…menulis untuk mencicil ketidaktahuan

Pantang

Posted in Uncategorized by daengrusle on March 11, 2016

book2.jpg

Malam ini saya melirik tumpukan pakaian yang habis dicuci dan digosok di kamar saya. Juga beberapa lemari yang isinya berlembar-lembar pakaian milik saya dan anak-anak. Nyaris penuh. Tiba-tiba ingatan saya terlempar kepada seorang kawan lama di Bandung dulu, 20 tahun yang lalu.

Kawan saya itu merasa pantang memiliki pakaian lebih dari yang dia butuhkan. “Saya takut berdosa, memiliki sesuatu yang tidak saya butuhkan” begitu alasannya. Ketika ia kuliah, ia hanya memiliki tidak lebih dari tiga pasang pakaian. Jadilah ia hanya memakai pakaian itu-itu saja. Tapi ia tak malu, malah kelihatan bangga dengan segala kesederhanaan itu.

Saya yakin sebetulnya ia punya uang dan mampu membeli berlembar-lembar baju atau celana. Di rumah kontrakannya yang ia sewa sekian juta setahun, ia menampung kawan-kawannya yang kesulitan menyewa kost-kostan. Jadilah rumah kontrakannya menjadi semacam penampungan mahasiswa. Semua kawan-kawannya boleh menempati kamar yang tersedia, kecuali kamar paling atas yang paling kecil dari semua kamar yang ada. Di situlah ia tinggal, berhadapan langsung dengan ruang terbuka tempat menjemur pakaian sehabis dicuci. Di kamar kecilnya itu, lebih tepat disebut kamar loteng, ia tidak punya banyak barang kecuali satu rak buku dan lemari plastik kecil. Bukunya pun tak banyak, meski saya tahu ia seorang pembaca yang lahap. Saya membayangkan ia memperlakukan buku sebagaimana pakaiannya, seterbatas mungkin. Selesai membaca, semua bukunya akan ia hibahkan ke teman-temannya yang tertarik.

Suatu hari saya mendengar ceritanya yang lebih mengagetkan. “Rus, saya sebetulnya tak kuliah lagi. Saya memilih berhenti kuliah di ITB meskipun hanya menyisakan Ujian Tugas Akhir saja” ujarnya santai ketika itu. Ia juga memperlihatkan lembaran-lembaran kertas pemrograman yang dia katakan adalah rancangan Tugas Akhirnya itu. “Kenapa, Mas? Tanyaku keheranan tentu saja. Jurusan yang ia lakoni saat itu adalah jurusan terbaik yang dimiliki ITB. Berhenti kuliah dari jurusan terbaik di kampus mentereng itu tentu akan selalu menyisakan pertanyaan besar membingungkan untuk semua orang. “Apakah mas punya mata kuliah yang tak bisa selesai? Dia menggeleng, sambil membangunkan nalar saya bagaimana bisa seorang mahasiswa yang hanya menyisakan Ujian Tugas Akhir masih menunggak mata kuliah. “Bukan. Saya hanya merasa tak perlu mengejar gelar kalau hanya hendak meraup semua ilmu yang ada” jawabnya sambil tersenyum. “Tapi sayang sekali ya, Mas?

Saya berpikir bahwa kawan dengan kesederhanaan seperti itu, juga dengan keyakinan hidup yang mungkin tak mampu saya bayangkan, menganggap gelar kesarjanaan juga pantangan buat dirinya. Sebagaimana pakaian menurutnya. Dan malam ini saya menjadi gugup melihat lemari pakaian saya yang kini nyaris penuh.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: