…menulis untuk mencicil ketidaktahuan

Pseudo-Sejarah; Mitos dan Kepura-puraan di Sekitar Kita

Posted in Indonesia, Kenangan, Renungan by daengrusle on May 15, 2012

Istana Pagaruyung Terbakar. Replika Yang Terbakar, terbangun diatas puing mitos?

Ini sharing saya tentang apa yang saya namakan pseudo-sejarah atau sejarah yang penuh kepura-puraan. Tapi sebelumnya saya buat dulu disclaimer, bahwa saya bukan sejarahwan, bukan pula orang yg pernah mendalami ilmu sejarah secara akademik. Hanya blogger yang punya antusiasme secuil untuk menggali sejarah sendiri, demi mencerap budaya dan kearifan lokal nya.

Jadi begini, banyak orang menceritakan mitos di masyarakat. Terutama berbentuk folklore atau cerita rahayat yang berbasis lisan. Cerita lisan ini kemudian turun temurun dikisahkan dari mulut satu generasi ke generasi lainnya. Terbentuklah waham, atawa keyakinan bahwa mitos itu pernah terjadi dalam linimasa sejarah. Padahal yang dimaksud dengan sejarah, menurut buku pelajaran, adalah kisah atau kejadian yang tercatat dalam bentuk tertulis. Sedang kisah atau kejadian yang bermula dari cerita lisan yang tersebar di masyarakat tentu di luar dari lingkup sejarah. Kita memang lebih sering menyebutnya mitos, atau dongeng yang tingkat kebenarannya perlu dibuktikan lebih lanjut.

 

Nah, ada di kalangan masyarakat kita yang terlanjur mempercayai mitos itu. Demi membuktikan kepercayaan itu, mereka berusaha meretas puing-puing mitos itu dengan menelusuri jejaknya. Maka terciptalah pembenaran, bukan kebenaran. Semisal bahwa cerita La Galigo. Jelas bahwa ini hanya epos yang sulit membuktikan kebenaran sejarahnya. Meskipun beberapa nama tempat yang menjadi latar belakang kisah ini bisa ditemukan bahkan saat ini. Tapi itu bukan menjadi bukti shahih kebenaran mitos ini. Namun, siapa yang mau mendebat keyakinan? Maka muncullah orang-orang yang memanfaatkan mitos ini sebagai pembenaran, terkadang demi kepentingan tertentu.

 

Untuk kisah La Galigo, banyak orang Luwu, utamanya sekitar Ussu’ Larona meyakini dirinya adalah keturunan Sawerigading yang turunan-dewa itu. Demi mengkalibrasi mitos ini menjadi sejarah, mereka juga seakan-akan menuntut “berdiri”nya kembali kerajaan Luwu purba dengan kompensasi sebuah propinsi sendiri bernama Luwu Raya. Ini salah satu contoh pseudo-sejarah yang mengejawantah menjadi kepentingan politik.

 

Contoh lain pseudo-sejarah yang pernah berkembang di kalangan masyarakat Sulsel, juga berkaitan dengan orang Luwu: kisah Kahar Muzakkar. Banyak orang dulu meyakini bahwa sang pemberontak sejatinya tak pernah mati tertembak tahun 1965 di hutan Luwu. Banyak yang meyakini bahwa Kahar itu kebal peluru, tak mempan tertembus timah panas karenanya dia tak mungkin mati. Yang kemudian menjadi mayat dan jasadnya dikebumikan itu adalah orang lain atau bahkan hanya batang pisang. Belakangan ada yang kemudian mengaku-ngaku sebagai Kahar Muzakkar di tahun 1990an. Namanya kalau tak salah Ustad Syamsuri. Demi meyakinkan orang, dia konon dipertemukan lagi dengan “istri”nya. Tak ada kelanjutan pengakuan ini, yang setahu saya beberapa keluarga Kahar Muzakkar menganggap bahwa pengakuan ini hanya sensasi saja. Kahar Muzakkar masih hidup? itu hanya mitos, tak ada jejak yang membuktikan keberadaan kehidupannya setelah 1965.

 

Sir Thomas Stamford Raffles, di tahun 1817 juga termakan penyakit pseudo-sejarah ini. Tepatnya ketika ia mendengar kisah tentang Kerajaan Minangkabau atau Kerajaan Pagaruyung yang digjaya di masa silam. Konon sumber kekayaan kerajaan ini berpusat di tambang emas Salida yang di abad-17 sudah dikuras habis oleh triumvirat VOC: Speelman, Jonker dan Arung Palakka. Tahun 1817, Raffles melakukan ekspedisi “menemukan” kembali puing-puing kerajaan ini. Namun mitos tetaplah mitos. Yang ditemukan Raffles hanya sehamparan padang rumput luas, semak belukar dengan beberapa batu terhampar seperti altar. Dia kemudian berhalusinasi dengan melankolisnya, bahwa dia “menemukan” sisa altar kerajaan besar itu. Bahkan ia konon berhasil bersua dengan Tuan Gadis, Ratu Perawan yang pernah memerintah negeri itu. Dalam bukunya “Memoir of the Life” yang kemudian menceritakan “temuan” itu, ia menulis “Kota mati Pagaruyung yang memilukan, situs banyak peradaban besar yang kini tiada”. Padahal memang tak pernah ada jejak kerajaan mitos itu.

 

Inilah yang saya kenali sebagai pseudo-sejarah. Sejarah yang dibangun berdasarkan hanya keyakinan belaka, dan kemudian menjelma menjadi sebuah sejarah yang penuh kepura-puraan. Seperti juga mitos penjajahan Belanda atas Indonesia yang terlanjur tervonis selama 350-tahun, yang mula didengungkan oleh tokoh Nasional kita Muhammad Yamin. Padahal tidak ada bukti kuat yang mendukung premis itu. Yang ada hanyalah kebodohan matematis dalam perhitungan rentang penjajahan itu. Apatah lagi, bahkan masih ada daerah di nusantara yang bahkan tak pernah atau baru tunduk di bawah kolonialisme Belanda di abad 20, beberapa tahun menjelang kemerdekaan 1945.

 

Kenali sejarah, tapi bukan mengenali kepura-puraan.

Advertisements

7 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. DeO said, on May 15, 2012 at 7:05 pm

    Makasih atas tulisannya, saya baru tahu kalau pseudo-sejarah adalah sama dengan sejarah yang penuh kepura-puraan. Dunia memang penuh dengan kepura-puraan. Tapi saya sering bertanya itu adalah sungguh2, bukan kepura-puraan, mungkin saja daya pikirku yang masih agak lelet memahami.

    salam

    • daengrusle said, on May 18, 2012 at 8:21 am

      pseudo sejarah tepatnya kisah yang seolah-olah sejarah, padahal hanya certa yang dibangun dari puing kebohongan…

  2. Erwin said, on May 15, 2012 at 11:25 pm

    Memang Terkadang mitos dijadikan seolah olah sejarah yg diyakini kebenarannya itu dijadikan alat politik atau alat untuk menenuhi kepentingan pribadi. Makanya masyarakat kita harus melek terhadap sejarah yg benar.

    *nice post @Derus

    • daengrusle said, on May 18, 2012 at 8:21 am

      iya, kadang kita telanjur mempercayai mitos sebagai sebuah kebenaran, sebagai sebuah bagian dari sejarah. padahal namanya saja mitos…:)

  3. greenfaj said, on May 16, 2012 at 12:33 am

    ada juga itu mitos nda boleh duduk2 di tangga rumah kalo maghrib mi…
    nnti di ambil sama “nenek2 siapa gitu” bede!

    • daengrusle said, on May 18, 2012 at 8:41 am

      hahaha…itu sebenarnya kearifan lokal, bukan mitos. maksudnya karena sudah gelap, adalah lebih aman berdiam di dalam rumah daripada dikerubungi nyamuk malam..:)

  4. daeng syamsoe said, on May 30, 2012 at 4:18 am

    pengambilan contohnya cukup bermuatan lokal daeng, atau kenapa tidak dispesifikkan saja menggali hikayat pseudo yg disekitar saja dahulu antara lain pohon tala’salapang yg konon adalah perwujudan dari sembilan orang yg terkultus suci, atau kisah tujua yg dikeramatkan hehe… tapi tulisan yg menarik


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: