…menulis untuk mencicil ketidaktahuan

Lebaran Tak Berlebaran

Posted in Abu Dhabi, agama, Renungan, Uncategorized by daengrusle on June 26, 2017

11796213_10153430497541327_7660910469704979051_n.jpg

Ini tentang Lebaran yang tak lebaran. Tentang mesjid di dekat rumah saya.

Salah satu yang membuat saya selalu berusaha menyempatkan sholat berjamaah di masjid itu karena soal ringan: salaman dan jabat tangan. Di masjid-mesjid lain di negeri gurun ini, saya agak kesulitan menemukan “ritual” salam-salaman ini seperti yang saya alami waktu kanak-kanak. Mungkin karena ada fatwa sekelompok ulama yang menganggap salaman sehabis sholat itu bid’ah dan tidak ada dalil nya menurut mereka, selain juga berdoa sehabis sholat yang tak dilakukan berjamaah. Di masjid ini, bahkan kita bisa bersama-sama melantunkan doa dan munajat dengan suara nyaring pada bagian-bagian tertentu. Pada akhir doa, kita bersama mengakhirkan dengan bacaan sholawat dan alfatihah, kemudian menjulurkan tangan untuk bersalaman dengan jamaah yang ada di sebelah kiri, kanan, depan dan belakang. Persis di Indonesia.

Rasa bahagia berjamaah di masjid itu semakin membuncah ketika sholat jumatan. Pasalnya, sehabis ritual doa dan salam-salaman, akan ada sesi khusus untuk bersalaman dengan khatib yang juga merangkap sebagai imam sholat jumat. Para jamaah akan membentuk barisan antrian panjang seperti di pesantren. Yang menarik bahwa kita tak hanya bersalaman, tapi juga berkesempatan mencium kening, atau sekira memungkinkan bersentuhan pipi kanan dan kiri dengan sang Imam. Betapa bahagianya! Saya kadang menambahi dengan merapatkan wajah dan hidung saya ke jubah sang Imam tepat di dada kanannya. Wangi harum jubah dan rasa takzim bercampur baur setelahnya.

Saat akhir Ramadan kemaren, masjid ini menyatakan bahwa bulan puasa genap 30 hari. Hal ini menjadikan penentuan 1 Syawal berbeda dengan pemerintah setempat yang diumumkan sehari sebelumnya. Ketika saya menemui Ejaz, salah satu petugas di Mesjid itu, dengan wajah tersenyum dia berkata singkat, “Iya, hari Eid kita jatuh di hari Senin, bukan Ahad seperti yang lain. Tapi kita tak menyelenggarakan sholat Eid tahun ini”.

Saya tak perlu menanyakan musababnya. Dalam hati saya mencoba mencari pembenaran. Mungkin mereka hendak menjaga situasi yang nyaman untuk semuanya. Perbedaan tak melulu mesti ditunjukkan ke semua orang, terkadang keharmonisan bermasyarakat menjadi hal yang jauh lebih penting. Di tengah keriuhan dunia yang rawan oleh konflik sektarian, bersabar dan mendiamkan diri tentu lebih baik. Dan kegiatan di masjid itu kembali berjalan normal tanpa berubah sedikitpun, meski tanpa Sholat Eid.

Oh iya, Masjid itu bernama Al Rasool Al A’adham Mosque, atau Mesjid Rasul (Muhammad) Yang Agung. Di dinding depannya, terpampang lima nama sosok suci keluarga Rasul; Muhammad, Ali, Fatima, Hasan dan Husein. Mesjid ini menjadi tempat peribadatan muslim bermazhab Jakfari yang bermukim di kota ini. Tahun ini, mereka berketetapan untuk tak menyelenggarakan sholat Eid di masjid itu karena jatuhnya berbeda dengan masyarakat setempat. Mereka ber-lebaran di hati.

Tagged with: ,

NEGERI HALIMUN, HARI LAHIR NABI

Posted in Abu Dhabi by daengrusle on January 3, 2015

Abu Dhabi, pagi 3 Januari 2014 pukul 07.00

Ini belumlah puncak musim dingin, tapi pagi pukul 07.00 seperti mengubah negeri ini serupa negeri atas awan. Sekeliling hanya ada halimun, mengaburkan pandangan dan dinginnya menggigit hingga ke tulang.

Tak terbayangkan dulu seorang manusia mulia yang terbangun di subuh hari menembus kabut yang pekat, menyahuti seruan Tuhan, mengajak menyusuri jalan kebenaran. Tanpa selimut tebal, tanpa dinding tebal, tanpa pemanas penghangat tubuh. Subhanallah. Salam atasmu wahai Nabi mulia, yang menggenggam halimun dan membakar jiwa dgn kerinduan padaNya. Selamat ulangtahun Rasul agung yg selalu kami rindui di segala musim.

Tagged with: ,

Lima Kali Januari Di Abu Dhabi

Posted in Abu Dhabi by daengrusle on January 2, 2015

Bersama Team Sepakbola Martabak Saat Acara Lomba 17an Yang Diselenggarakan KBRI Abu Dhabi

Kembali lagi Januari, bulan yang dingin dengan pagi yang selalu pekat. Di bulan ini, di sini, hari masih buram meski jam menunjuk angka tujuh. Dan ini membuat orang malas melepas selimut, terutama anak-anak. Pun mandi di bawah suhu 12-15 derajat tentu bukan mandi yang riang. Meski dengan kran pemanas, tak ada yang bahagia diguyur air di pagi yang menggigil.

Tapi inilah Januari bulan yang dulu membuat saya terlontar jauh dari kampung halaman. Awal Januari 2011 lalu, bersama seorang kawan, saya menjejak di dinginnya tanah yang asing, Abu Dhabi. Kota yang kalau diterjemahkan menjadi “Bapak si Menjangan” ini ternyata tak sedingin Januari. Setiap bersua orang, anda akan selalu disapa dengan panggilan “my friend” “shadiqi” “habibi” dan segala panggilan hangat lainnya. Acap pula karena dianggap berwajah identik, orang-orang memanggil saya dengan “Kabayan”, “Phok” atau “Pare”. Ketiganya adalah idiom Tagalog untuk memanggil mereka yang berasal dari Philipina. Di awal saya masih sering berusaha meluruskan dengan menyanggah “My friend, I am Indonesian, not Pinoy”. Tapi rupanya itu tak menghentikan anggapan umum. Jadilah saya kemudian merasa larut menjadi orang Pinoy, dengan segala konsekuensinya: merasa orang Philipina adalah sebangsa saya, bersimpati dan meraih simpati dari mereka dan sesekali mendapat privelege dari petugas atau pelayan Pinoy di tempat tertentu. Selain juga diserang oleh pandangan sukacita sekeliling kalau melihat wajah pinoy seperti saya masuk ke mesjid.

Kini, sudah lima kali Januari menyapa saya di Abu Dhabi. Tak pernah merasa menyesal menjadi penghuni kota yang penuh kotak-kotak ini. Kota yang dengan tingkat kemacetan sangat rendah dan kriminalitas nyaris nihil ini adalah kota yg ramah buat siapa saja. Kulinernya pun sungguh bersahabat di lidah orang Indonesia, sambil sesekali mengecap masakan Asia lainnya; Biryani, Nasi Mandi, Menu Philipina, Thailand, Vietnam, dan negeri serumpun Malaysia.

Tuhan terlalu baik menyelamatkan saya dan keluarga dari segala keluh para kaum urban. Tapi Tuhan juga terlalu bijak membuat saya mencintai Indonesia melebihi kadar ketika saya masih berada di dalamnya secara fisik. Di negeri yang tanahnya berbagi benua dengan makam para Rasul dan Imam agung ini, menjadikan kita memiliki lebih banyak waktu untuk berpikir, membaca dan menulis (juga bermain). Teman-teman baru serupa keluarga jauh yang karib sepenanggungan. Alhamdulillah. Lima kali memeluk Januari di Abu Dhabi adalah nikmat yang teramat layak disyukuri.

Tagged with: ,

Sekolah Mahdi di Abu Dhabi

Posted in Abu Dhabi by daengrusle on May 5, 2011

Sekolah Mahdi

 

Sejak awal April 2011 lalu, Mahdi sudah mulai bersekolah. Nama sekolahnya Jubilee International School, konon sekolah arab/lokal yang disulap jadi sekolah international. Sekolah ini, menurut salah satu sopir taxi yang pernah saya tumpangi, dulunya bernama Sekolah Jabar Ibn al Hayyan yang khusus mendidik anak-anak local. Baru beberapa tahun belakangan mereka membuka kelas internasional dengan kurikulum berbasis Amerika (sigh).

 

Letak sekolahnya di daerah Madinat Zayed, tengah kota AbuDhabi. Posisinya berada di belakang Madinat Zayed Mall, tapi kalau ngomong ke sopir taxi nya bilangnya di belakang Shoe Mart. Di dekat Jubilee ada juga sekolah lain, tapi kelihatannya sekolah Arab: Madrasah Abdullah bin Ouyainah .

 

Di kalangan masyarakat Indonesia di Abu Dhabi, sekolah Jubilee ini cukup popular. Ada puluhan anak Indonesia yang sekolah di sana. Dan kelihatannya, anak-anak Indonesia disana well-accepted. Pada saat registrasi, Vice Principal nya, Madam Solafa akan sumringah kalau dia tahu kita dari Indonesia. Dia sepertinya hapal nama anak2 Indonesia yang sekolah di situ. Ada juga banyak anak-anak Malaysia yang bersekolah disini. Kelihatannya memang sekolah ini favorit untuk anak2 Asia Tenggara.

 

Sebetulnya Mahdi baru akan terdaftar secara ‘resmi’ di bulan September 2011 nanti, di kelas Grade-1. Namun mengingat terlalu lama waktu ‘nganggur’nya, pihak sekolah membolehkan Mahdi untuk mengikuti kelas KG 2 (Kinder Garden 2). Kebetulan ada salah satu siswa dari Malaysia yang berhenti karena orang tuanya mudik ke Malaysia, jadilah Mahdi diijinkan untuk menggantikan kursinya.

 

Ketika didaftarkan ke sekolah ini, Mahdi dan Maipa – yang juga ikut mendaftar utk kelas KG 1 bulan September 2011 nanti, harus menjalani test wawancara langsung dengan Madam Solafa. Wawancara nya hanya ditanya nama, ditanya gambar dan angka, tapi semuanya dalam bahasa Inggris. Meski sudah diajarin di rumah, Mahdi dan Maipa seperti mengkerut di depan Madam Solafa. Mereka diam dan kelihatan takut, tapi lucu sekali ekspresinya.

 

Awal masuk sekolah, Mahdi masih resisten. Alasannya, dia gak punya teman disitu. Belum lagi ada barrier bahasa yang mungkin membuat dia sungkan. Perlu effort berlebih untuk membangunkan, memandikan dan memakaikan seragam untuk Mahdi. Tapi belakangan sudah lumayan tidak resisten lagi, mungkin karena dia sudah punya kawan sesama Indonesia di kelasnya. (berarti selama 2 pekan bersekolah disitu, dia tidak tahu kalau ada juga anak Indonesia disitu. Baru setelah ikut pengajian di KBRI dia ketemu ‘temen kelasnya’ yang rupanya anak Indonesia bernama Raska, anak pak Ahmad ketua IA –ITB UAE).

 

Kelihatannya sekolah tempat Mahdi belajar cukup bagus, meski bukan yang terbaik di Abu Dhabi. Tapi satu yang membuat nyaman adalah antusiasnya pihak sekolah menerima kami. Guru2nya yang sebahagian orang Philipina juga kelihatannya baik-baik saja. Tapi satu yang membuat saya juga agak heran, hamper tiap hari Mahdi diberi Homework banyak sekali, mulai dari pelajaran menulis, membaca, berhitung sampai bahasa arab.

 

Anyway, sudah 3 hari Mahdi tidak masuk sekolah. Sejak senin kemarin dia kena cacar air dan mesti beristirahat paling tidak 10 hari. Mahdi kelihatan senang dengan ‘libur’ ini…hehehe.

 

Get well soon, son!

Tagged with: , , ,

Kronik Abu Dhabi: Menjadi Abu, Menyisir Debu

Posted in Renungan by daengrusle on February 7, 2011

Mungkin ada sekitar 25tahun lebih sejak terlahir di dusun kecil bernama Sempangnge, Wajo Sulawesi Selatan, tak pernah rasanya berinteraksi langsung dengan peradaban asing. Interaksi tak langsung dan terbatas hanya melalui bacaan atau tontonan, dan di kepala ada selintas imajinasi iseng apakah betul ada kampong dengan penduduk berkulit putih, merah atau hitam yang berbicara dengan bahasa aneh yang tak pernah kami pahami sebelumnya. Atau jangan-jangan semuanya itu hanya skenario ilusif saja atau manipulasi gambar yang dilakukan pihak tertentu, seperti di film Truman Show (1994).

Interaksi awal mulai terjadi ketika pertamakali bekerja di Jakarta, satu dua orang rekan kerja berbangsa asing berkulit putih. Kemudian berlanjut ke tahun-tahun berikutnya, namun tak pernah terlintas akan membaur dan bekerja di tanah asing. Angan-angan bekerja di luar negeri mungkin sekali dulu ada, tapi itu hanya seumpama pungguk merindukan bulan. Apalagi melihat kemampuan diri yang tidak seberapa dibanding yang lain.

Satu hal yang mungkin memupuk rasa percaya diri adalah bahwa saya pernah menempuh pendidikan di salah satu institusi perguruan tinggi terbaik di Indonesia. Namun tentu saja itu tak cukup. Selain kemampuan teknis, keterampilan berkomunikasi dan kematangan berpikir adalah kunci untuk menembus lingkungan asing tersebut. Tentu saja saya merasa tak memiliki modal yang cukup untuk itu. Ibaratnya, saya hanya abu yang berharap diterbangkan angin ke negeri seberang, hanya debu yang berharap menempel di sepatu atau roda agar bisa berpindah ke jejak yang lain.

Sampailah datangnya tahun 2011, tahun yang mungkin menjadi batu jejak saya untuk lompatan hidup berikutnya. Jejak yang sama sekali baru, dengan segenggam harapan yang dipaksakan ikut jua melompat naik. Kini di Abu Dhabi, kota kecil di kawasan seberang, berjarak 8 jam perjalanan udara dari Jakarta, saya mulai menjejak di awal 2011. Banyak yang harus ditinggalkan dengan keputusan ini, namun jauh lebih banyak lagi yang akan diraup setelah ini. Itu sejenis doa, dan semoga bukan sebaliknya. Resiko terbilang mungkin akan banyak, namun seperti yang saya yakini sejak dulu, tak pernah ada pilihan yang salah.

Pilihan adalah sesuatu yang bebas nilai ketika diambil dari kotak keputusan. Yang mungkin perlu dimaklumi adalah konsekuensi-konsekuensi yang akan menyertainya. Jangan berharap bahwa kehidupan akan mulus seperti permukaan kaca, hidup seperti itu tentu tak layak dijalani karena tak member pelajaran untuk memaknai bagaimana memperjuangkan hidup.

Disini, saya berharap menjadi abu dan debu yang bergerak makin ‘dekat’. Dekat sedekat nadi di leher. Dekat secara spiritual, semoga. Karena hakekat kehidupan spiritual adalah sebuah perjalanan, bukan stagnasi.

Tagged with: