…menulis untuk mencicil ketidaktahuan

Orowane Tu Malompoe

Posted in Indonesia, Sulawesi Selatan by daengrusle on December 9, 2012

Mallarangeng Bersaudara mengapir Wapres Boediono (Sumber: Reuters)

Tak banyak kekaguman dihantarkan untuk peristiwa yang sesungguhnya biasa saja. Pejabat mundur karena dijadikan tersangka, itu wajar seharusnya.

Menjadi tak wajar karena hal itu jarang terjadi. Jangankan dijadikan tersangka, ada pejabat yang nyata-nyata sudah melakukan pelanggaran etika dan menghina moralitas bangsa pun masih enggan melepas jabatan publiknya. Bahkan, ada tokoh yang sudah melontarkan fitnah SARA masih berbual hendak jadi presiden.

Di negeri yang konon ramah dan mengagungkan perilaku bijak, malu dan kemaluan menjadi barang yang murah meriah harganya. Pejabat yang meski perilakunya sudah malu-maluin, memalukan diri, keluarga dan masyarakatnya, masih enggan mundur dan berdiri tegak dengan muka badak di panggung ketenarannya, di singgasana kekuasaannya.

Jabatan publik, sejatinya dipegang orang-orang yang tanpa cela, pejuang sejati. Yang rela mengorbankan tenaga dan pikirannya untuk kemaslahatan ummat, bukan untuk diri sendiri, apalagi untuk kocek sendiri. Demikianlah, harapan mengikut pada jabatan, tuntutan menyertai sebuah wewenang.

Andi Alifian Mallarangeng, hari ini menghiasi lini masa ruang baca kita. Beliau mundur sebagai pejabat hanya sehari setelah KPK menetapkannya sebagai tersangka kasus korupsi proyek Hambalang. KPK menengarai kakak dari Rizal dan Choel Mallarangeng ini menyalahgunakan wewenang sebagai Menpora saat mengegolkan proyek pembangunan kawasan atlet megah di selatan Jakarta itu.

Ada gelimang uang bernilai trilyunan rupiah dalam proyek ini. Andi Mallarangeng, demikian media selalu menyebut namanya yang sesungguhnya tak lengkap itu, diduga ikut menikmati bongkahan duit haram yang tokoh utamanya: Nazaruddin sudah diterungku yang sempat kabur ke benua seberang itu.

Andi Alifian Mallarangeng mundur tak hanya sebagai Menteri Pemuda dan Olah Raga, tapi ia juga mundur sekaligus dari posisi sekretasis dewan pembina partai Demokrat. Dua jabatan yang sesungguhnya menjanjikan “kekebalan artifisial”. Apalagi dengan bertengger di partai, sudah jamak dipahami bahwa aparat hukum akan segan mengusik seseorang yang punya jabatan politik.

Alih-alih menangkap, bahkan aparat kita lebih sering melindungi “mereka” mati-matian. Kita lihat bagaimana reaksi berlebihan Polri saat Djoko Susilo, pejabat berpangkat Irjen itu diobok-obok KPK. Mereka defensif bahkan melakukan serangkaian serangan balik yang memalukan. Juga Mahkamah Agung yang kini seperti membela Hakim Agungnya yang terkena pasal rasuah.

Tapi tidak kali ini. KPK berani, Andi Mallarangeng pun bersikap gentlemen.

Terlepas dari ujung akhir proses pengadilan, saya pribadi menganggap sikap Andi Mallarangeng secara positif. Ketika cap tersangka sudah dibubuhkan, beliau mundur. Itu memang sudah seharusnya, tapi sekali lagi menjadi sesuatu yang luar biasa di tengah hilangnya rasa malu dan panik yang jamak didapati di kalangan pejabat. Dengan mundur dari posisinya, Andi Mallarangeng memutus mata rantai formal-nya dengan kekuasaan, dengan politik. Dia menyerahkan nasibnya ke ranah hukum, “Proses hukum tanggung jawab pribadi dan saya siap menghadapi sebaik-baiknya, mengikuti apapun apapun proses hukum selanjutnya”

Saat menanggapi KPK yang resmi menjadikannya tersangka tanggal 6 Desember 2012, bukannya kecewa, Andi malah menilai itu sebuah kemajuan demokrasi di Indonesia “Ya itulah kemajuan demokrasi di Indonesia. Siapa saja sama di depan hukum, kalau menteri harus dicekal ya dicekal,” katanya lugas.

Dalam pranata bugis-makassar, seorang besar baik dia pejabat karena posisinya atau bangsawan karena darahnya, dia disebtu sebagai Tu Malompo, orang besar. Andi Mallarangeng adalah pejabat dan bangsawan, karenanya dia Tu Malompo. Namun dengan sikap ksatria-nya yang mundur dari jabatan publik, dia lebih menyatukan gelar Tu Malompo itu sebagai sebuah harga diri. Bahwa kebesaran diri tercermin dari sikap yang tegas dan lugas, berani mengambil langkah yang benar.

Dia lelaki yang berani, dan cerdas menggabungkan pengetahuan dan perbuatan. Dia bisa disampul sebagai Orowane to Macca na Magetteng.

La Temmu Page Arung Labuaja (Kakek Mallarangeng, ksatria perang Bone 1905)

Dia mengesankan tak jauh dari sikap kakeknya La Temmu Page Arung Labuaja, ksatria terakhir kerajaan Bone yang tak pernah takluk kepada Belanda, meski raja dan semua bangsawan besar lainnya sudah menyerah kalah saat perang Rumpa’na Bone tahun 1905 silam. Arung Labuaja memilih tetap mengangkat senjata, meski untuk itu ia menyingkir keluar Bone dan menetap di Sinjai. Tak pernah ada rasa kalah dalam dirinya, meski kekuasaannya tercerabut.

Dengan tulisan ini, izinkan saya menghaturkan rasa bangga kepada Andi Alifian Mallarangeng. Status tersangka tak otomatis menjadikan dia terpidana, masih ada proses hukum untuk membuktikannya. Tapi mundur dari jabatannya menunjukkan dirinya sebagai seorang besar. Meski tak otomatis membuat dirinya menjadi orang malempu’ (lurus dan jujur). Kita tunggu hasil akhir pengadilan ini. Semoga yang benar akan dibersihkan, dan yang salah dihukum seadilnya.

Selamat berjuang Tu Malompo!

Advertisements
Tagged with: , ,

2 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. iRa said, on December 10, 2012 at 3:51 am

    two thumbs up AAM…..:)

  2. erwin said, on December 10, 2012 at 8:02 am

    Orowane gentlemen 😉


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: