…menulis untuk mencicil ketidaktahuan

Mendukung Susno Duaji? Maaf Saya Tidak Lupa!

Posted in Kenangan by daengrusle on April 13, 2010

Anda Facebooker Pendukung Susno Duadji?

aku memang masih utuh
dan kata-kata belum binasa

(Widji Tukul, 1997, Aku Masih Utuh dan Kata-kata Belum Binasa)

Semalam, ketika menyaksikan breaking news ulasan penangkapan Susno Duadji di bandara yang ramai disiarkan oleh dua saluran berita tanah air, saya agak bersorak dalam hati. Ini babak baru perang bintang di tubuh institusi kepolisian. Tak peduli siapa pemenangnya, yang jelas kita – rakyat biasa yang selama ini terhijabi oleh berita-berita pencitraan dari pemerintah, mendapat tontonan yang lebih sedikit berkualitas dan rada seru daripada infotainment soal pengakuan selingkuh KD yang berurai airmata. Seperti menyaksikan filem action, kita disuguhi detik-detik ketegangan yang terjadi antara Jenderal Susno dan Propam berpangkat pamen di bandara, diselingi oleh adegan aparat katro yang menghalang-halangi wartawan MetroTV mengambil gambar (Salut utk MetroTV, dan jempol ke bawah utk aparat katro itu). Seru, sampai seorang teman di group BBM menyorakkan “demonstrasi” seperti laiknya di jaman reformasi 98. Hore!

Breaking news soal ditangkapnya Susno (wartawan Elshinta mengklarifikasi dengan sebutan penjemputan paksa), membuat saya sigap meng-update status di facebook “wah, bakal ada gerakan 1jt facebooker tuntut pembebasan Susno Duaji nih”…dan ternyata, ketika pagi harinya saya mendengarkan siaran berita di TV dan radio Elshinta, group facebooker itu sudah terbentuk, meski dengan sedikit variasi judul “Sejuta Dukungan Untuk Susno Duadji Mereformasi Polri”. Satu undangan juga masuk ke inbox-ku untuk jadi group member nya. Halah!

Ya, siapa yang masih ingat, Komjen Susno Duadji ini lah yang memicu prahara perseteruan KPK vs Polri, dengan statemen terkenalnya saat wawancara dengan Majalah Tempo yang dimuat di edisi Juli 2009: “Cicak Kok Mau Melawan Buaya” dengan konteks KPK yang menyadap telepon Susno Duadji. Drama ini kemudian berlanjut hingga penangkapan komisioner KPK Bibit dan Chandra yang memicu ‘gerakan maya’ sejuta facebooker menuntut pembebasannya. Ketika gerakan maya ini kemudian diupayakan untuk menjadi aksi nyata di Bundaran HI sekitar awal November 2009, jumlah jutaan pendukung itu hanya terwakili oleh ribuan orang. Kini, seperti kata Ahmad Albar dan Nike Ardilla, dunia ini panggung sandiwara. Ceritanya mudah berganti. Susno Duadji sedang didukung oleh para facebooker yang sebelumnya justru menghantarkan hujatan karena kasus Bibit Chandra.

Lakon sekarang yang dijalani Susno Duadji yang seakan-akan sedang ber-jihad melawan kebobrokan di tubuh aparat hukum Indonesia memang membuka mata kita semua. Kasus Gayus Tambunan, Andi Kosasih hingga yang terakhir Bahasjim dan kemungkinan akan tumbang lagi beberapa petinggi lainnya memang membuat kita terperangah betapa kasat matanya pengkhianatan aparat atas amanah yang diberikan. Kita yang saban hari saban bulan dan saban tahun ‘dipaksa’ membayar upeti kepada pemerintah melalui pajak, rertibusi dan pungutan resmi lainnya, ternyata disuguhi tontonan memuakkan betapa upeti-upeti yang mungkin jauh lebih bermanfaat untuk membeli susu untuk balita, dikangkangi secara brutal oleh aparat-aparat itu.

Oleh ‘nyanyian’ Susno, sebahagian menjadi tersadar, sebahagian lagi terhenyak dan ketakutan. Yang ketakutan tentu para pejabat yang sebentar lagi ngantri untuk dijadikan ‘pesakitan’ karena sangkut pautnya dengan makelar kasus. Dan kita lihat, Polri ikut jengah karena dua jendralnya yang disebut-sebut Susno ikut terlibat ternyata memang ‘kemungkinan’ menjadi tersangka karena sudah disidik di meja reserse. Susno memang sedang memainkan bola liar yang kita tak tahu akan memantul kemana, sambil berharap-harap cemas semoga dia bisa menyelesaikan permainannya dengan sempurna, tanpa diganjal hingga cedera atau kena kartu merah dari wasit. Who knows, yang jelas kita berharap semuanya bisa terungkap.

Tapi saya tetap tidak lupa, dan masih menjaga sikap skeptis terhadap Susno atau siapapun itu. Pengkhianatan pemerintah selama ini menyuburkan sikap skeptis dan kritis atas apapun yang keluar dari dalam perut mereka. Jangan-jangan ini semua bermuara kepada satu hal: kekuasaan. Dan roda kekuasaan itu berjeruji. Padanya banyak rasa keadilan dibiarkan berkarat. Seperti puisi Widji Tukul: aku memang masih utuh
dan kata-kata belum binasa. Saya kemudian mengupdate status di facebook: “Saya Tidak Lupa, Susno dulu yang meremehkan KPK dengan sebutan Cicak. Maaf saya tidak akan ikut jadi fasn Susno, tp berharap semua kebobrokan ini terungkap!

Maaf, saya tidak lupa!

Advertisements
Tagged with: ,

4 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. dz. said, on April 13, 2010 at 6:50 am

    boleh, ya, saya share tulisan ini ke facebook? ini bukan minta izin, karena saya sudah lakukan berdasar kesoktahuan bahwa anda akan mengizinkan–maaf 😉

    salam kenal.

  2. Catra said, on April 13, 2010 at 7:05 am

    ulasan yang menarik mas.

  3. asepsaiba said, on April 13, 2010 at 9:27 am

    Iya ah.. Saya juga gak mau latah.. saya hanya berdoa saja mudah2an mimpi2 saya tentang musnahnya KORUPSI di negri ini bisa terwujud…

  4. roelsyarif said, on May 14, 2010 at 6:19 pm

    setuju! ijin share di fb, daeng…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: