…menulis untuk mencicil ketidaktahuan

Refuseniks

Posted in Abu Dhabi, Indonesia, Renungan by daengrusle on November 27, 2012

Refuseniks

Massacre in Gaza, pembantaian di Gaza baru-baru ini selama 8 hari – meninggalkan ribuan korban baik di pihak Palestina maupun Israel, mengingatkan kita peristiwa yang sama pada 27 Desember 2009 dan telah membunuh 1000 jiwa- setengah diantaranya wanita dan anak-anak, tidak saja dibanjiri kecaman dari warga Muslim dan kelompok humanitarian di seluruh dunia, tapi juga merembet ke lingkar dalam serdadu Israel. Sebanyak 286 tentara Israel Defence Force(IDF) yang tergabung dalam berbagai kesatuan sudah menyatakan penolakannya bertugas di Jalur Gaza dan Tepi Barat sejak tahun 2002 dan berlanjut hingga saat ini. Apakah ini pertanda hegemoni ideologi zionist yang menghalalkan pendudukan sudah mulai melemah? Semoga!

Mereka (Juga) Menolak
Namanya Kim Yuval. Pemuda yahudi ini berpangkat sersan di kesatuan artileri Israel Defence Force (IDF) – kesatuan militer Israel. Wajah gantengnya yang sekilas mirip Brad Pitt menghiasi halaman depan situs Ometz LeSarev (http://www.seruv. org.il) dibawah kolom ber-tajuk “Refusenik’s File”. Ometz LeSarev, yang dalam bahasa Ibrani berarti berani menolak, adalah organisasi yang dibentuk oleh para tentara kombatan dan tentara cadangan Israel yang menolak berperang di kawasan ‘jajahan’ Israel yang diduduki setelah perang enam hari 1967. Mereka menyebut diri sebagai Refuseniks – yang artinya kira-kira pembangkang. Tepat di sebelah kanan bawah foto Yuval, ada kolom bertera angka 628, menunjukkan jumlah tentara Israel yang bergabung sebagai Refusenik sampai saat ini. Para serdadu yang umumnya pemuda ini bahkan tidak khawatir memasang foto-foto mereka secara terbuka, mengindikasikan keseriusan dan keberanian untuk menunjukkan sikapnya.

Ometz LeSarev sendiri dicetuskan pada awal tahun 2002 oleh Kapten David Zonshein and Letnan Yaniv Itzkovits, anggota kesatuan elit IDF. Bersama 51 tentara lainnya yang baru kembali dari penugasan di Jalur Gaza, mereka menerbitkan surat terbuka yang mereka namakan Combatan Letter, berisi sembilan pokok pikiran tentang sikap mereka terhadap pendudukan Israel. We, who know that the Territories are not Israel, and that all settlements are bound to be evacuated in the end. Mereka menentang tegas pendudukan Israel atas wilayah yang direbut setelah tahun 1967, dan karenanya menolak keras untuk mengambil bagian dalam semua aksi militer untuk bertempur di wilayah pendudukan; we shall take no part in them!demikian pernyataan tegas para Refusenik di bagian akhir Combatan Letter itu. Untuk menegaskan keseriusan sikap mereka, para Refusenik menayangkan Combatan Letter itu di harian berpengaruh Israel; The Haaretz pada Januari 2002.

Dibandingkan dengan jumlah personel aktif Israel yang mencapai angka 176,500, memang jumlah Refusenik hanya 0,36% saja. Tapi pertumbuhan jumlah Refusenik, tentu membuat kening pemerintah Zionis berkerut-kerut. Hanya dalam kurun waktu tiga tahun sejak dicetuskan, jumlah para pembangkang sudah berlipat 12 kali. Angka ini bukan tidak mungkin akan bertambah banyak di tahun-tahun mendatang, mengingat makin sadarnya para tentara Israel akan akibat perang yang dikobarkan di area pendudukan. Setiap ada konflik yang berkecamuk di area pendudukan; Tepi Barat atau Jalur Gaza, maka bertambah pula jumlah serdadu pembangkang ini. Di situs resminya, Refuseniks juga membuka pintu bagi semua kalangan untuk bergabung dengan mereka atau menjadi donatur sukarela, terutama untuk meng-edukasi masyarakat agar berani menentang pendudukan. Juga, mereka memasang secara vulgar foto-foto korban kebiadaban tentara Israel saat melakukan aksi militer di daerah pendudukan untuk mengingatkan betapa aksi ini mendatangkan marabahaya untuk keamanan dalam negeri Israel sendiri.

Sikap pemerintah Zionis pada mulanya represif terhadap kelompok ini, para Refusenik yang menolak ditempatkan di Jalur Gaza dan Tepi Barat dipenjarakan dalam penjara militer. Lebih dari 280 serdadu Refuseniks telah diadili dalam pengadilan militer dan dijatuhi hukuman terungku selama paling banyak 35 hari dalam penjara militer. Namun khawatir bahwa hukuman ini hanya akan membuat kelompok pembangkang ini makin populer dan mendapat simpati masyarakat, pemerintah Zionis kemudian meniadakan hukuman dengan memberi penugasan di tempat lain selain area pendudukan, atau malah tidak diberi penugasan apapun, demikian menurut informasi yang dirilis di Wikipedia. Namun semenjak perang Gaza berkecamuk dari awal Muharram kemaren, seorang serdadu yang ditengarai adalah anggota kelompok Refusenik ditahan sepekan di penjara militer karena sikap penolakannya atas penugasan ke Gaza. Penahanan ini kemudian memancing sikap protes dan demonstrasi di sejumlah tempat di Israel dan berbuah pelepasan serdadu tersebut dari penjara militer.

Mereka juga aktif melakukan demonstrasi, kegiatan sosial, dan penyadaran publik yang bertujuan untuk mengkampanyekan pengakhiran pendudukan untuk menciptakan rasa aman bagi Israel. Setiap pekan, mereka menerima banyak dukungan dari warga Israel yang menandatangani petisi SERUV (Ibrani: Menolak), termasuk beberapa tokoh penting Israel dan ratusan professor dari kalangan akademisi. Menurut survey yang dilansir oleh Yaffee Center for Strategic Studies, sudah lebih dari 25% warga Israeli menyatakan dukungannya terhadap perjuangan para Refuseniks dan mengakui hak asasi dan tugas moral yang mereka emban untuk menolak pendudukan. Angka dukungan ini semakin hari semakin berkembang, demikian menurut pernyataan mereka di situs itu. Perang yang berkepanjangan, memakan biaya dan korban yang tidak sedikit tentu membuat warga Israel sendiri bosan dan geram, apalagi kalau ditengarai aksi militer hanya untuk kepentingan politis para elit parta saja. Perang dengan imbalan kursi di Knesset – parlemen Israel, tentu bukan sebuah pertukaran yang menyenangkan.

Damai bukan Utopia?
Aksi kaum Refusenik tentu membangkitkan harapan kita akan sebuah kata yang lama tak mewujud di bumi Palestina ini; perdamaian. Kita semua tentu sama berharap bahwa kawasan Palestina, Lebanon dan semua tempat dimanapun di belahan bumi ini bisa menjadi kawasan yang damai bagi penghuninya. Damai, tentu berarti banyak kesempatan yang bisa dijalankan dalam masa itu. Kesempatan menapak pendidikan, karir, dan kehidupan spiritual yang lebih baik terbentang anteng di depan mata. Setiap manusia yang berada di lingkungan damai, bisa memaksimalkan fungsinya sebagai bagian dari warga dunia. Ilmu pengetahuan tidak saja akan digagas sebagai perahu kemanusiaan, tapi akan terus digali sampai pada tataran yang tak terbatas. Sejarah kemanusiaan sudah membuktikan, hanya pena dan buku yang dapat melayani kemanusiaan. Sedang perang dan amunisi tidak saja mengangkangi kemanusiaan, tapi juga membunuhnya.

Damai, tentu jauh lebih indah dari konflik. Tidak saja bahwa konflik dan peperangan hanya akan menambah korban terutama di pihak sipil, tapi juga sangat terang bahwa tidak ada kemajuan yang bisa kita dapatkan hanya dengan berkonflik. Tidak pembangunan fisik, tidak juga pembangunan mental. Waktu yang hilang, kesempatan yang terbuang, dan harapan yang sirna. Yang tumbuh dan kemudian mewaris ke benak masing-masing pihak kemungkinan besar hanya dendam, yang tentu saja tidak akan menyelesaikan masalah dengan baik.

Diperlukan kepala yang dingin, dan hati yang terbuka untuk mencari penyelesaian konflik dengan baik dan menyenangkan semua pihak. Para Refusenik tentu sudah melihat bahwa berperang di tanah pendudukan tentu bukan cara yang baik untuk membela negara mereka kendati sejatinya para pembangkang itu juga sangat mencintai tanah airnya. Namun, melakukan ekspansi apalagi disertai tindakan brutal tentu bukanlah cerminan sikap heroik, malah mungkin akan membahayakan keamanan dalam negerinya sendiri. Tidak sedikit warga yang mengidap paranoid akan teror atau kiriman rudal setiap kali tentara Israel melakukan aksi militer. Dan tidak sedikit pula yang menjadi korban.

Perdamaian bisa jadi merupakan upaya melupakan masa lalu, sekelam apapun wajahnya. Semua harus berani menjadi pemaaf atas semua keburukan, dengan demikian menjadi manusia pelupa. Bahkan, kalau perlu ideologi jihad dan sikap membela diri mungkin memerlukan interpretasi ulang di kepala masing-masing pihak. Tidak lagi pesan yang ditampilkan adalah gambaran sebuah proses untuk mencapai kemenangan, tapi menjadi sebuah proses heroik untuk mencapai kedamaian. Damai, mungkin adalah interpretasi paling indah dari sebuah kemenangan. Damai mungkin sangat sulitnya, tapi tidak ada yang ngotot menyatakan bahwa itu mustahil. Kalau dianggap mustahil, berarti kita semua menafikkan peran kita sebagai khalifah di muka bumi yang bertugas memakmurkan dunia dengan ketentraman. Damai, tentu bukan utopia. Tapi kita boleh menyebutnya keajaiban. Adanya para Refusenik, adalah salah satu indikatornya.

Jakarta, Muharram 1430H

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: