…menulis untuk mencicil ketidaktahuan

Tips Menulis: Riset Sebelum Menulis, Pentingkah?

Posted in Blogging, My Self-writing by daengrusle on December 8, 2015

Menulis memang kegiatan yang mengasyikkan, selain membaca. Dengan menulis, kita berusaha menyampaikan isi pikiran kita tentang sesuatu hal ke dalam media yang bisa dicerna oleh pikiran pembaca. Pembaca bisa meraup informasi dari tulisan kita sehingga memberikan manfaat buat mereka. Namun apa jadinya kalau tulisan kita malah mengundang malu karena apa yang disampaikan ternyata keliru?

 

Yang Umum Belum Tentu Benar

Seorang blogger yang menggemari sejarah lokal menulis di blognya: “Kerajaan Makassar merupakan kerajaan pertama dan terbesar di Sulawesi Selatan. Sejak awal, kerajaan ini turut aktif dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia dengan mengusir penjajah Belanda dari bumi Angin Mamiri

 

Sepintas, tulisan singkat itu tak ada salahnya. Pemahaman sejarah masyarakat kita memang demikian umumnya tentang Makassar. Namun, bagi mereka yang bergelut dengan bacaan sejarah, alinea singkat itu mengandung beberapa kesalahan mendasar sebagai berikut;

1-     Kerajaan Makassar tidak pernah ada dalam lintas sejarah. Makassar hanyalah sebutan untuk sebuah kota pelabuhan di lingkup kerajaan kembar bernama Gowa dan Tallo.

2-     Kerajaan itu pun – kalau yang dimaksud adalah Gowa-Tallo, bukanlah yang pertama di Sulawesi Selatan. Masih ada beberapa kerajaan yang mendahuluinya, misalnya Kerajaan Siang di Pangkep. Juga ada kerajaan Luwu dan Bantayan yang dicatat dengan rapi dalam epos La Galigo.

3-     Kerajaan ini pernah terlibat perang dengan VOC pada pertengahan abad 17. VOC adalah perusahaan swasta dan bukan representasi resmi kerajaan Belanda. Karenanya agak keliru menyatakan bahwa Gowa-Tallo mengusir Belanda. Apalagi, dalam peristiwa yang terkenal dengan nama “Perang Makassar”, VOC keluar sebagai pemenang.

4-     Kerajaan ini mengalami puncak keemasannya di abad 16&17, saat negara Indonesia belum lahir. Karenanya tak tepat menyatakan bahwa ia aktif memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sebelum ide tentang negara kesatuan Indonesia hadir, kerajaan-kerajaan yang ada di wilayah Nusantara berjuang menegakkan kedaulatannya masing-masing.

5-     Penyebutan Angin Mamiri juga kurang tepat, karena penulisan yang benar dan disesuaikan dengan lidah pengguna Bahasa Makassar adalah Anging Mammiri.

Anda bisa menambahkan lagi daftar panjang kekeliruan dalam satu alinea itu. Tentu masih ada saja ide yang bisa diperdebatkan, misalnya apakah betul Makassar (atau Gowa-Tallo) itu merupakan kerajaan terbesar yang pernah ada di Sulawesi Selatan, dan sebagainya. Dari situ kita bisa melihat, betapa banyak kekeliruan yang bisa dijejak hanya dari dua kalimat itu. Semangat menuliskan isi pikiran memang perlu, namun hal penting lainnya adalah menulis dengan seksama.

Ada baiknya menanamkan dalam pikiran kita bahwa apa yang dipahami secara umum belum tentu selalu benar. Diperlukan bukti atau fakta atau rujukan pendukung untuk mengklarifikasi pemahaman kita. Apalagi di era internet dan social media yang menyediakan informasi demikian cepat dan melimpah. Orang bisa dengan mudahnya terlibat dalam penyampaian informasi yang keliru, hoax, dangkal dan memalukan. Diperlukan kehati-hatian dalam menyaring informasi, apalagi kalau kemudian menuliskan dan menyebarkannya.

Riset Itu Sederhana Tapi Penting

Kekeliruan dalam menulis dapat dihindari dengan melakukan riset dengan mengumpulkan ragam informasi tentang hal yang hendak kita tulis. Riset juga tak mesti lama atau ribet dengan membaca banyak buku referensi atau mewawancarai beragam sumber. Untuk tulisan yang bersifat personal atau ringan, cukup riset singkat saja dengan membaca informasi di internet atau bertanya ke mereka yang dianggap memiliki pengetahuan dan pengalaman tentang hal itu.

Menulis itu juga seperti meminjamkan mata dan pengalaman kita untuk dipakai pembaca ketika membaca tulisan kita. Contohnya ketika Anda hendak menuliskan cerita saat berkunjung ke sebuah pasar tradisional. Sebetulnya tulisan ini ringan saja, karena hanya menceritakan pengalaman beberapa saat saja menghabiskan waktu di pasar tersebut. Namun bagi pembaca – demi meresapi informasi dalam tulisan itu – menjadi hal penting sekiranya Anda perlu juga memasukkan beberapa informasi rinci tentang pasar tersebut. Misalnya lokasi pasar tradisional tersebut, dengan menyebutkan nama jalan atau gedung yang berada di sekelilingnya. Juga sekira perlu, menambahkan berapa luas pasarnya, jumlah pedagangnya, strukur bangunan utamanya, atau sejarah berdirinya pasar tersebut. Tentu saja informasi itu tak bisa dengan sendirinya tersedia.

Diperlukan riset singkat berupa menggali informasi tentang pasar itu di internet atau yang paling mudah adalah dengan menanyai beberapa pedagang di pasar tersebut yang pastinya mengetahui beberapa hal rinci yang ingin kita tuliskan. Para pedagang bisa kita sebut sumber primer dalam riset singkat kita, sementara catatan yang terserak di buku atau internet tentang pasar tradisional itu bisa menjadi sumber sekunder yang menambahkan detail informasi tulisan kita.

Di blog, surat kabar atau laman media sosial tempat kita menulis umumnya tersedia kolom komentar dari para pembaca. Komentar selain umumnya berupa pujian, terkadang juga sanggahan atas isi tulisan kita. Sebagai penulis, meski masih pemula tentu merasa malu kalau mendapati bahwa informasi yang kita sampaikan mengandung banyak kekeliruan.

Aturan yang sangat ketat mengenai riset ini umumnya dijalankan oleh media massa. Bagi media besar yang cukup terkenal, riset merupanya nyawa dari kegiatan mereka. Tulisan-tulisan berupa feature, reportase, dan terutama rubrik investigasi membutuhkan riset yang ketat. Apalagi kalau di dalam tulisan itu memuat nama pihak-pihak atau hal-hal lain yang kemungkinan dikonfrontir oleh mereka atau pembaca yang kritis. Bagi blogger, penulis pemula, termasuk juga yang sekadar menjadi komentator setia di media sosial, membekali diri untuk melakukan riset sangat penting. Agar tak dianggap sok tahu.

Lakukan Riset, Tapi Hindari Plagiarism

Tapi ingat, jangan sampai kegiatan riset ini mengundang Anda untuk melakukan penjiplakan tulisan sumber, atau sering disebut sebagaiplagiarism. Melakukan teknik CoPas (Copy and Paste) saat menyusun tulisan memang menggoda, apalagi kalau kita menganggap informasi yang kita temukan dalam tulisan referensi itu lebih lengkap dari pengetahuan kita. Setidaknya Anda perlu menuliskan ulang informasi itu dengan bahasa sendiri agar terhindar dari tuduhan plagiat. Juga, jangan lupa mencantumkan sumber rujukan ketika informasi yang Anda tuliskan itu didasarkan pada kutipan dalam tulisan orang lain. Selain memudahkan pembaca untuk menelusuri informasi tambahan, juga menghadirkan kesan penghargaan kita kepada penulis sumber yang sudah berpayah-payah menyediakan informasi itu untuk kita.

Terakhir, jangan malu untuk mengakui kekeliruan dan kemudian melakukan perbaikan atas tulisan. Meski sudah melalui tahapan riset sebelum menuangkannya dalam bentuk tulisan, bisa jadi informasi itu masih belum matang benar. Bisa saja informasi paling akhir muncul saat tulisan sudah jadi dan dimuat di blog atau media. Sekira masih memungkinkan, lakukan perbaikan atau revisi terhadap tulisan itu sehingga akan semakin menyempurnakan tulisan.

Tulisan ini dibuat untuk ditampilkan di website Kelas Menulis Kepo, link tautan di sini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: