…menulis untuk mencicil ketidaktahuan

Hidayat

Posted in Indonesia by daengrusle on November 27, 2012

Hidayat

Sumber foto: IstimewaSejak muda Hidayat gandrung belajar agama, meski masa pendidikannya dihabiskan di sekolah umum. Di sekolah, ia aktif di rohis. Selain buku pelajaran, di kamarnya ia melahap beragam buku religius; dari fiqh amalan hingga muamalat, dari teori dakwah hingga kitab Nahwu, dari kitab tafsir hingga risalah mazhab. Ia membekali diri dengan syariat, terutama soal fiqh. Wajah Islamnya dibuat setransparan mungkin, terutama ketika di mesjid. Orang akan mengira ia penganut aliran baru dalam Islam. Tidak NU, tidak pula Muhammadiyah. Ia juga menekuni aqidah dan akhlak, sebagai bekal utama melakukan dakwah. Dakwah di lingkungan tetangganya, juga di sekolahnya.

Bersama teman-temannya, Hidayat kerap mengundang ustad-ustad muda dari kampus dan lembaga tarbiyah untuk berceramah rutin di sekolah. Ia punya kelompok kajian yang disebut halaqah. Di halaqah, ia membiasakan diri berbahasa arab. Pengajar tetapnya seorang pemuda juga, disebut murabbi. Dengan sistem kajian cluster ini, ia menjalani proses kaderisasi untuk menjadi mujahid Islam. Ia antusias, dan juga terpesona. Hidup mulia menjadi pendakwah Islam, dan kalau beruntung meniti jalan kesyahidan, terbentang riuh di depannya.

Hingga suatu ketika, Hidayat membaca sebuah buku sejarah. Sejarah, apalagi sejumlah kronik Islam yang kontroversial, tentu tak masuk dalam daftar bacaan yang dianjurkan oleh sang Murabbi. Tapi ketertarikannya mengabaikan ke-tidakanjur-an itu. Ia tertarik dengan sosok ‘sahabat’ bernama Marwan bin Hakam. Marwan, sejatinya adalah kemanakan dan menantu khalifah ke-3, Utsman bin Affan. Di masa Ustman, Marwan memegang posisi penting, bendahara Baitul Maal. Hanya sahabat yang dipercaya sangat jujur dan adil yang boleh mengelola harta ummat, diantaranya zakat, shadaqah, dan khumus.

Paska pembunuhan Ustman, Marwan turut bersama sahabat Thalhah, Zubair dan Aisyah menentang Imam Ali, khalifah ke-4, dalam peperangan Jamal. Thalhah dan Zubair, keduanya termasuk sahabat Nabi, terbunuh dalam perang itu. Aisyah, istri Nabi, di’kembali’kan ke rumah Nabi di Medinah. Marwan, menjadi tahanan di Bashrah.

Peperangan antara para sahabat Nabi, yang menurut Murabbinya adalah ummat terbaik – khairu ummah dan karenanya terjamin masuk surga, membuat isi kepalanya lantas kritis – penuh tanda tanya besar. Ia tak habis pikir, kalau Thalhah dan Zubair, juga Marwan adalah seorang ahli syurga dan karenanya selalu dinaungi cahaya Ilahi, motivasi apa yang membuat mereka bertarung hidup mati melawan khalifah Ali – yang oleh Nabi digelari sebagai pintu Ilmu.

Diantara dua sahabat yang saling berperang, sampai bunuh-bunuhan, tentu ada yang benar. Mustahil keduanya benar. Dia menafikkan soal ijtihad yang salah dan benar, karena pada masa yang begitu dekat dengan hidup Nabi, tentu semua persoalan masih terang. Saling nasehat menasehati tentu jauh lebih baik bagi para sahabat dibanding berperang. Bukankah Islam membawa peradaban Arab keluar dari masa jahiliah ke masa penggunaan akal?

Kembali ia menerawang soal Marwan bin Hakam. Di beberapa buku sejarah lainnya, ia ‘menemukan’ fakta yang makin menarik hati. Di zaman Nabi hidup, Marwan beserta puaknya yang dikomandani oleh ayahnya, al-Hakam ibn Abi al-Ash pernah diusir oleh Nabi keluar Madinah. Pasalnya, meski sudah menganut Islam, mereka tak berhenti menyakiti hati Nabi dengan menyiarkan kebohongan dan penipuan. Nabi pernah bersabda khusus untuk puak al-Hakam,”Celaka akan menimpa umatku dari keturunan orang ini”.

Nabi tak mengizinkan mereka kembali ke Madinah selama hidup beliau. Abu Bakar dan Umar pun demikian. Tetapi Utsman memberikan amnesti massal. Tak hanya mengampuni dan menerima kehadiran kembali mereka di Medinah , Marwan bin Hakam malah diberi jabatan tinggi seakan-akan kendali khalifah ada padanya. Semenjak Utsman terbunuh, Marwan ikut dilengserkan. Ia dianggap termasuk pejabat yang tak becus ketika berkuasa. Semenjak itu, ia berada di barisan terdepan penentang Khalifah berikutnya, Ali bin Abi Thalib kw.

Dalam perang Jamal, Marwan yang tak begitu pandai bertarung, kemudian takluk dan ditawan. Oleh Imam Ali, ia dibebaskan. Setelah pembebasan itu, Marwan bergabung dengan musuh Imam Ali yang lain, Muawiyah bin Abi Sofyan. Ketika Muawiyah mangkat, Marwan menggantikan posisinya sebagai Khalifah di Syam. Hanya berselang sembilan bulan memerintah, Marwan tewas dibunuh di istananya. Ia mati sementara istrinya menduduki bantal di atas kepalanya.

Hidayat tercekak. Ia pangling dengan adagium “Islam adalah rahmat seru sekalian alam”, juga adagium berikutnya,”Perbedaan di antara kamu adalah rahmat”. Kalau perbedaan yang membuat para sahabat bunuh membunuh, tentu bukan rahmat yang memancar dari mereka. Tapi tak lebih dari sekedar ambisi politik kekuasaan duniawi semata, sebagaimana umat-umat lain sebelumnya. Kalau sekiranya Marwan disuir oleh Nabi, kenapa lantas Utsman – Dzun Nur Ain, mengampuninya – bahkan mengangkatnya ke posisi strategis. Kalau Thalhah, Zubair, Aisyah dan juga Marwan adalah sahabat yang adil, kenapa mereka menentang khalifah Ali, sepupu dan menantu Rasul.

Perbedaan politik di antara para sahabat ini, kemudian menular ke persoalan yang paling pelik; akidah, juga mazhab teologi. Karena perbedaan politik, seorang sahabat diriwayatkan merubah cara ibadahnya karena tak ingin digolongkan dengan sahabat yang dimusuhinya. Kemudian, warisan lainnya berupa firqah dan mazhab menurun hingga umat terkini. Hidayat, yang sudah melalap banyak buku sejarah, menarik benang merah soal sejarah ini. Sejarah, dengan melakukan analisis kritis, bisa mengantar seseorang menuju keberpihakan kepada yang benar. Keberpihakan kepada yang benar, tentu membawa konsekuensi lanjutan berupa pemihakan pada mazhab tertentu.

Dalam sebuah kesempatan tampil di podium, Hidayat lantang berseru tegas, “kadar keberimanan seseorang, berbanding lurus dengan pengetahuan sejarah nya!”. Oleh kawan-kawan halaqahnya, Hidayat dicap munafik, bahkan dianggap murtad – keluar dari manhaj gerakan. Hidayat tak peduli, ia makin getol mengurai sejarah. Menelisik sejarah membawanya kepada satu mazhab yang diyakininya berjalan di rel yang benar.

Hidayat mungkin kelu dengan sejarah yang begitu kelam. Namun ketika ia menisbahkan korelasi keberimanan terhadap pengetahuan sejarah islamnya, maka ia mungkin hanya menemukan penegasan atas perbedaan itu, dengan bonus ritual ibadah versi firqah yang dipihakinya. Ia terpuasi.

Wallahu ‘alam. Hijrah dari keterkungkungan konfrontasi mungkin salah satu jalan keluar. Hijrah menuju agama yang perenial, semoga.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: