…menulis untuk mencicil ketidaktahuan

Goliath dan Gaza

Posted in Kenangan by daengrusle on December 15, 2012

David and Goliath (Source: Wikipedia)

Goliath dan Gaza

Kisah Palestina, bangsa pelaut itu, mulai dicatat sejarah melalui penuturan Kitab Suci. Kita mengenal Palestina melalui representasi sosok jawara petarung bernama Goliath. Merujuk pada kitab Bibel, saat perang melawan bangsa Yahudi di Socoh Judah, dikisahkan Goliath yang perkasa setiap dua hari sekali dalam masa empat puluh hari berkoar-koar sesumbar tanpa henti. Ia menantang segenap bangsa Yahudi itu untuk bertarung duel satu lawan satu. Saul, pemimpin Yahudi saat itu sungguh tak mampu menghadapi tantangan Goliath hingga kemudian Daud remaja datang menawarkan diri. Di hadapan Daud, Goliath perkasa itu mampus seketika hanya dengan sebuah lemparan batu kecil tepat di kepala besarnya.

Namun kini ketika ribuan tahun berbilang, keadaannya kini sungguh berbalik. Palestina kini adalah Goliath yang kerempeng, pias dan mengiba. Keperkasaannya terserak bersama puing bangunan yang luluh lantak diterkam buldozer kebiadaban sebuah rezim Setan Kecil. Suara raksasa yang dulu lantang menantang Daud kini tenggelam oleh desing peluru atau hentakan mortir mengarah kepada penduduk Gaza yang seperti sibuk berhitung waktu menunggu ajal menjemput, tak peduli usia, jenis kelamin, bahkan agamanya. Goliath, petarung legendaris Palestina itu kini seperti berada di ujung ring, terdesak dan hanya berusaha bertahan agar tak jatuh. Jatuh, juga mungkin akan berarti punah. Sebuah nasib yang terbilang, dan karenanya kini dipertaruhkan.

Kalau dulu Daud yang kecil hanya memerlukan batu sebesar jempol untuk menundukkan Goliath, maka kini, sebuah pemerintahan yang berdiri di atas tanah yang dirampas paksa, mengirimkan rudal pembunuh massal berton-ton beratnya, ditembakkan lewat pesawat tercanggih atau dilesakkan oleh pelontar rudal darat yang (kabarnya) sangat akurat ke bangunan-bangunan yang disesaki oleh tubuh-tubuh ringkih yang menggigil menahan lapar dan dahaga akibat blokade berbulan-bulan.

Gaza, kota berbentuk garis kecil di pesisir Laut Mediterania sejak Oktober 2008 menjadi penjara raksasa bagi 1,5 juta penduduknya. Di utara, barat dan timur, Israel mengarahkan moncong senjatanya untuk setiap bantuan logistik yang mencoba masuk. Di selatan, Mesir – negara yang di tahun 1967 mengobarkan perang melawan Israel dan takluk – menutup perbatasannya bahu membahu beriringan dengan sekondang Zionisnya.

Mereka, penduduk Gaza itu mungkin sudah kehilangan rasa takut akan kematian, meski masih memiliki harapan yang kuat untuk sekedar bernapas tidak dalam suasana mencekam seperti saat ini. Kematian sungguh telah menjadi karib yang menemani sejak tahun 1948, ketika teror mulai ditanam bersama pendirian sebuah negara kecil Israel di sebahagian wilayahnya atas dasar sebuah beleid yang ditandatangani oleh pemerintah kolonialis Inggris melalui menteri Luar Negerinya, Arthur James Balfour pada tahun 1917.

Palestina, sejak Goliath takluk oleh batu kecil itu, sejatinya tak pernah lagi mampu bangkit membebaskan tanahnya sendiri. Terjepit oleh sejarah 12 suku Israel, silih berganti penakluk luar datang mengembalikan miliknya dari bangsa Yahudi. Nebukadnesar dari Babylonia (586SM), Hyrcanus dari Romawi (140SM), Constantine dari Byzantium (330M), Khalifah Umar bin Khattab (638M), Abdul Malik bin Marwan dari Bani Umayah (700M), Harun al-Rasyid dari Bani Abbasyah (800M), Sultan Saladin dari Kurdi (1187M), Sultan Baibar dari Mamluk (1270M), hingga Dinasti Ottoman Turki sebelum Inggris menaklukkan Turki di tahun 1870M.

Pada tahun 1948 dan sekali lagi dan yang terakhir kalinya pada tahun 1967, tanah Palestina hendak dibebaskan oleh kompanion negara-negara Arab; Mesir, Yordania, Syiria, Irak, Saudi Arabia, Sudan, Tunisia, Maroko dan Aljazair dari tangan Israel yang didukung oleh Amerika Serikat, Inggris dan sekutunya. Alih-alih membebaskan Palestina, Israel bahkan berhasil merebut Sinai, Gaza, Tepi Barat, Jerusalem Timur, dan dataran tinggi Golan. Sejak itu, tak pernah lagi bangsa Palestina berhasil merdeka dalam arti sesungguhnya. Tepi Barat dan Jalur Gaza kemudian di’hibah’kan menjadi tanah air resmi Palestina pada tahun 1988. Tanah air ini, ibarat sebuah kampung taklukan, bisa sewaktu-waktu digagahi oleh Israel dengan alasan yang palign tidak masuk akal sekalipun. Hari-hari ini kita seperti menyaksikan akrobat atau semacam pameran mesin perang di langit Gaza, mulai dari bom cerdas, bom curah, hingga bom Fosfor Putih.

Kini, bangsa yang dikenang abadi dalam semua kitab suci ini sedang mempertaruhkan nasibnya sendiri. Hamas, penguasa Jalur Gaza yang didukung mayoritas rakyat Palestina melalui proses demokratis di tahun 2006 namun dicap teroris oleh Israel dan Amerika Serikat, kini mati-matian membela setiap jengkal tanahnya. Sejak serangan awal di penghujung tahun 2008, sampai nyaris dua minggu sampai saat ini, hampir 900 warga Palestina telah menjadi korban. Hampir 300 diantaranya adalah anak kecil yang lugu dan polos, dan tentu saja tak mampu melawan. 100 wanita juga menjadi korban keganasan mesin perang Israel. Sementara, tentara Israel yang tewas tercatat hanya berjumlah belasan saja. Sebuah perbandingan yang asimetris, terutama soal keimbangan mesin tempur. Negara-negara Arab yang dulu rela jadi palang pintu agresi Israel, kini seperti tak bertaji. Hanya bersuara, sama seperti PBB, tapi suara selantang apapun tak bisa mengendalikan Israel yang jumawa.

Lupakan soal agama, kebiadaban yang sedang berlangsung ini sesungguhnya adalah penghinaan terhadap kemanusiaan. Pembiaran atas keberingasan mesin perang Israel pun merupakan pengkhianatan yang luar biasa atas semua bentuk piagam kemanusiaan. Sikap sebagian Arab, Asia, Eropa, terlebih Amerika Serikat adalah sebuah sikap tragis. Kita yang nun jauh dari bising suara mesiu, mungkin hanya bisa bersimpati dengan menggenangkan airmata dan lirih memanjatkan doa kepada Sang Maha Pemilik Keputusan.

Palestina sedang bertaruh dengan nasib, dan tidak serta merta menjadi kerdil hanya oleh gempuran senapan. Semangat untuk terus melawan mempertahankan tanah air sudah seperti darah yang mengalir setiap saat, karenanya tak akan berhenti hingga jantung-jantung mereka tercerabut dari badannya. Kemenangan mungkin sulit untuk dicapai, tapi bukan sesuatu yang mustahil. Kalau dulu Goliath yang raksasa bisa takluk di tangan Daud yang kecil, mengapa kali ini Goliath yang kerempeng dan lemah tak mampu bangkit melawan Daud yang sedang sehat-sehatnya. Lewat serangan beringas tentara Israel Defense Forces, Goliath baru sedang dibangunkan. Atau mungkin ia berganti peran menjadi Daud yang sedang menanti saat yang tepat. Bukan untuk menghancurkan Goliath baru, tapi untuk tujuan yang lebih mulia. Membebaskan tanah airnya sendiri, tanah harapan. Palestina.

Amin Wallahu ‘alam

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: