…menulis untuk mencicil ketidaktahuan

Singkong Goreng a la Abu Dhabi

Posted in Abu Dhabi, Sulawesi Selatan by daengrusle on June 5, 2011

Sejak menjalani masa kecil di Makassar hingga menikah dan punya anak, saya tak pernah bisa meninggalkan selera asal saya, terutama menyangkut soal kebutuhan lidah. Lidah saya sudah terkondisikan untuk lebih menyukai makanan yang asam dan agak pedes. Meskipun tentu saya juga harus selalu bisa beradaptasi dengan makanan tempatan manakala yang tersedia hanya itu, terutama di negeri jauh seperti Abu Dhabi ini.

Menyesuaikan lidah dengan makanan di sini awalnya sulit, karena begitu jauh bentang jarak kuliner antara Bugis/Makassar yang pedes asem dengan makanan arab atau india disini. Bukan cuman soal rasa, tapi juga soal bahan atau bahkan makanannya itu sendiri. Lebih banyak rasa aneg di lidah, ditambah lagi soal ukuran porsi makanan disini yang kalau di Indonesia dianggap sebagai porsi sopir/buruh karena saking banyaknya.

Tapi untunglah bahwa negeri ini dihuni mayoritas pendatang, sehingga bahan makanan bisa banyak ragamnya. Hampir semua bahan makanan disini, sayur, daging dan lain-lain diimport dari negeri seberang. Buah-buahan kebanyakan diimport dari Philipina (aneh ya, padahal Indonesia harusnya lebih kaya buah-buahan), sayur-sayuran diimport dari Asia Selatan (India, Srilanka), product snack  diimport dari Saudi Arabia atau ada juga produk local, juga ikan yang dihasilkan dari nelayan lokal. Beras diimport dari Mesir, India dan Thailand. Indonesia kebagian men-supply : INDOMIE dan Kertas! Eh, kertas bukan makanan ya, tapi ini miris soalnya hutan kita dibabat untuk menyuapi pekerjaan orang-orang disini. Jayalah negeri minyak ini, habislah hutan kita!

Karena banyak ragamnya, maka kita kaum rantau ini mesti pintar-pintar beradaptasi dan berkreasi dengan makanan. Dengan mengenali rasa bahan makanan, maka kita bisa saling mensubtitusi dengan bahan asal. Tapi untungnya di Abu Dhabi ini ada juga toko bahan makanan a la Indonesia, yakni Alfamart, he3. Disitu banyak produk bahan makanan asli Indonesia, meski masih jauh dari lengkap tapi lumayanlah. Selain itu, ada juga restaurant khas Indonesia yakni restoran padang Sari Rasa dan restoran Bandung yang menyajikan menu khas masakan Indonesia. Slurrp!!

Tapi sayangnya, dua restaurant ini tidak menyajikan makanan kesukaan saya sejak belia: SINGKONG GORENG. Meski makanan rakyat yang murah nan meria, tapi terus terang enaknya jauh melebihi rasa pizza atau burger! Apalagi kalau dipadukan dengan sambel terasi, wow!

 

Nah, karena sudah lama tak bersua dengan makanan ini, saya coba hunting singkong di antara groceries-groceries yang ada. Sebelumnya saya skeptis karena yang ada hanya ubi jalar atau ubi lain yang bentuknya aneh. Tapi untunglah di satu groceries, saat dengan putus asa tak menemukan singkong, saya bertanya “is there any harder tuber/potato than this?” Si penjual langsung bilang, “Cassava?” GOTCHA!

Singkong itu rupanya tidak dipajang terbuka seperti buah/sayur lain, tapi di masukkan ke dalam dus berisi tanah pekat. Dari dalam dus tanah itu si penjual merogoh dan mengeluarkan singkong coklat pekat itu, dan saya terhenyak bahagia melihat singkong rakyat kesukaan saya itu. Disini, singkong diimpor dari SriLanka, dengan kualitas yang sangat baik. Harganya Dhs 7/kg atau setara dengan Rp 15ribu/kg. Rupanya disini singkong naik peringkat ke buah/sayur yang cukup mahal!

Akhirnya, Alhamdulillah semalam saya bisa menikmati singkong goreng nan renyah a la Abu Dhabi, dipadu sambel tomat terasi yang pedes buatan istri tercinta!

Advertisements
Tagged with: , , ,

18 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. didut said, on June 5, 2011 at 1:10 pm

    jadiharusnya kita bersyukur bahwa IND kaya akan singkong ^^

    • daengrusle said, on June 6, 2011 at 5:28 am

      betul, kita kaya akan singkong. dan sepertinya pemerintah harus mulai menggalakkan keragaman pangan sbg bagian strategi pertahanan pangan, agar tidak terlalu bergantun kepada beras… – halah, kayak pejabat ya omongan gw-

      thanks ya Didut…

  2. mamie said, on June 5, 2011 at 1:36 pm

    kalau singkong saya suka belinya di pasar bacan, 1 kantongan itu sudah dikupas dan tinggal diolah harganya Rp. 5.000,-. Biasa … maunya yang praktis 😀

    • daengrusle said, on June 6, 2011 at 5:29 am

      iya sih di Indonesia, singkong murah meriah, tapi sy sering kecewa karena banyak yang singkongnya sdh rusak jadi nda enakmi dimakan…

      wah, kapan2 saya mau rasakan sambel singkong bikinan Mamie…:D

  3. niQue said, on June 5, 2011 at 1:47 pm

    test test … *sudah berapa x mo ninggalin jejak gagal terus, apakah sekarang juga akan gagal? mari kita lihat*

    • daengrusle said, on June 6, 2011 at 5:29 am

      iya nih, maap, kemaren2 gak bisa komen karena ada plugin yang error.
      skrg pluginnya di delete, jadi bisa komen lagi.

      thanks ya

  4. niQue said, on June 5, 2011 at 1:50 pm

    ngeces saya liat sambelnya
    saya juga udah ketularan orang menado nih,
    dan baru tau orang makassar juga klo makan singkong goreng pakai sambel ya daeng?
    sekarang tiap makan pisang/singkong goreng/ubi goreng pasti saya nyari sambel terasi 😦 seringnya dianggap aneh deh, tp gpp, enak sih hehehehe

    • daengrusle said, on June 6, 2011 at 5:31 am

      hahaha…
      ada seorang teman bilang, “Tuhan sungguh maha terpuji karena menciptakan sambel…”

  5. iRa said, on June 5, 2011 at 3:25 pm

    duh deRus biin ngilermi seng tengah malam….huaaaaa

    • daengrusle said, on June 6, 2011 at 5:31 am

      hahaha, lombokna yang bikin ngiler….:)

  6. aRuL said, on June 5, 2011 at 4:37 pm

    Indonesia juga bukannya terkenal eksport sambel daeng? sambel ABC 😀 hehe

    • daengrusle said, on June 6, 2011 at 5:32 am

      iya, disini banyak dijual sambel ABC…
      tapi lebih nikmat makan pake sambel terasi hasil cobek2an…

  7. iPul dg.Gassing said, on June 6, 2011 at 10:01 am

    Baiklah..pulang kantor nanti mampir beli ubi goreng
    😀

    • daengrusle said, on June 6, 2011 at 11:25 am

      hahaha…ngiler sama lombokna.

  8. Alris said, on June 9, 2011 at 2:15 pm

    Singkong goreng adalah nyamikan favorit kami waktu nonton kejuaraan sepakbola piala AFF beberapa waktu lalu. Sampai sekarang malah jadi ketagihan untuk teman nonton tv rame-rame di basecamp kalo ada acara olahraga yang seru.
    Salam kenal daeng. Kunjungan perdana semoga berkelanjutan mampir kesini.

  9. zamroni said, on September 14, 2011 at 2:26 am

    Boleh juga ubi nya untuk kue khas lebaran….
    Minala aidil walfaizin ya, mohon maaf lahir dan bathin,

    salam

  10. Andy Tri said, on April 10, 2013 at 4:34 am

    om rusle, di bekasi yang masih indonesia singkong harganya 5rb – 7rb/kg isinya paling 3 – 4 biji yang sedang. masih mending d pasar mandai, 5rb dapat banyak.

    sekali-kali pakai sambel (maap) ingus, kayak d warung ubgor d MKS om. gampang bikinnya, bisa pakai kanji atau singkong mentah dblender dengan cabe, bawang putih n garam…

  11. Andy Tri said, on April 10, 2013 at 4:36 am

    om rusle, berapa harga indomie d abudhabi? ada ji warung intel kayak d indonesia?


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: