…menulis untuk mencicil ketidaktahuan

::selarik bentang tak berukur::

Posted in puisi by daengrusle on October 15, 2009

orang-orang riuh ketika penanda-penanda itu senyap
seumpama rimbun pohon yang terpangkas,
atau genta yang tak lagi berdentang
yang tertinggal adalah lambai tangan yang makin menjauh
dan bibir-bibir tersenyum menyisakan cerita untuk dikenang
tak ada lagi warna dan gambar yang sama,
nama-nama yang sama, di jarak pandang yang sama,
tak nampak lagi

penanda itu kini dua kata yang asing; “kami” dan “mereka”
meski tak ada jarak, kita seakan terpisah jauh

itu cerita berbulan silam,
ketika ramai berita tak-teringinkan itu melindap kita dalam cemas
membawa angin tanya melibas siapa dan apa saja
dan mendudukkan kita di tempat dimana kini kita berada
kita benar terpisah oleh sesuatu,
tapi kita juga kemudian menjadi sangat dekat
oleh sesuatu yang lain

sesuatu yang dekat,
selarik bentang yang tak berukur
diam menyusup mencari celah di labirin yang kosong, di hati kita
seumpama gambar yang berkelebatan tak terbendung
atau kidung yang sahut menyahut
mencari jejak yang dulu miliknya,
kita menyebutnya; kenangan

kenangan,
tiba-tiba membuat kita kembali menapak
mencari asal tempat dulu mengikat simpul yang konon abadi
dan kita coba memastikan itu benar adanya
menjejakkan semuanya surut ke asal kita kembali,
bukan untuk menegaskan keterpisahan itu
atau menggali penanda yang asing itu,
tapi mengikat simpul yang lebih kuat, mesti kuat

bahwa kita sebenarnya awalnya satu belaka, akhirnya pun satu.
::: kita, tanpa ada kami, atau mereka.

Advertisements
Tagged with:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: