…menulis untuk mencicil ketidaktahuan

Ia bertengger di pelupuk benak

Posted in puisi by daengrusle on October 2, 2011

foto sticker di pintu kamar Diana, Pannampu

:: mengenang Diana (1974-2008)

Keramaian. Di mana gerangan keramaian, ketika semua sama menggenggam ide, melemparkan bicara dan hilir mudik seperti dunia tak akan berlari tanpa gerak kaki kita. Di mana gerangan keriuhan, apakah ia masih membopong semua petuah bagaimana cara praktis untuk sibuk mengisi dunia, mencernanya dan melahap habis semua kesempatan yang hinggap bertengger di pelupuk benak.

Di tengah keramaian, kesenyapan mengendap segan dan memamah yang tersingkir. Didekapnya diriku, si masygul yang bodoh, dan dibisikkan bahwa tak pantas aku berada di dunia yang ramai. Keramaian hanya alat untuk menjauhkannya dari jiwa, memotong setiap mata rantai yang menghubungkanku dengan semesta. Lihatlah semesta hitam, dan masukkan ia ke matamu. Bukankah semesta adalah dirimu, ketika senyap?

Sekali ia menampar pipiku. Bukankah hidup adalah perpanjangan kelahiran, juga pendahulu kematian? Bukankah kelahiran dan kematian sejatinya berada dalam ruang yang senyap, tanyanya. Aku tak begitu tahu, aku terlalu bodoh dan belia untuk memahami ruang senyap. Saat lahir, aku belum menjadi diriku, pun aku belum benar-benar paham seperti apa kematian, apakah senyap atau ramai dengan dunia roh seperti yang sering kutonton.

di sana, ramaikah kakak?

abudhabi, 02.10.2011

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: