…menulis untuk mencicil ketidaktahuan

Wajah Melayu di Mesjid Shiah

Posted in Abu Dhabi by daengrusle on April 12, 2011

 

(gambar di atas adalah gambar salah satu mesjid di AbuDhabi, di TCA, di depan sebuah bangunan yang sedang diruntuhkan. Mesjid ini bukan mesjid Shiah)
Mesjid itu serasa bersembunyi dari penglihatan awam, hanya menyisakan menara kurus setinggi pohon kelapa bagi mata yang awas. Letaknya berada di antara kepadatan rumah-rumah vila (sebutan untuk rumah tinggal 1-2 lantai) di distrik Madinat Zayed tengah kota Abu Dhabi.

Untuk menuju ke mesjid tersebut, land mark yang paling dikenal adalah Restauran Ibrahimi, warung makan Pakistan yang sangat dikenal oleh hampir semua sopir taxi di Abu Dhabi. Restaurant ini punya menu lamb chop dan nasi briyani yang sangat popular, bahkan oleh warga Indonesia yang tinggal di kota minyak ini.
 
Di antara vila-vila di belakang restaurant Ibrahimi ini terdapat dua mesjid; mesjid Abdullah Hussain dan mesjid alHaj Isa al Mahfudz. Masjid alHaj Isa al Mahfudz inilah yang dikenal sebagai mesjid Shiah yang paling besar di Abu Dhabi, kira-kira sama luasnya dengan Mesjid Sunda Kelapa di Jakarta. Di dalam mesjid ini, di beberapa sudutnya terletak tempat-tempat penyimpanan turbah dan tasbeh yang akan dipergunakan jamaah ketika sholat. Di dekat pintu masuk, ada deretan lemari yang berisikan kitab-kitab bacaan termasuk al-Quran.
 
Tepat di depan mesjid ini, ada gedung lain yang disebut Husainiyyah, semacam tempat kegiatan belajar mengajar mengenai mazhab ahlulbait, sebutan lain Islam Shiah. Di Husainiyyah yang terdiri dari beberapa ruangan, pengajian disajikan dalam bahasa arab dan urdu, mengingat mayoritas konstituennya berasal dari jamaah pengguna bahasa tersebut. Selain penduduk lokal Emirate keturunan Bahrain, jamaahnya juga berasal dari Persia/Iran, Pashtun (Pakistan) dan India.
 
Mesjid ini juga menjadi pusat perayaan hari-hari keagamaan Shiah di Abu Dhabi. Menurut cerita seorang kawan, setiap peringatan Karbala, Ghadir Khum, dan hari-hari besar lainnya, maka mesjid ini akan dipadati para jamaah. Jalan-jalan disekitarnya akan ditutup demi mem-fasilitasi para jamaah yang luber hingga ke luar mesjid.
 
Di negara Uni Emirate Arab sendiri, dimana Abu Dhabi menjadi ibukotanya, total penganut Shiah berjumlah sekitar 22% dari penduduk muslimnya. Aliran lainnya seperti Ahmadiah, Baha’I, Druze, juga dianut oleh sebagian penduduk Abu Dhabi dan diakui keberadaannya sebagai Muslim (sumber: Wikipedia dan Laporan Luar Negeri USA). Berbeda dengan mesjid-mesjid Sunni yang disubsidi pemerintah, mesjid kaum Shiah dinyatakan sebagai mesjid private dan hanya akan diberikan bantuan bila diminta. Meskipun demikian penunjukan Imam mesjid harus sepersetujuan pemerintah Abu Dhabi, juga demikian halnya dengan khutbah-khutbah yang dibawakan setiap shalat Jumat harus mengusung agenda khutbah yang diedarkan oleh pemerintah.
 
Masjid alHaj Isa al Mahfudz dipimpin oleh seorang Hojjatul Islam yang acap mengimami sholat Jumat di hadapan sekitar 500 jamaah yang menyesaki mesjid yang luasnya sekitar 3000m2 itu. Dibalut sorban putih dan jubah berwarna coklat, wajah Hojjatol Islam tersebut sangat bersih dan tampak muda. Taksiran saya usianya tidak kurang dari 50-tahun dan sepertinya ia masih berdarah Persia/Iran. Sampai saat ini saya belum sempat menelusuri nama sang Imam, setiap saya menanyakan namanya ke jamaah mereka biasanya menyebut Ayatolla atau Hojjatul Islam, yang merupakan gelar keulamaan dalam tradisi Islam Shiah di Iran.
 
 
Selepas mengimami sholat dhuhur yang dijamak dengan Ashar, biasanya para jamaah berbondong-bondong maju ke area imam untuk mencium tangan dan kening sang Hojjatol Islam tersebut. Saya beberapa kali juga tak menyia-nyiakan kesempatan tersebut. Kapan lagi bisa ber-tabarruk mencium wajah bersih yang tentunya tekun menghadap sang Maha Suci itu. Terkadang saya ikut mendengarkan khutbah yang dibawakan dalam bahasa Arab, meski dalam suasana kebodohan yang teramat sangat dalam memahami khotbah tersebut.
 
Selepas khotbah, kemudian para jamaah yang tersisa – hanya sekitar 50-an jamaah yang setia menunggu hingga khutbah selesai, berdiri untuk memanjatkan doa ziarah ke masing-masing Imam sesuai letak maqamnya yang dipimpin oleh Hojjatol Islam tersebut. Beberapa kali sholat Jumat disana, pandangan mata beberapa jamaah sempat mengikuti heran ke wajah saya. Mungkin buat mereka, adalah hal tak lazim mendapati wajah melayu masuk di mesjid mereka. Dalam salah satu kesempatan, beberapa jamaah pernah mendekati saya secara khusus dan menanyai asal saya. Salah satunya takjub dan heran mengingat menurut dia tak pernah ada penganut shiah dari Asia Tenggara yang umumnya bermazhab Syafii tersebut.
 
Selain berkesempatan ber-tabarruk (mengambil hikmah kebaikan) dengan mencium tangan dan kening sang Hojjatol Islam, hal lain yang membuat saya nyaman sholat di mesjid tersebut adalah ritual salaman kepada jamaah sekeliling kita. Di setiap akhir sholat dhuhur dan ashar, selepas memanjatkan doa yang cukup panjang dan bersujud sembari mengecup turbah Karbala, maka jamaah akan saling bersalam-salaman. Persis seperti yang umumnya sering dilakukan di mesjid-mesjid di Indonesia.
 
Koordinat Mesjid: 24°29’15″N   54°22’6″E
 
 

Advertisements

9 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. indobrad said, on April 12, 2011 at 3:21 pm

    foto interiornya dong daeng 😀

  2. daengrusle said, on April 12, 2011 at 3:32 pm

    @om brad: hehe, sy msh blum PD utk motret interior nya om…:p

  3. sibair said, on April 13, 2011 at 6:33 am

    Masjid shihahnya mana daeng?

    • daengrusle said, on April 13, 2011 at 6:35 am

      @sibair:
      Kan ada tuh detail lokasi dan map nya saya tulis di postingan ini :p

  4. Ipul dg. Gassing said, on April 13, 2011 at 7:17 am

    hmm…saya masih menunggu detail masjidnya.
    dan, apakah bapak orang melayu sendiri yang sholat di masjid itu ?

  5. Miftahgeek said, on April 13, 2011 at 8:12 am

    Lho, ada Ahmadiyah juga di Abu Dhabi kang? Ga ada masalah ama status nya disana?

    • daengrusle said, on April 13, 2011 at 8:13 am

      Ya, seperti yg kang Miftah baca di postingan di sini, mereka umumnya cukup bijak menerima perbedaan. Gak seperti di Indonesia…hehehe

      Berbeda itu Indah bukan..:p

  6. unggulcenter said, on May 2, 2011 at 7:07 am

    lalu, apa jawaban dg rusle waktu mereka tanya tentang penganut syiah di asia tenggara?

  7. […] Alhamdulillah, persaudaraan berlatar identitas lintas bangsa seperti ini sungguh menyenangkan. Semoga saya bertemu lagi dengan mereka sesering mungkin, bukan karena berharap dapat tumpangan gratis tapi karena pancaran persaudaraan tulus yang terlihat dari senyum dan binar mata mereka yang bersemangat. Meski wajah melayu saya sangat berbeda dengan mereka. (Lihat postingan Wajah Melayu di Mesjid Syiah). […]


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: