…menulis untuk mencicil ketidaktahuan

Menggali Kembali Semangat Arru’na Bate Salapang

Posted in Indonesia, Renungan, Sulawesi Selatan by daengrusle on November 21, 2011

Wilayah Kerajaan Gowa-Tallo abad 15M

Meski berwatak keras, konon leluhur orang Makassar itu sejatinya sangat penurut dan mudah diatur. Mereka dikenal patuh pada hukum dan pemimpin, yang biasanya diikrarkan dalam prosesi ritual “Angngarru’, atau bersumpah setia. Selama mereka memegang sumpah, yang juga dilandasi kearifan lokal siri’ na pacce, tak akan pernah terbersit untuk melakukan pelanggaran atas sumpah itu. Mereka bersedia diatur dan diarahkan oleh pemimpinnya, tak peduli asal, gender atau apapun atribut sesembahannya itu.

Tersebutlah Kasuwiyang Salapang atau Bate Salapang, konfederasi sembilan negeri pra-sejarah yang kelak membentuk kerajaan Gowa dan menurunkan suku Makassar. Hingga menjejak abad 13M, Kasuwiyang Salapang atau Sembilan Negeri kecil berdaulat yang terdiri dari Tomboloq, Parang-parang, Lakiung, Bissei, Dataq, Kalling, Serroq, Samata, dan Agang Jekne ini senantiasa larut dalam pertikaian berkepanjangan.

Masa perseteruan mereka itu dikenal dengan masa sikanre juku, atau masa saling memakan bak ikan di lautan: yang besar dan kuat memakan yang kecil dan lemah, sebaliknya yang kecil dan lemah juga berusaha untuk selalu menggerogoti ikan besar. Keadaan kacau balau, tak ada yang mau mengalah karena semua ingin menunjukkan keunggulannya atas yang lain. Garis-garis demarkasi kedaulatan antar negeri menjadi bias dan luntur karena pertikaian. Perekonomian menjadi tersendat, dan gerak kebebasan masyarakat menjadi terhimpit karena ketakutan dan penderitaan.

Jemu dengan pertikaian yang tak ada habisnya, para pemimpin Bate Salapang ini tiba pada tingkat kesadaran komunal dan bermufakat untuk membekukan dendam kesumat yang sudah mengakar lama di antara mereka. Mereka sadar, instabilitas karena perang tak akan membawa mereka ke kemajuan, apalagi kesejahteraan. Juga, mengerek kuasa dan keunggulan fisik di atas yang lain ternyata tidaklah begitu penting, terutama dalam kerangka kesadaran masyarakat komunal yang meniscayakan kerjasama.

Pada saat yang bersamaan seorang perempuan yang tak dikenal nama dan asal-usulnya muncul di Tamalate. Orang-orang hanya menyebutnya sebagai Tomanurunga ri Tamalate, sosok suci dari langit yang turun di Tamalate. Terkesan akan kharisma dan kebijaksanaan perempuan asing ini, maka para pemimpin Bate Salapang mengangkat sembah dan menjadikannya Karaeng Gowa pertama. Masa pencerahan ini juga menghasilkan ketetapan hukum yang berlaku permanen di seluruh negeri, bahkan hingga jaman kerajaan Gowa modern.

Hukum tertulis yang konon tertua di Asia Tenggara itu kemudian dikenal dengan nama “Arru’na Bate Salapang” atau Ikrar Setia Sembilan Bendera. Kurang lebihnya, ikrar itu menyatakan sumpah setia rakyat sembilan negeri untuk bersatu dalam kedamaian dibawah kepemimpinan Karaeng Gowa, dengan prasyarat bahwa selama kedaulatan negeri dan hak-hak pribadi rakyatnya tetap dijunjung tinggi. Demikian sakralnya, sumpah setia ini kemudian dilembagakan menjadi dewan Bate Salapang yang menjadi pengontrol kekuasaan Karaeng Gowa.

Itulah laku leluhur orang Makassar yang terwakili dalam konfederasi Bate Salapang yang terkenal, memaku diri pada kepatuhan dan kehormatan sekaligus. Laku ini turun temurun terpatri dalam dada mereka, hingga suku bangsa Makassar, dan berikut juga bangsa saudara se-tanah semenanjung mereka; Bugis, Mandar, Toraja, Luwu, Duri dan yang lainnya, melintasi kronik 800 tahun hingga hari ini, sebagaimana disajikan dalam banyak naskah sastra daerah yang sampai ke tangan kita kini. Lewat sastra daerah yang menghimpun ingatan kolektif bangsa Makassar, kita banyak menyimak betapa betapa banyak kearifan lokal yang kemudian mengalir dalam darah kita semua.

Maka ketika ruang baca, ruang pandang dan ruang dengar kita dijejali berita dari media nasional mengenai tawuran yang terjadi di Universitas Hasanuddin baru-baru ini, maka seketika narasi damai dan kepatuhan yang tercermin dalam “Arru’na Bate Salapang” itu seakan-akan kabur dan kehilangan maknanya. Ikrar yang sakral menjadi propan dan kehilangan daya magisnya, seakan-akan peristiwa tawuran itu menegasikan kedalaman kearifan lokal siri na pacce’ yang dimiliki anak-anak Makassar sejak dulu. Apatah lagi, mereka yang terlibat tawuran itu ternyata berasal dari salah satu institusi pendidikan terpandang yang selayaknya diharapkan menghasilkan jiwa-jiwa intelek dengan tingkat kedewasaan moral yang bisa menjadi contoh di masyarakat.

Sebenarnya keresahan yang sama sudah lama muncul, ketika semakin terbukanya arus informasi, banyak peristiwa kekerasan yang melibatkan mahasiswa di Makassar dihamparkan oleh media kita. Sementara kita jarang disuguhi, atau setidaknya terlewatkan, berita-berita penyeimbang, yang menggaungkan prestasi anak-anak muda Makassar dalam hal-hal positif. Berita-berita negative memborbardir semua lini informasi dan mengakibatkan terjadi generalisasi terhadap perilaku mahasiswa Makassar yang menempelkan stigma bahwa mereka hanya tahu tentang tawuran dan tawuran.

Bahkan, ada anekdot di kalangan rekan-rekan professional di Jawa bahwa “Mahasiswa Makassar punya mata kuliah “tawuran” dalam kurikulumnya”. Hal yang menggelikan sekaligus getir, dan tentu tak cukup hanya dijawab dengan senyum saja sambil berucap “Ah, itu hanya bisa-bisanya media saja yang mengeksploitasi berita kekerasan adik-adik mahasiswa Makassar itu lebih sering ketimbang mahasiswa daerah lain”.  Tapi apa lacur, bahkan saat proses recruitment tenaga kerja pun, para pencari kerja asal Makassar seringkali ketiban pertanyaan menohok yang menempelkan stigma negative itu “apakah memang orang Makassar pemberang dan senang tawuran?. Tentu saja tidak!

Mahasiswa Makassar yang terlibat tawuran hanyalah oknum yang bilangannya tak seberapa, dan tak pantas menjadi representasi keseluruhan anak-muda Makassar. Mereka hanya noktah yang kebetulan teresploitasi oleh media massa, tapi tentu saja mereka bukan suara asli anak-muda Makassar. Di Makassar kini, sepanjang pengamatan saya, banyak bermunculan komunitas berbasis kedaerahan yang menggerakkan roda-roda kebaikan dan tentunya melestarikan semangat kejuangan dan kehormatan a la Arru’na Bate Salapang.

Sebutlah misalnya KPAJ (Komunitas Pecinta Anak Jalanan) yang tekun memberikan asupan pendidikan kepada anak-anak jalanan sejak 2010. Komunitas yang dipelopori mahasiswa asal Unhas, dengan dibantu relawan dari lintas universitas lainnya mengumpulkan anak-anak jalanan putus sekolah dan membekali mereka pendidikan laiknya kurikulum resmi. Mereka juga mengusahakan anak-anak asuhan mereka ikut ujian penyetaraan di lembaga terkait. Untuk kegiatan itu, mereka menghimpun dana dari banyak sumber dengan memanfaatkan media sosial yang lagi marak: facebook dan twitter.

Juga, ada komunitas TanahIndie yang digagas beberapa alumni Unhas yang baru-baru ini menggelar kegiatan kumpul-komunitas anak muda Makassar bertajuk “November Ceria”. Kegiatan yang menghimpun kreasi anak-anak muda Makassar ini diadakan sebagai respon atas sesaknya ruang publik oleh berita tawuran dan kampanye politik. Mereka mengusung kreatifitas dalam sebagai nafas spiritualisme baru anak muda Makassar, dan karenanya mencoba berkolaborasi dalam gerak yang positif. Tak mengapa jauh dari pemberitaan media mainstream, tapi setidaknya mereka turut andil membersihkan nama Makassar dari kata “tawuran” atau narasi kekerasan lain.

Makassar juga punya banyak komunitas berbasis online yang getol mengkampanyekan nilai-nilai positif di kalangan anak muda Makassar. Ada Komunitas Blogger Angingmammiri, ada Komunitas Makassar Tidak Kasar, Makassar Berkebun, dan sebagainya. Mereka adalah representasi sejati para peletak dasar kebudayaan Makassar, yang terefleksikan dalam nilai-nilai praktis yang mereka sedang kembangkan. Merekalah pewaris sesungguhnya generasi Makassar yang mencintai kedamaian, sekaligus menegakkan kehormatan dalam kerangka prestasi dan laku kebajikan. Arru’na Bate Salapang mewujud dalam komitmen mereka melukis langit Makassar dengan lebih baik!

Semoga, para mahasiswa yang gemar tawuran itu kembali memamah pesan leluhur dan mengembalikan kepribadian mereka yang terhormat ke jalur yang bijak. Sehingga stereotip lulusan Makassar yang gemar kekerasan menipis dan tergantikan dengan hal lain yang lebih baik. Ewako!

 

(artikel ini dimuat di Harian Fajar edisi 22 November 2011)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: