…menulis untuk mencicil ketidaktahuan

Ngeblog-lah, dan nama Anda terancam abadi!

Posted in Kenangan by daengrusle on December 19, 2009

Kartini meninggal dalam usia teramat muda, 25 tahun. Namun, jejak hidup yang ditinggalkannya; surat-surat berisi buah pikirannya yang maju melampaui zamannya dikemudian hari mentahbiskan dirinya menjadi pahlawan. Christina Martha Tiahahu, gadis Saparua pemberani itu malah jauh lebih muda, 18 tahun ketika meninggal di atas kapal pembuangan VOC akibat mogok makan. Raden Inten II, raja Lampung tewas di bunuh VOC ketika berusia 22 tahun. Wolter Monginsidi tewas di ujung peluru regu penembak Belanda di usianya yang ke-24. Panglima Besar Sudirman meninggal akibat kanker paru di usia 34 tahun di masa gerilya. Yang termuda yang tercatat walau belum diakui sebagai pahlawan, Ade Irma Suryani Nasution, 5 tahun, tewas tertembus peluru Cakrabirawa sebagai perisai ayahnya. Yang lebih modern, pahlawan Tritura dan Reformasi, umumnya tewas saat berusia 20-an tahun.

Mereka semua adalah pahlawan bangsa, yang artinya bahwa jasanya sedemikian besar bagi perjalanan sejarah perjuangan bangsa Indonesia mencapai cita-citanya, kemerdekaan, walau kenyataannya usia mereka masih sangat muda dibanding rata-rata penduduk Indonesia. Jejak hidup mereka terpatri dalam di lembaran sejarah sedalam kecintaan mereka akan bangsa ini.

Tentunya kepahlawanan mereka menjadi inspirasi bagi generasi setelahnya untuk turut unjuk membangun bangsa besar ini, sayangnya tak banyak buah pikiran mereka bisa kita baca dan jadikan narasumber. Bahkan banyak yang justru terasa asing bagi kita. Beberapa diantara kita mungkin malah tidak pernah mendengar nama pahlawan ini; La Maddukelleng, Pongtiku, Andi Jemma, Tjilik Riwut, Tuanku Tambusai, Nani Wartabone, Sultan Nuku, Kiras Bangun (Garamata), bahkan mungkin kita tidak kenal nama-nama pahlawan Reformasi yang tewas di tahun 1998.

Tapi jangan khawatir, saya tidak sedang menghakimi pengetahuan sejarah kita, banyak faktor yang membuat kita terpisah secara historis dengan mereka, diantaranya kurangnya media bacaan yang memberi kita akses untuk mengetahui sejarah mereka. Sekedar informasi, kesemua nama yang disebutkan diatas telah diakui resmi oleh pemerintah sebagai pahlawan nasional melalui SK Presiden.

Kembali ke inspirasi perjuangan, beberapa pahlawan tersebut juga menyempatkan diri untuk menorehkan buah pikirannya ke dalam tulisan yang mungkin tanpa sepengetahuan dan sekehendak mereka, kemudian menjadi abadi dan bisa terbaca hingga saat ini. RA Kartini, Muhammad Yamin, Hatta, Soekarno, Tan Malaka, Soe Hok Gie, Ahmad Wahib, dan Pramoedya Ananta Toer termasuk sedikit diantara sekian tokoh besar kita yang punya hobi menulis dan menuangkan buah pikirannya bagaimana membangun bangsa ini. Sedang yang lainnya, kita baru bisa menikmati sejarah hidup dan ide kebangsaannya dari serpihan-serpihan lapuk yang disimpan oleh museum dan pewarisnya, atau hanya sekedar tutur lisan dari beberapa tetua-tetua yang hidup sezaman dengan mereka.

Padahal dari tulisan sejarah perjuangan merekalah kita bisa menafsrikan dan memaknai perjalanan bangsa besar ini. Boleh dikatakan, pengetahuan kesejarahan kita berbanding lurus dengan kadar patriotisme/nasionalisme kita. Sebahagian sejarah bisa kita jadikan pegangan dan pemompa semangat untuk melangkah lebih optimis, namun sebahagian yang lain memberi petuah untuk lebih berhati-hati agar kisah kelam yang mereka alami tak perlu kita rasakan juga.

Lantas, apa relevansinya dengan kita, para blogger muda ini? Tentu saja pesan yang ingin saya sampaikan adalah bahwa tidak perlu kita bercita-cita menjadi pahlawan yang diakui pemerintah dengan melakukan gerakan patriotik dan menuliskan ide revolusioner kita di blog masing-masing, tapi anggaplah ini sebagai usaha pribadi untuk mengirim pesan kepada generasi mendatang apa yang sedang kita alami saat ini dan bagaimana kita menyikapinya.

Masing-masing kita punya sikap politik ketika menghadapi realitas di depan kita, terutama realitas-realitas yang tidak sesuai dengan pengharapan kita sebagai anak bangsa. Dan sikap ini perlu dituliskan, tak peduli seberapa jauh jangkauan pengetahuan kita mengenai hal itu, asalkan kita merasa memiliki kepentingan untuk tetap mempersoalkannya, sesuai standard hidup yang kita miliki.

Francois Bacon, filosof terkemuka Inggris tahun 1605, memberikan petuah bijak tentang hebatnya pengaruh dan keabadiaan sebuah tulisan dalam the Advancement of Learning,”…..kita lihat, sejauh mana monumen kecerdasan dan pengetahuan lebih lama bertahan daripada monumen kekuasaan dan ciptaan tangan.

Bukankah kata-kata Homer dapat bertahan selama 25 abad lebih, tanpa kehilangan satu suku kata atau huruf pun, sementara istana-istana, kuil-kuil, bangungan-bangunan, kota-kota pada waktu tertentu mengalami kehancuran dan keruntuhan”.

Pernyataan yang sama pernah diungkapkan oleh penulis besar Indonesia, Pramoedya Ananta Toer, “menulis adalah pekerjaan yang berorientasi keabadian, pekerjaan yang menempatkan penulis sebagai bagian dari sejarah. Tanpa menulis, seorang manusia tak akan terkenang oleh sejarah, hilang begitu saja dan dengan demikian ia mengkhianati amanah kemanusiaanya.

Karenanya tetaplah menulis, rajinlah nge-blog dan nama Anda terancam abadi!

Bayangkan betapa antusias dan bangganya anak cucu anda 100 tahun kemudian, mengamati dan menelaah dengan blog warisan yang anda buat saat ini, dengan catatan bahwa kita berharap server blog kita bisa memaintain blog sampai saat itu. 🙂

Advertisements
Tagged with: , ,

One Response

Subscribe to comments with RSS.

  1. Gemar Baca Book said, on April 5, 2010 at 5:46 am

    Oke. Setuju. Aku juga baru mulai belajar membuat blog dan menulis disana.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: