…menulis untuk mencicil ketidaktahuan

MAHATMA – nama anakku yang akan lahir

Posted in puisi by daengrusle on July 31, 2010

Banyak orang menganggap kurang baik mempersiapkan nama untuk anak yang belum lahir. Kurang baiknya mungkin terkait agama, mitos atau klenik, atau hal lain yang agak irasional. Atau mungkin ada juga alasan rasionalnya, saya kurang paham.

Seorang kawan saya memerlukan waktu 40 hari setelah anaknya lahir untuk diberi nama. Katanya mengikuti sunnah. Padahal, bukankah beberapa nama nabi diberikan Tuhan jauh beratus tahun sebelum mereka lahir, semisal Yahya dan Muhammad. Wallahu ‘alam. Saya hanya membayangkan aneh, apa panggilan orang2 dewasa kepada anaknya yang baru lahir selama masa 40 hari tak bernama itu?

Tapi saya termasuk orang tua yang merasa wajib untuk mempersiapkan nama terbaik untuk anak-anak saya, jauh sebelum mereka lahir. Nama yang baik, tentu doa yang baik pula. Anak-anak saya bukan saja merupakan anak-anak biologis yang lahir dari darah daging saya, tapi lebih jauh dari itu, mereka adalah anak-anak ideologis saya. Tempat saya menitip ideologi, tempat saya menebar benih masa depan. Meski mereka akan meneruskan hidup dengan caranya sendiri, tapi saya berusaha menitip sebuah doa setidaknya pada nama yang saya berikan.

Nama anak pertama saya Mahdi Muthahhari Bandu Noertika, namanya tentu memuat doa yang sungguh keren menurut saya, juga puitis. Nama itu berima di dua nama depannya. Sungguh enak menyebutnya. Mahdi, imam ahlulbayt ke-12, manusia suci ke-14 keturunan Rasulullah SAW. Juga bermakna orang yang diberi petunjuk, hidayah. Muthahhari, adalah nama filosof dan pemikir Iran yang turut membangun pondasi revolusi Islam Iran dibawah pimpinan Ayatollah Khomeini qs. Kalau Rasulullah SAWW menyatakan bahwa pena ulama lebih tajam dari darah syuhada, maka Muthahhari menggabungkan keduanya. Beliau adalah ulama yang syahid oleh senjata yang dikokang musuh Islam: SAVAK – agen rahasia bentukan Syah Iran kala itu. Bandu adalah nama kakeknya dari garis istri saya yang wafat ketika Mahdi dikandung. Ia adalah representasi kesabaran dan kesalehan. Ketika beliau wafat, saya menazarkan namanya akan menghiasi nama anak saya nanti, agar kesabaran dan kesalehan beliau menurun ke cucunya.

Nama anak kedua saya adalah nama terindah buat seorang perempuan. Saya selalu membanggakan nama yang saya berikan untuknya. Maipa Deapati Noertika. Maipa Deapati sesungguhnya nama yang cukup dikenal oleh orang2 Bugis Makassar. Tercipta dari sebuah epik berlatar Makassar tempo dulu, “Datu Museng dan Maipa Deapati” karangan Verdy R Baso. Datu Museng adalah putra bangsawan dari Kerajan Gowa yang jatuh cinta kepada Maipa Deapati Putri bangsawan Kerajaan Sumbawa. Kisahnya mirip dengan Romeo dan Juliet versi Shakespeare. Keduanya terpisah hanya oleh kematian. Tentu saja saya tak bermaksud mendoakan kisah cintanya nanti sedemikian. Tapi saya berharap semoga Maipa Deapati tumbuh menjadi perempuan cantik yang cerdas dan berani. Amin.

Beberapa hari ke depan, anak ke-3 saya insya Allah akan lahir. Menurut dokter, usia kandungan sudah 38 pekan, dan sudah menanti hari untuk dilahirkan. Air ketuban sudah keruh katanya, meski saya agak heran bagaimana si dokter tahu soal keruh tidaknya air ketuban. Dari USG tentu tak begitu detail mata bisa melihat tingkat kekeruhan ketubannya. Meski begitu, pesan yang sampai di kepala saya jelas, waktunya akan segera tiba. Namanya pun sudah saya siapkan, beberapa bulan yang lalu.

Nama yang saya siapkan untuk anak saya yang ke-3 ini, yang menurut hasil USG berkelamin laki-laki, adalah MAHATMA. Mendengar nama ini, mungkin orang segera mengaitkan dengan Mahatma Ghandi, tokoh anti kekerasan asal India. Meski mirip, tapi sesungguhnya bukan beliau yang mengilhami nama itu. Mahatma sejatinya berasal dari kata Atma, yakni jiwa dalam terminologi Hindu. Maka Mahatma bermakna maha jiwa. Maha jiwa adalah representasi kesempurnaan jiwa, yang dalam islam disebut sebagai Insan Kamil, Insan sempurna. Insan sempurna tentu memiliki jiwa yang sempurna, jiwa yang tenang (nafs al-muthmainnah).

Saya lagi mencari nama kedua (middle name) untuk anak saya ini. Meski di benak saya sudah ada kandidat namanya, dari nama seorang filosof terkemuka dari mazhab Isfahan abad ke-13M, tapi saya masih menimbang-nimbang nama lainnya.

Ada ide?

Advertisements
Tagged with:

7 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. priyantarno said, on August 2, 2010 at 1:15 pm

    bech sebaya nanti anak ta daeng minggu lalu barusan ka punya anak pertama namanya muhammad Zahran al-Ghiffari

  2. syamsoe said, on August 3, 2010 at 1:52 pm

    diary astetika : buku harian yg indah … ahhh tapi sepertinya nama ini tak masuk hitungan tak beraksen arabic hehe

  3. nonadita said, on August 26, 2010 at 3:50 pm

    selamat yaaa atas kelahiran anak ketigamu. Pinter banget milih nama yang bagus bunyi dan maknanya. kLo ada orang yg kesulitan cari nama utk anaknya, bisa bantu ya, Daeng? 😉

  4. MT said, on September 3, 2010 at 6:48 am

    ouh, mestinya kuucapkan selamat lahirnya anak ketigamu saat di simpang raya. mestinya… maaf ya!

  5. […] teman dari kawan jejaring saya si Rusle mengisahkan dlm tulisannya bahwa konon temannya itu memerlukan  waktu 40 hari setelah anaknya […]


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: