…menulis untuk mencicil ketidaktahuan

Sajak-sajak yang dimuat Lombok Post

Posted in Uncategorized by daengrusle on January 17, 2016

6f2a8ad7-582e-4c70-9fc8-84a7a844c6e5

Sajak-sajak saya hari ini dimuat Harian Lombok Post, edisi 17 Januari 2016.

Sehimpun Rindu

Setiap pagi, di seberang jalan. Aku membayangkan dirimu melambai selalu. Menawarkan sehimpun bebungaan yang basah oleh embun subuh. Aku berharap senyumku selalu bisa menyeberangkan tubuhku. Tapi jalan di hadapan kita selalu ramai, oleh waktu, oleh jarak.

Kau tahu, berhari-hari kucari cara untuk masuk ke ruang ingatanmu. Memanggil-manggil kenangan yang karam di lautan lupa. Memanggul setiap lukisan di masa lampau, membawanya kembali ke setiap malam. Aku berharap malam meluruhkan ingatan-ingatan itu. Menjadikan ia puisi, agar kujadikam selimut untuk memeluk tidurmu. Menjadi mimpi, barangkali.

Ketika malam luruh, aku ingin menjadi dingin.

Menjilati sekujur rambut di kulitmu. Agar tubuhmu merekah mencari pelukan-pelukan.

Pelukan-pelukan itu kemudian kurangkai menjadi selimut, menghangatkanmu – kala dipeluk dingin. Ketika malam luruh.

[Abu Dhabi, Oktober 2015]

pagi ketika kita tak bersama lagi

seperti matahari, jejak kita seumpama pejalan timur ke barat / melewati alur waktu, merekam kelebatan gerak / hingga tiba senja kala, lantas semua beku dalam setumpuk kenangan

ketika pagi terbangun, dan pelukan masih terasa hangat / ingatan yang segar membuka kembali
memekarkan dada seperti kuncup mawar / kita mengisinya dengan segala, berbagi puja
tapi waktu menumpahkannya, tak bersisa. di ujung pagi.

terik siang seperti malu, menghangatkan ingatan terlupa/ dan mengeringkan duka seperti rimbun semak yang kering / karena telapak telanjang kita meluluhkannya/ menjadi remah yang buruk, serpihan bara/
kita terbakar lupa.

kini senjakala tiba lagi,/ yang terbakar ‘lah padam, yang terlupa mungkin kembali / senja yang muram, menunggu bulan yang bersolek / didekapnya gelap dan meresapkan sunyi,/ malam bergegas menyelimutinya, dengan mimpi, / dan mengembalikan ingatan yang hilang / hingga pagi ketika kita sadar, tak bersama lagi.

[Abu Dhabi, April 2015]

 

ajari aku lagi, Bapak!

dan beku,
semua ingatan, melambai lesu
pada ruas-ruas buku
sehangat jejak jemari tuamu,
tersisa di setiap sudut lembar

dan lihatlah kini mataku memanjat kenangan
pada deretan kata seperti tahun berlalu
mengendapkan waktu, dan
mereka ulang garis bibirmu
menuntun aku pulang
ajari aku lagi, bapak
mengeja segala, seperti pelukmu!

[Abu Dhabi, November 2014]

 

 

jalan pulang

kau tahu, aku seumpama pelaut sendu
yang mencoba berlabuh di matamu;
telaga yang hendak tumpah itu

tapi seikat pelukan menarikku pelan
mengubah debur ombak menjadi endapan bisu
layarku terkulai dan terperangkap dalam lautan senyap
aku tahu, aku takkan bisa mendayung lagi

tapi rentang pelukmu seperti mata ibu,
madrasah yang mengajarkan ribuan pelukan
aku menyebutnya tempat kembali
jalan pulang selengang kenangan

[Abu Dhabi, Desember 2012]

 

menunggu

aku lelaki yang diterbangkan senja
berteman kepak sayap burung
bernyanyi lagu hujan

jauh dibawah ada perigi sepi
di sisinya duduk perempuanku, tersipu
menanti diseberangkan kenangan
digenggamnya gayung harapan
dan lonceng pemanggil kekasih

rinai hujan turun satu satu
mengeja debu
mencari bebaris pesan dari nelayan
perahu cintanya tertambat di kejauhan

kapan engkau datang menyeberangkan perempuanku?

katamu, nopember tahun ini
datang membawa berita
sabarlah wahai lelaki setengah senja!

aku lelaki setengah senja
menunggu dengan tekun
di sini, di antara senja yang diusap
oleh hijau dedaun malam…

[Balikpapan, Agustus 2007]

  

Percakapan dengan Diana

Kita hanyalah sekumpulan perantau yang mengais remah di titian masa, tanpa sadar kita ‘kan muncul di satu ruas dan menghilang di ruas lain.

Menjejak pada titian, kita tahu ia teramat rapuh, dan padanya kita tak sanggup menaruh harapan, tapi menggantung rasa percaya bahwa ia membawa kita menuju sesuatu

Kita bergelut dengan kehidupan, juga kematian, dan menimbangnya seakan dua hal yang bermusuhan, meski keduanya adalah keniscayaan, kita akan melarung jiwa pada keduanya.

Hidup hanyalah cermin dari kematian, bahwa saat ruas di titian sudah tak lagi dijejaki, kita akan menjalani titian yang lain, sama dan sebangun.

Bogor, May 2011

 

daengrusle, lahir di Sempangnge Wajo tahun 1976, gemar menulis dan sempat bergabung dalam komunitas jurnalisme-warga. kini menetap di Abu Dhabi, United Arab Emirates dan bisa dihubungi melalui http://www.daengrusle.wordpress.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: