…menulis untuk mencicil ketidaktahuan

Hidup Riang Gembira

Posted in percikrenungan, Uncategorized by daengrusle on July 29, 2017

Dulu, saya mungkin termasuk paling antusias untuk bergelut dalam diskusi tentang bagaimana keyakinan ditempatkan, terutama di ranah maya. Mungkin sisa-sisanya masih ada sampai sekarang. Saking antusiasnya – ditambah bekal merasa diri benar, saya terkadang kepo bergerilya ke blog atau status social media kawan-kawan untuk mengklarifikasi pernyataan atau informasi yang mereka tulis yang menurut saya absurd, tak berdasarkan data, atau hanya sekadar persekusi tanpa sumber valid. Dahulu, dengan modal tekad “meluruskan” itu, saya memandang tema pemahaman agama sebagai hal yang sangat penting untuk di “diskusi” kan. Itu dulu, masa lalu.

Tapi kini, setelah melewati masa ke-kepo-an itu, pada titik tertentu saya merasa tak ada artinya segala bentuk kengototan dalam setiap diskusi. Sampai suatu ketika, ada quote Paulo Coelho yang berseliweran di timeline menyentak saya dengan bebaris kata-kata bijaknya ini “Don’t waste your time with explanations: people only hear what they want to hear” – gak usah habiskan waktu dengan penjelasan berbusa-busa, toh orang gak akan peduli – mereka hanya mau mendengar apa yang mereka suka. Baiklah.

Kita beruntung hidup di masa orang-orang sangat menghargai Hak Asasi, terlebih ada perangkat hukum yang membuat semua orang menjadi berhati-hati untuk mengambil tindakan. Di masa modern dengan pranata sosial yang sedemikian tertata baik, perilaku masyarakat mau tak mau dibatasi oleh norma-norma tersebut. Anda boleh berbuat apa saja, asal rambu umumnya jangan dilanggar. Anda boleh berkata apa saja, asal ingat jangan sampai membuat orang lain terluka. Anda boleh merasa diri benar, tapi tindakan anda dipantau oleh hukum. Hukum tentu jangkauannya lebih luas, tidak terbatas pada keyakinan diri benar. Di ranah hukum, keyakinan Anda akan berhadapan dengan kepentingan umum, kepentingan orang banyak, yang dilindungi oleh hukum positif.

**

Apa yang perlu dibagikan saat ini?

Tidak usah hal-hal berat. Sekira hendak menguliti sesuatu, maka seriusilah dengan menelisik ke sumbernya. Carilah ahlinya, atau bacalah buku yang membahas tuntas soal itu. Dari social media anda tak akan dapatkan, kecuali hanya serpihan atau kutipan yang tak tuntas. Jauh lebih baik membagikan hal-hal ringan yang membuat kawan manapun, rela melirik dan kemudian dengan senang hati memencet tombol “suka”.

Hidup memang harus dibuat sebahagia mungkin. Tak ada yang perlu dibuat susah, apalagi membuat kepala dan pikiran berkerut-kerut. Kita lahir tanpa memiliki apa-apa, ketika mati pun demikian, tanpa membawa apa-apa. Dunia ini kecil, remeh dan enteng. Untuk apa dibuat jadi beban berat.

Di linimasa kita banyak terdengar kabar kawan-kawan mati muda. Atau depresi, atau kecewa. Mungkin akumulasi dari semua kekecewaan itu mendatangkan beban jiwa, memudahkan penyakit masuk. Badan menjadi lemah, kematian sewaktu-waktu mengintai. Mati dalam keadaan depresi, kecewa atau susah itu begitu menyedihkannya.

Kalau memang mati itu keniscayaan, kenapa tak berusaha mati dalam keadaan riang gembira. Tak perlu susah-susah memikirkan hidup. Buat dia riang, apalagi ini hidup yang singkat.

Advertisements
Tagged with: , ,

Gerhana 1983 dan Kisah Saribulang

Posted in Abu Dhabi, cerita, Indonesia, Kenangan, Sejarah, Sulawesi Selatan by daengrusle on March 8, 2016

1-yfrvSXDpSLzHRW7rNBS5qg

Larangan pemerintah Orde Baru untuk menyaksikan gerhana matahari total 1983 dengan mata telanjang, yang ancamannya konon adalah kebutaan permanen, juga memunculkan kisah Saribulang, dukun perempuan cilik yang menemukan tuah di tengah riuh gerhana.

Ingatan tentang gerhana matahari di tahun 1983 selalu memunculkan satu nama di kepala saya, Saribulang. Beberapa hari selepas peristiwa gerhana matahari — yang oleh pemerintah Orde Baru diperlakukan sebagai peristiwa yang “berbahaya bagi mata”, nama Saribulang melesat kondang terutama di utara Makassar.

Awalnya Saribulang hanya anak perempuan biasa, kalau tak salah saat itu ia seumuran dengan saya, masih duduk di kelas 1 SD. Saribulang dan keluarganya menetap di salah satu rumah sederhana semi permanen di daerah pekuburan Beroanging, tepat di belakang rumah saya. Kala itu, wilayah di sekitar Beroanging adalah rawa-rawa yang kemudian ditimbun. Awal 1980-an orang-orang mulai berdatangan dan menjadikannya pemukiman, sebahagian besar menjadi petani tambak garam. Selebihnya menjadi pekerja bangunan. Kisah tentang Saribulang akan saya lanjutkan kemudian.

Kisah tentang gerhana matahari di bawah otak pemerintah Orde Baru adalah kisah yang sesungguhnya menyeramkan. Beberapa hari menjelang gerhana matahari total hingga puncaknya tanggal 11 Juni 1983, pemerintah melalui TVRI, satu-satunya siaran televisi saat itu, selalu mengulang-ulang peringatan tentang bahayanya menyaksikan gerhana matahari total dengan mata telanjang. Ancamannya ngeri; mata bisa buta permanen, dan tak bisa disembuhkan bahkan dengan operasi sekalipun. Dalam setiap “iklan” peringatan itu, pemerintah juga menyelipkan tatacara agar terhindar dari ancaman kebutaan; misalnya menutup rapat-rapat semua celah dan kisi-kisi rumah yang bisa dimasuki sinar matahari, tidak menyaksikan pantulan matahari bahkan melalui genangan air di baskom, dan sebagainya.

Peristiwa yang nampaknya mengerikan itu menjadi bahan obrolan semua anak-anak dan dewasa kala itu, hingga kami menunggu datangnya peristiwa langka dengan hati berdebar. Apalagi Makassar disebutkan sebagai salah satu kota yang akan terpapar gerhana matahari sempurna itu. Siapa yang tak takut ditimpa kebutaan permanen, yang tak ada obat yang bisa menyembuhkannya?

Pada hari kejadian gerhana matahari total itu, 11 Juni 1983 yang jatuh pada hari Sabtu, suasana di dalam rumah betul-betul gelap. Tak ada yang berani menyalakan lampu, juga semua celah yang bisa ditembus cahaya matahari ditutup dengan kain, sarung atau apapun yang kira-kira bisa dipakai. Kejadian yang berlangsung kira-kira 5–10 menit itu sangat mendebarkan. Saya pastikan kota Makassar saat itu lebih sepi daripada kuburan. Tak ada yang berani keluar rumah. Di rumah, mata kami terpaku pada layar kaca, saluran TVRI yang menyiarkan langsung kejadian tersebut. Dalam hati saya sempat khawatir, jangan-jangan TV saya juga akan mengalami kebutaan sempurna karena menyiarkan gerhana matahari total itu. Untunglah TV saya rupanya baik-baik saja selepas itu. Saudara saya yang lain, saking takutnya, membenamkan diri ke bawah bantal di kamar gelap, sambil menunggu gerhana berlalu.

Animasi kejadian gerhana matahari total 11 Juni 1983 bisa dilihat di link ini:

http://www.timeanddate.com/eclipse/solar/1983-june-11

*** (more…)

Malari 1974 dan Embrio Reformasi 1998

Posted in Indonesia, Renungan by daengrusle on January 15, 2014

 

Foto Peristiwa Malari 1974 (sumber: Majalah Tempo)

Foto Peristiwa Malari 1974 (sumber: Majalah Tempo)

Generasi muda Indonesia yang lahir paska 1980-an mungkin agak sulit menyusun imajinasi tentang peristiwa Malari yang terjadi 40 tahun silam. Juga tak banyak cerita tentang peristiwa ini didapatkan di buku-buku sejarah resmi yang dipakai di sekolah-sekolah. Padahal, peristiwa Malari ini sejatinya adalah gerakan koreksi pertama yang dilancarkan golongan menengah Indonesia (baca: mahasiswa) terhadap pemerintahan Orde Baru yang saat itu sudah berkuasa sejak 1967.

Nama Malari sendiri merupakan singkatan dari tanggal peristiwa itu: Malapetaka Lima Belas Januari 1974. Peristiwa yang lebih sering digambarkan sebagai kerusuhan sosial yang dipicu oleh demonstrasi mahasiswa Jakarta itu sendiri tumpas hanya dalam sehari oleh presiden Soeharto dan ABRI-nya. Tokoh-tokohnya baik yang terlibat secara langsung ataupun yang sekadar menginspirasi, ikut ditangkap atau jabatannya dicopot, termasuk Pangkopkamtib, Kabakin hingga Rektor UI saat itu. Namun riwayat Malari rupanya tak berhenti karena diberangus oleh rezim Orde Baru, ia menjelma menjadi bara yang setiap saat memantik pergerakan mahasiswa di tahun 1980an hingga kemudian puncaknya menghasilkan gerakan reformasi tahun 1998.

Malari dan Kapitalisasi Asing

Ada banyak peristiwa yang mendahului Malari. Deklarasi Golput tahun 1972 sebagai protes atas dominannya kekuasaan politik, protes pembangunan TMII 1972, kerusuhan rasialis di Bandung bulan Agustus 1973 hingga kedatangan ketua IGGI JP Pronk bulan November 1973 adalah diantaranya. Puncak peristiwa Malari sendiri terjadi saat PM Jepang Tanaka Kakuei melawat ke Jakarta (14-17 Januari 1974). Mahasiswa UI yang dipimpin Hariman Siregar, Syahrir dan lain-lain yang sejak lama menentang lubernya modal asing menggunakan momen itu untuk menggerakkan demonstrasi menentang modal asing, yang saat itu direpresentasikan oleh Jepang. Berawal dari long march mahasiswa dari Kampus Universitas Indonesia (UI) di Salemba menuju Kampus Universitas Trisakti di Grogol. Mahasiswa kemudian memaklumatkan Tritura 1974, yang meminta pemerintah menurunkan harga-harga, membubarkan aspri (asisten presiden), dan menggantung koruptor-koruptor. Mahasiswa kemudian membakar patung PM Jepang Kakuei Tanaka sebagai bentuk protes atas modal asing.

Demonstrasi itu kemudian berangsur ricuh dan memicu kerusuhan sosial di seluruh Jakarta. Mobil-mobil Jepang dirusak dan dibakar oleh massa, berikut perusakan dan penjarahan toko-toko yang dianggap representasi asing di Jakarta. (more…)

Haruskah Saya Berbangga atau Bersedih Karena Ini?

Posted in Abu Dhabi, Indonesia by daengrusle on June 21, 2011

Selain Indomie, produk asal Indonesia yang paling banyak ditemui di Abu Dhabi adalah kertas! Hampir semua buku, kertas fotokopi dan segala macam derivate produk tulis menulis ini diproduksi dari negeri saya tercinta: Indonesia!

Selanjutnya, saya hanya ingin mengutip apa yang saya baca di Wikipedia.

Menurut data Departemen Kehutanan tahun 2006, luas hutan yang rusak dan tidak dapat berfungsi optimal telah mencapai 59,6 juta hektar dari 120,35 juta hektare kawasan hutan di Indonesia, dengan laju deforestasi dalam lima tahun terakhir mencapai 2,83 juta hektare per tahun. Bila keadaan seperti ini dipertahankan, dimana Sumatera dan Kalimantan sudah kehilangan hutannya, maka hutan di Sulawesi dan Papua akan mengalami hal yang sama. Menurut analisis World Bank, hutan di Sulawesi diperkirakan akan hilang tahun 2010.

Praktek pembalakan liar dan eksploitasi hutan yang tidak mengindahkan kelestarian, mengakibatkan kehancuran sumber daya hutan yang tidak ternilai harganya, kehancuran kehidupan masyarakat dan kehilangan kayu senilai US$ 5 milyar, diantaranya berupa pendapatan negara kurang lebih US$1.4 milyar setiap tahun. Kerugian tersebut belum menghitung hilangnya nilai keanekaragaman hayati serta jasa-jasa lingkungan yang dapat dihasilkan dari sumber daya hutan.

Penelitian Greenpeace mencatat tingkat kerusakan hutan di Indonesia mencapai angka 3,8 juta hektare pertahun, yang sebagian besar disebabkan oleh aktivitas illegal logging atau penebangan liar (Johnston, 2004). Sedangkan data Badan Penelitian Departemen Kehutanan menunjukan angka Rp. 83 milyar perhari sebagai kerugian finansial akibat penebangan liar (Antara, 2004).

 (foto dari iklimkarbon)

Jadi, haruskah saya berbangga hati atau malah bersedih hati? 😦

Wisata Miskin Membuat pak Menteri Terhina, Lantas apa Mobil Dinas Mewah Crown itu tidak kurang Menghina nya?

Posted in Kenangan by daengrusle on January 20, 2010

Saya tentu bukan jenis manusia yang bersih dari segala kejumawaan. Karenanya, sering berintrospeksi diri sebelum dan sesudah menyampaikan serapah untuk hal-hal terlihat yang mengguncang nurani. Kadangkala malah saya menyerapahi diri sendiri, berhubung karena dengan congkaknya melakukan sendiri hal-hal yang seharusnya masuk dalam kantong sampah serapah saya.

Anyway, untung saya bukan pejabat publik. Hanya seorang pemimpin keluarga dan anggota masyarakat yang diberi fasilitas tidak sebanyak para pejabat publik. Jadi kadar dosa karena menggunakan fasilitas yang didapatkan dari uang rahayat juga tidak sebanyak kaum ambtenaar itu.

Terhinakan tentu ada kadarnya. Kadar terhina seseorang beda dengan yang lainnya. Terhina sangat berkaitan dengan pride atau kehormatan. Kalau kehormatan kita tersenggol sedikit apatah lagi tercabik, maka outputnya bisa disalurkan dalam bentuk kemarahan. Entah kemarahan yang diungkapkan dalam bentuk laku negatif, entah kemarahan yang dipendam dalam diam, cemberut atau pun doa sebagai korban kezaliman – tentu dengan perspektif kezaliman sendiri.

Pagi ini melihat berita di detik (Jero Wacik: Wisata Kemiskinan Menghina Kita), menteri Jero Wacik merasa terhina dengan adanya jenis wisata kemiskinan yang digelar oleh Ronny Poluan, dengan menggiring para wisatawan asing ke sentra-sentra pemukiman kumuh di seputar Jakarta. Tentu kita semua, warga ibu kota ini sudah terbiasa dengan tontonan mengenaskan yang ada di sekitar lingkungan kita. Saking terbiasanya, kita menganggap hal mengenaskan ini lumrah adanya. Inilah ampas dari sebuah modernitas, collateral damage dari sebuah ideologi pembangunan. Namun para turis bule itu pasti sulit mendapatkan tontonan ‘menarik’ ini di negeri mereka yang tergolong maju.

Ronny Poluan menyelenggarakan jenis wisata unik ini sejak tahun 2008, konon peminatnya cukup banyak. Bagi mereka yang sekedar hendak menengok kehidupan bawah dan ber-empati dengan hidup mereka yang susah, tentu wisata ini bisa menyegarkan nurani dan religiusitas mereka memaknai hidup yang kadang tak menentu. Roda berputar, mereka bisa jadi berganti kedudukan. Hidup memang tak bisa di-absolutkan.

Namun, kadar keterhinaan pak menteri perlu ada parameternya. Juga penyeimbangnya. Apakah memang wisata kemiskinan ini menghinakan nurani dengan standard yang semestinya, atau ternyata ini adalah sebuah cermin atas diri sendiri. Kalau wisata kemiskinan itu menghina kemanusiaan pak menteri, lantas apa atribut untuk sebuah kemewahan fasilitas yang diberikan kepada sang menteri itu sendiri? Sebuah mobil dinas mewah bertajuk Toyota Crown Royal Saloon apakah bukan merupakan sebuah penghinaan juga? Apakah ia tidak mencabik perasaan para pembayar pajak yang susah payah menyisihkan sebagian penghasilannya demi untuk menunjukkan baktinya kepada negara? Mobil dinas berbanderol nyaris Rp 1,3 milyard itu tentu bahkan dijejalkan ke dalam mimpi para pemukim kumuh pinggir rel kereta tidak akan ngepas, apalagi terbayang.

Terhinanya pak menteri adalah sebuah aib yang memercik ke muka sendiri!

=====
Rabu, 20/01/2010 13:08 WIB
Jero Wacik: Wisata Kemiskinan Menghina Kita
Nograhany Widhi K – detikNews


Dok. pribadi
Jakarta – Ada jenis wisata yang membuat Menteri Pariwisata Jero Wacik kesal. Wisata ini bukan untuk melihat keindahan Indonesia, tapi malah memamerkan kemiskinannya.

“Itu tidak ada wisata kemiskinan. Kalau ada orang yang menggagas itu saya tidak setuju. Itu menghina kita,” kata Jero Wacik di Istana Presiden, Jl Veteran, Jakarta Pusat, Rabu (20/1/2010).

Jero Wacik menyatakan, kemiskinan tidak boleh dipakai untuk berwisata dan seharusnya dientaskan. “Kemiskinan itu harus dientaskan dan itu merupakan tanggung jawab kita semua,” katanya.

Wisata kemiskinan digagas Ronny Poluan sejak Januari 2008. Ronny menawarkan tur ke daerah kumuh di Jakarta dan bukan lokasi bersejarah atau tempat-tempat indah dan modern, seperti yang dilakukan sejumlah biro perjalanan wisata pada umumnya.
(nal/iy)

======

Senin, 28/12/2009 11:33 WIB

Semua Pimpinan Lembaga Tinggi Negara Terima Toyota Crown

Elvan Dany Sutrisno – detikOto
Gambar
Mobil dinas Menko Perekonomian (hen)

Jakarta – Bukan hanya menteri yang mendapat mobil dinas baru Toyota Crown Royal Saloon. Semua pimpinan lembaga tinggi negara juga menerimanya.
(more…)

Tagged with: ,

Sadar nggak sih SEA Games lagi berlangsung?

Posted in Kenangan by daengrusle on December 8, 2009

Pada nyadar gak sih, saat ini sedang berlangsung pesta olahraga se Asia Tenggara atawa South East Asian Games – lebih kondang dengan SEA Games XXV di Vientianne Laos?

Dulu, di jaman saya masih sekolah di Makassar, sekitar tahun 1980-1990-an saya rajin menyimak TVRI yang menyiarkan secara langsung pesta olahraga bangsa-bangsa Asia Tenggara ini berlangsung. Siaran langsung maupun siaran tunda mendominasi sepanjang hari di TVRI, juga di beberapa TV swasta belakangan. Setiap selepas Dunia Dalam Berita TVRI yang kalau di Makassar jam tayangnya tepat jam 10.00WITA, maka akan ada laporan khusus bertajuk Dari Gelanggang ke Gelanggang -khusus SEA Games. Di ujung program acara itu akan ada informasi mengenai susunan perolehan medali emas.

Pembaca berita TVRI kala itu (Max Sopacua – skrg anggota DPR dari Fraksi Partai Demokrat, Luther Kalasuat, Yan Parta Wijaya, Inke Maris) dengan senyum sumringahnya selalu menghantarkan berita gembira atas keberhasilan atlet-atlet Indonesia mempecundangi atlet kontingen negara asing di berbagai event olahraga.

Kedigdayaan pahlawan olahraga Indonesia diatas atlet negara lain menjadi semacam tradisi membanggakan buat kita, sekaligus memupuk ke-jumawa-an atas superioritas bangsa kita. Saingan terberat kita hanya Thailand, sementara Malaysia dan Singapura ada dua level di bawah kita. Berikutnya ada Philipina Vietnam, Myanmar,  Laos, Kamboja apalagi Brunei Darussalam masuk dalam tim anak bawang yang kalau main sepakbola bisa membuat kesebelasan Indonesia kekenyangan GOL! (more…)

Tagged with: , ,