…menulis untuk mencicil ketidaktahuan

#indonesiajujur: lelucon kejujuran di halaman rumah kita

Posted in Indonesia, Renungan by daengrusle on June 12, 2011

 (TERHARU – Ny Siami dan Fatkhur Rohman, wali kelas AL, teharu saat saling minta maaf dalam mediasi di balai RW, Kamis (9/6). Foto: Surya/Faiq Nuraini)

Ada banyak orang memaknai hidup begitu dangkalnya, mengibaratkan seperti makan dan minum. Apa yang dimakan, diminum, biarlah perut yang akan mencerna nya sesuka hati, toh akan keluar juga sebagai kotoran. Hidup seperti itu adalah hidup yang tak layak dijalani, karena tak direnungi. Bukankah dalam proses pencernaan, ada sebagian gizi makanan yang terserap menjadi otot, darah, dan tulang yang sangat dibutuhkan badan kita.

Hidup bukan persoalan menghabiskan waktu dengan makan-minum, bernapas, atau beraktifitas selama 50 atau 60 tahun. Bukan soal seberapa lama kita hidup dari sejak lahir hingga wafat. Bukan itu, bahkan sama sekali bukan. Yang terpenting justru bagaimana nilai hidup yang kita bawa selama menjalani ‘masa pinjam’ umur itu. Hidup 50-60 tahun itu teramat singkat, tanyakan kepada orang-orang tua kini, betapa cepatnya waktu berlalu dari kanak-kanak hingga menua.

Kita adalah negara dengan label bangsa yang teramat religius. Undang-undang negara ini meng-haram-kan penduduknya untuk tidak beragama. Sekali anda tak punya agama, maka anda dianggap melanggar hukum!

Apa dasar diturunkannya agama oleh Tuhan? Bukan ritual ibadah secara rutin yang dijalani, tapi akhlak. Tuhan mengutus nabi nya untuk menyempurnakan akhlak di tengah masyarakat yang cacat moral, cacat etika. Akhlak yang baik, dianggap sebagai solusi praktis sekaligus strategis untuk mencapai tujuan hidup di dunia: kebahagiaan. Lain tidak. Bukan kekayaan, bukan gelar akademik, bukan semua hal materiil itu. Tapi Akhlak! Apa implementasi praktis akhlak dalam masyarakat? Sangat singkat: Kejujuran.

Sejak mula kita diasup dalam ratusan buku ajar bahwa: Kejujuran adalah mata uang yang berlaku di mana saja. Bukan emas, bukan rupiah atau dollar. Di mana sistem kemasyarakatan dibangun, maka kita akan mendapati bahwa pondasi awalnya adalah kepercayaan. Kepercayaan tentu lahir dari rahim kejujuran, bahwa kita saling percaya karena kita mengharap ada kejujuran yang menyelimutinya.

Tapi sejak mula juga kita dihadapkan pada kenyataan yang mencemaskan, bahwa kejujuran itu menjadi lelucon di halaman rumah kita  meski saban hari dikhotbahkan para pemuka agama hingga mulut berbusa-busa.

Baru-baru ini ada kejadian yang menjadi contoh nyata betapa pilu kita memperlakukan kejujuran. Seorang anak cerdas di Surabaya bernama AL, anak kandung seorang ibu Ny Siami yang hidupnya sederhana tapi mengajarkan betapa pentingnya kejujuran diberlakukan dalam setiap hal, apatah lagi di sekolah, tempat AL menggali ilmu.

Si Anak cerdas nan jujur, AL itu melaporkan ke ibunya betapa praktek kecurangan berupa nyontek massal dalam ujian terjadi di sekolahnya, SDN Gadel 2 Tandes, Surabaya. Ny Siami mengadukan pelanggaran akhlak ini ke pihak sekolah namun tak ada tanggapan. Akhirnya singkat cerita kejadian memalukan ini terendus media dan tersebar ke khalayak. Malang buat Ny Siami, bukannya jadi pahlawan malah menjadi pesakitan di hadapan warga lingkungannya. Sebagaimana whistle blower di Indonesia yang tidak dihargai, demikian pula Ny Siami yang dituntut untuk meminta maaf atas ‘kejujurannya’.

Alamak, dunia macam apa yang dibentuk oleh masyarakat kita? Dimana kehormatan akan harga diri sebagai bangsa yang beradab dan beragama? Bukannya berterimakasih kepada Al dan ibundanya yang jujur Ny Siami , malah mereka menjadikannya pecundang di rumah mereka sendiri. Sudah begitu jamak kecurangan dan kebohongan dilakukan oleh kita, dan kemudian menjadi semacam hal yang lumrah. Dan inilah borok yang seakan bukan luka yang harus diobati, kejujuran menjadi semacam keanehan di masyarakat kita.

Berita lengkap bisa dilihat di laman-laman berikut :
> Ny. Siami, Si Jujur yang Malah Ajur | http://bit.ly/l3Is4t
> Orang Tua AL Minta Maaf, Diteriaki Wali Murid “Tak Punya Hati Nurani” | http://bit.ly/iJvGCj
> Diusir, Ny. Siami Akhirnya Kosongkan Rumah | http://bit.ly/jvQX2O

Indonesia, jangan jadi bangsa yang cacat etika, please!

Posting yang menginspirasi dan mendorong: #indonesiajujur: Suarakan dukunganmu akan kejujuran!

Advertisements

19 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. indobrad said, on June 12, 2011 at 7:04 am

    yah begitulah, norma tidak lagi absolut melainkan ditentukan semaunya oleh mayoritas 😦

    • rusle said, on June 12, 2011 at 7:12 am

      norma memang tdk pernah absolut, ihk…
      tp kejujuran adalah perintah Tuhan yang absolut 😀

      sedih ya Opa…:(

  2. bukik said, on June 12, 2011 at 7:27 am

    Sedih sekali. Kecurangan jadi sistem dan mulai membudaya. Kita harus melawannya demi generasi mendatang

    • rusle said, on June 12, 2011 at 9:45 am

      adalah bahaya ketika ia merasuk masuk ke dalam pranata budaya kita. bahaya laten. thanks bukik atas kunjungannya.

  3. Adda said, on June 12, 2011 at 8:43 am

    Yang Jujur yang di anggap bersalah.. Dimana hati nurani ?. Sebuah kebaikan terkadang memang tidak di terima sebagai satu kebaikan.

  4. irwin said, on June 12, 2011 at 9:01 am

    Menyedihkan, dalam menyaring pegawai salah satu point paling terdepan adalah kejujuran. Jika diberi pilihan antara pekerja yang jujur tapi tidak terlalu cerdas dan pekerja pintar tapi tidak jujur, maka saya akan memilih yang jujur.

    • rusle said, on June 12, 2011 at 9:46 am

      setuju, pilih yang jujur, bukan yang pintar tp menipu…

  5. Bosmen said, on June 12, 2011 at 11:55 am

    Laksana ustad di kampung maling..begitulah nasib ibu Siami.

  6. Kamal Hayat said, on June 12, 2011 at 5:47 pm

    Dunia mencontek di indonesia makin banyak aja ya sama dengan korupsi hehe

    • rusle said, on June 13, 2011 at 9:46 am

      iya, anak belajar dari apa yang dilihatnya….:(

  7. Zippy said, on June 13, 2011 at 4:18 am

    Yah…gimana yah, kayaknya negeri ini sudah biasa dengan hal seperti ini.
    Pemerintahnya aja gak suka jujur 😀
    Tapi mudah2an aja masalahnya cepet selesa deh.
    Kasian, ironis banget bacanya 😦

    • rusle said, on June 13, 2011 at 9:46 am

      iya, baiknya kita selektif memilih wakil nantinya di pemerintahan….

  8. Alris said, on June 13, 2011 at 12:21 pm

    Kalau membaca kisah Ny. Siami saya ikut sedih. Alangkah mahalnya harga kejujuran ditengah masyarakat yang sudah kebal akan sifat adiluhung.

  9. sibair said, on June 14, 2011 at 5:37 am

    Ini sudah seperti penyakit yang menjamur! kejujuran seperti mahal harganya..

  10. erwin said, on June 14, 2011 at 6:08 am

    harusnya jadi pahlawan yah.. kok jadi yg tersalah .. hmm. budaya jujur jadi seolah tabu

  11. anbhar said, on June 15, 2011 at 7:52 am

    inilah akibatnya klo membenarkan yang biasa, bukan membiasakan yang benar *hikz*

  12. Dharma said, on June 16, 2011 at 6:00 am

    Kejujuran saat ini mahal, ya semahal ibu itu meninggalkan rumahnya *mungkin lebih mahal lagi*
    Dunia sudah terbalik yang jujur adalah musuh dan yang tidak jujur adalah kawan, lalu maukah kita berkawan dengan orang yang tidak jujur?

    *hati nurani ibu pertiwi pun menangis*

  13. […] | Rajius Idzalika | #indonesiajujur: Kepada Ibu Siami 062 | Muhammad Rusrailang | #indonesiajujur: Lelucon Kejujuran di Halaman Rumah Kita 063 | Yuni Khairun Nisa | #indonesiajujur: Mengapa yang Jujur yang Terusir? 064 | Ahmad Muttaqin […]


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: