…menulis untuk mencicil ketidaktahuan

Terlarangkah Telaah Kritis Terhadap Sejarah Sahabat Nabi?

Posted in Kenangan by daengrusle on December 20, 2011

berlatar belakang bukit Uhud

Sejarah adalah memori kolektif umat. Memori kolektif ini kemudian membentuk kepribadian, dan mengejawantah menjadi aqidah yang menyatu dalam praktik kerberagamaan umat itu sendiri.

Saya pribadi memandang bahwa telaah kritis terhadap sejarah Islam sangat penting untuk membentuk pemahaman keIslaman kita. Sunnah nabiullah SAWW yang selalu kita coba untuk ikuti dengan sempurna tidak bisa lepas dari telaah sejarah yang ada, terkhusus sejarah sahabat yang merupakan sumber sekunder yang melaluinya kita bisa menerima pemahaman mengenai sunnah Nabi. Sebab lain adalah bahwa dari sahabat pula kita bisa mengambil ibrah atau teladan seperti apa seharusnya kita menafsirkan sunnah Nabi tersebut. Melalui riwayat yang disampaikan dan juga perilaku sahabat itu lah kita mencoba mendalami Sunnah. Apalagi, saudara-saudara seiman yang bermazhab wahabi dan salafi mengikutikan tambahan penafsiran lain mengenai sunnah, bukan saja sunnah nabi, tapi juga sunnah sahabat, tabi’in, tabi’-tabi’in dan ulama salaf. Jadi, pembahasan mengenai perilaku sahabat menjadi sangat krusial dalam mempelajari agama.

Itulah sebabnya, pokok bahasan mengenai perilaku atau “keadilan” para rijal dalam kronik Islam sangat sering mengemuka, karena alasan-alasan di atas. Dalam pokok pembelajaran mengenai hadist, kita sangat menekankan pentingnya mengenali sanad dari sebuah periwayatan hadist. Satu saja periwayat yang dianggap pernah berbuat yang tidak semestinya, maka hadist itu bisa saja tertolak tanpa melihat matannya. Saya pernah membaca bagaimana Imam Bukhari pernah menolak satu hadist hanya karena melihat sang periwayat “membohongi” ayam peliharaannya dengan menggerak-gerakkan tangan seakan-akan ada biji jagung di dalamnya, demi untuk menangkap ayam tersebut.

Ahlul hadist (atau mazhab Sunni) menyatakan bahwa definisi sahabat nabi adalah seseorang yang berjumpa dengan Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam dalam keadaan mukmin dan meninggal dalam keadaan Islam. Ini definisi yang sangat general, perilaku mereka ketika hidup, terutama sepeninggal Rasulullah SAWW kita ketahui terjadi banyak perselisihan di antara mereka. Kalau dikatakan bahwa sahabat itu semua “tidak tercela, tidak boleh dicela”, lantas apakah itu berarti kita membenarkan perilaku sahabat yang tidak sesuai sunnah Nabi?

Perlu dicermati disini bahwa mengkritisi perilaku sahabat, tidak serta merta berujung pada pencelaan dan pengkafiran para sahabat. Saya tidak tahu dari mana sumber tuduhan yang menyatakan bahwa kaum Syiah itu mengkafirkan sahabat. Sepanjang saya membaca literatur dari ulama Syiah (mazhab Imamiah Itsna Asy’ariah)  yang terpercaya, tidak pernah ada ungkapan bahwa mereka menganggap para sahabat, seperti Khalid bin Walid, Abu Hurairah, Abu Sofyan, Muawiyah itu kafir. Kecuali ada nash yang menyatakan bahwa sahabat2 tersebut mengingkari kenabian Muhammad SAWW atau ketauhidan, yang menyebabkan seseorang dianggap kufur dari Islam. Sekira boleh, adakah referensi buku ulama Syiah yang mengkafirkan para sahabat2 itu? – kalau bisa dinukil dari sumber primer, bukan sumber sekunder atau hanya nukilan dari seseorang penulis yang memang bertujuan melakukan distorsi pemahaman terhadap syiah.

Mencela Sahabat tentu tak boleh, tapi melakukan studi kritis dalam rangka mencari hikmah di balik kisah tentu tak diharamkan, sebagaimana sudah dipraktekkan ulama-ulama salaf yang menghasilkan banyak buku sejarah, seperti yang dilakukan Ibnu Katsir, Haikal dan lain-lain.

Jangan kalian mencela Sahabatku, seandainya salah seorang di antara kalian menginfaqkan emas sebesar Gunung Uhud maka tidaklah menyamai satu mud mereka atau setengahnya.” (HR. Bukhari: 3470 dan Muslim: 2540).

Artinya: “Siapa yang mencela Sahabatku, atasnya laknat Allah, para malaikat dan manusia seluruhnya.” (HR. Thabarani dalam Mu’jamul Kabir 12/142, dihasankan oleh al-Albani dalam Silsilah Ahadits ash-Shahihah: 2340).

Konon (saya tak menemukan sumber primer dari riwayat munculnya hadist ini), sebab munculnya hadis ini disebutkan bahwa Khalid bin Walid mencaci ‘Abdurrahman bin ‘Auf. Kalau mengikuti konteks hadist ke-2 di atas, maka Laknat Allah tertimpa kepada Khalid bin Walid?

Sekira bahwa sahabat adalah seseorang yang pernah bertemu Rasulullah SAWW dalam keadaan mukmin dan meninggal dalam keadaan Islam. Dan bagi yang mencela sahabat, akan dikenakan hukum Laknat Allah, para malaikat dan manusia seluruhnya atasnya. Lantas, bagaimana sekira seorang sahabat mencela sahabat nabi lainnya? Apakah kemudian sahabat itu kena hukum laknat Allah juga?

1. Dalam Sunan Ibnu Majah Tahqiq Muhammad Fuad Abdul Baqi 1/45 no 121 terdapat hadis riwayat Sa’ad berikut:  

Ali bin Muhammad menceritakan kepada kami yang berkata Abu Muawiyah menceritakan kepada kami yang berkata Musa bin Muslim menceritakan kepada kami dari Ibnu Sabith dan dia adalah Abdurrahman dari Sa’ad bin Abi Waqash yang berkata ”Ketika Muawiyah malaksanakan ibadah haji maka Saad datang menemuinya. Mereka kemudian membicarakan Ali lalu Muawiyah mencelanya. Mendengar hal ini maka Sa’ad menjadi marah dan berkata ”kamu berkata seperti ini pada seseorang dimana aku telah mendengar Rasulullah SAW bersabda ”barangsiapa yang Aku adalah mawlanya maka Ali adalah mawlanya”. Dan aku juga mendengar Rasulullah SAW berkata kepada Ali ”Kamu disisiKu sama seperti kedudukan Harun disisi Musa hanya saja tidak ada Nabi setelahKu”. Dan aku juga mendengar Rasulullah SAW berkata kepada Ali ”Sungguh akan Aku berikan panji hari ini pada orang yang mencintai Allah dan RasulNya”. Hadis ini telah dinyatakan Shahih oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Sunan Ibnu Majah no 98

2. Ibnu Katsir dalam Al Bidayah Wan Nihayah 7/204 telah membawakan riwayat bahwa mereka yang mengepung Usman berada dibawah pimpinan Abdurrahman bin Udais

Abu Tsawr Al Fahmy berkata ”Aku mendatangi Usman, ketika aku berada di tempat Beliau ternyata orang-orang Mesir kembali ke Madinah maka aku mendatangi Usman dan memberitahukannya. Ia bertanya ”bagaimana kamu lihat keadaan mereka?”. Aku menjawab ”Aku melihat ada niat jahat yang tergambar di wajah mereka, mereka di bawah pimpinan Ibnu Udais”. Kemudian Ibnu Udais menaiki mimbar Rasulullah SAW dan mengimami shalat Jum’at serta mencela Usman di dalam khutbahnya.

Tentang sosok Ibn Udais, Ibnu Abi Hatim berkata dalam Al Jarh Wat Ta’dil juz 5 no 1182: Abdurrahman bin Udais Al Balawi adalah seorang Sahabat Nabi”

Dalam Al Isabah 4/334 no 5167 Ibnu Hajar menuliskan biografi Ibnu Udais dan mengutip dari Ibnu Sa’ad, Ibnu Sa’ad berkata “Ia seorang Sahabat Nabi SAW dan mendengar dari Beliau”

3. Rasulullah memperingatkan sahabat tentang Kaum Munafik

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abi Syaibah yang berkata telah menceritakan kepada kami Aswad bin Amir yang berkata telah menceritakan kepada kami Syu’bah bin Hajjaj dari Qatadah dari Abi Nadhrah dari Qais yang berkata “saya pernah bertanya kepada Ammar, bagaimana pendapatmu tentang perang terhadap Ali? Atau bagaimana pesan yang disampaikan Rasulullah SAW kepadamu?. Ammar menjawab “Rasulullah SAW tidak pernah menyampaikan pesan kepada kami suatu pesan yang tidak Beliau sampaikan juga kepada orang-orang”. Saya diberitahu oleh Huzaifah dari Nabi SAW yang bersabda “Di kalangan Sahabatku ada dua belas orang munafik. Di antara mereka ada delapan orang yang tidak akan masuk surga sampai unta masuk ke lubang jarum”. Delapan orang diantara mereka akan mendapat Dubailah, sedangkan empat lainnya aku tidak hafal yang dikatakan Syu’bah tentang mereka. [Shahih Muslim 4/2143 no 2779 (9) tahqiq Muhammad Fuad Abdul Baqi]

 

Belum lagi soal kisah sahabat Thalhah, Zubair, Ummul Mukminin Aisyah ra, Muawiyah, Amr bin Ash dan lain-lain yang pernah berperang melawan Imam Ali bin Abi Thalib. Bukan saja mereka mencela, tapi berperang melawan beliau.

Mari juga kita simak hadist tentang nubuwat sahabat dari Abu Said dalam Musnad Ahmad 3/28 no 11236 yang dinyatakan shahih oleh Syaikh Syu’aib Al Arnauth:

Dari Abu Sa’id Al Khudri bahwa Nabi SAW bersabda “Aku berkata “SahabatKu, SahabatKu,” maka dikatakan kepadaku “Sesungguhnya Engkau tidak mengetahui apa yang sudah mereka ubah sepeninggalMu”. Lalu aku berkata “Jauh, jauh” atau berkata “celakalah celakalah mereka yang mengubah sepeninggalKu”.

Apa kira-kira maksud hadist ini? Apa yang telah diubah oleh para sahabat Nabi? Agama kah, sunnah kah?

Saya sepakat bahwa kita tidak perlu mengungki-ungkit kekeliruan yang dilakukan sahabat, juga tidak perlu dicela, karena memang mencela itu perbuatan buruk. Namun mempelajari perilaku sahabat,  juga tidak terlarang karena sama-sama kita pahami bahwa sahabat tidak maksum, dan guna nya adalah untuk mencari sumber Islam paling shahih.

Sebagaimana yang disampaikan di awal tulisan ini, mempelajari sejarah Islam terutama di masa-masa awal termasuk perbedaan pendapat diantara sahabat, demi untuk mengambil hikmah bahwa perbedaan itu wajar tanpa perlu berujung kepada pengkafiran sebagaimana yang sering kita saksikan diantara sesama Muslim saling mengkafirkan karena hanya berbeda mazhab.

Wallahu ‘alam bis shawab.

Advertisements

5 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. indobrad said, on December 20, 2011 at 6:00 pm

    jadi intinya, telaah kritis boleh asal tetap dengan sikap hormat gitu ya? 😉

    • daengrusle said, on January 24, 2012 at 9:02 am

      setuju…:)

  2. giewahyudi said, on December 29, 2011 at 4:30 pm

    Kafir mengkafirkan itu sebenarnya pekerjaan yang sia-sia..

    • daengrusle said, on January 24, 2012 at 9:01 am

      setuju Gie…

  3. DeO(Daeng Oprek) said, on March 16, 2012 at 3:40 pm

    Terimakasih tulisannya, tulisannya cerdas, perlu pengkajian memang sejarah islam, baik sebelum dan setelah sepeninggal Rasullah SAW, memeluk agama tidak hanya menelan mentah2 saja, apa yg diberikan oleh guru2 semasa SD langsung diterima begitu saja, karena mungkin saat itu gaya penanaman pengajar yg otoriter tanpa dijelaskan makna dan hakekatnya, jadinya, setelah dewasa bingung sendiri dan bertanya pada diri “Sebenarnya ini untuk apa ya?”, maka dgn penelusuran sejarah, makna, dan apa yg sebenarnya terjadi, maka insya Allah kebenaran tetap ada. seperti dalam kutipan ayat “Bagi kaum yang berpikir”. Maka agama bersama pikiran dan hati lebih enak melangkah.
    By the way, kalau ada artikel lain, share lagi ya, aku terus mengkaji hal2 seperti ini,
    salam


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: