.

Disebut sebagai Kampung Makasar, karena sejak tahun 1686 dijadikan tempat pemukiman orang – orang Makasar di bawah pimpinan Kapten Daeng Matara. Mereka adalah para tawanan perang yang dibawa ke Batavia setelah takluknya Kerajaan Gowa, dibawah Sultan Hasanuddin tunduk kepada Kompeni VOC selepas Perang Makassar di abad-17. Perjanjian Bungaya yang mengakhiri Perang Makassar menyebutkan bahwa Gowa harus mengirimkan 1000 budak pria dan wanita ke Batavia sebagai tanda ketundukan.

Salah seorang putri Daeng Matara menjadi istri Pangeran Purbaya dari Banten yang memiliki beberapa rumah dan ternak di Condet, yang terletak disebelah barat  Kampung Makasar.

Pada awalnya mereka di Batavia diperlukan sebagai budak, kemudian mengingat krisis pasukan di kalangan serdadu VOC, orang-orang Makassar yang dikenal sebagai petarung ini dijadikan pasukan bantuan dan dilibatkan dalam berbagai peperangan yang melibatkan kompeni VOC di berbagai kawasan Nusantara. Diantaranya sempat ikut diterjunkan melawan perang Diponegoro (1725-1730), dll. (more…)

Singkong Goreng a la Abu Dhabi

Posted in Abu Dhabi, Sulawesi Selatan by daengrusle on June 5, 2011

Sejak menjalani masa kecil di Makassar hingga menikah dan punya anak, saya tak pernah bisa meninggalkan selera asal saya, terutama menyangkut soal kebutuhan lidah. Lidah saya sudah terkondisikan untuk lebih menyukai makanan yang asam dan agak pedes. Meskipun tentu saya juga harus selalu bisa beradaptasi dengan makanan tempatan manakala yang tersedia hanya itu, terutama di negeri jauh seperti Abu Dhabi ini.

Menyesuaikan lidah dengan makanan di sini awalnya sulit, karena begitu jauh bentang jarak kuliner antara Bugis/Makassar yang pedes asem dengan makanan arab atau india disini. Bukan cuman soal rasa, tapi juga soal bahan atau bahkan makanannya itu sendiri. Lebih banyak rasa aneg di lidah, ditambah lagi soal ukuran porsi makanan disini yang kalau di Indonesia dianggap sebagai porsi sopir/buruh karena saking banyaknya.

Tapi untunglah bahwa negeri ini dihuni mayoritas pendatang, sehingga bahan makanan bisa banyak ragamnya. Hampir semua bahan makanan disini, sayur, daging dan lain-lain diimport dari negeri seberang. Buah-buahan kebanyakan diimport dari Philipina (aneh ya, padahal Indonesia harusnya lebih kaya buah-buahan), sayur-sayuran diimport dari Asia Selatan (India, Srilanka), product snack  diimport dari Saudi Arabia atau ada juga produk local, juga ikan yang dihasilkan dari nelayan lokal. Beras diimport dari Mesir, India dan Thailand. Indonesia kebagian men-supply : INDOMIE dan Kertas! Eh, kertas bukan makanan ya, tapi ini miris soalnya hutan kita dibabat untuk menyuapi pekerjaan orang-orang disini. Jayalah negeri minyak ini, habislah hutan kita! (more…)

Tagged with: , , ,

Sinriliq Datu Museng – Maipa Deapati (1)

Posted in Indonesia, Kenangan, Sulawesi Selatan by daengrusle on May 24, 2011

(Ket gambar: Passinriliq, sumber link)

Saya menamai anak perempuan saya Maipa Deapati. Bagi orang asli Sulawesi Selatan, biasanya akan langsung paham bahwa nama ini adalah khas dari semenanjung selatan pulau Sulawesi itu. Nama Maipa Deapati, terabadikan dalam cerita folkrole rakyat Sulawesi Selatan yang mulanya dituturkan lisan dalam cerita sinriliq Datu Museng dan Maipa Deapati.

Sinriliq Datu Museng dan Maipa Deapati yang merupakan cerita percintaan abadi ini kemudian diadaptasi ke dalam bentuk sastra roman oleh Verdy R Baso diterbitkan Merappi Makassar tahun 1967. Hingga kini lakon Datu Museng – Maipa Deapati masih dipentaskan dalam drama pertunjukan di berbagai panggung kesenian.

 

Sinriliq atau sinrilik merupakan bentuk seni tutur puitis berirama yang dikenal oleh penutur bahasa Makassar. Di suku bugis, bentuk kesenian ini dinamakan Kacaping atau Akkacaping. Dalam budaya nusantara lain bisa juga ditemui ragam yang mirip, misalnya sinden di sunda atau jawa. Berbeda dengan budaya Jawa/Sunda, cerita Sinriliq dan Akkacaping ini dibawakan lansung oleh pemain music tunggal nya (solois).

(more…)