…menulis untuk mencicil ketidaktahuan

Lika liku TKW kita (1) – Diskriminasi Sejak Mula

Posted in Indonesia by daengrusle on July 28, 2011

Siang hari di bulan Februari 2011 di terminal 2 keberangkatan luar negeri Bandara Soekarno Hatta. Sekitar tiga jam dari jadwal keberangkatan saya menuju konter check-in Etihad Airways, maskapai penerbangan internasional milik pemerintah Abu Dhabi. Seorang petugas perempuan berparas melayu menyodorkan boarding pass dan membuat saya sedikit terkejut.

“Kenapa saya dipindahkan, mbak? tanyaku menyelidik. Saat pemesanan online, saya memesan nomor kursi di bagian belakang, tapi kemudian dipindahkan ke bagian depan oleh pihak maskapai penerbangan. “Maaf pak, bapak dipindahkan karena kabin bagian belakang itu banyak worker” jawab si perempuan berseragam tersenyum. Saya balik bertanya lagi, “Mbak, saya kan worker juga. Apa bedanya saya dengan para TKW itu?”. Perbincangan itu kemudian diakhiri dengan senyum dan saya tetap dipindahkan ke kursi bagian depan.

Perlakuan ‘istimewa’ bagi para pekerja rumahtangga (house-maid) ini sejatinya dimulai sejak check-in, loket imigrasi, ruang tunggu (boarding room), sampai di atas pesawat. Di loket imigrasi, para pekerja dari pelosok desa itu diwajibkan untuk memperlihatkan kartu wajib KTKLN (Kartu Tenaga Kerja Luar Negeri) selain Passpor dan Visa. Kartu ini menunjukkan bahwa mereka sudah terdaftar secara resmi di BNP2TKI. Untuk memperoleh kartu berbandrol resmi Rp 290ribu ini, mereka harus mengurus di kantor BNP2TKI yang hanya tersedia di 19 kota besar di Indonesia. Bagi yang tinggal nun di pelosok jauh, mesti merogoh kantong lebih dalam untuk transportasi. Menggunakan jasa calo, harga bisa melonjak 2-3x lipat. Menurut kabar terakhir, kartu KTKLN ini bisa juga diurus di bandara Soetta Jakarta.

Bagi TKW yang nekat ke bandara tanpa kartu KTKLN, maka siap-siap saja ditolak di loket imigrasi. Tapi biasanya akan ada oknum petugas yang bisa diajak ‘berdamai’, tentu saja dengan ongkos damai yang ditentukan mereka. Kalau tidak mau berdamai, maka bisa dipastikan tiket pesawat akan hangus sekejap. Terkadang, kesialan juga menimpa para TKI professional semisal engineer, mereka juga dimintai kartu sejenis yang tentu saja menghasilkan kerepotan baru karena sebelumnya mereka tak mengenal keberadaan kartu yang dikhususkan untuk TKW/TKI unskilled labour.  Dari perlintasan milis yang saya ikuti, sudah ada beberapa paguyuban pekerja professional asal Indonesia di negeri-negeri Arab berencana untuk melakukan pemboikot-an atas aturan yang menurut mereka tidak masuk akal ini.

Di ruang tunggu keberangkatan, pembedaan antar penumpang juga terjadi, sama seperti di atas kabin pesawat. Para TKW tersebut diarahkan ke ruang khusus yang berbeda dengan penumpang ‘biasa’. Entah mengapa, sepertinya semua terorganisir dan mahfum dengan pembedaan yang terkesan diskriminatif ini.

****

Di penerbangan langsung Jakarta – Abu Dhabi yang terjadwal setiap hari itu, pesawat jenis Boeing 777-300 berkapasitas 225 penumpang itu terbagi dalam tiga kabin. Kabin penumpang kelas bisnis di bagian paling depan, sedangkan kabin tengah dan belakang untuk penumpang kelas ekonomi. Kabin belakang pesawat selalu riuh disesaki oleh pekerja asal Indonesia, terutama para perempuan yang kesohor dengan sebutan TKW (Tenaga Kerja Wanita). Kota tujuan mereka berbeda-beda; Muscat (Oman), Dubai, Abu Dhabi (UAE), Doha (Qatar), Kuwait, dan Dammam (Saudi Arabia). Kalau dihitung secara kasar, sekitar  300-an TKW berangkat setiap hari termasuk yang kembali setelah masa cuti habis.

Umumnya para TKW itu pulang setiap dua tahun sekali, meski ada juga yang bertahan hingga lima tahun untuk menghemat ongkos pesawat pulang balik yang rata-rata sebesar Rp 7 juta. Dengan gaji perbulan rata-rata 600-800 Riyal atau setara dengan Rp 1,5 – 2 juta rupiah, mereka bisa mengumpulkan duit sekitar Rp 20jutaan setiap tahunnya (1 Riyal/Dirham = Rp 2300an).

Pada saat awal kedatangan mereka ditempatkan di kantor agency yang akan menyalurkan mereka ke majikan yang datang memilihnya. Majikan tidak harus dari orang arab lokal, bisa juga dari penduduk pendatang. Expatriate asal Arab-non local, Malaysia dan Indonesia juga sering mengambil tenaga pembantu asal indonesia dari agency ini. Tapi mereka wajib menyetor uang muka berupa biaya visa kerja setahun untuk masing-masing pembantu sebesar 7000 Riyal, atau senilai Rp 16jutaan, dengan masa percobaan 4 (empat) hari.

Kalau si pembantu kerjanya kurang memuaskan maka si agency akan mengganti dengan pembantu baru, kecuali kalau si pembantu kabur maka tidak ada penggantian dan uang visa lenyap begitu saja. Majikan akan menahan passport dan visa si pembantu sebagai jaminan dari biaya visa yang telah mereka keluarkan.

Tidak semua majikan arab disini berlaku kasar sebagaimana yang sering diungkap media massa Indonesia. Jumlah yang kasar bahkan hanya sedikit saja. Dari sekian banyak TKW yang saya temui baik di bandara, pesawat atau di kota Abu Dhabi, hanya 1-2 orang saja yang mengeluh mengenai perlakuan majikannya, selebihnya malah terlihat bahagia dengan pekerjaannya.

Ada beberapa TKW yang bercerita bahwa mereka diikutkan umroh, ibadah haji atau berlibur ke eropa bersama majikan mereka. Dengan penghasilan perbulan sekitar 60,000 – 100,000 riyal, seorang majikan bisa saja mempekerjakan dua atau lebih TKW di rumah mereka, dan tentu tak sulit mengajak pembantu yang sudah akrab dengan keluarga mereka itu ikut berlibur bersama. Meski awalnya terkendala bahasa, tapi rata-rata para house-maid itu bisa piawai berbahasa arab hanya dalam hitungan 6 bulan saja.

Majikan yang baik juga memberi keleluasaan bagi maid mereka untuk libur, di hari weekend, jumat atau sabtu. Saya sering bertemu dengan beberapa TKW yang bebas berkeliaran di mall, restoran atau di pantai, mereka berkesempatan menghirup udara luar setelah selama enam hari mengurus rumah majikannya. Diberi libur sehari, mereka juga meluangkan waktu meriung bersama teman-teman TKW asal sekampung. Ada juga yang mencuri-curi waktu untuk berkencan dengan kekasihnya, orang local arab, india atau sesama pekerja asal Indonesia.  Tinggal jauh dari keluarga membuat sebahagian mereka mungkin kesepian dan asmara sepertinya tak pernah membedakan tempat dan sukubangsa.

****

Advertisements
Tagged with: ,

4 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. iPul dg.Gassing said, on August 23, 2011 at 6:45 am

    saya suka kalimat terakhirnya..
    mungkin bapak berkenan untuk menuliskan lebih jauh tentang itu ?

    #eh

    • daengrusle said, on August 23, 2011 at 8:06 pm

      Hehe…
      Bisa diliat di postingan lanjutannya, kaka…:p

  2. Alris said, on August 23, 2011 at 8:04 pm

    Nggak di Arab gak di Indonesia majikan ada yg baik ada yg sadis. Btw, gaji yg diterima tkw apa sudah bersih atau masih dipotong sana-sini? Gaji puluhan juta, emang enak kerja di Arab ya.

    • daengrusle said, on August 23, 2011 at 8:08 pm

      Biasanya gajinya itu bersih tanpa potongan.
      Btw, puluhan juta itu hanya berlaku utk level engineer atau profesional. Kalau jadi pembantu domestic labour sih ya dapatnya 2juta an per bulan…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: