…menulis untuk mencicil ketidaktahuan

Dekat Rumah dan Bermewah Dalam Bahasa

Posted in Indonesia, Sejarah, Sulawesi Selatan by daengrusle on April 9, 2013

Di ujung tebing, Jabel al-Shams, Oman 2011

Di ujung tebing, Jabel al-Shams, Oman 2011

Hidup berpindah merupakan kemewahan. Terutama dalam mencerap bahasa dan ragam budaya berbeda di “dekat rumah”. Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu pertama.

Saya lahir di Wajo dan besar di Makassar. Terlahir dari keluarga berlatar suku bugis maka saya dibesarkan dengan bahasa bugis sebagai bahasa lidah ibu sehari-hari (mother tongue). Kedua orang tua saya dan kakak-kakak berkomunikasi dalam bahasa bugis. Seperti dirancang sebagai pembeda tempat lahir, adik-adik saya yang lahir di Makassar diperkenalkan dengan komunikasi bahasa indonesia dialek makassar.

Alhasil, penghuni rumah menggunakan dua bahasa pengantar; bugis dan indonesia dialek makassar. Meski agak aneh, tapi komunikasi dalam dua bahasa itu bisa nyambung saja. Kedua orang tua saya masih mempertahankan moda komunikasinya dalam bahasa bugis, sedang adik-adik saya menimpalinya dengan bahasa Indonesia. Mereka bercakap dalam bahasa berbeda, tapi saling memaklumi maksud masing-masing.

Sejak tahun 1980, keluarga saya menetap di Pannampu. Tetangga dekat rumah saya umumnya juga bersuku bugis; bone, wajo, soppeng, sidrap, maros dan sekitarnya. Namun lingkungan Pannampu secara umum dihuni oleh penduduk berbahasa Makassar, terutama bagi para pedagang pasar Pannampu yang lokasinya berdempetan dengan rumah kami (Baca juga: Menunggu Mereka Bermain Api di Pasar Pannampu). Juga, kawan-kawan di sekolah umumnya bersuku Makassar.

Jadilah saya dalam sepergaulan menggunakan bahasa yang bercampur baur; bugis, makassar dan Indonesia. Dalam masa kecil saya itu, tanpa saya sadari, saya bermewah-mewah dengan alam linguistik yang beragam. Tiga bahasa berbeda bisa berkelindan dan tak menimbulkan kecanggungan dalam berkomunikasi.

Belakangan, ketika memasuki masa kuliah dan berpindah ke pulau Jawa (Yogyakarta dan Bandung) saya mengenal dua bahasa tambahan; Jawa dan Sunda. Meski tak begitu menguasai linguistiknya, namun setidaknya saya bisa mencerap 40-50% kosa kata dari dua bahasa itu. Terutama karena kawan-kawan kuliah kerap menggunakan bahasa tersebut di kampus. Bahkan, ketika di Yogyakarta, dosen acap memberikan kuliah dalam bahasa jawa.

Ketika mulai bekerja tahun 2001, saya makin kerap lagi berpindah tempat; Balikpapan, Sorowako, Bogor, Jakarta dan kini jauh di negeri rantau, Abu Dhabi. Semakin kerap berpindah rumah, semakin kaya ragam bahasa yang saya geluti. Bahasa asing seumpama bahasa Inggeris dan Arab kemudian menjadi bahasa “dekat rumah” saya kini.

===

Rumah dan sekitarnya membentuk pandangan dunia saya. Budayanya, tatacara berkomunikasinya, dan persepsi-persepsi ditumbuhkan, termasuk mitos dan cerita-cerita lokal yang diturun temurunkan secara lisan. Meski tak diajarkan secara akademis di lingkungan sekolahan, – hal ini tentu sangat merugikan generasi kita, tapi lingkungan dekat rumah merekatkan banyak hal tentang lintas budaya ini, melalui bahasa yang dijejalkan.

Dari bahasa, kita bisa memahami perilaku. Terutama bagaimana ambang etika disepakati bersama. Setiap bahasa di nusantara umumnya memiliki jenjang pemakaian, dari yang paling halus hingga yang kasar. Ketika anda menggunakan kosa kata dengan cara penyampaian yang halus, maka itu dimaksudkan untuk disampaikan kepada pihak yang lebih dihormati. Ketika bercengkerama dengan kawan sebaya, tentu bahasa dengan jenjang penyampaian yang datar atau agak kasar serasa pantas saja diberlakukan. Namun ketika berbicara kepada orang yang tak kita kenal, kita diajarkan untuk berbahasa dengan kosa kata yang halus atau sekadar datar saja demi menjaga kesopanan.

Saya juga mengalami semacam konflik “cerita” dari sejumlah kisah yang berlintasan mengenai benturan dua suku ini. Saya jadi memahami bagaimana dendam sejarah diturunkan dari cerita-cerita ini. Bagaimana sosok Arung Palakka menjadi kebanggaan kawan saya yang orang Bone, tapi dicemooh oleh baik oleh kawan yang Makassar yang punya pahlawan Hasanuddin maupun Wajo yang punya sosok La Maddukelleng. Saya juga diasupi cerita tentang bagaimana persepsi orang Wajo terhadap orang Soppeng dan Bone, demikian pula sebaliknya. Juga tentang sosok urban legend semacam Tomanurung, I Tolo, hingga fantasi tentang Poppo, Parakang, atau Setan Sumiati yang diobrolkan anak-anak menjelang tengah malam.

Konflik cerita ini makin meluas ketika saya yang orang bugis dan besar di Makassar, hidup di lintas budaya seberang, berbaur dan mencerap bahasa yang strukturnya jauh berbeda semisal jawa, sunda, inggris atau arab. Bahkan, ketika tak lagi menemukan persinggungan budaya antara salah satunya, saya tak lantas merasa terasing. Asing dan keterasingan hanya dirasakan oleh yang gagal mendalami keterikatan budaya yang sejatinya bisa ditarik dari sisi universal kemanusiaan, tentang kreasi luhur pikiran manusia.

Saya yang hanya mengalami tidak lebih dari enam bahasa mungkin tidak seberapa dibanding Agustinus Wibowo, penulis buku Selimut Debu, Garis Batas) yang menjelajah hingga Kazakhstan, Tajikistan, Uzbekistan dan negeri-negeri pecahan Soviet. Apalagi dengan pengelana masa silam semacam Ibn Batutah (1304-1369), pengelana asal Maroko yang dalam hidupnya pernah melintasi 44 negara dengan jangkauan lebih dari 100,000km jauhnya, jauh lebih panjang dari Marcopolo yang hidup seabad sebelumnya. Tentu, benturan budaya dan bahasa yang dialami oleh para pengelana itu jauh lebih rumit daripada saya.

Bahasa memang membendung banyak cerita. Kosa kata menghimpun beragam pesan. Perbedaan cara mengucapkan menyiratkan sebuah pergumulan sejarah yang terpendam di ingatan-ingatan masa lalu pemakainya. Melalui bahasa inilah, para penutur menyimpan dan merawat sejarahnya, dan kemudian diwariskan hingga pada akhirnya bahasa ini terkelupas kehabisan penuturnya, kemudian punah dan hanya terekam dalam pengetahuan sejarah budaya.

==

Postingan ini disertakan dalam #8MingguNgeblog Anging Mammiri”

Advertisements
Tagged with:

36 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. Haerul said, on April 10, 2013 at 4:19 am

    Sangat inspiratif daeng, apalagi menyebut2 Ibnu Batutah.., dan beliaulah orang terkaya mungkin, seabrek pengalamannya luar biasa, mengenal keagungan Tuhan lewat beragam budaya, bahasa dan coraknya masing2..,
    Daeng Rusle lumayan juga sudah sampai ke Timur Tengah, serasa ingin mengikuti jejak daeng, hehehe.., jadi dekat2 disana ziarahnya..

    Salam daeng…, Shalawat !

    • daengrusle said, on April 13, 2013 at 3:48 pm

      pejalan yang paling kerena adalah pejalan di bumi spiritual, begitu para kekasih suci konon selalu mengabarkan….terimakasih kunjungannya ust Haerul..

      • daengrusle said, on April 13, 2013 at 3:48 pm

        pejalan yang paling keren adalah pejalan di bumi spiritual, begitu para kekasih suci konon selalu mengabarkan….terimakasih kunjungannya ust Haerul..

  2. Nurfaisyah said, on April 10, 2013 at 4:23 am

    Saya salut dengan pengalamannya Kakak yang bisa berpindah-pindah dari satu wilayah ke wilayah lain dan mendapatkan perbendaharaan bahasa serta budaya sebagai bonus nomaden tersebut. Pengalaman yang tidak sering dialami bagi beberapa orang -termasuk Saya- dan sekedar usul bila dibukukan sehingga bisa menjadi pengetahuan tambahan buat orang-orang seperti Saya.
    Terima Kasih.

    • Haerul said, on April 10, 2013 at 4:47 am

      Good Idea kalau dibukukan.. 🙂 *coddo

      • daengrusle said, on April 13, 2013 at 3:49 pm

        wah…membukukan blog belum terpikir, saya kira postingan saya masih belum pantas.
        saya berpikir utk membukukan cerita saja.. insya Allah

  3. erwin said, on April 10, 2013 at 4:48 am

    mengetahui banyak bahasa memang menjadi bonus untuk kita agar dapat bergaul lebih dekat dgn masyarakat yg baru, belajar lebih cepat ttg ilmu ditempat baru, beradaptasi lebih cepat dengan budaya baru.

    yo’ mari belajar bahasa arab sama Dg Ruslee, bukaki kelas baru daeng:D

    • daengrusle said, on April 13, 2013 at 3:50 pm

      walah…ampun.
      tak banyak kosa kata arab yg saya akrabi 🙂

  4. Catcilku said, on April 10, 2013 at 4:59 am

    Wah cerita di Makasar sangat beragam, saya hanya tahu nama Sultan Hasanuddin saja

  5. ferdysyarlin said, on April 10, 2013 at 5:13 am

    Memang kita manusia.. Rantau dari dulu.x malu rasanya bila harus mati di ranjang di kita dilahirkan…
    Tu…imbas.x pengalaman yg kya linguistik.

  6. Inart said, on April 10, 2013 at 10:30 am

    Nice quote “Hidup berpindah merupakan kemewahan”
    perjalanan dari satu tempat ke tempat lain itu adalah investasi yang tak ternilai harganya, apalagi bisa menetap dan mempelajari bahasa dan budayanya. Dan mereka itulah “orang kaya” sebenarnya, seperti daeng Rusle ini.

    • daengrusle said, on April 13, 2013 at 3:50 pm

      wah, terimakasih kunjungannya inart..
      lama tak bersua denganmu..bersua dengan segala keheninganmu 😀

  7. bungatongeng said, on April 10, 2013 at 3:32 pm

    Konflik cerita antar suku? jadi teringat cerita seorang teman dari Medan. Jika kita bangga bahwa org suku Bugis Makassar adalah pelaut, maka teman saya mengatakan bahwa dari buku-buku yang dia baca, suku kita bukan hanya pelaut ulung tapi terkenal pula sebagai bajak laut. Benarkah??

    • daengrusle said, on April 13, 2013 at 3:51 pm

      bajak laut dan pelaut ulung sebenarnya sama saja, hanya tergantung sudut pandang mana yang digunakan.

  8. Shaela Mayasari said, on April 11, 2013 at 2:36 am

    Hidup berpindah-pindah tempat, membuat kita kaya pengalaman dan kaya adat..Good Luck Daeng. Salam Kenal

  9. ekoikhyar said, on April 11, 2013 at 6:26 am

    apa kabar daeng 😀 budaya kita ini kren sekali yah, sama juga di rumah istriku kadang orang berbahasa bugis jawabannya bahasa indonesia bgitu juga sebaliknya, bahkan saya agak malu krena tidak tau bahasa ortu ku Jawa dan Tolaki saya hanya bisa memahami saja 😀

  10. ucokeren said, on April 11, 2013 at 11:18 am

    dehhh, palla’ na daeng skrg adai tawwa di abu dhabi, pastimi banyak bahasa na kuasai… tp, bdw sy lebih tertarik untuk mengeksplore kehidupanga di Wajo dan bugis pada umumnya hehe #salamucok 😀

  11. Mugniar said, on April 11, 2013 at 3:03 pm

    Mirip2 dengan saya. Ayah saya Wajo-Soppeng. Ibu saya Gorontalo. SAya lahir dan besar di Makassar, bicara dengan bahasa Indonesia dialek Makassar. Kalo di pete2 ada nenek2 mengajak bicara pake bhs Makassar, saya cuma bisa bengong. Di rumah komunikasi dengan bhs Indonesia, Ayah dengan logat Bugis yang masih tersisa dan Ibu dengan logat Gorontalo yang masih tersisa pula.

    Saya ngerti bhs Gorontalo. Bisa sedikit2 memakainya secara pasif krn terbiasa mendengar Ibu berbicara dengan seorang tante yang tinggal bersama kami sejak kecil sedangkan bahasa Bugis .. waduh saya susah ngertinya. Namun demikian saya suka ke Soppeng, mengunjungi kerabat Ayah.

    SAya menikah dengan orang Bugis (Pinrang-Sidrap tapi besar di Pare-Pare), jadi pelan2 belajar bahasa Bugis apa lagi suami kalau dengan ibu dan adik2nya, berbicara dlm bhs Bugis.

    Sy baru akhir2 ini menyadari, sama spt yang daeng bilang … bahwa saya merasa kaya dengan pengalaman bahasa ini (walau tak sekaya daeng) 🙂

    • daengrusle said, on April 13, 2013 at 3:52 pm

      kita semua kaya kaka…:)
      orang kaya yang baik akan selalu berbagi.

  12. mumox said, on April 12, 2013 at 6:48 am

    Nikmatnya hidup berkeliling bahasa. Andai saya bisa merasakan hal yang sama.

  13. damai wardani said, on April 13, 2013 at 1:06 am

    cuma satu kata pasca baca postingan ini: KEREN!

  14. Helda said, on April 13, 2013 at 5:53 am

    Wah, beruntung sekali mendapat kemewahan itu ya, Daeng 🙂 salam kenal.

  15. astin astanti said, on April 13, 2013 at 1:26 pm

    Bahasa memang membendung banyak cerita. Kosa kata menghimpun beragam pesan.

    Aku suka kalimat ini. Suamiku asli jakarta, aku jawa…namun aku tak pernah memaksa dia bisa bahasa jawa. Karena semakin banyak raga bahasa, akan semakin banyak cerita.

    salam kenal

  16. Una said, on April 15, 2013 at 12:59 am

    Wow, menarik. Aku sendiri orang Jawa, dan belum pernah dengar mengenai Setan Sumiati atau pun Madakelleng.
    Banyak beud ternyata yang Indonesia punya 🙂

  17. arga litha said, on April 15, 2013 at 3:08 am

    terasa sekali Indonesianya, Bhinneka Tunggal Ika 🙂
    memang harus pintar jaga sikap dan ucapan agar perseteruan tidak lagi terjadi. bukankah Tuhan menciptakan perbedaan agar manusia mau saling mengenal dan petik hikmahnya? 🙂

    fotonya bagus sekali. pemandangannya itu loooh mengagumkan. tapi apa tidak takut? itu jurang kan? hati2 tergelincir 🙂

    Oiya, kunjungi kisah saya juga ya 🙂 http://argalitha.blogspot.com/2013/04/sekitar-rumah-ada-banyak-jasa.html
    saya tunggu loh. Kalau bisa diberi kritik saran juga. Terima kasih banyak ^^

  18. indobrad (kopimana.com) said, on April 15, 2013 at 4:28 am

    wowwwwwwww, pemandangan yg cantik sekali derus *tebingnya lo ya, bukan orangnya* #eh

  19. dweedy said, on April 15, 2013 at 11:30 pm

    Saya sampai sekarang belum pi bisa bertutur bahasa Bugis atau Makassar >..< Nah bahasa Inggris juga masih blepotan (/_)
    Kapan ya bisa kayak kita yang keliling dunia? ^^

  20. molen said, on April 16, 2013 at 3:04 am

    sama juga daeng. saya hidup berpindah-pindah (nomaden). sekarang di Mamuju dan sedang mendalami bahasa Mandar.

  21. nanie said, on April 16, 2013 at 4:17 am

    seperti biasa, setiap berkunjung ke sini, selalu ada yang bisa dipetik.
    Makasih DeRus 🙂

  22. adda said, on April 18, 2013 at 4:11 am

    Kemewahan yang tidak semua orang bisa mencicipinya. Terima kasih mau membagi pengalaman dg.Ruslee

  23. daengrusle said, on April 18, 2013 at 4:55 pm

    terimakasih untuk semua kawan baik yang sudah berkenan membaca dan berkomentar, sungguh senang postingan ini ramai jadinya 🙂

  24. serasa said, on April 19, 2013 at 9:06 am

    I’ve truly go through some good products here. Undoubtedly cost book-marking with regard to returning to. I ponder simply how much endeavor you determine to generate this type of great educational internet site.

  25. berandadunia (@arisiras) said, on May 17, 2013 at 1:02 am

    apapun bahasa ataupun sukunya tetap kita harus menjadi satu sebagai bangsa Indonesia. 😀 Salam Kenal..
    BerandaDunia

  26. rara said, on May 30, 2013 at 11:23 am

    lama ndak bertandang ke rumah yang ini 😀
    kangen dg rusle.. kalo lagi pulkam kopdar rong 😀


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: