…menulis untuk mencicil ketidaktahuan

Dua Wajah Asyura

Posted in Kenangan by daengrusle on December 5, 2011

Perayaan Asyura di Bahrain

 

Sejarah selalu punya sisi ironi. Entah  siapa yang memulai, ada semacam ‘kearifan’ untuk menyikapi sejarah dengan santun; mengingat yang baik-baik saja dan berusaha mengubur dalam-dalam kisah yang mencederai ‘kebaikan’nya.

Tapi sejarah tidak selalu menyajikan kronik yang berakhir indah, terutama bagi pihak yang konon terkalahkan. Jauh di dalam ingatan penerusnya, mereka merawat kenangan berbeda dari yang disajikan sejarah. Sejarah memang selalu punya sisi ironi. Dan tragisnya, keyakinan hidup kita banyak terbentuk karena pergumulan kita dengan bacaan sejarah itu!

Asyura, salah satu hari ‘suci’ bersejarah dalam agama Islam, juga agama-langit lainnya, tak lepas dari konteks yang melahirkan dua wajah berbeda. Penamaan ‘asyura’ sendiri merujuk ke bahasa arab, asyarah yang berarti sepuluh. Namun secara terminologis dikatikan khusus kepada 10 Muharram.

 

Wajah Sukacita Asyura

Dalam banyak tradisi agama, puasa memang dimaksudkan sebagai ungkapan atau peringatan rasa syukur kepada Sang Pencipta atas ‘kebaikan’ yang diberikanNya. Juga, terkadang sebagai ibadah untuk ‘mengambil hati’ sang Maha Agung agar memberikan ampunan dan barokah bagi umat yang melaksanakannya. Pun demikian dengan puasa pada hari asyura. Banyak riwayat yang mengungkapkan bahwa puasa ini di ‘syariat’kan sebagai ungkapan suka cita, dari jaman umat nabi Nuh as hingga Muhammad saw.

Sepanjang pekan lalu dan mungkin akan terus berlangsung hingga 10 Muharram tiba, banyak pesan dakwah berseliweran di email, BBM, twitter dan facebook, mengingatkan pentingnya melaksanakan puasa sunnah Asyura pada tanggal 9-10 Muharram.

Pesan baik itu berbunyi bahwa barang siapa berpuasa pada 9-10 Muharram atau besok (Senin & Selasa) itu seolah-olah ia telah melakukan ibadah selama 2 tahun, dan siapapun yang mengingatkan orang lain hal ini seolah-olah ia telah melakukan ibadah selama 80 tahun.

Asal muasalnya berikut ini. Diceritakan dalam beberapa sumber bahwa awalnya puasa Asyura ini hanya dikerjakan oleh Nabi Muhammas SAW sendiri. Kemudian setelah itu Nabi memerintahkan umatnya untuk berpuasa. Setelah Ramadhan diwajibkan, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memerintahkan lagi, cuma menganjurkan saja.  (HR. Bukhari: 3/454, 4/102, 244, 7/147. Muslim: 2/792, dll).

Ada juga riwayat yang menyatakan bahwa Rasulullah berpuasa hanya pada tgl 10 Muharram saja, kemudian ‘berkeinginan’ menambah puasa pada tgl 9 untuk menyelisihi orang-orang Yahudi yang juga berpuasa pada setiap tgl 10 (mungkin yang dimaksud adalah Yom Kippur, 10 bulan Tishrei, Day of Atonement/Hari Pembalasan) . (Fathul-Baari 4/245). Namun puasa tanggal 9 Muharram ini tidak pernah dilaksanakan karena beliau SAW keburu dipanggil Allah azza wa jalla.”(HR: Muslim 2/798).

 

Mitos-mitos di seputar Asyura

Konon, bertepatan dengan 10 Muharram ini ada banyak kejadian yang terjadi di umat-umat terdahulu semisal; Allah SWT menerima taubat nabi Adam as, Bebasnya Nabi Nuh dan ummatnya dari banjir besar, Nabi Ibrahim selamat dari apinya Namrudz, Kesembuhan Nabi Yakub dari kebutaan dan ia dibawa bertemua dengan Nabi Yusuf pada hari Asyura, Nabi Musa selamat dari pasukan Fir’aun saat menyeberangi Laut Merah, dan Nabi Isa diangkat ke surga setelah usaha Roma untuk menangkap dan menyalibnya gagal.

Disamping itu, ada banyak lagi kisah yang berbau mitos melekat pada peringatan 10 Muharram ini, seperti bahwa pada hari yang sama merupakan hari awal Allah SWT menciptakan Luh Mahfuz dan alam semesta, menurunkan Rahmat/hujan, membangun ‘Arasy, juga hari dimana Allah SWT mencipta malaikat agung Jibril as.

Adalah seorang ahli hadist asal Pakistan, Mufti Taqi Uthmani, dalam situs http://www.albalagh.net mempersoalkan anggapan yang mengaitkan berbagai kisah besar dibalik tanggal 10 Muharram ini. Tidak ada satupun ayat dalam al-Qur’an atau riwayat hadist shahih yang membenarkan bahwa kejadian supranatural atau mujizat para nabi di zamannya itu terjadi pada tanggal 10 Muharram, apalagi dikaitkan dengan hari pertama Allah SWT menciptakan alam, jibril, atau arsy’.

Disamping bermasalah dari sisi teologis dan filosofis, pengaitan berbau mitos ini juga sangat meragukan dari sisi telaah hadist. Karenanya Mufti Taqi Uthmani yang juga mendalami tasawwuf menyatakan banyaknya mitos dan kesalahan yang melekat pada peringatan Asyura tanpa ada landasan syariah yang otentik.

Hadist yang dikumpulkan oleh Imam Bukhari yang menjadi rujukan utama dilembagakannya puasa asyura juga bukan bebas dari kritikan. Bunyi hadist terkenal itu sebagai berikut:

“Dari Ibnu ‘Abbas, ketika Nabi Muhammad saw. tiba di Madinah dia melihat orang Yahudi berpuasa pada hari Asyura. Nabi saw. bertanya: ‘Apakah ini?’ Orang-orang Yahudi berkata: ‘Ini hari yang balk. Pada hari inilah Allah menyelamatkan Bani Israil dari musuh mereka, maka Musa a.s. berpuasa pada hari itu.’ Kata Nabi saw.: ‘Aku lebih berhak terhadap Musa daripada kalian.’ Maka Nabi pun melakukan puasa dan menyuruh orang untuk melakukannya juga

 

Hadist ini diriwayatkan oleh Ibn Abbas pada saat Rasulullah SAW tiba di Madinah selepas melakukan perjalanan hijrah dari Mekka. Namun, dari telaah sejarah hidup para sahabat diketahui bahwa Ibn Abbas sendiri pada saat peristiwa hijrah terjadi baru berusia 3 tahun dan masih menetap di Mekka bersama orang tuanya. Bagaimana mungkin Ibn Abbas meriwayatkan hadist saat beliau masih balita dan berada ratusan kilometer dari sisi Nabiullah SAW?

Juga, sekira nabi melihat umat yahudi berpuasa asyura saat itu, bukankah umum dipahami bahwa saat Nabi hijrah itu terjadi pada bulan Rabiul Awal, bukan Muharram? Bagaimana mungkin orang berpuasa 10 Muharram pada bulan Rabi`ul Awwal?

Selain itu, hadist-hadist yang menjadi rujukan awal penerapan puasa asyura ini sepertinya saling bertentangan. Riwayat dari Aisyah ra menyatakan bahwa Nabi menjalankan puasa asyura ini sejak jaman jahiliah, sementara hadist Ibn Abbas di atas menyebutkan bahwa Rasulullah menjalankan sejak hijrah, ada juga hadist versi lain dari Muawiyah yang menyebutkan bahwa puasa asyura dijalankan selepas haji wadha dan setahun kemudian beliau wafat tanpa sempat menjalankannya.

Logika awam menyatakan bahwa tidak mungkin tiga-tiganya benar, meski seluruhnya ternyata dikumpulkan dalam kumpulan hadist terpercaya yang disusun oleh Bukhari.

 

Tradisi “Pesta” di Hari Asyura

Terlepas dari kontroversinya, sebagian besar umat Islam sunni di nusantara dan seluruh dunia menyambut asyura dengan sukacita. Selain berpuasa, mereka juga melakukan berbagai perayaan untuk menyambut hari mulia ini. Suku Banjar di Kalimantan merayakan hari Asyura dengan membuat bubur Asyura yang terbuat dari beras dan 41 macam bahan campuran yang berasal dari sayuran, umbi-umbian dan kacang-kacangan. Bubur Asyura tersebut akan disajikan sebagai hidangan berbuka puasa sunnah di Hari Asyura.

Tradisi peringatan asyura juga dikenal dalam budaya jawa yang berpusat di kraton Yogyakarta dan Surakarta. Dimulai sejak 1 Muharram yang di-jawa-kan menjadi 1 Suro, pihak kraton mengawali tradisi ‘Mubeng Beteng’ atau berjalan mengitari benteng Kraton membawa benda-benda pusaka. Tetangga dekatnya, Kraton Kasunanan Solo, juga melakukan perayaan yang sama, menggelar kirab mengelilingi kraton dan ruas jalan protokol sejauh tujuh kilometer membawa sejumlah pusaka dan tujuh ekor kerbau Kyai Slamet. Warga meyakini kirab benda pusaka dan kerbau Kyai Slamet memiliki nilai mistis yang tinggi. Mereka berharap, tuah pusaka yang di arak keliling akan mendatangkan berkah.

Di Lereng Gunung Merapi, perayaan asyura ditandai oleh ribuan warga yang menggelar nasi tumpeng saat ritual sedekah gunung digelar di Boyolali, Jawa Tengah. Warga percaya, dengan memakan nasi tumpeng dari acara ritual sedekah gunung itu kehidupan mereka bisa aman dari ancaman erupsi gunung merapi.

Sementara di Sleman, warga menggelar lomba memasak nasi kebuli berhadiah kambing. Sajian nasi kebuli mengandung pengharapan dikabulkannya segala keinginan warga. Makna itu berasal dari kata kebuli yang berasal dari bahasa Arab yaitu qobuli yang berarti terkabul.

Di belahan dunia lain, kebiasaan umat islam di Mesir menyantap kue puding Asyura yang dihidangkan setelah makan malam pada hari Asyura. Puding asyura ini dibuat khusus dari bahan gandum dengan tambahan kacang, kismis, dan air mawar.

Hidangan yang hampir mirip juga disajikan di Turki, yang di sana disebut sebagai kue Ashure atau puding nabi Nuh, merujuk kepada peringatan bebasnya umat nabi Nuh dari bencana banjir dahsyat. Konon ketika Bahtera Nuh akhirnya bersandar di Gunung Ararat di timur laut Turki, keluarga nabi Nuh hendak merayakannya dengan hidangan khusus. Namun persediaan mereka hampir habis, kecuali biji-bijian, buah-buahan kering dan sejenisnya. Akhirnya bahan itu dimasak bersama-sama dan terciptalah puding Ashure yang kemudian menjadi kuliner khas dari Turki.

 

Peristiwa Karbala: Wajah Duka Asyura

Kalau sebagian umat islam merayakan kesyukuran dan suka cita menyambut 10 muharram dengan berpuasa asyura dan berbagai macam pesta makanan, maka keadaan sangat berbeda terjadi pada ummat syiah.

Umat syiah sering menyebut diri mereka sebagai pengikut mazhab ja’farian (merujuk ke Imam syiah ke-6 Imam Ja’far Shadiq yang mengukuhkan dasar-dasar teologis dan fiqh Syiah) atau mazhab ahlul-bayt (ahlul bayt: keluarga nabi Muhammad SAW dari keturunan Imam Ali bin Abi Thalib as – Fatimah).

Bagi umat syiah, hari Asyura pada 10 Muharram diperingati sebagai hari duka cita yang sangat mendalam. Duka cita ini merujuk ke sebuah peristiwa sejarah yang terjadi pada tanggal 10 Muharram 61H/680M.

Pada hari naas itu, Imam Husain bin Ali bin Abi Thalib, cucu kesayangan Rasulullah SAW dibantai bersama 72 anggota keluarganya di padang Karbala, sebuah padang gersang menjelang Kufah, dalam sebuah peperangan tak seimbang melawan balatentara Ubaidillah Ibn Ziyad yang berjumlah 100ribu serdadu.

Peperangan ini bermula dari sikap Imam Husayn yang menolak membaiat Yazid bin Muawiyah. Setelah Mu’awiyah mati, gubernur Madinah kala itu, Walid bin ‘Utbah, menerima perintah untuk memaksa Imam Husayn as membaiat Yazid.

Namun Imam Husayn menjawab tegas, “Yazid adalah penenggak minuman keras dan fasik yang menumpahkan darah tanpa hak, penebar kerusakan, dan tangannya telah ternodai oleh darah orang-orang tak bersalah. Orang seperti saya tidak akan pernah membaiat orang bejat seperti ini.”

Salah satu ungkapan lain Imam Husayn sebelum terbunuh dalam peristiwa ini berbunyi “jika saja agama datukku Muhammad tidak akan lestari kecuali dengan kematianku, maka biarkan pedang mengoyak-ngoyak tubuhku hingga terserak”.

Dalam peperangan tragis itu, tentara suruhan Yazid bin Muawiyah itu berhasil membunuh semua rombongan Imam Husayn dan menjadikan keluarga beliau yang terdiri dari para wanita dan anggota keluarga yang sakit termasuk Imam Ali Zainal Abidin as yang kelak menjadi Imam Syiah pengganti Imam Husayn, sebagai tawanan dan pampasan perang.

Tubuh Imam Husayn sendiri tak luput dari pembantaian, kepala beliau dipenggal dan tubuhnya dikoyak-koyak oleh kuda tunggangan pasukan Syimr bin Dzil Jausyan. Kepala Imam Husayn yang dipenggal itu kemudian diarak beserta keluarga yang dijadikan tawanan perang, dipertontonkan kepada penduduk di Kufah dan Damaskus, dan kemudian menjadi ‘hiasan’ di istana Yazid bin Muawiyah. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Yazid sempat menusuk-nusuk kepala cucu Rasulullah SAW itu dengan tombak di hadapan menteri-menterinya.

Peristiwa pembantaian Imam Husayn di Karbala ini tercatat baik dalam sejarah, baik sunni maupun syiah. Bahkan kronik syiah merekam detail peristiwa itu sejak Imam Husayn dan rombonganya melakukan perjalanan dua bulan dari Medina, singgah di Mekka dan berakhir di Karbala.

 

Tradisi Majelis Duka

Peringatan Asyura yang berwajah duka ini juga menghadirkan banyak tradisi. Berbeda dengan umat Sunni yang merayakannya dengan berpuasa, umat syiah menyambutnya dengan kesedihan, menolak berpuasa apalagi melakukan pesta. Dalam salah satu pesan Imam Rida as, imam ke-8 Syiah, menyatakan bahwa hari asyura adalah hari berkabung, tidak boleh ada perayaan yang berbau duniawi.

Dalam tradisi Syiah, menjelang peringatan pembantaian Karbala yang biasanya dimulai sejak awal Muharam, para penganut Syiah berkumpul di mesjid-mesjid, atau sebuah tempat khusus yang didirikan khusus untuk peringatan Asyura yang disebut sebagai “Imambargah” dan Hussainia.

Para jamaah Syiah berkumpul di Masjid atau Imambarga untuk merayakan hari berkabung itu, membacakan puisi atau cerita kepahlawanan dan kesyahidan Imam Husayn, meratapi dan berduka sambil sesekali memekikkan lirih nama “Ya Hussain.”

Saat majelis duka ini berlangsung, para ulama memberikan khotbah yang menceritakan kepribadian Imam Husain dan posisinya dalam Islam, termasuk sejarah pemberontakan suci yang dilakukannya. Di negara-negara Arab seperti Irak dan Libanon, juga di Indonesia dibacakan kisah rinci pembantaian karbala yang populer disebut sebagai Maqtal al-Husayn.

Bahkan di beberapa tempat, seperti Iran, Irak, Pakistan, juga dilakukan rekonstruksi Pertempuran Karbala untuk memberikan gambaran utuh bagaimana penderitaan dan kesyahidan Husain di tangan serdadu Yazid.

 

Tradisi Tabot : Wajah Asyura di Bengkulu

Di Indonesia, terutama di sebelah selatan Sumatera, perayaan kesedihan memperingati terbunuhnya Imam Husayn juga ditradisikan secara turun temurun. Kita mengenal tradisi Tabot, yang lazim diadakan di Bengkulu dan Minangkabau.

Tabot merupakan upacara tradisional khusus untuk memperingati kesyahidan Imam Husayn yang pertama kali dilaksanakan oleh Syeh Burhanuddin atau Imam Senggolo pada tahun 1685. Syeh Burhanuddin (Imam Senggolo), kemungkinan berasal dari Hadramaut Yaman dan masih keturunan Imam Ali bin Abi Thalin, menikahi wanita Bengkulu dan keturunan mereka disebut sebagai keluarga Tabot. Upacara Tabot dilaksanakan dari 1 sampai 10 muharram setiap tahun.

Tradisi lain yang mengiringi Tabot adalah upacara mengambil tanah, dilakukan dari 1 sampai 4 Muharram. Upacara ini diasosiasikan sebagai rekonstruksi Imam Husayn memulai mendirikan kemah di Karbala, menjelang peperangan. Kemudian ada acara Duduk Penjah pada 5 Muharram. Upacara Menjara dari tanggal 5 sampai 6 of Muharram. Upacara Anak Jari-Jari dan Sorban, dari 7 sampai 8 Muharram. Arak Gedang, 9 Muharram hingga hari Pembuangan Tabot, 10 Muharram. Semua upacara ini merupakan rekonstruksi peristiwa Karbala.

 

Dua Wajah, Dua Keyakinan

Itulah dua wajah Asyura, dua wajah yang saling bertolak belakang. Dua wajah yang kemudian melahirkan dua keyakinan berbeda, satu merayakan dengan suka cita, yang lain dengan kesedihan mendalam. Dua penyikapan berbeda itu memiliki landasan sejarah yang berbeda pula, dan hampir pasti membentuk dogma keyakinan yang kemudian berputus jalan.

Keyakinan yang berputus jalan itu hampir pasti punya keterikatan konteks dengan peristiwa politik yang menyertainya. Pada saat kesedihan memuncak di pihak imam Husayn dan keluarganya, di saat yang sama pihak Yazid dan serdadunya merayakan dengan suka cita. Konon, kemudian setelah peristiwa tragis Karbala, untuk melegitimasi rasa sukacita Yazid maka diperintahkanlah ulama-ulama bayaran Umayah untuk meriwayatkan hadist-hadist yang melegitimasi puasa asyura, puasa sukacita.

Hingga 40 tahun selepas Karbala, para ulama di masa kekuasaan Bani Umayah diperintahkan untuk mengutuk Imam Ali dan keluarganya diatas mimbar-mimbar mesjid mereka. Disebarkan pula hadist-hadist yang mencela keluarga Nabi. Hadist-hadist yang dilahirkan, dengan sokongan kekuasaan tentu kemudian lebih kuat di-sahih-kan daripada hadist-hadist yang diriwayatkan oleh pihak keluarga Imam Husayn yang saat itu tak pernah lepas dari jajahan dan pengawasan penguasa Umayah.

Imam Husain as kemudian berkata: “Sesungguhnya Bani Umayyah telah mencemarkan nama baikku, tetapi aku bersabar. Mereka merampas harta bendaku, aku juga bersabar. Mereka kemudian menuntut darahku, tetapi juga tetap sabar. Demi Allah, mereka akan membunuhku sehingga Allah akan menimpakan kepada mereka kehinaan yang amat sangat dan akan menghunjam kepada mereka pedang yang amat tajam.

Rasulullah saw suatu kali bersabda: “Sejumlah besar hadis palsu akan diceritakan atas namaku sesudah aku wafat, dan barangsiapa berbicara bohong terhadapku, ia akan dimasukkan ke neraka.” (Al Bukhari jil 1 hlm 38,  jil 2 hlm 102, jil 4 hlm 207, jil 8 hlm 229. Abu Dawud jil 3 hlm 319-320, AtTirmidzi dan Ibnu Majah juga ada).

Dua ratus tahun kemudian jumlah hadis pasca Nabi wafat telah berjumlah jutaan (H. Fuad Hashem, Sirah Muhammad Rasulullah, Bandung: Mizan, hlm. 24-26). Pengumpul hadist termasyhur, Imam Bukhari sempat menemukan 600.000 hadis, dan kemudian memilah hadish yang terpercaya menjadi hanya 2761 hadis aja (Tarikh Baghdad jil 2 hlm 8, al irsyad as sari jil 1 hlm 28, Shifatu’s Shafwah jil 4 hlm 143).

Hal yang paling menyedihkan, dalam kutipan pesan ‘baik’ yang diutarakan di awal tulisan ini, berpuasa pada hari asyura seolah-olah akan diganjar pahala ibadah selama 80 tahun. Masa 80 tahun ini, kita ketahui adalah masa kekuasaan Bani Umayah, dari terbunuhnya Imam Hasan as dan naiknya Muawiyah bin Abi Sofyan ke tampuk kekuasaan di tahun 50H/669M hingga berakhir di ajal Marwan II tahun 750M.

Sejarah memang menyisakan banyak ironi, dan betapa sedihnya jika hal yang ironis kemudian mengkristal dalam keyakinan kita semua. Masya Allah!

 

 

Advertisements

6 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. cheng prudjung said, on December 5, 2011 at 7:13 pm

    Wahhh sejuk sekali tulisan ta Dg. Rusle …. sy yg tidak mengenal tradisi (apakah memang tradisi atau sunnah) mendapatkan info lebih tentang ini.. soal puasa asyura memang sudh serig dengar tp smpai sekarg tak pernah menikmati keindahn momennya ….

    hari-hari berlalu###

    • daengrusle said, on December 6, 2011 at 7:14 am

      sejuk? hehehe, pdhl saya berapi-api menulisnya 🙂

      thanks anyway.

  2. unggulcenter said, on December 6, 2011 at 6:49 am

    Saya terbiasa mencari tau dulu sebelum melakukan.. nah kebetulan ketemu juga artikel seperti ini 🙂 bertambah pengetahuan. Trims!

    • daengrusle said, on December 6, 2011 at 7:15 am

      alhamdulillah, terimakasih sudah singgah.
      yang penting kita semua senang berbagi…:)

  3. irwanto CPA said, on October 24, 2012 at 12:57 pm

    sejuk sekali membaca uraian ini, dan semoga Allah SWT memberikan saffat bagi yg menulis ini…..
    salam

  4. roni said, on November 2, 2012 at 11:55 am

    berpuasa bukan berarti bersuka cita, tergantung dari niatnya


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: