…menulis untuk mencicil ketidaktahuan

Palari dari Galesong

Posted in Kenangan by daengrusle on June 9, 2011

1 – Palari dari Galesong

Subuh menjelang pagi di pelataran Asi Mbojo[1] Bima, dedaunan hijau yang dimandikan embun seperti sumringah menyambut matahari yang muncul dari balik pundak perkasa Gunung Tambora. Halimun masih mengendap-endap di antara pucuk-pucuk bunga mundu[2] yang berwarna putih, menyelimuti pesona taman bunga yang dirawat tekun oleh tangan halus sang permaisuri Sultan, Karaeng Bonto Je’ne[3].

Di pagi yang belum terang tanah itu, Karaeng Jareweq[4], sang sultan Bima, baru saja menandaskan lembaran kitab barzanji[5] yang akan dilagukan pada upacara Hanta Ua Pua[6] siang nanti. Ia duduk bersandar di lamin singgasana raja ditemani permaisurinya Karaeng Bonto Je’ne. Pandangannya menembus jendela Asi Mbojo yang menghadap ke utara. Baruga Asi Mbojo baru semalam selesai dihias dengan umbul-umbul aneka warna, persiapan Hanta Ua Pua yang dirayakan setiap tahun semenjak Karaeng Jareweq naik tahta menggantikan ayahandanya.

Mata bermahkota alis hitam tebal itu nanar menatap Teluk Bima yang membiru akibat pantulan langit di atasnya. Beberapa perahu nelayan perlahan melaju malas menghampiri bibir pantai Kalaki selepas tiga malam mengarungi laut Flores. “Semoga hasil tangkapan nelayan-nelayan itu cukup banyak untuk menghidupi mereka beberapa hari ke depan” desir sang Karaeng berdoa dalam hati.

Di antara deretan perahu nelayan yang diayun ombak pesisir, matanya menemukan satu kapal phinisi berukuran sedang dengan lambung putih mengkilap dihantam sinar matahari pagi. Lajunya lebih cepat dari perahu lainnya, jenis Phinisi Palari dengan lunas melengkung yang sering digunakan ksatria Bugis Makassar dalam pertempuran laut.

Di anjungan Phinisi itu, seorang lelaki dengan jas tutup dan passapu merah menutupi kepalanya berdiri gagah menghadap haluan kapal. Lelaki dari Gowa, sudah pasti. Di puncak tiang utama phinisi itu, panji kerajaan Gowa Bate Salapang berkibar dipermainkan angin pesisir yang berhembus kencang. Belasan prajurit Gowa bertelanjang dada tampak sibuk mengatur layar agar Palari tak terlalu laju menghampiri bibir pantai.

“Kakanda, aku khawatir kabar yang lewat menyambar telinga belakangan ini benar adanya” bisik Karaeng Bonto Je’ne memecah keheningan. Perempuan Gowa berkulit putih itu seperti menyimpan telaga di kantong matanya.

“Lihatlah, layar lusuh Palari itu seperti tercabik kabar duka dari Galesong. Aku mengkhawatirkan keselamatan daengku I Malombassi. Kemarin serombongan nelayan Kalaki datang menitipkan kabar sayup, genderang Perang Makassar tak lagi keras berdentum. Benteng SombaOpu sudah pecah dihantam peluru meriam Balandayya dan pasukan Angke sudah juga menjejak di Makassar” terbata-bata bibir permaisuri Bima itu pasi menahan sedih yang membuncah.

“Adindaku karaeng Bonto Je’ne, bersabarlah hingga ksatria Gowa itu tiba di sini. Kita akan mendengar kabar terang sebentar lagi. Apapun yang akan disampaikannya, bersiaplah dengan perisai tabah yang lebih dari biasanya. Kemungkinan kabar dari nelayan Kalaki itu adalah kabar asap. Dan kini kita akan melihat terang api-nya.” Karaeng Jareweq berusaha menenangkan istrinya, meski tak bisa menyembunyikan kegelisahannya.

Kemudian keduanya kembali hening, namun bibir Karaeng Jareweq bergetar mengeja dzikir mengagungkan namaNya. Dilihatnya pinisi Palari itu sudah bersandar di pantai, dan ksatria Gowa dengan passapu merah itu sudah menjejak pasir pantai. Hari ini istana Asi Mbojo akan diliputi awan duka, dan ia berharap sang Maha Pengasih berkenan memberinya kekuatan untuk bersabar menghadapinya.

*****


[1] Istana Sultan Bima

[2] Bunga melati, Jasminum sambac

[3] Karaeng Bonto Je’ne, adik kandung Sultan Hasanuddin, Raja Gowa ke-15

[4] Sultan Abdul Khair Sirajuddin bin Sultan Abdul Kahir, Sultan Bima II (1627-1682)

[5] Kitab Manaqib Mawlid al-Barzanji, berisi puji-pujian untuk Rasulullah SAWW yang dibacakan saat peringatan Maulid/Kelahiran Nabi, dikarang oleh Sayyid Ja’far al-Barzanji

[6] Upacara peringatan Maulid Nabi Muhammad SAWW pada setiap bulan Rabiul Awal

Advertisements

12 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. La Bolong said, on June 9, 2011 at 8:17 am

    Puteri cantik dari Kerajaan Mataram yang meluluhkan hati Datu Museng

    di tunggu versi II nya daeng
    #gelar tikar

    • daengrusle said, on June 10, 2011 at 4:49 am

      tunggu cerita selanjutnya…:D

  2. iPul dg.Gassing said, on June 9, 2011 at 10:50 am

    wuihh..mantapnya ceritanya
    serasa baca roman sejarah..
    ditunggu kelanjutannya

    **duduk dekatnya Made

    • daengrusle said, on June 10, 2011 at 4:50 am

      hahah, doakan saya
      semoga konsisten merangkai kronik sejarah, disandingkan dengan sekelebat roman fiksi…:D

  3. giewahyudig said, on June 9, 2011 at 4:15 pm

    Serasa di Makassar nih.. hihiii

    • daengrusle said, on June 10, 2011 at 4:51 am

      hahaha, pdhl latarnya di Bima, lho, mas…

  4. Alris said, on June 10, 2011 at 1:07 am

    Jarang ada cerita sejarah seperti ini. Ditunggu lanjutannya.

    • daengrusle said, on June 10, 2011 at 4:52 am

      insya Allah…doakan saya bisa konsisten menyelesaikannya…

  5. daengsyamsoe said, on June 12, 2011 at 3:02 am

    wow..”tampilan’ yg mengindonesia *jempol *Sorry OOT

  6. Kamal Hayat said, on June 12, 2011 at 5:51 pm

    Cerita yang menakjubkan…

  7. den bhabe said, on June 17, 2011 at 11:37 pm

    Tungguka daeng saya beli sarabba sama ubi goreng dkt mesjid yg enaka lombonnya…jangkie mulai sinrilitta kalo blmpa ada kodong hehehe….salam dan pelukcium utk anak2ku 3M

  8. Arif Lewisape said, on February 18, 2013 at 9:30 am

    Sekedar meluruskan pada catatan kaki. Sultan Abdul Kahir Sirajuddin dan kawin dengan Karaeng Bonto Je’ne ( adik raja Gowa Sultan Hasanuddin ) memerintah Kesultanan Bima dari tahun 1640 sampai tahun 1682. Sedangkan ayahnya Sultan Abdul Kahir dan kawin dengan Daeng Sikontu ( ipar raja Gowa Sultan Alauddin ) memerintah Kesultanan Bima dari tahun 1627 sampai tahun 1640. Sultan Abdul Khair Sirajuddin adalah figur yang tegas dan berani , membantu iparnya ( raja Gowa Sultan Hasanuddin ) dalam perang Makassar . Beda dengan ayahnya ( Sultan Abdul Kahir ) yang lemah lembut.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: