…menulis untuk mencicil ketidaktahuan

Nahnu

Posted in Renungan by daengrusle on May 19, 2011

Saya memandang hidupnya sebagai sebuah ironi. Tapi hati kecil saya berdoa semoga anggapan saya salah se-keliru-kelirunya.

 

Nahnu, adalah satu diantara beberapa teman awal saya ketika sama-sama menginjak kampus Ganesha di Bandung. Kesan pertama melihat wajahnya, terutama matanya, bahwa anak ini cerdas dan curious akan segala hal. Dia berasal dari sebuah desa di Jawa Tengah atau Jawa Timur, saya lupa tepatnya dimana. Mungkin dia anak yang paling cerdas di sana, dan berhasil menembus persaingan ketat masuk ITB. Peringkat UMPTNnya sepertinya bagus, masih lebih bagus dibanding saya yang sudah masuk di zona degradasi karena nilai saya mendekati limit bawah.

 

Yang membuat saya, dan kami teman-teman di teknik Sipil ITB kala itu tercengang adalah cerita tentang perjuangannya masuk ITB. Bermodal kecerdasan saja tidak cukup, perlu dukungan financial yang memadai. Apalagi dia berstatus perantau di Bandung, butuh biaya kost, makan, transport dan semacamnya.  Dia bercerita, untuk mendapatkan dana buat memenuhi persyaratan pendaftaran masuk ITB yang saat itu tahun 1995 sekitar Rp 1jutaan, orang tuanya yang petani terpaksa menjual asset produksinya: sawah.

 

Saya lupa, apakah dia juga bercerita bagaimana kegiatan usaha ayah-ibu setelah sawah itu terjual, ataukah mereka masih punya sawah ladang lain. Entahlah, tapi cerita berikutnya bisa meraba apa yang terjadi pada kehidupan keluarganya di desa.

 

Setiap bertemu di kampus, saya selalu menunggu cerita baru darinya. Sebenarnya ini menjadi semacam refleksi diri buat saya untuk selalu bersyukur dengan keadaan kala itu. Nahnu, menjadi sosok mirror dalam keterbatasan saya, bahwa saya sungguh jauh lebih beruntung karenanya tak guna menggelontorkan banyak keluhan di hidup yang seharusnya indah selayak menjalani masa mahasiswa di kota Paris Van Java itu.

 

Ke kampus, pakaiannya agak kumal dan lusuh. Buku-bukunya yang kusam a la kadarnya juga menjadi penanda hidupnya yang sulit. Rambutnya sering dibiarkan tak tersisir dan agak kecoklatan. Kelihatannya sisa dari tidur yang sulit semalam. Bandung saat itu sedang dingin-dinginnya dan dia menghabiskan malam dengan menumpang di Masjid Salman depan kampus ITB. Tak bisa saya bayangkan dengan keadaan terbuka seperti itu dia bisa tidur dengan nyenyak. Saya saja sempat sakit beberapa hari karena didera dingin kala pertama menginjak Bandung.

 

Kwartal pertama 1995 kelihatannya bisa dilewati dengan perjuangan sulit. Nahnu hidup berpindah-pindah tempat tinggal, dari satu asrama ke asrama mahasiswa yang lain. Satu hal yang membuat dia tidak betah adalah ketika merasa dirinya dilecehkan. Jamak dimaklumi saat itu, untuk menjadi penghuni asrama mahasiswa, ada banyak lika-liku orientasi yang wajib dilewati. Terkadang orientasi yang diterapkan oleh mahasiswa senior sungguh terasa menghina kemanusiaan kita. Dari tugas-tugas a la cleaning service, sampai bentakan atau hinaan verbal mungkin bisa saja diterima sebagai new comer.

 

Dan kawan saya Nahnu seperti bergeming dengan semua pelecehan itu. Tidak ada dalam kamusnya pendewasaan dengan cara melecehkan, meski pada saat yang sama dia malah berhasil melewati OS Himpunan Mahasiswa yang tidak kalah kerasnya. Di saat OS Himpunan, oleh mahasiswa senior (swasta), dia didaulat menjadi Presiden Republik Mampus. Yakni group peserta yang Mampus atau yang tidak bisa mengikuti kegiatan OS secara normal karena terganggu kesehatannya. Saya kurang ingat apa sakitnya saat itu, tapi yang saya ingat saya juga masuk di ‘kabinet’nya karena saat itu saya baru saja sembuh dari penyakit Tipes.

 

Nahnu tak bisa hidup dengan semua keterbatasan, saya yakin diam-diam dia menghimpun rencana untuk mengentaskan dirinya dari semua yang membuatnya sulit. Selepas semester awal, dia sedikit demi sedikit mulai menemukan jalannya. Jalan yang mudah bagi seorang mahasiswa ITB: mengajar privat anak sekolah untuk mata pelajaran Ma-Fi-Ki (matematika, fisika, kimia). Kerja sambilan mengajar ini sangat umum dijalani mahasiswa ITB. Saat itu, rata2 upah mengajar sekitar Rp 12ribu/jam atau Rp 100ribu per bulan. Kadang-kadang lebih, tergantung negosiasi dan kondisi keuangan keluarga si anak privat.

 

Kerjaan mengajar ini sebenarnya gampang, karena aktifitas utama hanya mengerjakan PR atau soal-soal yang diajukan si anak privat. Tidak perlu mendalami ilmu pedagogi atau psikologi pendidikan. Cukup meluangkan waktu untuk mengasah ulang kemampuan dasar berhitung dan sedikit teori fisika/kimia yang sungguh sederhana. Jam mengajar bisa disesuaikan untuk tidak bentrok dengan waktu kuliah. Terkadang mengajar dilakukan malam/sore hari, atau saat weekend. Lumayan duit yang terkumpul bahkan dari satu anak privat bisa menutupi uang makan sebulan. Apalagi kalau anak privatnya gadis SMA yang cakep, tentu nambah lagi keuntungan psikologis lepas dari beban tugas kuliah yang ribet dengan pemandangan yang menyejukkan. He3.

 

Tapi Nahnu kelihatannya melampaui batas. Ia bukannya mencocokkan jadwal mengajar dengan lowongnya jam kuliah. Tapi ia lebih rela mengorbankan jam kuliah untuk mengajar di beberapa anak privat. Konsekuensinya, dia menjadi lebih sering tidak masuk kuliah. Alasannya, sibuk mengajar privat. Dia hanya masuk kuliah kala jam mengajarnya lowong. Saya dan teman-teman prihatin dan mencoba ‘mengarah’kan acap kali bertemu Nahnu di saat-saat yang jarang. Tapi sepertinya dia cuek saja. Mungkin buat dia kuliah di ITB tidaklah sesulit yang kami jalani.

 

Hidupnya sepertinya sudah agak longgar karena mengajar ini. Dia sudah bisa menyewa kamar kos di bilangan Cisitu, tidak perlu lagi menumpang ke teman atau menjajaki asrama yang penuh ‘cobaan’ itu. Saya bahkan pernah bertemua dia sedang bersama adiknya di pinggir jalan. Rupanya ia memfasilitasi adiknya untuk berlibur di Bandung. Dan juga memberikan orientasi agar bisa ‘kuliah’ di ITB juga seperti dirinya.

 

Dan akhirnya, ketika kuliah kami menginjak tahun ke-3, tahun ke-4, Nahnu seperti hilang di telan bumi. Kami tidak pernah mendengar kabarnya lagi meski kami yakin dia masih berseliweran di Bandung dengan rutinitas mengajarnya. Hingga suatu saat ada teman yang ‘menemukan’ dia sedang berjualan dompet dan tas di emperan masjid Salman.

 

Kabarnya, dia tak lagi mengajar karena sudah menikah dengan salah satu anak didik privatnya. Karena menikah ini, ia mungkin butuh usaha lain yang lebih produktif untuk membiayai keluarga barunya. Kuliahnya, sudah berantakan tak terurus karena absen selama hamper 2-3 tahun. Kami masih sempat mencoba membujuknya untuk kembali ke bangku kuliah, tapi ia sepertinya gamang untuk bisa masuk ke lintasan. Dia menyerah dan memilih berdamai dengan hidup barunya.

 

Beberapa tahun selepas wisuda, saya dan teman2 masih sering menyempatkan bertemu dengan Nahnu di lapak jualannya di emperan depan mesjid Salman ITB. Saya kemudian membayangkan bagaimana raut wajah kedua orang tuanya, yang ikhlas menjual sawah untuk membiayai kuliah Nahnu di ITB, salah satu kampus terbaik di negeri ini, reservoir kelas menengah masa depan Indonesia.

 

AbuDhabi, 19 Mei 2011

-kala mengenang kawan itu-

Advertisements

19 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. amril said, on May 19, 2011 at 6:57 am

    Kisah yang inspiratif dan menggugah, daeng. Saya juga ikut mengenang kawan saya dulu yg sama nasibnya dgn Nahnu. Entah dimana dia sekarang. Thanks for share daeng, ikut terharu membacanya..

    • daengrusle said, on May 19, 2011 at 7:05 am

      Iye daeng. Semoga hidup teman2 yang berjuang tanpa lelah melawan keterbatasan itu bisa bahagia seperti yg mereka harapkan.

  2. indobrad said, on May 19, 2011 at 6:57 am

    no comment.

    bener2 gak tau mau komentar apa.

    semoga dagangannya laku ya Nahnu

    • daengrusle said, on May 19, 2011 at 7:05 am

      Iya. Menyedihkan.
      Saya menulis cerita ini tergerak oleh keinginan ponakan saya untuk mengajar privat juga.

  3. Herman Laja said, on May 19, 2011 at 7:03 am

    membaca diatas seperti ditampar.
    saya sampe lupa untuk bersyukur.

    thanks daeng.

    • daengrusle said, on May 19, 2011 at 7:05 am

      Iye kak Herman
      Semoga kita semua digolongkan orang2 yg bersyukur atas semua yg kita peroleh. Amin

  4. Erwin said, on May 19, 2011 at 7:12 am

    Ironi daeng, terkadang keasyikan kita pada zona nyaman membuat larut dan tak mau keluar zona itu dan akhirnya tak masuk Lintasan lagi.. hmm.

    • daengrusle said, on May 19, 2011 at 7:14 am

      Iye betul sheikh Erwin.
      Tp saya sering mewanti2 diriku. Zona Nyaman adalah Zona paling tak Nyaman…:)
      Jadi, sekiranya sdh merasa nyaman di satu posisi, itu adalah tanda kuat untuk pindah posisi lagi..hehehe

  5. aRuL said, on May 19, 2011 at 5:53 pm

    saya juga punya kisah mirip dengan temanta daeng. Aslinya dia sudah hampir lulus, tinggal skripsi dan satu dua mata kuliah. Tapi kemudian dia memilih utk menjadi guru privat dan melakukan usaha2 lainnya. Pernah beberapa kali ngobrol, dan sy salut dari dia adalah prinsipnya “sebelum lulus, dia harus punya penghasilan sendiri dan mapan”. Semoga itu benar2 terwujud.

    Ada temanku yg lain kesibukan organisasi sebagai passionnya blum lulus2 juga.

    Saya kira bukan hanya permasalahan zona nyaman dari cerita ini, tapi masalah ketidakmampuan ekonomi vs pendidikan berkualitas.

    • daengrusle said, on May 19, 2011 at 10:49 pm

      Oh iya, banyak jg cerita soal teman2 yg tinggal skripsi/Tugas Akhir tp somehow batal lulus. Ada soal idealisme, ada soal keterbatasan. Kita menyayangkan, tapi mungkin mereka punya alasan yg logis menurut kadar yg mereka pahami.

      Thanks

      • Rhiena said, on October 2, 2011 at 4:06 pm

        thank God saya tetap berusaha utk jadi Sarjana .. *sempat senasib sama Nahnu karna ngajar Privat 🙂

  6. niQue said, on May 21, 2011 at 1:20 am

    maafkan jika pandangan saya rada nyeleneh,
    tapi melihat pengorbaban orang tua yang sedemikian rupa,
    sampai merelakan lahan yang segitu2nya,
    sementara apa yang dipersembahkan pada orang tuanya?
    ‘cuma’ istri?
    terlepas sudah jalanNya begitu,
    tetapi menurut saya, Nahnu kurang teguh dalam pendiriannya,
    bahkan kurang fokus pada apa yang sebetulnya dia mau perjuangkan,
    mungkin saya bilang Nahnu egois?
    apalagi dari ngajar privat dia sudah dapat mengubah kehidupannya,
    bukankah itu sudah ada bintang terang?
    tinggal bagaimana dia mengatur waktunya …

    bagaimanapun, nasi telah menjadi bubur buat Nahnu,
    waktu tak mungkin diputas kembali 🙂
    dan sebagai orang beriman, tak perlu menyesali yang sudah terjadi.
    sekarang bagian yang mengetahui cerita ini mendoakan agar Nahnu dimudahkan rejekinya untuk menafkahi keluarganya, syukur2 bisa membantu orang tuanya, aamiin 🙂

  7. niQue said, on May 21, 2011 at 1:21 am

    eh? kenapa jadi panjang begitu? maaf daeng, besok2 engga lagi hahaha …

    • daengrusle said, on May 21, 2011 at 3:28 am

      Nda apa2ji ces.
      Saya juga berpikiran demikian, makanya saya merasa hidupnya itu seperti sebuah ironi.

      Thanks ya

  8. INA Cookiesku said, on July 19, 2011 at 8:02 am

    tersentuh baca kisah tersebut. karena saya bisa mengerti kenapa jalan itu yg ditempuh oleh Nahnu. saya, adik saya dan keluarga pun pernah mengalaminya..

    Alhamdulillah Allah memberikan kami kekuatan untuk menyelesaikan kuliah sambil bekerja apa saja yang penting halal. Kami mencari cara agar mendptkan juga beasiswa. Dan yang saya banggakan adalah adik saya, meski terseok2 dlm urusan financial (kami sdh tdk ada ortu), saling menyemangati satu sama lain dgn cara kami,.. adikku bhasil lulus dgn nilai yg cukup baik dari Universitas Negeri ternama. Sekarang sdh mendptkan pekerjaan yang alhamdulillah bagus dan dapat membantu sodara2 kami yg mbutuhkan. sedangkan saya sendiri setelah mengalami manis pahitnya hidup, bekerja keras, sekarang dapat kesempatan menjadi Ibu dan istri yang selalu ada bagi suami, anak2 dan keluarga. Saya alhamdulillah sangat bahagia dengan setiap cobaan susah senang kehidupan yang Allah berikan selama ini..

    Hidup memang sangat keras dan tidak adil bagi kami yang bukan orang berada. Namun hidup adalah perjuangan. Kita tidak boleh menyerah kalah, karena Allah pasti punya rencana yang bagus untuk kita semua. tergantung pandangan kita melihatnya. Selalu bersyukur akan apa saja yang kita peroleh. Karena kebahagiaan bukan dari apa yg dilihat oleh kasat mata. kebahagiaan hanya dapat ditemukan dalam hati setiap orang yang selalu mensyukuri nikmatnya sekecil apapun yang Allah berikan dan juga sabar dalam menghadapi kerikil2 bahkan gunung2 besar yang menjadi penghalang…

    dan itu lah yang sedang dinikmati Nahnu,.. mungkin secara kasat mata hidupnya mestinya tidak seperti ini jika terus berjuang untuk kuliah.. namun InsyaAllah dia menemukan kebahagiaan dalam hatinya krn sekarang sedang berjuang untuk menghidupi keluarga yang sangat dicintainya. Dia tidak ingin membuat keluarga di kampung berkorban lebih banyak lagi untuk dirinya.. Dia mengalah dan berusaha membangun hidupnya agar dapat berguna bagi semua keluarganya. . Mungkin kelak kebanggaannya diperoleh dari anak keturunannya..

    Mohon maaf jika komentar kurang berkenan. Semoga ALlah senantiasa memberikan rahmat dan hidayahNya bagi kita semua…amin amin amin Ya Robbal alamin…

    • Anita Nur Vitrya said, on January 28, 2016 at 12:16 pm

      benar mbak ina (y)

  9. Fajar said, on August 18, 2011 at 4:24 am

    Wah iya.. saya juga jadi teringat akan (mantan) presidenku.. 😉
    Berhubung saya juga pernah menjadi anggota kabinetnya..
    Dimana ya beliau sekarang?

  10. sandrosirait said, on May 27, 2015 at 3:05 am

    wah kisahnya sedih euy..

    semoga sukses untuk beliau ya


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: