…menulis untuk mencicil ketidaktahuan

Catatan Penyemangat untuk Hamran Sunu

Posted in Indonesia, Sulawesi Selatan by daengrusle on June 20, 2011

 (Hamran Sunu, foto diambil dari laman facebooknya. Saat ini, pendidik cum sastrawan muda berbakat asal Makassar ini diberhentikan oleh lembaga tempat dia berkiprah sebagai guru. Beritanya di sini. )

Pendidikan adalah hal ihwal tentang bagaimana menempa seseorang agar bisa menjalani hidup dengan lebih baik. Di dalam kata ‘pendidikan’ itu, ada semacam makna terpendam bahwa substansi pendidikan adalah proses pendidikan itu sendiri beserta semua nilai-nilai yang dikandungnya.

Bersama ilmu dan pengetahuan yang menjadi materi dasar proses pendidikan, ada juga moralitas yang berfungsi seumpama hati dalam tubuh manusia. Moralitas melakukan kontrol bagaimana ilmu dan pengetahuan diejawantahkan dalam fungsi praktisnya.

Kita lebih senang memakai kata pendidikan dibanding pengajaran, meski pada mulanya di awal republik ini berdiri mereka menggunakan kata pengajaran lebih sering. Seiring waktu, tokoh2 pendidikan kita memandang perlu untuk memperkenalkan kata yang berspektif moralitas: pendidikan.

Karenanya kemudian muncul banyak ragam mata ajaran yang mengandung bobot moralitas dalam kurikulum kita, selain pelajaran agama yang sudah menjadi keniscayaan. Ada pendidikan budi pekerti, ada pendidikan Pancasila, ada pendidikan kewiraan, dan sebagainya. Belum lagi soal pengajaran budaya dan tradisi bangsa yang mengandung kearifan lokal nusantara.

Pada intinya, kita sepakat bahwa muatan moralitas bukan hanya menjadi sisipan dalam proses pendidikan, tapi menjadi ruh dan jiwa proses pendidikan itu sendiri. Tanpa moralitas, maka pendidikan menjadi kehilangan makna, bahkan kehilangan tujuan hakikinya. Kronik sejarah manusia sudah membuktikah hal ini.

Kecerdasan otak manusia yang tak dibarengi oleh kebijakan moralitas hanya menyebabkan perang dan menancapnya kekuasaan fisik yang memporak-porandakan kemanusiaan. Ilmu pengetahuan alih-alih menjadi alat untuk menyebarkan kejahatan, dan dengan demikian mengkhianati kemanusiaan. Karenanya Tuhan membutuhkan menurunkan seorang utusan untuk menegakkan akhlak, mengembalikan kemanusiaan di jalan lurus moralitas. Nabi, para wali, pendeta/ulama, dan guru adalah sosok-sosok pilihan Tuhan dalam tugas suci ini.

Sejak kecil saya selalu punya mimpi formal menjadi seorang guru, seorang pendidik. Bagi saya pribadi, menjadi pendidik seumpama menjadi pelita. Tidak peduli betapa tergerus dirimu oleh panas yang membakar, tapi cahaya akan berpendar menerangi sekeliling. Ilmu adalah cahaya, dan karenanya saya mencintai buku-buku. Buku adalah representasi fisik dari ilmu yang bercahaya itu. Menjadi pendidik seperti meletakkan satu kaki di pintu surga, dan hanya butuh sedikit upaya berupa keikhlasan dalam mendidik untuk melangkahkan kaki kedua masuk ke surga.

Namun entah mengapa nasib saya membawa saya ke negeri jauh dengan status formal sebagai engineer yang tidak punya interaksi langsung dengan proses pendidikan. Niatan saya untuk menancapkan satu kaki di pintu surga tak tercapai, meski demikian saya masih memendam cita-cita itu nun hingga ke akhir usia.

Saya tidak mengenal secara pribadi seorang guru cum sastrawan bernama Hamran Sunu. Namanya hanya saya kenal melalui kicauan seorang kawan di linimasa twitternya. Menyimak kicauan tentang sosoknya yang bersahaja namun punya karya cemerlang, saya seperti bangga bisa mengenal sosok-sosok muda seperti Hamran Sunu, yang mungkin masih seumur atau lebih muda dari saya. Kiprahnya dalam pentas Makassar International Writer Festival (MIWF) 2011 yang baru-baru ini diselenggarakan memicu kebangaan saya yang lain. Luar biasa kawan ini.

Hingga kemudian, lewat pantauan di twitter pun terbetik kabar bahwa profesi formal nya sebagai guru di sebuah SD Nasional plus yang siswa-siswa nya pandai ber cas cis cus dalam bahasa inggris, terancam bahkan mungkin sudah terlepas. Meski disajikan dengan gaya bahasa satire, catatan nya bertajuk ” Surat dari Guru untuk yang Peduli” di salah satu forum web news yang saya baca, membuat saya prihatin bercampur jengah.

Bagaimana mungkin sebuah sekolah dasar bisa melepaskan begitu saja seorang guru sekaliber Hamran Sunu? Seorang sastrawan muda berbakat merelakan dibayar tak begitu tinggi untuk mengajar di sebuah Sekolah Dasar swasta tentu sudah termasuk kemewahan. Saya berandai-andai bahwa sekiranya semasa SD saya bisa memilih guru, maka sosok seperti Hamran Sunu inilah guru idaman saya. Seorang pendidik yang berdedikasi bukan cuma pada kegiatan belajar mengajar dan menjalin ikatan bathin dengan murid-muridnya, juga konsisten mengembangkan spiritualitas sastrawinya di jalur non-kurikuler. Masya Allah, kemewahan apa lagi yang perlu dituntut oleh SD tempat lelaki asal Masamba ini (dulunya) mengajar?

Meski tak begitu paham bagaimana proses pemecatan itu berlangsung, saya yakin ada hal yang terlupakan oleh lembaga sekolah keren itu. Sebagaimana yang dituliskan di awal, bahwa moralitas adalah ruh dari pendidikan. Jangan bermimpi untuk membangun institusi pendidikan yang berkualitas seandainya anda meletakkan moralitas di dalam sebuah kotak sampah yang tak pernah anda lirik.

Tidak juga dalam hal mengakali ‘perjanjian’ tertulis antara pendidik dan lembaga pendidikan itu. Sebagai sebuah lembaga pendidikan, tidak sepatutnya ada borok yang digarami. Tentu ada cara lain yang lebih elegan untuk memutuskan perjanjian, dan sesuai substansi moralitas yang dikandungnya, lembaga pendidikan punya banyak jalan untuk mengkomunikasikan semua permasalahan yang ada di dalamnya. Komunikasi, juga elemen pendidikan yang penting, karena semua proses transfer ilmu itu dilakukan melalui jalur ini. Bahkan Tuhan pun membutuhkan masuk ke bahasa manusia untuk mengkomunikasikan maksudNya.

Saya bersimpati, juga prihatin akan permasalahan yang dihadapi sastrawan muda ini. Keluhannya di media massa menunjukan betapa telah tertutup semua akses untuk meluapkan keresahannya, tentu mungkin setelah dia merasa tak guna lagi menyampaikan keberatan ke lembaga pendidikan itu. Kini saya membayangkan, murid-murid SD di sekitar jalan Masjid Raya Makassar itu akan kehilangan sosok pendidik ‘plus’ karena laku sepihak sekolahnya. Sebuah kerugian, juga kecemasan yang pilu.

Buat bung Hamran Sunu, bersikap tegar dan bijaklah. Mungkin ‘mereka’ akan terusik dengan terbukanya borok masalah ini dan menjadi konsumsi publik, dan akan berakibat muka masam yang memancing tindakan balasan. Di setiap titik perjuangan, tak ada kata lain selain “LAWAN!”.

Sebagai catatan akhir, dunia karya adalah dunia yang imajiner. Kita bisa membentuk dan menghampar karya kita di langit-langit khayalan yang tak ada batasnya. Menuangkan dan membaginya kepada sesame tak membutuhkan lembaga formal, ada banyak wahana yang bisa kita manfaatkan di atas bumi manusia ini. Satu batu kecil tentu tak perlu merisaukan kita sepanjang waktu, satu kecemasan jangan menjadi prahara yang menghalangi kita untuk menghamba pada kreatifitas, pada moralitas.

Advertisements
Tagged with: ,

9 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. priyantarno said, on June 20, 2011 at 1:03 pm

    Salam wa rahmat makasih banyak daeng,,nice post..benar sekolah itu merugi melepas guru sekaliber Hamran Sunu..kuru sumange daeng 🙂

    • daengrusle said, on June 21, 2011 at 4:04 am

      iye, sama2 ustad..
      semoga catatan kecil ini bisa membuatnya kembali bersemangat untuk berkarya.
      tak perlu menuntut berlebih, lebih elok menghampar dunia yang lebih baru, yang tanpa campur tangan ‘modal’ dan ‘kuasa’…

  2. mamie said, on June 20, 2011 at 2:33 pm

    Sedih membaca ini 😦

    Kalau orang sudah diatas angin kadang bisa lupa bagaimana dia bisa terbang,
    kalau sekolah sudah ngetop ya… gitu deh

    • daengrusle said, on June 21, 2011 at 4:04 am

      emang sekolah itu ngetop ya Mamie? lebih ngetop dari SD-ku dulu? SD Inpres Pannampu I …hehehe….

  3. indobrad said, on June 20, 2011 at 7:21 pm

    hanya ada satu kata: Lawan 😀

    • daengrusle said, on June 21, 2011 at 4:05 am

      hehehe…Wiji Thukul mode on.

  4. iPul dg.Gassing said, on June 23, 2011 at 4:55 am

    koq beritanya kurang di-blow-up ya..?
    apa kita perlu mengadakan gerakan di ranah maya ?

    • daengrusle said, on June 27, 2011 at 6:10 am

      sudah ter blow-up di tribun, hanya saja saya kira ini agak berbahaya karena akan melawan kuasa modal. mudah2an modal mereka tak begitu besar…hehehe

  5. Aw, this was an incredibly nice post. Taking a few minutes and actual effort
    to produce a good article… but what can I say… I procrastinate
    a whole lot and never seem to get anything done.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: