…menulis untuk mencicil ketidaktahuan

Maryamah Karpov: Sekali ini Roman Picisan?

Posted in Random by daengrusle on December 9, 2008

maryamahkarpov.jpgAkankah Novel ini kembali inspiratif?
Andrea Hirata kembali lagi, setelah lama ditunggu dan mendahulukan edisi englishnya dirilis, novel ke-empat dari tetralogi Laskar Pelangi yang bertajuk “Maryamah Karpov – Mimpi-mimpi Lintang” akhirnya dihidangkan ke khalayak pembaca melalui peluncuran awal 28 November 2008. Mereka yang sudah dari awal – mungkin sejak pertamakali novel ini dipopulerkan oleh Andy F Noya lewat tayangan talkshow kondangnya bertajuk Kick Andy – menggemari novel menggugah ini, atau yang mulai menggemari sejak filemnya tayang di seluruh Indonesia tentu sudah tak sabar melahap serial pamungkas setebal 518 halaman yang kabarnya dilunaskan Andrea Hirata hanya dalam sebulan saja. Setelah sempat membuat penggemarnya kelimpungan menanyakan tanggal terbitnya novel ke-empat ini, sambil menikmati film Laskar Pelangi garapan Riri Riza dan Mira Lesmana yang kemudian menjadi box office kedua setelah Ayat-ayat Cinta, akankah novel akhir dari tetralogi Laskar Pelangi ini menjadi klimaks dari tiga novel sebelumnya; Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, dan Edensor?

Para pembacanya tentu telah menyiapkan diri untuk kembali tergugah-bahkan kalau perlu terisak isak oleh sebuah memoar pengalaman hidup yang bisa dibilang sangat miskin fasilitas namun kemudian menyeruak menjadi sebuah pencapaian luar biasa. Tiga novel sebelumnya sungguh dipenuhi dengan cerita yang inspiratif dan mengundang kekaguman bagaimana seorang atau beberapa orang yang jauh dari deteksi kuadran keberhasilan namun kemudian diceritakan ternyata mampu mengorbit dengan sukses di salah satu koordinat cita-cita. Novel-novel sebelumnya memang meyakinkan pembacanya, bahwa bercita-cita tentu tak pantas dibilang bermuluk-muluk ria karena semuanya bisa tercapai adanya. Si tokoh Ikal yang menjejak sekolah formalnya di sebuah SD Muhammadiyah Gentong Belitong yang lebih pantas menjadi kandang kambing, akhirnya mampu melindapkan dirinya di bangku kuliah Universitas Sorbonne, bahkan sampai menjejak alam Siberia di Rusia hingga Kenya di Afrika Utara. Diantara mungkin ratusan juta penduduk Indonesia, baik yang miskin maupun yang kaya, hanya berbilang jari saja yang punya langkah kaki sejauh Ikal ini. Selain menebar virus inspiratif dari mimpi yang maujud, novel ini sejatinya juga membakar cemburu para petualang yang hanya mampu mendaki sebatas impian saja.

Maryamah Karpov yang menjadi main title novel ini diambil dari nama Mak Cik Maryamah, pemilik Warung Kopi Usah Kau Kenang Lagi yang sebelumnya pernah menjadi tokoh di salah satu bab di novel kedua Andrea: Sang Pemimpi nya. Mak Cik Maryamah adalah penggemar catur yang nge-fans pada Anatoly Karpov, jawara catur asal Rusia. Pada setiap pelanggannya ia selalu merekomendasikan langkah pembuka Karpov sehingga, sebagaimana kebiasaan orang Belitong menyematkan nama kedua si pemilik nama dengan nama lain yang secara historis dan antropologis punya keterkaitan erat dengan si pemilik nama, maka diimbuhi lah nama Mak Cik Maryamah dengan nama Karpov – sang pecatur pujaannya itu. Perempuan muda yang lihai memainkan biola yang menjadi cover novel ke-empat nya ini kemungkinan adalah Nurmi, anak gadis Mak Cik Maryamah Karpov. Nurmi, kemudian menjadi guru biola Ikal dalam novel ini, ketika Ikal sedang penat-penatnya membangun perahu seorang diri. Perahu ini kemudian dinamakan Mimpi-Mimpi Lintang, dan menjadi sub-title dari novel ini. Perahu yang tingkat kesulitannya teramat tinggi dan mengundang decak kagum sang maestro pembuat perahu orang-orang bersarung (Bugis?) Mapangi, adalah titian utama dalam alur cerita di novel ini, yang padamulanya juga hanyalah sebuah mimpi yang musykil. Namun, bukan Andrea Hirata kalau tak mampu menyulap mimpi menjadi barang laku. Kisah percintaan dengan A Ling yang sebenarnya bisa dianggap sebagai musabab dibangunnya perahu asteroid bertubuh langsing ini, dan mungkin juga menjadi inspirasi novel ini keseluruhan muncul dalam tiga bab terakhir, mungkin muncul sebagai kesimpulan yang romantis.

….Sekarang aku sampai pada satu titik pemahaman bahwa seluruh lika-liku hidupku, untuk perempuan (A Ling) inilah aku telah dilahirkan. Jarak antara kedua matanya adalah bentangan titik zenit dan nadir ekspedidi hidupku. Di dalam kedua mata (A Ling) itu, petualanganku menempuh benua demi benua, menyeberangi samudera, mengarungi padang, dan melawan angintelah mencapai tujuannya (hal 498).

 

Latar Perburuan A Ling dan Kembalinya Laskar Pelangi? Masih Hiperbola?

A Ling – sang pujaan hati Ikal sejak masih sekolah di SD Muhammadiyah, yang diberitakan dalam novel pertama Laskar Pelangi pindah mukim ke ibukota Jakarta, secara tak terduga muncul kembali dalam konteks yang menurut saya sulit dicari hubungannya. Interpretasi saya dalam pembacaan novel pertama Laskar Pelangi adalah bahwa A Ling pindah ke ibukota Jakarta untuk meneruskan sekolah dan dengan demikian secara kelayakan hidup dia tentu mapan sentausa disana. Toko kelontong yang dimiliki ayahnya dan keberadaan keluarga lainnya tentu tak bisa dikatakan miskin dan jauh dari kecukupan dan karenanya perlu untuk menyeberang ke tanah Tumasek – Singapura untuk mencari hidup yang lebih layak. Namun demikianlah diterangkan dalam novel ke-empat ini, bahwa berawal dari penemuan beberapa mayat bertato kupu-kupu yang ditengarai sebagai penanda keluarga A Ling ditemukan secara gempar di pesisir Belitong. Ikal kemudian gempar pula hatinya dan ramai menghubung-hubungkan tato penanda ini dengan keberadaan A Ling yang pernah dicarinya hingga ke Afrika Tengah. Sempat terbersit pertanyaan di kepala saya, mengapa di novel Sang Pemimpi, Andrea tidak memasukkan sub judul pencarian A Ling di Jakarta ketika ia sedang jadi pegawai jawatan pos atau kuliah di Bogor? Bukankah di saat yang sama A Ling tentu berada disana? Tapi itulah, kita kembali diajak untuk mengemas komoditi bernama mimpi ini dan menelusuri bagaimana Ikal secara luar biasa mewujudkannya dengan tingkat paripurna, dan menemukan utuh tubuh A Ling di salah satu pulau di antero kepulauan Batuan, tempat Tambok dan para lanun berkuasa.

 

Pada suatu penggalan kisah, ketika Ikal hampir putus asa dirundung bayangan kesulitan untuk menemukan cara bagaimana membuat perahu yang tangguh untuk diarungi menuju pulau Batuan – tempat yang dijadikan Ikal sebagai tersangka utama penyekap A LIng dan keluarganya, tiba-tiba pembaca dikejutkan atau malah dihibur dengan pemunculan kembali anggota-anggota Laskar Pelangi secara utuh, mulai dari Lintang, A Kiong, Kucai, Samson, Harun, Sahara, Flo hingga kemudian Mahar. Pembaca kemudian disuguhkan nostalgia kembali pada novel pertama ketika para bekas Laskar Pelangi napak tilas ke sekolah reot mereka sambil meraba-raba momen indah yang pernah mereka ukir di sana. Dalam cerita selanjutnya, hanya Lintang dan Mahar yang selang seling atau bersamaan muncul menemani Ikal, tentu saja tidak tertinggalkan beberapa cerita hiperbolik tentang ide atau gagasan mereka; bagaimana Lintang menghitung secara presisi hingga milimeter cara membuat perahu yang linggar namun tangguh, plus hitungan mekanis cara mengangkat bangkai perahu kuno di dasar sungai Linggang bisa mengundang decak kagum kita semua. Belum lagi seorang Mahar yang kali ini tidak ditampakkan sebagai seorang seniman tari atau musik, tapi seorang dukun muda dengan kemampuan supranatural yang mumpuni, mampu mengimbangi kedigdayaan Tuk Bayan Tula dan Dayang Kaw. Memang, menurut pengakuan dan keyakinan Andrea Hirata, Hiperbola adalah elemen dalam teknis penulisan nonfiksi”. Meski dalam banyak kesempatan, ia menyebutkan bahwa novel ini, terutama novel pertama nya adalah seumpama memoar masa kecilnya. Hiperbola dan sebuah memoar, pantaskah keduanya bersanding di pelaminan yang sama?

Memoar (?) atau Roman Asmara?
Ada tiga kisah asmara yang dilunaskan dalam novel ini. Pertama, tanpa latar belakang yang pasti dan kisah yang rumit, Arai berhasil meminang sang perempuan yang acapkali membuat Arai bersaraf tegang, Zakiah Nurmala Binti Berahim Metarum. Zakiah kemudian dibawa oleh Arai ke Colchester, Inggris untuk meneruskan studinya yang sempat terhenti akibat asma akut yang diderita Arai sebagaimana diceritakan di novel ketiga Edensor. Selepas itu kisah Arai lindap sampai akhir cerita. Kisah asmara kedua adalah Mahar. Meski tak diakhiri dengan pernikahan, tapi akhirnya Mahar berhasil menemukan pujaan hatinya. Bukan Flo, sekondangnya dalam Societet de Lampai, perkumpulan para penggemar klenik, tapi seorang gadis belasan bernama Maura, adik kandung tokoh lanun klasik bermana Dayang Kaw yang menguasai kepulauan Karimata. Kisah ketiga dan pamungkas adalah kisah asmara Ikal sendiri bersama A Ling. Kisah awal proses pencarian A Ling di novel ini jauh lebih heroik dan menguras banyak halaman dimulai semenjak bagaimana Ikal menguras tenaga untuk membuat perahu dengan tenggat waktu sebelum Angin Musim Barat tiba, sampai kemudian perundingan alot dengan Tuk Bayan Tula dan Dayang Kaw hingga diakhiri dengan sangat jenaka. Namun, antiklimaks terjadi ketika ia menemukan A Ling di pulau terakhir Batuan tanpa banyak kesulitan – A Ling teronggok sakit di salah satu sudut rumah yang sangat mengenaskan. Tidak ada perlawanan, tidak ada friksi, tidak ada greget kecuali dua-tiga paragraf soal perasaan Ikal yang remuk redam menemukan pujaan hatinya itu.

Lanjutan kisah cinta Ikal dan A Ling kemudian diendapkan hingga akhir cerita. Cerita selanjutanya kembali dirangkai dengan kelucuan-kelucuan khas Melayu. Dari panggilan jenaka para penunggu Warung Kopi Usah Kau Kenang Lagi, hingga kisah dokter gigi Diaz dan ketua Karman yang digambarkan tipe pemimpin berkemauan keras namun sangat mulia hatinya. Kisah gigi Ikal yang sakit pun sedikit membuat tanda tanya besar di kepala kita, bagaimana sosok Ikal yang sudah well-educated hingga menyelesaikan kuliah di Sorbonne Prancis itu masih sangat traumatik dengan persoalan klinis. Ia sampai mesti dibujuk berpuluh-puluh kali oleh Ketua Karman untuk berobat di klinik gigi binaan dokter cantik Budi Ardiaz anak pengusaha nasional kaya raya Hendrawan Tanuwijaya yang hingga berbilang tahun tak kunjung mendapat pasien karena adagium keengganan masyarakat Belitong membuka mulut kepada perempuan yang bukan muhrimnya. Tapi soal Ikal bukanlah soal muhrim, tapi soal trauma terhadap segala hal berbau medis karena pengalaman khitannya yang dilalui dengan sangat traumatik. Namun Ikal sekali lagi luluh oleh rayuan pujaan hati, A Ling. Dan melayanglah gigi geraham bungsu itu di tangan sang dokter muda itu melalui pergulatan fisik yang menghebohkan.

Akhir kisah, kita mungkin akan dibelai oleh tiga bab soal percintaan yang romantis. Dan Andrea Hirata menyuguhkan itu dengan bagus, namun terkesan terlalu dilebih-lebihkan semisal roman picisan. Sayangnya, akhir kisahnya tidaklah generik semisal percintaan di filem India atau sinetron Indonesia umumnya. Andrea mengakhirkannya dengan sebuah pemberontakan. Bapak yang selalu diagung-agungkan sebagai Ayah juara satu seluruh dunia itu, kemudian hanya dengan satu isyarat saja mengendapkan hasrat seorang Ikal, dan mengakhirkan cerita sang pemuda berwajah dangdut ini dengan sebuah kekecewaan, juga sebuah pemberontakan. Tetralogi Laskar Pelangi yang di tiga novel awalnya begitu menginspirasi, sayang sekali kemudian diakhiri dengan ironi yang jauh dari sebuah cerita inspiratif, bahkan mungkin terkesan biasa-biasa saja. Sayangnya lagi, Andrea Hirata diberitakan telah menamatkan (untuk sementara) aktifitasnya sebagai penulis novel dengan terbitnya Maryamah Karpov ini, jadi kita tak mungkin lagi menemukan kelanjutan ‘pemberontakan’ ini. Who knows?

Kami di Makassar tentu sudah paham, akhir cerita romansa ini pasti akan diakhiri dengan sebuah ironi berbuah pemberontakan anak terhadap orang tua yang dihormatinya, silariang. Menginspirasikah memoar atau novel ini? Silahkan Anda merenung-renungkannya. Kalau bagi saya sih, mungkin sama saja dengan novel romans yang lain kecuali banyak sisipan kelucuan khas Melayu yang lumayan mengocok perut.

Advertisements

4 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. Ismailmarzuki said, on January 2, 2009 at 6:31 pm

    daeng rus,
    terus terang saya belum baca bukunya,
    tapi melihat penampakan (ketebalan) bukunya sih, agaknya saya lebih suka buku ke dua (sang pemimpi) dan buku ketiga (edensor).

  2. briliansmart said, on February 15, 2009 at 2:01 am

    Gue suka Laskar Pelangi…
    Novel yang paling tebal deh kayaknya..
    Andrea Hirata juga

  3. Asnawin said, on July 11, 2009 at 10:46 am

    Saya suka semuanya….

    Daeng Rusle…..
    Assalamu alaikum ww……
    Lama tak bakusapa di dunia maya…..
    Apa kabar ta……
    Sejak harian Pedoman Rakyat tidak terbit lagi…
    Saya mencoba mencari dan menciptakan pekerjaan….
    Semarang saya mengajar sbg dosen LB….
    Mata kuliah jurnalistik di Unismuh Macasar…
    dan beberapa mata kuliah di UIN Alauddin Makassar…
    Juga menjadi Humas di kantor Kopertis Wilayah IX Sulawesi….
    Serta, mengelola Tabloid CERDAS (Kopertis IX) dan Tabloid ”KORAN PWI” (PWI Cabang Sulsel)….
    Selamat beraktivitas….

  4. Zico Alviandri said, on November 10, 2009 at 5:47 pm

    Thx 4 sharing. Aku buru deh ke toko buku. Belum pernah liat soalnya.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: