…menulis untuk mencicil ketidaktahuan

Rempah: Aroma dan Petaka Mencari Indonesia

Posted in Indonesia, Sejarah by daengrusle on April 21, 2013

Setiap menyantap nasi briyani atau nasi mandi yang disajikan restoran Arab dan India di Abudhabi, selalu lidah saya mengecap sesuatu yang rasanya pernah menjadi milik Indonesia; rempah, terutama cengkeh dan lada.

Musabab rempahlah, Indonesia menjadi negeri paling menarik bagi bangsa Arab dan Eropa; Spanyol, Portugis, Belanda, Inggris. Mereka rela bercapai-capai mengelilingi dunia hanya untuk menjejakkan kakinya di negeri yang pernah dianggap mitos surga rempah. Inilah yang kemudian menjadi muasal bergeraknya roda nasib dari bangsa yang berdaulat dan berkebudayaan tinggi kemudian terpuruk menjadi kaum paria yang terjajah ratusan tahun; rempah!

Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu kedua.

Malabar_MapExplorationRoutes

Seribu tahun silam, orang Eropa muak dengan sajian menu hariannya. Daging yang amis dan sayuran hambar setiap hari menghiasi meja makan mereka. Hanya karena tuntutan untuk terus bertahan hidup mereka menjejalkan makanan-makanan itu, dengan sedikit tambahan garam sebagai penawar rasa hambar, ke dalam perut mereka. Sejak lama selera makan mereka sudah runtuh bersama abad kegelapan yang pekat.

Hingga kemudian sekelompok pedagang yang kembali dari Levante, negeri-negeri di bibir laut Mediterania, memperkenalkan serbuk beraroma tajam yang kemudian dikenal dengan nama el picante dalam bahasa Iberia. Di dunia kuliner, kita menyebutnya rempah (spice) yang menjadi penyedap sekaligus pengundang selera makan. Orang Eropa yang hidup di negeri empat musim itu kegirangan, mereka seakan menemukan babak baru dalam kehidupan mereka. Adios masakan hambar! Begitu kira-kira pekik mereka.

Namun rempah rupanya tak lantas mudah didapatkan. Juga tak murah. Serbuk eksotis ini diperdagangkan secara monopoli oleh orang Venesia dan hanya di tempat tertentu sesuka mereka; di pasar-pasar Venesia, Belgia dan London. Kalaupun menemukannya di lapak dagang, orang Eropa memerlukan merogoh pundi emasnya dalam-dalam. Secuil lada, pala, cengkeh, atau kayumanis, dihargai teramat mahal. Harganya nyaris lebih tinggi dari emas dan bisa dipertukarkan laiknya uang. Di Prancis, dua ons lada bisa membeli seorang budak dewasa, sedang di Inggris jumlah yang sama bisa membayar sewa rumah setahun. Di Genoa, para prajurit bahkan diberi upah sebesar satu kilogram lada untuk setiap perang yang dimenangkannya. Rempah menjadi barang prestisius dan simbol status sosial. Orang pun mahfum menjadikan rempah sebagai tabungan. Di Prusia (Jerman), penduduk menggunakan satuan pepper-sack, kantong rempah, sebagai ukuran kekayaan.

Selama sekitar lima abad, para pedagang Venesia berhasil meredam gelapnya sumber rempah. Menjalin kongsi dengan para pedagang Arab, mereka memonopoli harga rempah dan menutup akses pedagang bangsa lain ke muasal serbuk sedap itu. Harga yang dibanderol bisa melangit 1000 kali dari harga aslinya, dengan hitungan jarak dan upaya memeroleh sang el picanto. Bayangkan, saat itu cengkeh dan pala hanya tumbuh di enam pulau rempah yang jaraknya hampir setengah keliling bola bumi dari Eropa. Itupun tak banyak yang bisa menjangkau pulau-pulau mini yang terserak di antara belasan ribu pulau di timur samudera Hindia; Ternate, Tidore, Moti, Makian, Bacan dan Bandaneira. Khusus lada hitam (black pepper) muasalnya sendiri masih lumayan dekat, diperoleh di pantai Malabar, ujung barat daya anak benua India yang menghadap langsung ke laut Arab. Kayumanis, saat itu hanya dibudidayakan di Ceylon, negeri yang kini dinamakan Srilanka.

Hingga abad 15M, pasar Kalikut di Malabar juga turut memperdagangkan cengkeh, pala dan kayumanis, yang dibawa oleh pedagang Melayu, Tamil dan Cina. Rempah2 itu terkadang merupakan dagangan limpahan dari pelabuhan dagang tetangganya, Malaka. Malaka yang dikuasai kerajaan Samudera Pasai, bahkan dianggap sebagai pemasok rempah utama dunia saat itu. Selain ke Malabar, rempah dari Malaka juga dilayarkan ke Siam dan Cina. Sejak dulu abad 13 Malaka memang menjadi pelabuhan penting di kawasan asia tenggara, tempat para pedagang Melayu, Bugis, Makassar, Jawa dan mungkin Maluku sendiri, tempat asal rempah itu, saling berbarter. Saat itu, pedagang Bugis terkenal dengan komoditas teripangnya, juga rempah dan budak.

++

Harga yang membubung, aroma yang menusuk tajam membuat bangsa Eropa keblinger. Alih-alih menimbun harta demi membeli sekantung serbuk ajaib itu, mereka berpikir jauh untuk menguasai negeri muasal rempah-rempah. Mungkin karena aroma perang dan penguasaan wilayah yang sudah mereka lakoni sejak jaman pertengahan, sehingga kerajaan-kerajaan Eropa itu masih diselimuti kesumat perang. Dengan perasaan arogan sebagai bangsa yang paling beradab dan soleh di seantero jagad, mereka merencanakan ekspedisi armada laut untuk menguasai kepulauan misterius penghasil rempah.

Columbus, adalah penghayal pertama yang dikirim kerajaan Spanyol. Dengan kapal Nina, Pinta dan Santa Maria, dia menyeberang ke barat menembus lautan Atlantik untuk mencari India dan Indonesia, negeri yang pada masa itu dianggap surganya rempah. Pada bulan September 1492, dengan pengetahuan biologi yang pas-pasan, Columbus tiba di “India” khayalannya yang ternyata adalah kepulauan Karibia dan mengklaim menemukan lada dan kayumanis. Belakangan ketahuan bahwa ia hanya menemukan cabe dan kulit kayu pohon karibia yang rasanya tak karuan dan sama sekali tak manis. Columbus berdalih bahwa rasa lada dan kayumanis temuannya memudar karena cara memanen yang kurang cermat, ditambah perjalanan laut yang panjang dan terpaan rasa asin yang membekap “rempah” kebanggaannya itu. Namun Colombus tidak gagal sepenuhnya, perjalanannya itu menemukan dunia baru yang kelak menjadi salah satu benua paling penting di jagad raya; Amerika!

Dunia baru itu rupanya tak hanya mengandung cabe dan kayu serupa kayumanis, tapi juga emas dan perak yang melimpah ruah. Babak gemilang dimulai oleh bangsa Spanyol di Dunia Baru. Tapi sebaliknya itulah awal petaka berkepanjangan yang mendera bangsa Indian, penduduk asli benua Amerika tersebut, hingga ratusan tahun kemudian.

Lima tahun selepas perjalanan Columbus, seorang pelaut Portugis juga melakukan perjalanan yang sama pada bulan Juli 1497. Vasco da Gama, nahkoda cakap utusan raja Manuel, penguasa negeri Portugis itu mengambil jalan yang berbeda dengan Columbus. Da Gama mengambil jalan ke selatan, mengitari Afrika. Dari Kenya, dengan bantuan seorang penunjuk jalan berkebangsaan Arab, ekspedisi Vasco da Gama berlayar ke timur melintasi laut Arab dan menemukan pantai Malabar pada bulan Mei 1498, setelah hampir setahun berlayar dari negerinya. Seperti halnya Spanyol, rupanya Portugis berhasrat menguasai Malabar hingga ke Maluku, negeri yang penduduknya dianggap tak beradab dan kafir. Hanya dalam hitungan tak lebih dari 15-tahun, imperium Portugis sudah melebar nyaris 100kali luas negerinya di Iberia. Portugis menguasai Malabar tahun 1500, mencaplok Malaka tahun 1511 dan akhirnya menjejak di Ternate tahun 1512.

Advertisements
Tagged with:

4 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. Tyar said, on April 22, 2013 at 1:59 am

    Deh, seberharga itu paleng rempah-rempah zaman dulu sampai rela mengarungi lautan orang. Haha. Keren.

  2. Isma said, on April 22, 2013 at 3:31 am

    Indonesia yang kaya dan punya bakat “terjajah”… dulu rempah sekarang budaya…
    hmmm…

  3. nanie said, on April 22, 2013 at 6:43 am

    wah keren sekali. mengarungi lautan demi rempah-rempah.

  4. […] >> Lima tahun selepas perjalanan Columbus, seorang pelaut Portugis juga melakukan perjalanan yang sama pada bulan Juli 1497. Ref: http://www.daengrusle.net/rempah-aroma-dan-petaka-mencari-indonesia/ […]


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: