…menulis untuk mencicil ketidaktahuan

Percakapan Dengan Diana

Posted in puisi by daengrusle on May 1, 2011

Kita hanyalah sekumpulan perantau yang mengais remah di titian masa, tanpa sadar kita tahu muncul di satu ruas dan menghilang di ruas lain.

Menjejak pada titian, kita tahu ia teramat rapuh, dan padanya kita tak sanggup menaruh harapan, tapi menggantung rasa percaya bahwa ia membawa kita menuju sesuatu

Kita bergelut dengan kehidupan, juga kematian, dan menimbangnya seakan dua hal yang bermusuhan, meski keduanya adalah keniscayaan, kita akan melarung jiwa pada keduanya.

Hidup hanyalah cermin dari kematian, bahwa saat ruas di titian sudah tak lagi dijejaki, kita akan menjalani titian yang lain, sama dan sebangun.

Yang membedakan hanyalah bahwa kehendak menjadi absurd, karena di titian lain kita hanya akan menatap timbangan.

Yang jelas dan tegas, dan tak remang adalah bahwa kita sedang meniti sesuatu, perjalanan yang awalnya kita tahu darimana dan akhirnya kita tahu akan kemana.
 

Ketika bersenandung menemu remah di titian, ada yang berisik dan menggigil mengingat kematian seakan-akan ia adalah petaka yang menghadang di akhir jalan

Bukan sobat, kemarian justru kawan terbaik yang kita miliki. Padanya kita berharap bahwa hidup perlu dibebaskan, hidup hanyalah kumpulan keterbatasan, sedang kematian adalah kumpulan pembebasan

Bukankah tak elok merasakan birahi menggeliat hanya sebentar, atau rasa sedap yang raib ketika pahit datang. Kematian menegasi semuanya, karena ia tak kenal dengan rasa dan omong kosongnya
 

Banyak yang khawatir bahwa hidup yang indah musnah ketika titian berakhir dijejak, banyak yang bahagia ketika semua kesulitan terputus saat tubuh lantas melunglai kaku

Ketahuilah, petaka datang hanya pada yang tak siap. Maka bersiaplah, apapun yang akan datang di titian berikutnya.

Tidak usah khawatir, jiwa kita berada di tangan yang sangat Rahman dan Rahim. Lantas, kenapa bermuram durja, sementara kita pasti akan kembali ke pemilik sejati.

Advertisements

4 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. greenfaj said, on May 2, 2011 at 3:48 am

    “…Bukankah tak elok merasakan birahi menggeliat hanya sebentar, atau rasa sedap yang raib ketika pahit datang. Kematian menegasi semuanya, karena ia tak kenal dengan rasa dan omong kosongnya…”

    karena hidup memang penuh berasa dan birahi

  2. erwin said, on May 2, 2011 at 2:53 pm

    Tetaplah semangat menjejaki titian, sebab akhirnya kita akan menuju ke Keabadian..

  3. liyah nita said, on May 9, 2011 at 12:37 am

    mari bersiap diri…

  4. kholil said, on May 9, 2011 at 1:43 am

    mari kita colek hati kecil kita..


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: