…menulis untuk mencicil ketidaktahuan

Membaca Ulang Pahlawan Kita

Posted in Indonesia, Renungan, Sulawesi Selatan by daengrusle on November 10, 2011

ilustrasi pahlawan, dikutip dari: web Indonesia Berprestasi

(tulisan ini dimuat di laman web LenteraTimur.com)

Sebuah bangsa seumpama kendaraan besar yang butuh bahan bakar untuk maju bergerak menuju tujuan mulia: kesejahteraan komunal.  Umumnya, bahan bakar itu kita gali dari semangat perjuangan yang diwariskan para pahlawan. Yang terbetik di kepala kita, perjuangan pahlawan adalah totalisme, hingga jiwa dan darah menjadi harga yang harus dibayar. Yang mereka pikirkan saat hidup hanyalah bagaimana berkontribusi mulia untuk kemerdekaan, kemajuan bangsa. Maka, gelar pahlawan dari pemerintah saja mungkin tak pernah cukup, jika dibandingkan apa yang sudah mereka persembahkan untuk bangsa ini.

Sebagaimana umumnya kendaraan, kita butuh pasokan bahan bakar sempurna agar bisa bergerak mulus di jejak sejarah bangsa ini. Jangan pernah memasukkan bahan bakar yang penuh kotoran, tidak saja melambatkan tapi juga mengganggu navigasi. Kita tentu tak hendak melenceng ke tujuan mulia, hanya karena persoalan bahan bakar. Demikian juga pahlawan, kita berharap kronik perjuangan mereka tanpa cela; tangan mereka tak kotor oleh darah sesama, pikiran mereka tak ternoda oleh pengkhianatan kepada bangsa, harta mereka bersih dari yang haram, dan yang terpenting jejak perjuangan mereka HANYA menghasilkan energi positip.

Namun sejarah konon adalah kronik para pemenang. Tak ada tempat bagi pejuang di kutub berbeda, mereka meski berjasa namun haluan politiknya bisa membuat ia terbenam dalam samudera lupa. Jalan panjang perjuangan bangsa ini memang sering memakan korban di kalangan anak-bangsanya sendiri.

Mumpung bertepatan dengan hari pahlawan, maka mari membaca ulang jejak beberapa pahlawan kita.

–         Raden Ajeng Kartini (1879-1904); kepahlawanannya banyak dipertanyakan orang. Dia disebut sebagai pelopor emansipasi perempuan Indonesia dengan merintis sekolah perempuan di Rembang tahun 1903. Yang membuat dia terkenal, dan kemudian dunia mengenalnya sebagai “a feminist from Java” adalah korespondensinya dengan sahabat penanya di Eropa, salah satunya Rosa Abendanon, istri JH Abendanon, Menteri Kebudayaan Belanda yang saat itu berhaluan politik etis. Surat-suratnya diterbitkan tahun 1911 di Belanda dengan judul: Door Duisternis tot Licht (Dari Gelap Menuju Terang).

Masalahnya adalah hingga hari ini kita tak pernah disuguhi surat-surat asli Kartini yang diterbitkan itu, yang ada hanyalah dokumen yang disalin ulang dan diterbitkan. Hal ini menimbulkan kecurigaan terhadap Abendanon yang konon hingga kini juga misterius hidupnya. Kartini juga bersedia dijadikan istri ke-4 Bupati Rembang K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat, apakah menjadi istri ke-4 yang berarti membiarkan poligami sejalan dengan semangat emansipasi dan feminism? Ketika hidup Kartini sangat akrab dengan kalangan Belanda, sehingga beberapa kalangan menganggap dia “orang Belanda” ketimbang pribumi. Bukankah adagium kepahlawanan adalah yang berjuang melawan penjajahan? Sedang Kartini mungkin menikmati hidup di bawah alam penjajahan.

Kenapa harus Kartini?

RA Kartini sejatinya bukanlah pelopor pendidikan untuk perempuan Indonesia. Dia bahkan tak pernah mendirikan sekolah formal. Sekolah Perempuan yang terinspirasi oleh ide Kartini secara resmi dibuka tahun 1912 oleh sebuah yayasan beberapa tahun setelah kematiannya. Dewi Sartika, tokoh perempuan asal Bandung itu merintis pendidikan untuk kaumnya sejak 1902 dan resmi membuka “Sakola Istri” tahun 1904 di Bandung, lebih dahulu dari RA Kartini. Karena kepeloporannya memajukan pendidikan di Bandung, Dewi Sartika mendapat bintang jasa oleh pemerintah colonial Belanda tahun 1929. Pembukaan sekolah perempuan ini atas inisiatifnya sendiri, yang didukung oleh suaminya yang juga pendidik, Raden Kanduruan Agah Suriawinata.

Kita juga mengenal pelopor pendidikan dan budaya lainnya. Contohnya Siti Aisyah We Tenriolle, perempuan bugis yang jadi penguasa selama 55 tahun (1855-1910) di Kerajaan Tanete Sulawesi Selatan. Ia dipercaya mendirikan sekolah rakyat secara massal, untuk laki-laki dan perempuan, bangsawan dan jelata, pada sekitar tahun 1890-an. Sekolah yang didirikan Tenriolle kelak dikenal sebagai model awal Sekolah Rakyat (volkschool). Yang lebih mengesankan lagi, Tenriolle, bersama ibundanya Colliqpojie adalah tokoh dibalik penggali epos La Galigo, mahakarya sastra bugis yang terpanjang di dunia. Karena ketelatenannya menggali ulang wiracarita itu, kebudayaan Bugis dikenal hingga ke Eropa. Tenriolle tak pernah dilirik menjadi pahlawan, hanya karena semasa memerintah Tanete ia menganut politik kooperatif dengan Hindia Belanda, yang tentu tak jauh beda dengan Kartini.

Selain Dewi Sartika dan Tenriolle, bangsa-bangsa nusantara juga mengenal sosok perempuan pemberani lainnya, sebut misalnya Christina Marta Tiahahu (1800-1817), yang tewas di usia 17tahun saat bertempur melawan VOC di laut Banda. Juga ada Cut Nyak Dhien (1848-1908), Cut Nyak Meutia (1870-1910) atau Nyai Ahmad Dahlan (1872-1946). Belum lagi beberapa nama perempuan yang terbenam di lintas sejarah bangsa ini, hanya karena tak begitu dekat dengan puak penguasa dan antek penulis sejarahnya.

Kelebihan Kartini memang ada dua yang membuat namanya ditoreh sebagai pahlawan pelopor pendidikan perempuan: pertama, ia ‘konon’ menuliskan idenya dalam bentuk surat-surat dan dibukukan oleh JH Abendanon, kedua, dia hidup di saat pemerintah kolonial Belanda menjalankan politik etis dan Kartini dijadikan contoh ‘keberhasilan’ penjajah ini mendidik kaum pribumi. Dua hal ini tidak dimiliki secara penuh oleh Dewi Sartika dan We Tenriolle, apalagi sosok pemberontak macam Christina Martha Tiahahu, Cut Nyak Dhien dan Cut Nyak Meutia.  

–         Tuanku Imam Bonjol (1772-1864): Imam atau pemimpin gerakan Harimau nan Salapan bagi kaum Padri di Bonjol ini ditetapkan sebagai pahlawan nasional tahun 1973 oleh pemerintah Orde Baru. Ia memimpin Perang Paderi melawan  kaum Adat Minang yang dibantu oleh VOC. Gerakan yang dia pimpin sejatinya adalah gerakan ‘agama’, hendak memurnikan tabiat orang-orang Minang, khususnya kalangan pemuka adat kerajaan Pagaruyung dari hal-hal yang dianggapnya – sesuai keyakinannya yang berorientasi Wahabism, bertentangan dengan ajaran agama Islam.

Dalam peperangan Paderi yang berlangsung sengit selama 18 tahun (1803-1821), praktis yang banyak jatuh korban justru adalah rakyat Minang, ditambah lagi korban akibat gerakan “islamisasi” di tanah Mandailing dan Batak. Konon, tentara Paderi pernah membumihanguskan tanah Batak. Pada bulan Ramadhan 1233 H/1818M, pasukan Paderi yang dipimpin Tuanku Rao dan Tuanku Lelo membakar ribuan rumah, menangkapi perempuan, dan mengawini perempuan-perempuan yang dianggapnya pampasan perang itu. Kaum lelaki nya bernasib buruk: dipancung karena mempertahankan perempuan mereka.

Tentang kekejaman kaum paderi, ada juga diungkap rasa penyesalan Tuanku Imam Bonjol dalam ucapannya Adopun hukum Kitabullah banyak lah malampau dek ulah kito juo. Baa dek kalian? (Adapun banyak hukum Kitabullah yang sudah terlangkahi oleh kita. Bagaimana pikiran kalian?).

Kekejaman kaum Paderi ini dibukukan dalam “Tuanku Rao” karangan Mangaradja Onggang Parlindungan terbit tahun 1964. Buku itu tak ayal menggemparkan kalangan ulama di Minang dan tanah Batak. Tak kurang dari Buya Hamka sendiri memberikan klarifikasi sejarah gelap kaum paderi ini dengan menerbitkan buku bantahan “Antara Fakta dan Khayal Tuanku Rao” yang terbit tahun 1970.

Tuanku Rao yang asli berdarah batak bermarga Sinambela sendiri tak pernah dijadikan pahlawan oleh pemerintah, meski pemimpinnya Imam Bonjol dan sejawatnya Tuanku Tambusai di-pahlawan-kan oleh pemerintah. Mereka berperang di kutub yang sama, dan kelihatannya tangan mereka tak bersih dari darah kaum sesama yang harusnya dilindungi dari senapan penjajah Belanda. Apakah Tuanku Imam Bonjol berperang melawan Belanda untuk mencegah bangsanya dari penjajahan, atau untuk melindungi gerakan Islamisasi yang dilancarkan Harimau nan Salapan di tanah Minangkabau dan Batak? Anda silahkan memberikan interpretasi atas kronik sejarahnya.

–         Sultan Hasanuddin (1631-1670). Sultan kerajaan Gowa-Tallo ini dikenal sebagai raja yang bertahta saat pecah perang Makassar (1666-1669) melawan VOC, perusahaan dagang Belanda yang menguasai nusantara abad 17M. Pelabuhan Makassar yang menjadi pintu masuk Kerajaan Gowa-Tallo dari laut saat itu dianggap strategis untuk mengamankan kapal-kapal VOC yang membawa hasil tanam rempah dari Maluku. Pelabuhan Makassar, yang dibangun secara massif oleh Karaeng Pattingalloang, patih di masa pemerintahan kakek dan ayahanda Hasanuddin ini, dulunya dianggap sebagai satu-satunya pelabuhan internasional di nusantara, sejak Malaka jatuh ke tangan Portugis tahun 1511, dan kemudian dikuasai Belanda tahun 1641.

Perang Makassar yang berlangsung tiga tahun itu menghasilkan kekalahan di pihak Gowa-Tallo, dan menghasilkan VOC dan Arung Palakka, raja Bone yang sebelumnya menjadi daerah taklukan Gowa, sebagai pemenang perang. Dicatat oleh kronik pedagang Inggris dan Speelman, Jendral VOC yang mengalahkan Hasanuddin, sultan Gowa ini sebetulnya dianggap tak cakap berperang karena kemampuan administrative, kepemimpinan yang kurang bagus. Kronik yang lain menyebutkan bahwa Hasanuddin bersama karaeng-karaeng lainnya juga bertindak selaku ‘pedagang’ yang kadang semena-mena menetapkan harga komoditi sehingga membuat pedagang2 Inggris dan Negara lain merasa tak begitu nyaman.

Hasanuddin juga tak mampu menjaga kestabilan internal pemerintahannya, dengan munculnya tiga kutub pemimpin di kerajaannya: Hasanuddin sendiri, Karaeng Sumannaq dan Karaeng Karunrung. Belum lagi ronrongan dari negeri-negeri taklukan semisal Bone yang tak puas akan kepemimpinannya yang ‘konon’ kejam terhadap bangsawan-bangsawan Bone. Konflik internal antar karaeng dan pembangkangan dari negeri taklukan membuat Gowa-Tallo hanya mampu bertahan 3 tahun dalam perang Makassar. Hasanuddin keluar sebagai pihak yang kalah perang, hanya diuntungkan bahwa saat itu ia melawan VOC, representasi penjajah Belanda sehingga dianggap sebagai pahlawan Indonesia.

Hal yang aneh karena Hasanuddin, juga beberapa pahlawan semasanya, tidak pernah mengenal ide ke-Indonesia-an apalagi soal perjuangan kemerdekaan nasional. Ia hanyalah raja lokal yang ‘kebetulan’ takluk di tangan VOC dan sekutunya karena mempertahankan kebebasannya, meski ia mendapat gelar kehormatan dari VOC sebagai De Haantjes van Het Oosten (Ayam Jantan dari Timur).

Sosok Karaeng Pattingalloang, mahapatih Gowa-Tallo penggemar sains dan  menguasai lima bahasa asing sejarinya lebih layak menjadi pahlawan. Di masa pemerintahannya – berdua dengan Sultan Alauddin, kerajaan Gowa-Tallo mencapai puncak keemasannya. Bahkan mereka berhasil mengusir VOC yang hendak memonopoli perdagangan di Makassar tahun 1651, sembari membiarkan pedagang Portugis, Inggris menjalankan usahanya di sana. Karaeng Pattingalloang juga bertindak selaku panglima perang kala menaklukkan I Maddaremmeng, raja Bone tahun 1643. Jadi, manakah yang lebih layak menyandang gelar pahlawan, Hasanuddin yang kalah perang ataukah Pattingalloang yang cerdas dan pemberani?

Mereka Yang Tersingkir

Banyak pembacaan lain yang juga perlu dikritisi, termasuk sosok Arung Palakka, Tan Malaka, Amir Hamzah, Kahar Muzakkar, Sultan Hamid II dan lain-lainnya. Arung Palakka (1634 – 1696), adalah pahlawan bagi rakyat Bone, meskipun saat itu ia berdiri beriringan dengan VOC melawan hegemoni Hasanuddin – raja Gowa Tallo yang menaklukkan kerajaan Bone dan beberapa kerajaan bugis sekitarnya. Sekali lagi ide tentang perjuangan menegakkan kemerdekaan Indonesia tentu belum ada saat itu dan adalah tak adil menetapkan Arung Palakka sebagai pengkhianat karena ia hanya mencoba menerapkan strategi agar kerajaannya bisa bebas merdeka.

Juga nasib buruk yang menimpa Tan Malaka dan Amir Hamzah yang dibunuh oleh kaum republik di masa perjuangan kemerdekaan tahun 1945-1960. Mereka mati hanya karena bebeda haluan politik dengan pemuda dan tentara yang saat itu dominan dalam gejolak kemerdekaan Indonesia, meskipun belakangan nama mereka diabadikan sebagai pahlawan. Kahar Muzakkar, ajudan pribadi Soekarno di masa perjuangan juga tewas di Sulawesi Selatan dengan status pemberontak tahun 1965-an. Ia diberi label pemberontak karena berkehendak agar tentera di bawah komandonya dimasukkan ke dalam barisan tentara Indonesia, namun gagasannya berseberangan dengan Kawilarang dan Nasution yang saat itu memimpin TNI.

Kita juga nampaknya digiring untuk melupakan, atau mengalungkan posisi nista kepada Sultan Hamid II (1913-1978), perintis kemerdekaan Indonesia yang juga raja terakhir Kesultanan Pontianak. Dia lah pencipta lambang nasional Garuda Pancasila dan kini makin terkenal karena disematkan di dada kostum pemain tim nasional sepakbola kita. Nasibnya tenggelam karena ia getol memperjuangkan ide negara federasi sejak penyerahan kedaulatan, hal yang mana dianggap memanuti kehendak Belanda. Haluan politiknya nampaknya berseberangan dengan tokoh-tokoh di arus utama semisal Soekarno bahkan sejak jaman Jepang menduduki Indonesia. Kalau Soekarno memilih menjadi propagandis Jepang, Sultan Hamid II justru mendekam di penjara tentara Nippon di Jawa. Meski terlibat dalam pemberontakan APRA yang gagal tahun 1950, namun kecintaannya kepada Indonesia berbekas dalam lambang Garuda Pancasila yang ia ciptakan di tahun yang sama.

Sultan Hamid II pernah mengungkapkan bahwa dalam proses perancangan lambang negara, “ide perisai Pancasila” muncul saat ia teringat ucapan Presiden Soekarno, bahwa hendaknya lambang negara mencerminkan pandangan hidup bangsa, dasar negara Indonesia, di mana sila-sila dari dasar negara, yaitu Pancasila divisualisasikan dalam lambang Negara.

Sejarah, dan juga penetapan kepahlawanan, memang penuh dengan semak interpretasi. Dia bisa lahir dari beragam perspektif, dan melahirkan banyak kesimpulan. Para pejuang itu mungkin memang tak akan merasa begitu penting dijadikan pahlawan atau tidak oleh generasi kini. Tapi itu tadi, semangat perjuangan mereka nanti akan menjadi bahan bakar untuk kita semua, generasi yang kini menghirup udara bebas kemerdekaan Indonesia. Kalau kita direcoki dengan semangat yang justru luntur dan bercampur kotoran, apakah bisa kita mengendarai kronik mereka sebagai panutan?

Bangsa yang besar memang bangsa yang menghargai jasa pahlawannya. Namun bangsa yang besar juga ditentukan dengan bagaimana mereka memaknai perjuangan pahlawannya, tidak serta merta menerima “taken for granted” apa saja yang baik dan diwariskan kemudian dijejalkan di kepala kita. Perlu penelaahan yang kritis untuk menjaring hal-hal kotor di sekitar kronik mereka, dan perlu juga ‘keadilan’ dalam memandang konteks dan teks yang menjadi jiwa perjuangan para tokoh itu.

Buat saya, pahlawan Indonesia sejati generasi kini adalah sosok-sosok bersih dan pemberani yang gigih melawan kebusukan bangsanya sendiri. Sebutlah Baharuddin Lopa, Marsinah, Munir dan orang-orang lurus dan berani itu lah yang membakar semangat generasi mendatang. Bukan oleh orang-orang yang tangannya berlumuran darah, hartanya tercampur noda haram, dan pikirannya membusuk bersama ketidakpeduliannya akan sesama.

Bagaimana menurut anda?

Advertisements

2 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. giewahyudi said, on November 23, 2011 at 4:14 pm

    Membaca kembali dan semoga kita bisa menjadi pahlawan-pahlawan masa depan..

  2. workshop bisnis online said, on November 24, 2011 at 5:18 am

    berkunjung sob..salam blogger
    sukses selalu yah..:)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: