…menulis untuk mencicil ketidaktahuan

Catatan Kuru Sumange: Suryadin Laoddang

Posted in Indonesia, Sulawesi Selatan by daengrusle on December 23, 2012

Suryadin Laoddang – Daeng Ading (sumber: laman facebooknya)

kuru sumange atas sharingnya daeng Adin.. – sering saya tuliskan untuk mewakili rasa terimakasih saya untuk kawan ini.

Pena Suryadin Laoddang Mengukir Budaya Bugis

Ketika generasi muda kita mulai melupakan bahasa dan budaya Bugis dan lebih menekuni menatap gadget yang mengumbar budaya pop, Suryadin Laoddang menjadi pengecualian. Melalui tulisan-tulisannya, beragam informasi tentang kearifan lokal Bugis menghinggapi ruang baca kita. Sebuah ketekunan yang perlu diapresiasi ketika kita mulai kehilangan penutur muda yang berpengetahuan detail tentang budaya Bugis.

Begitu banyak orang mulai melupakan bahasa Bugis, jangankan bercakap, hendak mengenal bahasa dan juga budaya Bugis sudah enggan karena dianggap tak sejalan lagi dengan budaya pop. Berbahasa daerah identik dengan ketinggalan jaman dan kita sedang dijangkiti anggapan bahwa hanya orang kampung yang berbahasa daerah. Meski banyak orang berseru bahwa kearifan lokal, termasuk bahasa dan budaya, perlu digali untuk menahan laju hedonisme dan ketergesaan budaya instan yang kini menjauhkan masyarakat dari dirinya sendiri. Tapi seruan itu tergerus pergaulan yang menihilkan keikutsertaan semua hal yang menyangkut kedaerahan. Hidup hanya sepenting layar datar berbentuk persegi di hadapan kita saban siang dan malam. TV dan handphone!

Banyak yang lebih menggemari bahasa atau istilah Korea sekarang, doyan dengan k-pop atau pelleng Korea. Bahasa Bugis seperti ditelan anak2nya sendiri, yang kini jauh lebih fasih ber loe-loe, gw-gw daripada idi’ atau qta’. Terutama di kota, kita mulai jarang mendengar bahasa Bugis yang diperbincangkan dengan logat khas yang mendayu-dayu. Dahulu saya masih ingat, bisa membedakan mana penutur Bugis asal Bone, Soppeng, Wajo, Sidenreng hingga Maros atau Pangkep dengan menyimak dialek mereka yang memiliki kekhasan tersendiri. Kini tidak lagi, saya bahkan sibuk menghitung sejumlah “okkots” di antara obrolan anak-anak muda Bugis kini. Ada yang kelebihan “g” karena tak mampu mengerem ucapan di huruf “n”, ada pula yang menukar diftong “ng” menjadi “m” dan semuanya menjadi bahan olokan yang dimaklumi bersama.  Saya pernah jengah ketika seorang sepupu saya asal Wajo mengajak saya bercakap dalam dialek Jakarta seperti di sinetron, padahal obrolan sudah saya awali dengan bahasa Bugis. Saya tiba-tiba merasa ilfil (hilang feeling) dan canggung dengan suasana itu, sambil membayangkan nasib bahasa Bugis di lidah anak-anak saya nantinya: sepertinya bahasa Bugis akan menjadi bahasa asing di tanah kelahirannya sendiri.

Pagi ini saya berselancar di sebuah blog milik seorang kawan yang telaten merawat budaya berikut bahasanya. Berbeda 180 derajat dengan kegelisahan-kegelisahan yang saya ungkap di atas, beliau seperti bangga dengan ke-bugis-annya. Namanya Suryadin Laoddang, yang lebih akrab dengan panggilan Daeng Adin, pemuda Bugis asal Wajo yang kini menetap di Yogyakarta. Meski tak pernah bertemu langsung dengannya, namun melalui perlintasan mailing list buginese saya seperti hampir setiap pekan bersua dengannya. Menikmati tulisan-tulisannya yang sangat khas Bugis seperti membawa saya di serambi yang tenang dan sejuk di Sempangnge Wajo, menikmati suguhan cerita kerabat tua tentang kearifan lokal Bugis. Satu hal yang kini tak bisa lagi saya temukan karena cerita-cerita seperti ini mulai kehilangan penutur. Penutur yang langka dan pengetahuan yang terserak, seperti dua hal yang kini sama asingnya.

Tulisan-tulisan Daeng Adin menggelorakan dua hal yang membuat saya sedemikian cemburu; antusiasme yang dibaluti konsistensi. Antusias karena saya seperti melihat sosok Daeng Adin yang tak pernah kehabisan kegelisahan budaya untuk menemukan yang hilang, menghimpun yang terserak atau menangkap yang tak terekam. Beragam hal yang sudah mulai terlupakan tentang Bugis, bahkan yang paling remeh sekalipun dia rekam dalam tulisan-tulisannya. Saya sering terperangah ketika ia dengan bahasa santai namun penuh detail mengulas istilah Bugis untuk hujan, sarung perempuan, baju khas dan sebagainya. Juga bagaimana tulisannya menampar saya yang semula tak mengerti apa makna sebuah dipan diletakkan di sebuah ruang tamu yang selalu saya temukan di rumah-rumah kerabat Bugis saya di Sengkang. Tak pernah terpikirkan meski tentu saja aneh untuk ukuran orang Bugis yang tumbuh besar di kota yang tak begitu peduli dengan simbol dan detail. Bacalah juga tulisan Daeng Adin tentang Jempa-Jempa, perhiasan proteksi alat intim perempuan Bugis yang dia persepsikan sebagai G-String, ini seperti menarik keluar kecambah pengetahuan kuno yang tak lagi dipikirkan generasi muda.

Pernahkah anda mendengar tentang Galigo? Mitologi Bugis yang terdiri dari 300,000 bait dan terangkum dalam 12 jilid manuskrip itu konon merupakan epos terpanjang di dunia. Cerita yang mulanya adalah tuturan sakral yang diceritakan hanya oleh para bissu, pendeta Bugis yang memiliki spesialisasi menerjemahkan naskah kuno patturioloang ke bahasa awam, kini bisa dinikmati oleh kita dengan bahasa orang biasa. Daeng Adin termasuk yang paling sering menyebarkan tuturan hikmah ini ke ruang baca kita di dunia maya. Dia telaten menulis hingga ratusan seri “Galigo” yang memperkaya pemahaman lokal kita. Galigo versi Daeng Adin bukanlah wira-cerita sebagaimana yang sering kita pahami ketika merujuk ke kisah Sawerigading dan anaknya La Galigo dalam epos Bugis itu. Tapi Galigo ini semacam ujaran-ujaran atau doa yang diucapkan oleh orang Bugis ketika menghajatkan sesuatu, sejenis ujaran ritual. Di tangan Daeng Adin, kita bisa mencerna Galigo tanpa kehilangan kesakralannya. Karena ilmu pada dasarnya sakral, apalagi ketika dialihkan ke bentuk pengetahuan yang mencerahkan.

Konsistensi Daeng Adin terlihat dari ketelatenannya menuliskan catatannya, merangkum semua pengetahuan dan pengalaman menjadi tulisan “gratis” yang bisa dinikmati oleh orang lain, tanpa perlu duduk di bangku kuliah atau berkunjung ke pelosok kampung-kampung Bugis. Padahal, seperti saya sebutkan di atas, kini kita mulai kehilangan dua hal; penutur dan pengetahuan Bugis. Saya tahu bahwa di Makassar, ada institusi pendidikan formal yang mengkhususkan mempelajari adat budaya Bugis Makassar, dan semoga produksi tulisan atau tuturan mereka bisa kita dapatkan dengan mudah dan murah seperti yang dirintis Daeng Adin.

Di jalan yang dijajaki Daeng Adin, formalitas seperti tak begitu penting. Memang demikian untuk sebuah ilmu yang bermanfaat, tak perlu mengenal batas apapun yang membuat kita membutuhkan upaya tambahan untuk memperolehnya. Cukup membuka blognya, atau berlangganan di milis yang dia ikuti, atau sekadar menjadi “friend”nya di antara sekian ribu “penggemar” di facebook yang sudah terhubung dengannya, maka kita bisa ikut menyimak tuturannya dalam bentuk tertulis. Bagi yang menetap di Yogyakarta, mungkin bisa dengan leluasa mendengarkan langsung ocehannya tentang budaya ini melalui berbagai seminar, forum diskusi atau obrolan santai dengannya, disamping mungkin bisa menikmati bagaimana Daeng Adin menjadi Master of Ceremony (MC) atau pembawa acara berbahasa Bugis di perhelatan resmi di sana.

Antusias dan konsisten, dua kata asing ini menjadi perahu yang bisa membawa kebaikan. Kebaikan yang bersifat universal, karena ia bisa berlayar di atas samudera pengetahuan, menyambungkan seseorang di satu daratan ke daratan lainnya. Meski Daeng Adin bertutur tentang budaya lokal, tapi semangatnya membangkitkan ribuan kecambah pengetahuan di antara kita. Ketika orang berseru tentang kearifan lokal, Daeng Adin mengejawantahkannya dengan sejumlah tetulisan yang menegaskan betapa pentingnya kearifan lokal itu, meski hampir semuanya bermuara ke tuturan dari masa lalu. Tapi masa lalu selalu aktual, apatah lagi kita menyadari bahwa masa kini adalah produk turunan masa lalu.

Daeng Adin adalah prajurit Bugis yang dititipkan di bumi Mataram. Meski berjarak ribuan kilometer dari tanah leluhurnya, senjatanya yang berbentuk pena mengirim pesan-pesan penting untuk kita baca. Di tanah Jawa, dia seperti cerminan Daeng Naba yang berdiri bersisian dengan para raja Mataram di abad 17M. Di dada Daeng Naba, juga Daeng Adin kita mendapati lempeng mustika bernama Wulandadari, penanda khusus pasukan Bugis di kerajaan Mataram. Wulandadari bermakna bulan yang mekar. Secara flosofis berarti seseorang yang selalu memberikan penerangan dalam kegelapan seperti munculnya bulan di malam hari yang gelap. Semoga semakin banyak anak muda Bugis mengikuti jejak Daeng Adin. Amin!

Advertisements

2 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. Daeng Ucup said, on January 12, 2013 at 3:43 pm

    iyee daeng dari daeng adin juga saya banyak belajar tentang bugis #padasalama

  2. kmonoarfa said, on April 14, 2013 at 2:34 am

    bener banget, daeng rusle! meskipun saya pakai fam gorontalo, saya juga antusias pengen tau segala sesuatu budaya ibu saya 😀
    saya belajar banyak dari tulisan-tulisan daeng adin 😀
    tulisan-tulisan daeng rusle juga sama, bikin wawasan saya nambah! 😀


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: