…menulis untuk mencicil ketidaktahuan

aku berjanji pada pikiranku sendiri

Posted in Renungan by daengrusle on November 25, 2012

aku berjanji pada pikiranku sendiri, bahwa ada saat di sebuah pagi nanti ketika kita, aku dan pikirianku akan duduk bersama di sebuah lamunan. kita tak akan melakukan percakapan apa-apa, kecuali bahwa diam pun dapat digolongkan sebagai sebuah obrolan, yang pasif tentu saja. kita akan menjejak ke sebuah lamunan yang kosong, ketika hanya ada satu meja lebar yang pendek seperti meja orang jepang itu. berdua kita akan duduk menghadap jendela besar yang terbuka dan membiarkan sinar matahari pagi, hangat menyesap masuk dan menyapu wajah kita.

sapuan sinar matahari itulah yang akan mengajak kita bercanda, mencoba menyapa kita dengan apa yang kita rasakan ketika ia hadir. tidak, ini bukan tentang rasa syukur akan nikmat terkena paparan mentari hangat seperti yang sering diingatkan para pengkhotbah dadakan melalui pesan berantai di telepon genggam cerdas itu. ini bukan candaan provokatif, tapi hanya sapaan yang hangat, sehangat kawan lama yang dirindukan.

lantas, untuk apa aku mengundangmu duduk bersama di pagi ini? ya, setiap pagi kita menunggu di sapa mentari, atau sejujurnya, kita mengharap mentari akan selalu memberi kabar baik. tentang apa? tentu saja tentang harapan, bahwa kita masih bisa menuliskan kronik hidup dengan baik, sesedikit mungkin kegagalan, sebanyak mungkin kebahagiaan. hidup memang tak selamanya terang, ceria dan mengalir seperti yang kita maui, terkadang banyak hal yang mengejutkan kita, juga menyejukkan kita. tinggal pilih bagaimana menyikapinya.

aku berjanji pada pikiranku sendiri, bahwa hidupku harus dijalani sebiasa orang lain. tak ada yang mengejutkan, tak ada yang disayangkan. pun tak ada yang disesali. tak ada yang menyesakkan, kalau perlu semuanya bisa dijadikan lelucon, biar orang lain akan terpingkal-pingkal karenanya. bukankah tertawa itu terjemahan lucu atas bahagia.

Advertisements

One Response

Subscribe to comments with RSS.

  1. cepy said, on November 26, 2012 at 5:42 am

    hmm, indah sekali untaian kata-katanya daeng, speechless..


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: