…menulis untuk mencicil ketidaktahuan

::bonto biraeng, suatu pagi::

Posted in puisi by daengrusle on November 10, 2009

Bonto Biraeng, suatu pagi
ketika wangi rumput menebar aroma basah dan tersapu harum kuntum kamboja
segenggam debu dari tanah yang basah membawa sejumput cerita

maka bergemuruhlah bumi yang dihentak para tubarani butta mangkasarak,
tanah maradeka dimana angin utara nan terasing berlabuh menyambut lambai passapu
setiap kali pabbicara butta mengangkat telunjuk menyapu satu noktah di laut sejajar bandar Somba Opu
memekik satu wasiat ammannagappa yang membuat bergidik bangsa atas angin; mare liberum!

sebutlah Campa, Golconde, Pantai Marege dan Madagaskar, dan bandar-bandar yang jauhnya jutaan dayung
negeri yang kisahnya riuh terbawa layar dan kemudi para pengelana lautan
atau terserak diantara bualan pelaut tua mengantar lelap di balik selimut malam,
betapa dulu para pelaut mangkasarak sudah pernah menitip jejak di ranah asing itu,

di atas maccini sombala, mata pabbicaa butta melempar sauh lepas pandang ke langit
memanah bentang rentang tak berukur, mengira-ngira berapa ratus malam lagi ia kan bermandi cahaya
membusungkan dada-makassar yang membuat perahu-perahu hongi karam sebelum mencuri rempah maluku
ya, meriam anak-Makassar yang konon terbesar se-nusantara menanam jejak kengerian di kepala para penjajah

belasan tahun berselang, ketika butta pabbicara bersemayam sendu di tanah Bonto Biraeng
bandar yang padanya ia menanam hasrat merangkum dunia, tercabik oleh perang yang runyam
oleh sebuah persekongkolan rumit; ketamakan, dendam, dan amarah,
armada Belanda, Bone, Ternate, dan Buton mencabik-cabik negeri yang di salah satu ruangnya
mendekam teleskop raksasa bikinan Joan Blaeau, dan bola dunia tembaga dari Eropa, satu diantara tiga yang dimiliki dunia kala itu
setelah sekian ratus malam yang penuh cahaya, udara tak lagi beku, mencair dalam amis darah dan pekikan

maka menangislah rumput, ilalang dan beluntas di atas pusara bonto biraeng
menepikan butta pabbicara di penantian panjang, terkenang-kenang pada bandarnya
yang kini bergegas lari, diantara riuh muda-mudi ber-gadget,
tak ada pekik amannagappa lagi.

Advertisements
Tagged with:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: