…menulis untuk mencicil ketidaktahuan

Perjalanan Menyiram Dahaga – Baitullah

Posted in Abu Dhabi, Kenangan by daengrusle on April 25, 2011

Tidak ada suasana paling mengharukan selain ketika pertamakali memandang langsung Baitullah. Sekian tahun menghadap sang Khalik dengan posisi badan mengarah ke Baitullah tentu menjadi alasan logis mengapa kemudian suasana haru itu muncul. Belum lagi, dan tentu paling utama, titik spiritual kita yang tergugah karena demikian sacral nan mulianya tempat ini dimana kita bisa membayangkan nabi-nabi dan waliyullah pernah berada di tempat terbaik ini. Dan kita berada di jejak yang sama.

Bukan soal berapa kali kelipatan kuantitatif pahala yang diperoleh ketika beribadah mendekat ke pusat kiblat ini, tapi lebih dari itu, sesuatu yang mungkin tak terbahasakan oleh kata-kata manusia yang terbatas. Sama tak terbahasakannya ketika seseorang yang mencari sekian lama sesuatu miliknya yg berharga yang hilang, kemudian menemu ‘sesuatu’ itu tepat di depan matanya. Ungkapan terbaik adalah ungkapan dalam keriuhan hati yang bahagia tertuju langsung ke sang Pemilik, bukan dengan ucapan-ucapan atau kata-kata yang sungguh terbatas.

 

Di Mekkah, seseorang yang baik menasihati ketika bersiap melakukan ibadah umrah, bahwa hati manusia itu ibarat wadah botol yang tertutup. Kita tak akan menumpahkan apapun dalam jiwa kita sekiranya kita membiarkan wadah itu tertutup. “Maka tumpahkanlah semuanya, luruhlah dalam kedekatan kepadaNya. Datanglah dalam keadaan pasrah, insya Allah semua nya akan diluruhkan.

Di hadapan bangunan kubik hitam menjulang setinggi bangunan tiga lantai tersebut, pertama kali serasa tak percaya, juga tak berdaya. Berbaur dengan ragam manusia dari semua penjuru benua, seperti menghilang di pusaran arus kerinduan yang sama. Ribuan hati yang terpanggil menyatu dalam seruan dan panggilan yang sama, melakukan gerak fisik yang menjadi simbolisasi gerak hati mereka. Gerak hati mereka tergambar jelas di kantong-kantong mata mereka yang penuh dengan air mata yang sudah, atau siap tumpah. Semua wajah, dengan beragam warna, memancarkan cahaya yang sama.

Paling mengharukan, dan memancarkan magnitude keharuan yang sama besarnya, adalah ketika menyaksikan wajah-wajah tua, tubuh-tubuh ringkih, bibir2 yang terbuka, dan tangisan yang menyayat betapa kerinduan menemu Tuhan mencapai puncaknya di rumahNya yang Agung. Beberapa dari mereka dikaruniai Rahmat menghadapNya langsung saat itu juga,  sehingga setiap selepas sholat fardhu, para jamaah lainnya gegas berdiri melakukan sholat jenazah atas mereka yang bahagia itu.

Saya, dengan berbekal dosa yang terlampau banyak ketika menghadap Baitullah, tak mampu mengharap lebih banyak selain dilapangkan jalan untuk menjadi manusia lebih baik yang berakhir dengan khusnul khatimah, selayak mereka yang kembali ketika cawan hatinya dipenuhi kerinduan akan Dzat Yang KepadaNya Semua Kembali itu. Kita hanyalah debu di antara semesta kekuasaanNya. Debu yang berharap menghirup cawan penyatuan denganNya kelak. Amin.

Bertawaf mengitari Ka’bah, menghampiri Maqam Ibrahim, mencium Hajar Aswad, meminum Zam-Zam, melakukan ritual Sa’I, bercukur, dan semua ornament ritual itu hanyalah simbolisasi fisik sederhana yang makna spiritualnya jauh lebih besar. Sebesar semesta yang bisa tercakup dalam hati kita semua. Seluas doa yang bisa kita hamparkan menggapai Samudera Kasih SayangNya. Amin.

Doa yang terhambur, haru yang tertumpah, insya Allah menyiram dahaga jiwa yang terpupuk sejak belia.

Tiga hari yang sangat berarti, dan semoga akan selalu kembali ke sana. Amin.

Advertisements

11 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. indobrad said, on April 25, 2011 at 6:38 am

    wah senangnya… karena jaraknya sudah dekat jadi lebih mudah perjalanannya ya 😀

  2. Mustamar Natsir said, on April 25, 2011 at 6:56 am

    Alhamdulillah. 🙂 Semoga kelak saya bisa juga kesana. Doakan, Daeng..

    • daengrusle said, on April 25, 2011 at 7:00 am

      Amin, Mus.
      Semoga semua kita bisa bersegera berkunjung ke sana. Amin

  3. amril said, on April 25, 2011 at 6:58 am

    Alhamdulillah Daeng. Catatan perjalanan yg luar biasa menyentuh. Moga2 keinginan saya menuju Baitullah juga bisa terwujud, Amin..

    • daengrusle said, on April 25, 2011 at 7:00 am

      Amin, kak Amril
      semoga doa kita semua di-ijabah olehNya. Amin.

  4. Ipul dg. Gassing said, on April 25, 2011 at 6:59 am

    Subhanallah…
    Insya Allah suatu hari nanti saya akan mengikuti jejakmu brother..
    🙂

  5. erwin said, on April 25, 2011 at 9:03 am

    “Kita hanyalah debu di antara semesta kekuasaanNya..” Semoga suatu saat bisa bertemu disana daeng, aku sampai saat ini masih rindu teramat sangat.., walau sudah beberapakali kesana…, semoga kerinduan para pencari ridhoNya terpenuhi.. amin

    • daengrusle said, on April 25, 2011 at 9:15 am

      @Erwin:
      Amiin insya Allah.
      Kalau kita menujuNya dgn berjalan, DIA akan mendekati kita dgn Berlari. Insya Allah, DIA jauh lebih rindu kepada antum

  6. anbhar said, on April 25, 2011 at 11:32 am

    labbaikallahumma labbaik
    selamat daeng, doakan kami2 bisa menyusul *amien*


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: