…menulis untuk mencicil ketidaktahuan

tentang setangkup embun yang kutadah setiap subuh

Posted in puisi by daengrusle on March 23, 2010

ketika kau bertanya tentang jiwa
aku merapatkan tubuhku pada tubuhmu
saat jantungmu merasakan debar jantungku, memainkan irama yang sama
membuat kita saling mendekap
dan kita sama menyebutnya cinta

kau bertanya tentang surga,
maka kuhadirkan setangkup embun yang kutadah setiap subuh,
yang mencair saat kau lelap melamunkan mimpi
saat wajahmu melukis segaris bibir yang tersenyum disana
dan kita sama menyebutnya cinta

kau bertanya tentang tuhan
dan kukecup keningmu lama, membuat matamu terpejam lama seakan larut dalam waktu
kuceritakan tentang samudera yang riaknya membuat nelayan selalu merindu
dan ikan-ikan di kutub selatan yang selalu menanti saat untuk berenang ke utara
dan kita sama menyebutnya cinta

lantas, bukankah seharusnya tiada aku dan tiada engkau?

Advertisements
Tagged with:

5 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. dinnasabriani said, on March 24, 2010 at 2:01 am

    merinding terharu berkaca kaca bacanya. 😉

  2. Miftahgeek said, on March 26, 2010 at 3:34 pm

    unbeliveable kang.. sampe ga berkedip baca nya..

  3. achoey said, on April 5, 2010 at 10:11 am

    dahsyat

    jadi kapan kita berpuisi bareng di dekat situ 😀

  4. amril said, on April 7, 2010 at 10:25 pm

    Hebat daeng! Saya sampai terpana membacanya..


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: