…menulis untuk mencicil ketidaktahuan

Lika liku TKW kita (3) – Moratorium, mengapa tak Stop Selamanya?

Posted in Indonesia by daengrusle on July 28, 2011

Moratorium, Mengapa Bukan Penghentian Selamanya?

Sekali lagi, masyarakat dihebohkan oleh tragedi pemancungan Ruyati binti Saboti Saruna di Mekkah Arab Saudi, tanggal 18 Juni 2011 silam.  Berjejal kritikan dari seluruh lapisan masyarakat membuat merah kuping pemerintah karena ini bukan kasus yang pertama dan bukan hanya sekali. Ketakmampuan pemerintah, terkhusus Depnaker – BNP2TKI melakukan mitigasi dan perlindungan hukum kepada warga Indonesia yang bekerja di negeri asing, terutama yang unskilled labour dipertanyakan banyak pihak.  Tidak jarang yang meminta penghentian sama sekali pengiriman TKW ini karena alas an kemanusiaan dan harga diri bangsa yang diinjak-injak karena warganya diperlakukan tidak manusiawi.

Pengiriman unskilled labour sangat bermasalah dan mengundang banyak penyimpangan, apalagi para pekerja ini ditempatkan di dalam rumah yang tak seorangpun akan tahu apa yang terjadi pada mereka. Jangankan pihak Kedutaan Indonesia yang selama ini dianggap abai melakukan monitoring atas pekerja kita, bahkan para polisi kerajaan/Negara sendiri pun tak bisa leluasa masuk ke lingkungan pribadi pemilik rumah. Adalah terlarang bagi aparat Negara untuk memasuki wilayah yang biasanya sangat tertutup apalagi rumah para sheikh atau orang-orang kaya negeri arab. Di dalam rumah tersebut, banyak hal yang bisa terjadi, dan nasib para pekerja rumah tangga itu tak aka nada yang tahu selain majikannya saja.

Meskipun merasa perlu untuk tetap membiarkan warganya mencari nafkah di negeri asing, dengan keuntungan devisa yang mungkin bisa diraup, atau dana remittance yang bisa mencapai Rp 45 Trilyun per tahun (data 2010). Dana remittance ini bisa dipakai untuk menggerakkan roda ekonomi riil di tanah air. Belum lagi multiplier effect lainnya. Namun, mengandalkan para pekerja dengan gaji 600 riyal dengan resiko kemanusiaan yang memprihatinkan sungguh tidak layak untuk diperhadapkan. Harga kemanusiaan dan jati diri bangsa tentu lebih tinggi daripada segepok duit. Belum lagi resiko personal yang dihadapi para pekerja itu, ketika pulang kembali ke kampung, setelah 2-5 tahun bekerja, duit yang dikirim saban bulan dan dimaksudkan untuk membiayai anak-anaknya sekolah atau ditabung untuk modal setelah pulang, malah diludeskan oleh suaminya atau keluarganya tanpa sisa. Kejadian ini banyak terjadi dan membuat keringat dan perngorbanan mereka seperti sia-sia belaka.

Pemerintah Indonesia sepertinya tidak mau belajar dari pemerintah Pilipina yang membatasi pekerja unskilled labour ke negeri asing. Dari pengamatan saya disini, hanya sedikit warga Pilipina yang menjadi house-maid. Sebahagian besar – yang jumlahnya sangat banyak mereka bekerja di sector formal jasa seperti menjadi sales, atau pramuniag di gerai-gerai besar maupun kecil. Kemampuan bahasa inggris dan latar belakang akademis mereka sangat membantu. Belum lagi aturan ketat yang diberlakukan oleh pemerintah Filipina mengenai pengiriman tenaga kerja membuat mereka terlindungi secara hukum.

Pemerintah China mungkin jauh lebih protektif terhadap warganya. Meski penduduknya terbanyak di dunia dan masih banyak yang hidup miskin, namun mereka tak serta merta melepas warganya bekerja sebagai pembantu di negeri asing. Yang boleh bekerja di luar negeri hanya mereka yang professional, sedang yang unskilled cukuplah bekerja di negeri sendiri, menopang home industry yang juga banyak menyerap tenaga kerja. Hal ini perlu dicontoh Indonesia, mengingat kita sudah banyak menghaslkan professional muda semacam engineer atau teknisi yang mampu bersaing kompetensi nya di industry minyak dan gas bumi dengan penghasilan yang rata-rata diatas 10,000 dirham atau setara dengan 15 pekerja rumah-tangga.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memang sudah mengeluarkan instruksi pelaksanaan moratorium atau penghentian sementera pengiriman tenaga kerja Indonesia sektor informal ke Arab Saudi, efektif  per 1 Agustus 2011. Moratorium ini dilakukan hingga pemerintah Indonesia dan pemerintah Arab Saudi memiliki kesepakatan yang menjamin perlindungan, pemberian hak-hak, dan hal lain yang diperlukan para tenaga kerja Indonesia di negara tersebut. Presiden juga menginstruksikan adanya pengawasan terhadap lembaga-lembaga pengirim tenaga kerja ke negara-negara penempatan. Namun mengutip pernyataan Pak Wahid Supriyadi, Duta Besar Indonesia untuk Uni Emirate Arab yang sempat berbincang-bincang informal dengan saya, moratorium sebaiknya bersifat tetap. Tidak perlu lagi mengirimkan pekerja tidak terampil ke negeri asing, lebih karena pertimbangan kemanusiaan berdasarkan kasus-kasus yang selama ini terjadi. Belum lagi banyaknya mafia dalam negeri yang mengeruk keuntungan dari kerja keras para pekerja Indonesia di luar negeri.

Karenanya, demi harga diri bangsa dan alas an kemanusiaan, pemerintah selayaknya tak perlu mengorbankan warganya yang tak terampil secara professional untuk menghamba kepada negeri asing demi devisa yang sesungguhnya tak seberapa.

Advertisements
Tagged with: ,

14 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. indobrad said, on July 29, 2011 at 6:13 am

    saya lupa, udah komen belum sih?! hehe. salut dengan perjuangan TKI, cuma bisa geleng kepala ketika anggota DPR yg studi banding singgah di Dubai memandang jijik pada mereka yg dianggap malu-maluin bangsa

    • giewahyudi said, on August 2, 2011 at 8:29 am

      Kapan ya saya jadi anggota dewan? hehehee

      • daengrusle said, on August 20, 2011 at 5:24 am

        memang mau? :p

  2. rachmat amienullah said, on July 29, 2011 at 2:56 pm

    sungguh ironi nasib para TKW di negara ini…semoga Allah SWT memberikan jalan yang mudah dalam pencarian rezeki-nya…amien..

    salam kenal dari blogger banyuwangi 🙂

    • daengrusle said, on August 20, 2011 at 5:24 am

      amin.
      dan salam kenal juga mas.

  3. bukik said, on July 31, 2011 at 4:45 pm

    Saya sepakat untuk mengirim tenaga terampil
    Banyak lulusan SMK kita yang jagoan dan bisa bersaing di luar negeri
    Anak-anak muda itu yang harus dikirim
    Selain dapat uang, wawasan mereka berkembang yang akan berdampak pada masyarakat Indonesia

    • daengrusle said, on August 20, 2011 at 5:25 am

      betul, itu yg dipraktekkan pemerintah China dan Filipina.

  4. Dhymalk DhykTa said, on August 1, 2011 at 3:15 am

    izin koment daeng,
    negeri sebesar indonesia dengan segudang potensi, malah mencari devisa dari “menggadaikan rakyatnya di negeri lain”
    adalah sebuah pengkhianatan pancasila, seharusnya tdk boleh adalagi pengiriman TKW untuk jd pembantu, semoga negeri ini kembali bermartabat,amin

    • daengrusle said, on August 20, 2011 at 5:25 am

      +1000
      setuju dgn komentar anda Dhymalk!

  5. Baju Tanah Abang said, on August 16, 2011 at 3:18 am

    kita berharap untuk yang lebih baik…salm kenal…

  6. Belajar Photoshop said, on August 19, 2011 at 4:08 pm

    ooo ternyata philipina membatasinya dengan cara seperti itu kang.. yg unskill gag perlu pergi kang iia ?!?!? terus mesti nunggu keberangkatan yg keberpa?!?!

    • daengrusle said, on August 20, 2011 at 5:26 am

      yg unskilled cukup di dalam negeri saja, atau belajar dulu biar punya skill mumpuni…

  7. unggulcenter said, on September 4, 2011 at 6:44 am

    Stop. Bukan moratorium..

    btw, agak nyangkut juga ini topik dgn moratorium pns.. mau dibahas derus?

    *duduk manis bersila

  8. jasa pembuatan website said, on September 5, 2013 at 9:15 am

    Semoga blog ini bermanfaat bagi semua orang. Terimakaih yah.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: