…menulis untuk mencicil ketidaktahuan

Arus Balik, Titik Balik

Posted in Kenangan by daengrusle on December 19, 2009

Di tengah geliat perekonomian yang susah, semua orang berusaha bertahan untuk tetap hidup. Sekedar bisa makan saja yang penting bisa menyambung nafas, dan bukan aktivitas mewah yang dilabeli selera budaya pop sebagai wisata kuliner.Tapi ruang dengar kita mencatat, dalam dua bulan terakhir ada tujuh kasus bunuh diri dengan meloncat dari ketinggian di pusat keramaian kota Jakarta.

Kasus menjatuhkan diri ini melengkapi daftar panjang kasus bunuh diri di nusantara permain ini. Sepanjang tahun 2009, ada 83 kasus bunuh diri dengan gantung diri, tujuh kasus dengan meloncat dari ketinggian, dan ribuan lainnya dengan menyuntikkan narkoba dosis tinggi ke tubuh. Itu di Indonesia, yang sesungguhnya masih menjadi tempat yang lebih nyaman dibanding belahan dunia lain semisal Afrika, Palestina, sebagian Amerika Selatan, atau sebagian Asia Selatan yang dilanda konflik dan kemiskinan akut.

Sebahagian dari kita heran, apa sih yang membuat orang-orang itu – yang sebahagian besar adalah rakyat jelata – berani melintas batas alam fisik ke alam kubur? Beban yang mereka tanggung tentu tak sebesar yang dialami Prita, Bibit Rianto, Chandra Hamzah, Sri Mulyani, Boediono, bahkan Anggodo sekalipun.

Dari skala finansial – sekiranya ada, mereka bukan apa-apa dibanding para koruptor yang mesti menanggung beban membayar kerugian negara hasil jarahan yang jumlahnya mungkin miliaran. Beban sosial pun tidak akan seberat nama-nama beken yang berseliweran di berita kriminal dan gossip yang sedang pupus dirundung malu. Mereka juga bukan nama-nama yang termaktub di kitab suci dengan gelaran laknat sepanjang masa. Tidak semua itu, tidak seberat itu.

Kenapa mesti memenggal usia jika ternyata hidup ini terlalu indah untuk dilewatkan begitu saja. Juga terlalu singkat jika hanya diisi dengan meratap. 8 jam sehari yang dialokasikan untuk tidur juga sudah sering diprotes orang yang kadung energik.

Muharram, Natal dan kemudian Tahun Baru bakal menyapa kita di akhir 2009 ini. Ketiga hari besar itu adalah momentum titik balik buat sebahagian orang. Ketiganya mencerminkan titik mula, baik untuk menjejak tapak baru, atau memulai kembali yang gagal dijalani. Waktu tidak akan kembali, tentu saja. Ia ibarat pelari yang hanya punya pandang ke depan. Karena tidak bisa kembali, maka cara paling bijak untuk menyesali masa lalu adalah dengan memperbaiki masa depan.

Titik balik bukan berarti langkah mundur, ia hanya sebuah perhentian untuk sejenak memperbaiki posisi diri untuk menjalani jalur yang benar, yang lurus, atau bahkan membalik arus. Arus balik bisa ditempuh, sekiranya kita sudah lama menapak arus yang kelewat miring dari tujuan semula.

Arus balik, titik balik, sejatinya hanya atribut kerendahan diri untuk mengaku dosa. Agama cenderung mendorong orang untuk bertaubat, dan mengambil banyak cerita hikmah dari para pendosa yang menemukan titik balik. Paulus, Umar bin Khattab, Mani, Siddharta Gautama, dan beberapa nama besar adalah contoh sukses arus balik.

Sebelum terlambat, mari menemukan titik balik kita. Amin.

Advertisements

3 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. andyhardiyanti said, on December 19, 2009 at 7:54 pm

    Amin 🙂
    Mantapnya tawwa katakatanya!

  2. rusle said, on December 20, 2009 at 4:15 pm

    @tutut: makasih ya.

  3. tiNa said, on December 21, 2009 at 4:00 am

    wuaaahhh mantapp daeng.. kerenn….


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: