…menulis untuk mencicil ketidaktahuan

Berakhlak Dalam Perbedaan

Posted in Indonesia by daengrusle on December 15, 2011

Berikut ini adalah tulisan rekan saya Mustamin al-Mandary, kakak dan kawan lama semenjak di Makassar dan Balikpapan. Tulisan yang beliau buat berkenaan dengan penyikapan terhadap banyaknya tuntutan atau klaim men-dlaifkan hadist dari golongan tertentu, yang kemudian bermuara pada stigma “sesat” atau “kafir” pada golongan tersebut. Padahal kita tahu bahwa hadist hanyalah sumber hukum yang tidak wajib karena sifat relatifitasnya. Berbeda dengan al-Qur’an yang kebenarannya absolut. Selamat membaca, semoga mencerahkan wawasan kita semua.

===

BERAKHLAQ DALAM PERBEDAAN

oleh Mustamin Al-Mandary

Pendahuluan

Beberapa waktu ini, saya banyak dikirimi artikel tentang hadits-hadits yang dilemahkan dan didhaifkan oleh ulama tertentu. Anehnya, hadits-hadits tersebut sangat populer di kalangan ulama yang lain. Karena itu, saya ingin menuliskan sedikit gambaran tentang sejarah penulisan hadits, juga saya ingin memberikan beberapa contoh adanya perbedaan dalam beberapa hadits yang menceritakan hal sama, ada juga hadits yang dilemahkan oleh ulama tertentu tetapi dikuatkan oleh ulama lain.

Sepeninggal Rasulullah, para sahabat mulai kehilangan tempat untuk bertanya dalam segala hal, terutama persoalan-persoalan keagamaan yang bisa menyangkut tata cara ibadah, hukum-hukum agama dan bahkan tata cara muamalat. Malah, masalah yang paling pelik dihadapi para sahabat adalah menentukan pengganti atau khalifah Rasulullah, sehingga ketika jenazah Rasulullah belum dikebumikan, sekelompok orang kemudian berkumpul di sebuah balai yang disebut Saqifah, melakukan “rapat luar biasa”  yang dengan caranya sendiri kemudian memilih Abu Bakar sebagai khalifah pertama. Namun yang pada saat yang bersamaan, di samping mesjid Nabawi, di dalam rumah Rasulullah, sekelompok sahabat yang lain sedang mengurus jenazah suci Rasulullah.

Perbedaan bukanlah hal yang luar biasa di kalangan para sahabat Rasul. Di dalam Sahih Bukhari, di bab Haji, disebutkan sebuah hadits berkali-kali. Pada waktu haji, sesampainya Rasulullah di Mina, para sahabat yang mengikuti beliau kemudian datang kepada Rasulullah dengan beberapa pertanyaan menyangkut tata cara haji. Di antara mereka ada yang mengatakan bahwa “aku bercukur dulu sebelum menyembelih kurban”, yang lain berkata “aku melempar jumrah dulu baru bercukur”, malah ada yang berkata “aku thawaf dulu sebelum melempar jumrah”. Pada saat itu ada sekitar 24 cara berhaji yang disampaikan kepada Rasulullah dalam percakapan ini, namun Rasulullah selalu menjawabnya dengan satu kalimat “Laa haraj (tidak apa-apa)”.

Ketika Umar Bin Khattab mengesahkan Abu Bakar sebagai khalifah pertama, ada suatu kaum yang dipimpin oleh Malik bin Nuwairah menolak membayar zakat fitrah kepada khalifah pertama karena menganggap bahwa Rasulullah sudah mengangkat Sayyidina Ali sebagai penggantinya di Ghadir Qum. Dalam kasus ini, Abu Bakar kemudian mengutus Khalid bin Walid beserta satu pasukan untuk menyelesaikan masalah ini. Ketika sampai di kampung Malik, Khalid bin Walid kemudian menyuruh Dhirar Ibn Azwar Al-Asadi untuk membunuh Malik bin Nuwairah. Pada malam harinya, pasukan Khalid merayakan kemenangan ini dengan menyembelih seekor domba, Khalid malah memerintahkan agar kepala Malik dibakar di dalam api yang digunakan untuk memasak domba tersebut. Ketika pesta selesai, Khalid kemudian meniduri istri Malik bin Nuwairah yang suaminya baru terbunuh siang harinya. Kasus menjijikkan ini kemudian terbongkar karena penyaksian Abu Qatadah dan Abdullah bin Umar. Ketika diperhadapkan kepada khalifah Abu Bakar, Khalid bin Walid berkata “innii ta’awwaltu wa akhtha’tu (aku melakukan ta’wil tetapi aku salah). Dalam persidangan, Umar Bin Khattab meminta agar Khalid bin Walid dihukum rajam sampai mati (karena berzina), namun Abu Bakar sebagai khalifah tidak melakukannya dengan alasan “aku tidak merajamnya karena dia melakukan ta’wil dan dia bersalah”. (Silahkan lihat Al-Isabah, III, hal 337; Tarikh Al-Ya’qubi, II, hal 110; Kanz Ummal, III, 132; Tarikh Abu Al-Fida’, 158).

 

Penulisan Hadits

Mulai di zaman kekhalifahan Abu Bakar, perbedaan pendapat di antara para sahabat mulai kelihatan, bahkan dimulai tepat setelah Rasulullah meninggal. Namun karena kebutuhan akan rujukan mulai dianggap sangat urgen, maka sebagian di antara sahabat mulai ada yang menulis hadits. Akan tetapi, ternyata usaha ini mendapat tantangan dari khalifah Abu Bakar sendiri, beliau justru mengatakan kepada orang banyak “Kalian telah meriwayatkan banyak hadits dari Rasulullah yang justru kalian juga berselisih paham mengenainya. Orang-orang yang datang setelah kalian justru akan berselisih lebih tajam lagi. Oleh karena itu janganlah kalian meriwayatkan sesuatupun dari Rasulullah dan jika ada yang bertanya kepada kalian, katakanlah bahwa kitab Allah bersama kita, maka hukumilah halal-haram sesuatu dengan kitab tersebut” (Tadzkirah Al-Huffaz, I, hal.3, tulisan Al-Dzahabi). Bahkan, menurut Muttaqi’ Al-Hindi di dalam Kanzul Ummal, V, hal 237, Abu Bakar pernah menyuruh orang untuk mengumpulkan hadits yang sempat ditulis, dan pada saat itu Abu Bakar kemudian membakar hadits yang berjumlah sekitar 500.

Nasib penulis hadits bukan bertambah baik sepeninggal Abu Bakar dan setelah naiknya Umar Bin Khattab sebagai khalifah kedua. Bahkan, selain membakar hadits (baca: Ibn Sa’ad, Thabaqat, V, hal.140), Umar juga sempat memenjarakan tiga orang sahabat yang menuliskan hadits sampai ketiga sahabat tersebut meninggal dunia; mereka adalah Ibn Mas’ud, Abu Darda’ dan Abu Mas’ud al-Ansari (baca: Tadzkirah Al-Huffaz, I, hal.8, tulisan Al-Dzahabi; Majma’ al-Zawa’id, I, 149; al-Mustadrak al-Hakim, I, 110).

Pelarangan penulisan hadits juga berlanjut semasa pemerintahan khalifah Usman bin Affan. Kepada para sahabat, Usman berkata: “Tidak boleh bagi seseorang untuk meriwayatkan hadits yang tidak diriwayatkan pada zaman khalifah Abu Bakar dan Umar bin Khattab (baca: Muntakhab al-Kanz fi Hamisy Musnad Ahmad, IV, 64; al-Sunan al-Darimi, I, 132; Tabaqat Ibn Sa’ad, II, 354). Lantas apa yang bisa diriwayatkan jika pada zaman pemerintahan khalifah sebelumnya penulisan hadits sudah dilarang?

Para penulis hadits mulai bernafas lega pada zaman pemerintahan khalifah ketujuh dinasti Umayyah, yakni pada masa pemerintahan Umar bin Abdul Aziz (wafat 101H). Dengan dukungan khalifah, pada saat inilah muncul penulis hadits seperti al-Zuhri dan al-Hazm. Sayangnya, hadits-hadits yang mereka kumpulkan masih sangat sedikit karena khalifah keburu meninggal pada tahun 101H. (Baca: Al-Hadits, Analysis and an Overview oleh AS Hasyim, MD; Hadits Dhaif, Dr. H. Ahmad Sutarmadi, hal.3).

Selanjutnya, nanti pada abad kedua Hijriah baru muncul penulis hadits yang cukup bagus dan sistematis. Pada masa ini lahirlah kitab Al-Muwatta Imam Malik bin Anas, juga kodifikasi  hadits oleh Ibn Jarih, Al-Tsawri, Ibn Basyir. Dan penulisan haditspun dilakukan pada masa-masa selanjutnya, sehingga pada abad ketiga hijrah, mulailah ditulis enam kitab hadits (kutubus sittah) yang menjadi rujukan utama Sunni sampai saat ini. Keenam kita hadits tersebut adalah:

  1. Sahih Bukhari, oleh Imam Bukhari w.256H:
  2. Sahih Muslim, oleh Imam Muslim w.261H.
  3. Sunan Abu Dawud, oleh Abu Dawud w.276H.
  4. Sunan Ibn Majah, oleh Ibn Majah w.273H.
  5. Jami’ at-Tirmidzi, oleh al-Tirmidzi w.279H.
  6. Sunan al-Nasaa’i, oleh An-Nasa’I w.303H.

 

Penggolongan Hadits

Setelah kitab-kitab hadits terkodifikasi, mulailah muncul pensyarah-pensyarah hadits serta lahirnya ilmu musthalah al-hadits. Bersamaan dengan itu muncul pula ilmu yang membahas masalah sanad, matan, perawi dan lain-lain. Terlepas dari perbedaan-perbedaan ulama dalam membahas masalah ini, kita perlu memahami sedikit tentang pembahasan ilmu hadits.

Hadits menurut  jumlah perawinya:

  1. Mutawatir: dirawikan oleh banyak orang.
  2. Ahad: dirawikan oleh satu atau beberapa orang saja yang tidak memenuhi mutawatir. Hadits ahad digolongkan dalam:
    1. Masyhur: dirawikan oleh tiga orang atau lebih tetapi belum mencapai derajat mutawatir
    2. ‘Aziz: diriwayatkan oleh dua orang saja, walaupun pada satu tempat.
    3. Gharib: dirawikan oleh satu orang saja.

Hadits menurut kualitasnya:

  1. Sahih: hadits yang sanadnya bersambung melalui orang-orang yang terpercaya (tsiqah).
  2. Hasan: sanad dan perawinya bersambung, namun nilainya di bawah sahih karena adanya salah satu atau lebih perawi yang ingatannya agak kurang.
  3. Dha’if: tidak memenuhi syarat sahih atau hasan.

Hadits menurut ketersambungan perawinya:

  1. Marfu’: disandarkan kepada Rasulullah, sanadnya bisa bersambung bisa juga terputus.
  2. Maushul: sanadnya bersambung sampai kepada Rasulullah atau sampai sahabat saja.
  3. Musnad: sanadnya bersambung sampai kepada Rasulullah, tetapi pada lahirnya saja.
  4. Mu’allaq: dibuang permulaan sanadnya dari awal, baik seorang maupun beberapa orang.
  5. Mursal: dirawikan oleh thabi’i tanpa menyebutkan perantaranya kepada Rasulullah.
  6. Munqathi’: seorang atau lebih dari perawinya tersamar.
  7. Mauquf: diriwayatkan oleh sahabat di antara mereka saja, sanadnya bisa bersambung bisa terputus.
  8. Maqthu’: diriwayatkan oleh Thabi’i dan terputus di antara mereka saja.

(Baca: Hadits Dhaif, Dr. H. Ahmad Sutarmadi, hal.7-10)

Dengan adanya penggolongan hadits yang menjadi rujukan dalam penilaian suatu hadits, ternyata para ulamapun tidak terlalu sependapat dalam masalah ini. Muhammad Al-Gahazali mengungkapkan kekhawatirannya ketika menulis: “Terkadang terdapat sebuah hadits yang sahih sanadnya tetapi dhaif matannya setelah para fuqaha melihat ada cacat di dalamnya.” (Baca: Muhammad Al-Ghazali, Sunnah an-Nabawiyyah bain ahl al-fiqh wa ahl al-hadits pada bab I) Bahkan di dalam buku ini, Al-Ghazali menulis sebuah contoh ketika mengatakan:

“Akhir-akhir ini datang upaya mensahihkan sebuah hadits ‘daging sapi adalah penyakit’ yang datang dari seorang guru besar Albania. Padahal setiap orang yang mau merenungi Alquran tentu akan memahami hadits ini tidak bernilai sama sekali walaupun sanadnya sangat sahih. Lagi pula, di dalam dua ayat Alquran, Allah SWT membolehkan daging sapi untuk dimanfaatkan manusia” (silahkan lihat QS Al-An’am: 143-144).

Dalam menceritakan tentang lahirnya Syi’ah, ada banyak ulama yang sangat gencar untuk mengemukakan alasan bahwa Syi’ah muncul karena hasutan seorang Yahudi yang bernama Abdullah Bin Saba’. Lihat misalnya tulisan Muhammad Asri Yusuf dari Malaysia dan Muhammad Al-Khatib dari Pakistan. Akan tetapi, ketika dilakukan suatu penelitian, ternyata sumber yang menceritakan tentang Abdullah Bin Saba’ itu bermuara dari satu orang saja, yakni Sayf Ibn Umar Al-Dhabbi Al-Usayyidi Al-Tamimi yang hidup di abad kedua hijrah pada zaman pemerintahan Harun Al-Rasyid, meninggal tahun 170H. Semua kitab tarikh yang menceritakan tentang Abdullah Bin Saba untuk pertama kalinya yakni Tarikh Tabari, Tarikh Al-Dzahabi dan Tarikh Ibn Asakir semuanya mengaku mengambil langsung dari Sayf Al-Tamimi. Tetapi lihatlah misalnya komentar ulama-ulama tentang Sayf ini:

  1. Al-Hakim (w. 405) mengatakan: “ceritanya tertolak.”
  2. An-Nisa’I (wafat 303H) mengatakan: “Cerita Sayf adalah lemah dan karenanya harus ditolak. Dia adalah orang yang tak terpercaya dan pembohong.”
  3. Abu Hatam (w. 277H) mengatakan: “hadits-hadits Sayd tertolak”
  4. Abu Dawud (w. 316H) mengatakan: “Sayf tdk ada artinya, dia adalah seorang pembohong. Di antara haditsnya ada yang sahih, tetapi kebanyakan adalah hadits yang tertolak”
  5. Al-Suyuti (w.900H) mengatakan: “hadits Sayf sangat lemah”.
  6. Dan lain-lain.

(Lihat Syi’ah Ensiclopedia, Editor Ali Abbas, 2000)

Ada banyak hadits dan tarikh yang seperti ini, namun cukuplah contoh di atas menjadi renungan kita.

 

Studi Ktitik Hadits

Dari penggolongan hadits di atas, para ulama kemudian memberikan penilaian kepada suatu hadits yang kemudian dikenal dengan studi kritis hadits. Dalam membahas suatu hadits, lahirlah dua kelompok ulama yang masing-masing punya keterkaitan dengan penilaian suatu hadits, mereka adalah ahli hadits (muhadditsun) dan ahli fiqh (fuqaha).

Adalah suatu kekhawatiran, ketika kadang-kadang ada suatu hadits yang dianggap sahih oleh para ahli hadits karena ketersambungan sanadnya, tetapi dikritik oleh ahli fiqh karena kecacatan maknanya. Karena itu, dalam menilai suatu hadits, ada beberapa standar yang disepakati para ulama: 3 syarat untuk sanad, dan 2 syarat untuk matan (materi hadits).

  1. Setiap perawi dalam suatu sanad harus memiliki tingkat kecerdasan dan kesadaran mengingat serta mampu menyalinnya sesuai dengan aslinya.
  2. Perawi harus memiliki akhlaq dan bertaqwa kepada Allah dengan menolak segala kemungkinan penyimpangan dalam periwayatan.
  3. Kedua point tersebut diatas harus ada dalam suatu rangkaian riwayat. Jika tidak, maka gugurlah kesahihan hadits dalam riwayat tersebut.
  4. Matan hadits tidak boleh syadz (kejanggalan yang bertentangan dengan Alquran dan akal sehat).
  5. Di dalam matan tidak ada suatu ‘illah qadihah (alasan tertolaknya suatu hadits).

(Baca: Muhammad Al-Ghazali, Sunnah an-Nabawiyyah bain ahl al-fiqh wa ahl al-hadits pada bab I)

Saya juga ingin menambahkan, dengan mengutip usulan Dr. Jalaluddin Rakhmat dalam menilai suatu hadits, yakni kita harus menambahkan lima kategori di atas dengan suatu metode yang disebut “metode kritis dalam studi hadits”. Di dalam buku Al-Musthafa, Pengantar Studi Kritis Tarikh Nabi, Dr. Jalaluddin Rakhmat menjelaskan bahwa meskipun secara sanad dan matan suatu hadits dapat diterima, akan tetapi jika ditemukan kejanggalan didalamnya, maka hadits tersebut selain dihadapkan dengan kandungan Alquran, juga harus dikonfrontir dengan sejarah sehubungan dengan perawinya, termasuk mazhab politik dan keberpihakan perawi tersebut. Dalam kasus ini Dr. Jalaluddin Rakhmat mengambil sebuah contoh tentang kisah saat-saat terakhir Rasulullah. (baca: halaman 112-114). Dikatakan bahwa, terdapat dua versi cerita yang keduanya bersumber dari Aisyah ra, tentang keadaan dan tempat dimana Rasulullah menghembuskan nafasnya yang terakhir. Di dalam kitab Ibn Asakir juz 3:15, disebutkan dua cerita yang diriwayatkan oleh Aisyah ra bahwa Rasulullah Saww meninggal di pangkuan sayyidina Ali. Tetapi di dalam Sahih Bukhari Kitab Al-Washaya (juga di Fathul Bari’ 5:357) serta di dalam Sahih Muslim kitab al-Washiyyah, Aisyah menceritakan bahwa Rasulullah meninggal dalam pangkuannya. Secara sanad dan matan, kedua jalur riwayat ini sahih, tetapi manakah yang dapat dianggap benar?

Kalau kita melihat sejarah Islam, Aisyah ra pernah memimpin suatu pasukan untuk melawan khalifah keempat Ali bin Abi Thalib dengan alasan menuntut pembunuh khalifah Usman. Akan tetapi, di akhir perang yang disebut Perang Jamal itu, Aisyah ra yang dibantu oleh Thalhah dan Zubair akhirnya kalah. Sehingga, dalam hal ini dapat disimpulkan bahwa Aisyah ra berada dipihak yang bersebarangan dengan sayyidina Ali. Karenanya, Aisyah punya alasan untuk tidak menyampaikan kelebihan-kelebihan sayyidina Ali, seperti yang diakui oleh Ibn Abbas yang ditulis di dalam kitab Thabaqat Ibn Sa’ad 2:232.

 

Mendahulukan Akhlaq

Apa yang ingin saya sampaikan dalam beberapa sub judul di atas hanyalah untuk menunjukkan bahwa perbedaan terhadap penafsiran atas suatu teks keagamaan sudah menjadi tradisi, ini baru pandangan tentang hadits, belum menyangkut penafsiran terhadap kitab suci Alquran. Saya juga ingin menunjukkan bahwa betapa sulitnya memahami sebuah hadits. Saya tidak bermaksud untuk tidak melakukan sebuah kritik dalam menerima hadits, justru saya mengharap bahwa kita harus lebih berhati-hati di dalam:

  1. Menerima hadits.
  2. Menilai hadits.
  3. (Dan ini yang penting) Menyalahkan sebuah hadits yang diyakini kebenarannya oleh saudara Muslim yang lain.

Dengan melihat keadaan ini, kita hanya bisa mengambil sikap bahwa pada akhirnya kita dapat menempuh jalan seperti berikut:

  1. Kita melakukan pengkajian sendiri, menelusuri kesahihan teks-teks keagamaan, apakah menyangkut tafsir Alquran terlebih menyangkut kesahihan hadits-hadits yang ternyata banyak faktor yang harus dipertimbangkan. Pekerjaan ini harus dilakukan, agar kita sampai pada sebuah objektivitas yang objektif, tanpa pretensi dan tendensi. Kita tidak boleh bertaqlid kepada siapapun, apapun yang disampaikan oleh seorang ulama harus dikaji ulang, karena seorang ulama bukanlah seorang nabi yang bebas dari kesalahan.
  2. Kita mempercayakan keberpihakan kita kepada seorang ulama yang kita percaya, karena kebaikan akhlaqnya, karena ketaqwaannya, karena kedalaman ilmunya. Pada keadaan ini kita harus meyakini relatifitas keberpihakan yang kita anut, artinya bahwa pilihan apapun yang dipilih oleh saudara kita selama dia masih memegang kepada kaidah-kaidah umum keIslaman, kita tidak boleh menghakiminya dengan kesalahan apalagi menyebutnya kafir, ada banyak hadits yang dianggap sahih oleh seorang ulama namun disebut dhaif oleh ulama lainnya. Inilah yang disebut bertaqlid secara objektif. Taqlid dalam hal ini adalah sebuah pilihan yang tetap kritis, dengan mencoba semaksimal mungkin memahami Alquran serta menerapkan metode kritis yang disebutkan di atas. Jangan mudah menyalahkan mazhab lain hanya karena mazhab tersebut kita anggap memegang hadits yang kita dhaifkan, bisa jadi justru dia juga mendhaifkan hadits yang kita rujuk.

Saya sendiri memilih sikap seperti pada point 2 di atas. Saya merasa bahwa saya tidak mampu, karena latar belakang dan kemampuan saya, akhirnya saya hanya bisa menjadi seorang pengikut yang kritis. Jika saat ini saya bertaqlid dalam masalah hukum kepada seorang ulama, saya harus tetap punya akses untuk mempertanyakan dasar dan latar belakang istinbat (penarikan hukum) yang dilakukannya. Namun, pada tingkatan tertentu, saya hanya bisa mempercayai ulama yang saya taqlidi seperti kepercayaan kepada seorang dokter yang memberi saya obat.

Kita mungkin heran ketika Imam Malik (mazhab Maliki) menghalalkan daging anjing sementara tiga mazhab lainnya mengharamkannya. Anda juga pasti sangat heran ketika seorang laki-laki yang berzina dengan seorang perempuan kemudian perempuan tersebut melahirkan anak perempuan, maka laki-laki tersebut dibolehkan oleh Imam Syafi’I (mazhab Syafi’I) untuk mengawini anak perempuan hasil zinanya itu. Anda mungkin tercengang kalau di dalam Sahih Bukhari diriwayatkan sebuah hadits dari Ibn Abbas bahwa Rasulullah setiap mengucapkan Allahu Akbar dalam shalatnya beliau selalu mengangkat tangannya (seperti takbiratul ihram), tetapi mengapa kita tidak pernah melakukannya? Atau tahukah saudara bahwa mazhab Maliki memakruhkan bersedekap dalam shalat sementara kita melakukannya setiap shalat? Lantas pernahkan kita mengetahui mengapa kita harus bersedekap dalam shalat kita itu?

Di awal tulisan ini, saya mengutip sebuah kisah tentang cara para sahabat Rasulullah mengerjakan haji. Ketika Rasulullah mengatakan “la haraj” untuk setiap tata cara, dapat disimpulkan bahwa ada yang disebut kebenaran majemuk. Kita tidak boleh menyalahkan seseorang hanya karena dia berbeda dengan mazhab kita, terlebih lagi jika “kebenaran” pahaman kita hanyalah sebuah tafsiran terhadap teks-teks agama. Kita terkadang ketika mendengar atau membaca bahwa seorang ulama Fulan mensahihkan hadits A dan mendhaifkan hadits B, maka kita melakukan hal yang sama. Setelah keberpihakan ini, kita mulai menyalahkan orang yang mensahihkan hadits B, kita memaksanya mengikuti ulama Fulan, kita menyuruh mereka mengkritik ulama yang mensahihkan hadits B tersebut, pada saat yang sama kita tidak pernah mengkaji pendapat ulama Fulan bahwa hadits B itu dhaif. Inikah yang disebut objektif.

Para ulama pendiri mazhab empat di Sunni, dalam hidup mereka tidak pernah menyalahkan apalagi mengkafirkan satu sama lain. Imam Hanbali berguru kepada Imam Syafi’I, Imam Syafi’I berguru kepada Imam Malik, Imam Malik berguru kepada Abu Hanifah (mazhab Hanafi) dan Abu Hanifa berguru kepada Imam Ja’far (Imam keenam dalam mazhab Syi’ah). Mereka berbeda pendapat tetapi tidak saling mengkafirkan, mereka mendahulukan akhlaq di atas fiqh yang mereka bangun. Lalu mengapa kita yang menjadi pengikut mereka harus saling menyalahkan bahkan saling mengkafirkan? Cukup beranikah kita untuk menyalahkan orang yang belum tentu salah pada saat yang sama kita juga belum tentu benar?

Saya sendiri mengikuti mazhab tertentu, tetapi saya tidak menutup mata terhadap apa yang dianut oleh saudara-saudara Muslim yang lain. Bagi saya, saya akan memegang prinsip seperti berikut:

  1. Akan tetap menganggap Muslim siapapun ketika dia masih mengakui Allah adalah Tuhannya dan Muhammad adalah RasulNya.
  2. Akan tetap menganggap Muslim siapapun yang masih mengakui bahwa ada syariat yang diperintahkan oleh Allah walaupun dia tidak melakukannya, misalnya shalat, puasa dll.
  3. Akan selalu bersikap baik, kalau boleh digandakan, kepada siapa saja yang berbuat baik kepada saya.
  4. Tidak akan pernah menghindari saudara Muslim yang lain hanya karena dia berbeda mazhab dengan saya.
  5. Menghargai keberpihakan mazhab seseorang.
  6. Selalu membangun dialog yang sehat dan bermartabat.
  7. Tetap kritis dan siap untuk dikritisi.
  8. Tidak memutlakkan kebenaran yang saya anut saat ini dengan dalil adanya kebenaran majemuk, gradasi kebenaran, dan relatifitas kebenaran tafsiran karena yang mutlak hanya Allah.
  9. Akan mendahulukan kebersamaan dibanding fiqh yang saya anut. Jika sekiranya saya bermazhab Maliki yang tidak bersedekap dalam shalat tetapi kemudian bermakmum kepada seorang saudara Muslim yang bermazhab Syafi’I yang harus bersedekap, maka sayapun akan bersedekap. Inilah yang saya sebut Berakhlaq dalam perbedaan.
  10. Saya akan selalu belajar untuk memperbaiki pemahaman, bahwa belajar adalah tugas yang tidak pernah berakhir.

 

Barakallahu lakum.

Ya Allah, berikanlah kami kekuatan untuk beribadah kepadaMu,

Pemahaman terhadap hikmahMu,

Dan limpahkanlah salam kepada Rasulullah dan para keluarganya

Advertisements
Tagged with: , , , ,

4 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. DeO(Daeng Oprek) said, on March 16, 2012 at 5:13 pm

    Jadi intinya tetap berakhlak dalam perbedaan, aku kira itulah contoh yg baik yg pernah diajarkan, dan bukankah perbedaan diantara manusia itu adalah sudah dari sananya?. belajar dan terus belajar adalah kata yg bijak. terimakasih untuk tulisan yg mencerahkan ini.

    Aku copy ya, sebagai dokumentasi library. Makasih.

  2. Mushlihin said, on July 8, 2012 at 3:18 pm

    Jadi teringat buku “FIKIH LIMA MAZHAB”

  3. abu ali said, on December 26, 2012 at 11:52 am

    Pecahnya umat islam sejak nabi meninggal. Pengikut Ali dan diluar Ali. Aneh mmg jk nabi meninggalkan dua pesan quran dan sunah tp justru kalifah2 kecuali kalifah ali dan abdul azis melarang menulis hadis. Tp dilain pihak dua pesan nabi quran dan itrah ahl bayt malah dihilangkan.

    • daengrusle said, on December 29, 2012 at 5:18 pm

      terimakasih komentarnya.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: