…menulis untuk mencicil ketidaktahuan

Celana Dalam itu bernama Supersemar

Posted in Renungan by daengrusle on March 11, 2011

Tulisan ini terinspirasi dari status facebook dua kawan saya hari ini, membuat saya mencoba menjalin dua hal yang sepertinya menarik untuk disimak. Celana Dalam dan Supersemar.

Celana dalam adalah proposisi eksistensial kita yang sangat personal. Meski kita mengakui dan memerlukan (secara mutlak) keberadaannya, namun tak banyak yang berani membicarakannya. Tabu dan malu melekat erat dengan benda satu ini, meski banyak lelaki (atau perempuan?) sangat menggemari pemandangan benda ini terutama kalau secara sensasional melekat pada pemakainya :).

Siapa yang hendak memulai perbincangan mengenai apa warna celana dalam yang sedang dipakai di dalam sebuah obrolan santai ataupun serius? Tak ada, kecuali anda hendak di-labeli saru, atau lale atau mangure’ (makassar/bugis: saru). Terkadang juga, mungkin karena yang letaknya menyembunyi dari pandangan umum (siapa yang suka mempertontonkan benda ini kecuali di pantai atau kolam renang?), maka kita tidak mempersoalkan warna ataupun bentuknya, belel longgar atau sudah sobek sana sini. Celana dalam adalah wajib hukumnya untuk dikenakan, tapi terkadang makruh bahkan haram untuk diperbincangkan.

 

Berkaitan dengan supersemar, saya menganalogikan bahwa supersemar adalah celana dalam bagi rezim almarhum itu. Kenapa?

Hari ini tepat 45tahun kita mengenang sebuah surat paling sakti yang pernah dikeluarkan dalam kronik sejarah Indonesia. Surat bertajuk surat perintah itu kemudian mengubah hampir keseluruhan wajah Indonesia, kecuali soal otoritarianisme nya yang masih berlanjut. Dari sebuah sistem yang sangat independen, jumawa dalam pergaulan internasional dan kuat dalam membangun karakter bangsa, menuju sistem yang sangat dependensial, bergantung nyaris sepenuhnya pada kekuatan ekonomi asing. Meski keduanya tidaklah sama baiknya, tapi paling tidak surat sakti bernama Supersemar itu membalik semua persangkaan asing kepada Indonesia. Dari sebelumnya adalah negara yang sangat jumawa, menjadi negara yang menghamba.

Supersemar, surat perintah yang dirancang dan ditujukan oleh Soeharto, adalah pemantik perubahan jaman itu, meskipun riak-riak nya bermula dari berbagai peristiwa yang mendahuluinya semacam dekrit presdien 5-Juli 1959 hingga kemudian pemuncaknya saat meletusnya peristiwa Gerakan 30 Sepetember 1965 yang terkenal itu, yang hingga runtuhnya pemerintahan Soharto tahun 1998 menjadikan paham komunisme sebagai ideologi pesakitan di negeri yang konon menjunjung tinggi moral dan agama ini.

Selama 32tahun sejarah rezim Soeharto mengangkangi negeri ini, pembicaraan mengenai supersemar juga hal yang sangat tabu. Terutama soal keberadaan naskah aslinya yang konon tidak sama dengan naskah yang dipertontonkan secara publik di buku-buku sejarah bangsa ini. Hanya satu dua orang saja yang berani mengungkapkan adanya naskah ‘lain’ yang entah dimana. Kenapa orang mencari naskah aslinya, karena konon surat sakti ini bukanlah surat legitimasi yang ‘menyerahkan’ kekuasaan seumpama cek kosong kepada Jendral Soeharto saat itu. Naskah aslinya tidaklah selebar itu interpretasinya sebagaimana kemudian dikukuhkan oleh Soeharto dengan Tritura nya. Bahkan konon Soekarno pun, meski mengakui menandatangani surat tersebut, terkaget-kaget melihat bagaimana Soeharto menerjemahkan surat itu menjadi instrumen kekuasaan tak terkendali dan menggiring terjadinya pembantaian jutaan warga yang dicurigai sebagai antek komunis di seluruh nusantara (terutama jawa tengah yang konon jumlah korbannya menjapai jutaan jiwa). 

Rezim Soeharto menyangkal bahwa naskah Supersemar yang asli berbeda dengan yang kita saksikan di buku sejarah. Tapi beberapa pelaku sejarah menyatakan berbeda. Ibarat celana dalam, keberadaan naskah supersemar tak kunjung diperlihatkan ke khalayak, bahkan dibicarakan pun bisa menjurus ke arah tuduhan subversif kala itu. Namun, rasa tertarik para sejarahwan mengenai sensualitas politik yang merenda-rendai surat itu membuat orang tak pernah berhenti menggunjingkannya. Tapi sayang, Jendral M Yusuf yang menjadi saksi terakhir mengenai keberadaan surat sakti ini tak kunjung bersuara hingga wafatnya. Jendral yang baik itu seperti meninggalkan cacat yang mengecewakan banyak pengagumnya. Kata seorang kawan, ” Dia orang baik, tapi tak begitu berguna”.

Hingga saat ini, kita tak tahu bagaimana rupa asli celana dalam rezim Soeharto itu, apakah selembar sahaja sebagaimana yang ada di buku sejarah kita, atau konon dua lembar. Begitu pula isi di dalamnya, apakah memang mengalihkan kekuasaan politik secara permanen dari Soekarno ke Soeharto atau hanya sekedar surat biasa untuk mengamankan situasi. Tapi sayang, tak ada yang tahu pasti. Bahkan belakangan banyak versi naskah supersemar yang beredar, tapi tak satupun yang meyakinkan validitasnya.

Sejarah memang kronik para pemenang, dan sampai sekarang sepertinya pemenangnya masih pemegang celana dalam bernama Supersemar itu. Menangislah kita semua yang tak bisa membaca sejarah yang sesungguhnya, hingga dibenak kita mozaik-mozaik kekejaman yang pernah terjadi di alur sejarah negeri ini demikian kabur dan lebih pantas untuk dilupakan. Kita tentu saja bangsa pelupa yang kronis, dan terlalu baik kepada pemberi makan kita 32 tahun itu. Namun kita tak sadar bahwa negeri ini kehilangan karakternya selama itu, dan menghamba terlalu lama pada kepentingan yang terlalu jauh jarak nya dari jantung kita sesungguhnya. Di belahan dunia lain, mereka menyebut kepentingan asing itu sebagai Setan Besar. Sementara pemimpin kita di sini menyebutnya Tuan Besar.

Jayalah Indonesia.

Advertisements
Tagged with: ,

7 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. aRuL said, on March 11, 2011 at 10:45 am

    begitulah, siapa yg punya kuasa lebih, dia yg megang sejarah Indonesia sesuai dengan versi penguasa.

  2. Ipul dg. Gassing said, on March 11, 2011 at 11:40 am

    saya juga tertarik pengen tahu bagaimana bentuk celana dalamnya Soeharto..
    eh..
    rezim Soeharto..
    kira-kira bisa terlihat ndak ya..?

  3. daengrusle said, on March 11, 2011 at 11:45 am

    @ipul: warna kuning…

    @arul: begitulah…:)

  4. asudomo said, on March 11, 2011 at 3:40 pm

    emang gitu mas, setiap ganti rezim, buku pelajaran sejarah juga ganti

  5. unggulcenter said, on March 15, 2011 at 6:14 am

    bahkan penyebutan “super” semar pun merujuk ordebaru dalam menyikapi bahwa surat tersebut memang surat sakti..

    dan fenomena surat sakti sampai detik ini masih menjadi warisan orde baru.. entah sampai kapan bisa kita rasakan kesetaraan disegala bidang tanpa prioritas kepada yng punya “surat sakti” dan boleh meminta “surat sakti” tersebut..

  6. Miftahgeek said, on March 15, 2011 at 10:30 am

    Kalo beneran surat nya ternyata ditemukan berbeda dengan aslinya dikemudian hari, akankah beasiswa supersemar akan berganti nama 😀

  7. Veronique said, on September 26, 2014 at 9:49 am

    I read a lot of interesting content here. Probably you spend a lot of time writing, i know how to save you a lot of time, there is an online tool that creates high quality,
    google friendly posts in minutes, just type in google – laranitas
    free content source


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: