…menulis untuk mencicil ketidaktahuan

Zam-zam: Kronik Kecele

Posted in Abu Dhabi by daengrusle on May 10, 2011

Pre-note: Maaf, judul di atas bukan bermaksud mengurangi derajat kesucian dzat dari air zam-zam, karena kronik kecele ini berlaku pada peristiwa yang menjadi latarnya.

 

Terkadang, niat baik tak mesti beroleh timpalan yang diharapkan. No matter how holy you are or your act, we cannot control the outcome. Tapi tentu menyesalinya bukan cara yang bijak pula, malah mungkin akan jadi semacam introspeksi diri mengenai apa yang perlu diperbaiki dan menjadikan pelajaran berharga untuk tidak terlalu berharap sebagaimana yang diidamkan.

 

Semenjak bulan Januari 2011, sejak mula menginjak kaki di Abu Dhabi ini saya memaksakan diri untuk belajar bahasa Arab. Kebetulan di salah satu sister-company perusahaan saya ada kursus Arabic for Non Arabic Speakers dengan harga terjangkau. Jadilah saya ikut menjadi salah satu pesertanya hingga menjejak di level-Two.

 

Kelas saya level-Two sekarang ini lumayan beragam nationality-nya. Tiga dari Indonesia, empat dari Philipina, dua Malaysia, dua dari UK, satu dari Nigeria, dan dua dari India. Yang menarik adalah bahwa kelas ini kemudian didominasi oleh Asia Tenggara, sekitar setengah jumlah pesertanya dari kawasan ini. Pengajarnya berasal dari Palestina, seorang bapak yang baik dan sabar, terkadang lucu juga.

 

Anyway, selepas umrah dua pekan lalu saya membawa pulang beberapa jerigen kecil ukuran botol aqua sedang. Sebahagian saya konsumsi sendiri di rumah, sebahagian lain saya share ke yang lain termasuk ke pak Ustad pengajar bahasa Arab ini. Maksud hati saya bawa ke kelas biar beliau men-share ke yang lain tapi rupanya saking senangnya dengan air zam-zam beliau rupanya mengkonsumsi sendirian air tersebut. No problem, kata saya dalam hati, nanti akan saya bawakan lagi yang lain.

 

Nah, kemarin saat kelas arab saya bawa lagi satu jerigen. Maksud saya hendak berbagi ke dua Filipina Muslim teman kelas saya, karena so far kami sudah berkawan cukup karib selama ini. Keduanya, bernama Muhammad dan Abdul Syukur, cukup aktif di kelas terutama yang bernama Muhammad itu. (Btw, di negeri ini sungguh sangat banyaaaaaaak orang yang bernama Muhammad, he3). Nah, ketika kelas arab sudah usai, saya niatkan memberikan air zam-zam tersebut ke dua kawan saya itu.

 

Saya berharap mereka akan menerima dengan senang hati, tentu saja karena air zam-zam yang suci dan terkenal ini agak sulit didapatkan. Apalagi sebelum2nya mereka kelihatan antusias ketika membincangkan soalan ke-Islam-an. Namun tak dinyana, ketika saya menyerahkan jerigen kecil berisi air suci tersebut, mereka dengan santainya berkata, “hmm, thank you but you can give to our ukhti there”. Dan terpana campur bingung karena sudah kadung, saya berikan akhirnya air zam-zam itu ke teman kelas perempuan yang juga dari Filipina itu.  

 

Buat saya, menolak permintaan sebenarnya agak kurang sopan, apalagi dari seseorang yang dianggap sudah karib. Juga kalau memberikan pemberian seseorang ke orang lain seperti semacam tidak mengindahkan niat baik dari si pemberi. Apalagi di depan mata si pemberi. Tapi anyway, mungkin memang beda bangsa beda adat beda laku. Tidak bisa kita berharap bahwa kita akan mendapatkan respon yang sesuai keinginan. Dan saya kecele karena tidak menduga sama-sekali respon seperti yang saya dapatkan.

 

Anyway, sebenarnya ini soalan kecil nan sepele saja. Tapi entah kenapa saya merasa perlu menuliskannya sebagai kronik pribadi, dan menjadi pembelajaran berharga dalam berinteraksi dengan orang lain di kemudian hari. Juga buat saya agar selalu legowo dalam segala outcome dari apapun yang saya lakukan. Again, No matter how holy you are or your act, we cannot control the outcome. The outcome is beyond our control.

Advertisements

9 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. Miftahgeek said, on May 10, 2011 at 1:02 pm

    Untungnya penolakannya tersebut masih disertai dengan saran supaya memberi kepada yang lain y kang, ga cuman nolak doank :p

    Anyway, emang ga ditanya alasannya kenapa gitu kang?

    • daengrusle said, on May 10, 2011 at 4:55 pm

      Hahaha, iya yah. Itu positif side nya. Thanks kang Miftah.

  2. aRuL said, on May 10, 2011 at 4:40 pm

    atau jangan2 pandangan mereka tentang air zam2 itu beda kali ya daeng…

    • daengrusle said, on May 10, 2011 at 4:55 pm

      Haha, bisa jadi begitu. Mungkin saya saja yg terlalu memikirkan..he3

  3. kmonoarfa said, on May 10, 2011 at 5:24 pm

    wew… kalo saya yang dikasih, pastiiii gak akan menolak kk hahaha 😀

  4. Ipul dg. Gassing said, on May 11, 2011 at 7:56 am

    pertanyaan saya, mereka muslim bukan pak ?
    mungkin ada perbedaan menilai air zam-zam dari latar belakang itu kali ya..

  5. komuter said, on May 13, 2011 at 1:18 pm

    kirim ke saya aja pak…….

  6. unggulcenter said, on May 21, 2011 at 1:08 pm

    mungkin karena sedang ngga haus tapi kalau oke thank you i drink it later dianggap malah ga sopan daeng..

    *cuma nebak soalnya biasanya dia kalau dikasih suka langsung diminum sendiri, seperti biasa kalau kita kasih orang minum.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: