…menulis untuk mencicil ketidaktahuan

kudus

Posted in Kenangan, puisi by daengrusle on December 24, 2009

Kudus

:: kepada pemilik embun

malam ini menandai sejuta larik senyum yang tumpah membekap semesta.
kekudusannya meninggalkan jejak basah di setiap helai dedaunan
dan ranting-ranting pepohonan, juga semak-semak.

suara air memercik diantara keheningan yang ditiupkan oleh dingin malam
selebihnya, hanya ada bulan
yang menghitung jejak gelap yang tak mampu disingkapnya.

satu satu embun dipilin seumpama adonan kue
angin yang tak awas, ditangkap oleh dingin
kemudian dipintalnya menjadi titik-titik yang basah, namun lekat

ia tak terjerembab, namun diselamatkan
pada daun, ranting, atau bebatang yang hendak dimandikan pagi
menjadi mata-mata di remang malam

semua yang terpejam, membuka,
atau sekedar beringsut diantara keduanya
adalah saksi-saksi yang kelak menyanyikan kidung penyempurna

tak peduli apa warnamu kini
di sana kelak, pewarna tak ada gunanya
yang memantulkan cahaya adalah sesuatu di dadamu

ketika kau sadar darahmu mengalir pelan
benakmu menuntunnya menggapai pintu-pintu
maka sesuatu di dadamu itu membukanya

ketika itu kau akan mendengar suara sesejuk embun malam ini
sabdanya “selamat, damai lah selalu..”

semua warna : Amin!

*foto diambil dari link ini.

Advertisements
Tagged with: ,

One Response

Subscribe to comments with RSS.

  1. Miftahgeek said, on December 25, 2009 at 6:02 pm

    Nice puisi pak, keren..


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: