…menulis untuk mencicil ketidaktahuan

Sesuatu yang berwujud sepah, tidak usah dijilat lagi!

Posted in Renungan by daengrusle on December 1, 2008

logo-pks.jpg

Memaafkan adalah proyeksi sebuah kebesaran jiwa untuk menerima kekhilafan dan sekaligus untuk menghapuskan kekecewaan yang pernah membekas. Adalah suatu cerminan kemuliaan sekiranya sebagai bangsa kita kemudian menjadikan kesalahan masa lalu, baik yang tercatat dengan baiknya di buku sejarah, ataupun yang tidak bisa terjejak karena ‘lupa berjamaah’ yang diidap oleh para punggawa keadilan bangsa ini. Mari memaafkan semuanya, terutama yang telah berpulang. Adapun utang piutang, mesti diselesaikan dengan tuntas untuk tidak merepotkan sang pengukir sejarah di alam sana. Ahli warisnya mesti legowo menerima beban moral dan materiil yang terutang, dan para punggawa keadilan mesti tegas untuk mengusut sampai uang sekepeng pun. Keadilan bukanlah persoalan orang perorang, tapi punya magnitude luas dan berada pada kuadran sejarah yang panjang. Nasib cucu kita, adalah derivatif dari laku sejarah yang kita torehkan pada kitab perjalanan bangsa ini.

 

Mungkin tulisan ini teramat terlambat, tapi saya merasa mesti menuliskan. Terutama untuk saya pribadi agar tidak tercengkeram oleh penyakit lupa sejarah juga. Saya termasuk yang masygul ketika partai politik kebanggaan saya, yang saya anggat the best among the worst begitu antusiasnya mem-perkenalkan mendiang presiden Soeharto sebagai sosok guru bangsa, dan secara tersirat menganggapnya pahlawan bagi negeri ini.

soeharto.jpg

Dalam banyak pemberitaan, terutama oleh Tempo, PKS cukup getol mengkampanyekan penokohan Pak Harto sebagai figur yang dianggap ‘pantas’ dijadikan panutan generasi ini. Di iklan yang banyak menuai protes, PKS konsisten dengan sikapnya: tidak hanya memaafkan, tapi juga menonjolkan. Di sebuah acara partai dalam kaitannya dengan hari pahlawan, PKS mengundang salah satu anak mendiang presiden Soeharto untuk menyampaikan beberapa patah dua kata. Meski issue yang terdengar ke khalayak bahwa soal ini sempat memicu konflik internal partai, namun yang mengemuka di media nasional bahwa partai yang berslogan; bersih, peduli dan profesional ini tetap saja keukeuh dalam kontroversi ini.

Semua setuju, sebagaimana awal tulisan saya ini, bahwa memaafkan kesalahan Pak Harto mulia adanya. Itu adalah cerminan kebesaran jiwa kita sebagai bangsa yang berbudi pekerti luhur, plus religius. Semoga maaf (sebahagian) kita ini melempangkan jalan beliau di hadapanNya. Namun menjadikan beliau sebagai guru bangsa, yang berarti sosok panutan buat generasi kini dan mendatang adalah sebuah sikap yang membingungkan. Tarohlah beliau punya setumpuk jasa untuk negeri ini, yang mungkin setumpuk itu sempat hinggap di perjalanan kemanusiaan kita hingga kita bisa menikmati apa yang kita miliki sekarang. Tapi jangan lupa, bahwa sebegitu banyak cacat sejarah yang pernah juga beliau torehkan, dan tidak hanya satu dua saja yang menjadi korban kebijakan beliau, tapi SATU GENERASI, SATU PERIODE SEJARAH bangsa kita. Mulai dari kontroversi G 30 S/PKI yang menorehkan luka mendalam untuk para keluarga korban keganasan pembersihan PKI, keluarga Presiden Soekarno, Tanjung Priok, Lampung, Timor-Timur, Aceh, hingga peritiwa kerusuhan Mei 1998. Belum lagi soal warisan kebejatan moral berupa korupsi yang kemudian inheren dan menohok menjadi darah daging budaya kita. LUAR BIASA! Pantaskah kita mengambil beliau sebagia panutan?

Tidak ada bukti atas semua itu? Tidak usahlah berpolemik ria dan beradu tegang urat leher, cukup menyaksikan diri kita sendiri. Seberapa jahat stigma kita terhadap orang2 yang dituduh PKI, aliran sesat, dan sebagainya. Seberapa tak kreatifnya kita ketika menghadapi suatu masalah yang sebenarnya cukup sederhana, namun pola pikir kita sudah sedemikian stagnan nya sehingga tak mampu keluar dari bingkai. Ketika anak-anak di belahan dunia lain aktif menggambar pesawat yang terbang tinggi plus modifikasi sayap yang luar biasa, kita malah hanya punya gambaran dua gunung berbentuk segitiga dengan jalan yang membelah keduanya. Di sisi kirinya terbentang petak2 sawah yang seragam, di sisi kirinya ada rumah dengan satu jendela dan pohon kelapa di belakangnya. Diatas gunung ada dua atau tiga burung berbentuk huruf “W” dan awan yang berbentuk gumpalan sahaja. Belum lagi ketika kita menganggap hal yang sangat lumrah soal pelicin masuk sekolah, atau mengurus KTP dan SIM. Dan inilah kita, buah karya sang guru bangsa.

Indonesia seharusnya bukan terdiri dari sekumpulan bangsa pelupa yang tidak punya semangat kebangsaan yang tinggi. Kita punya Hatta, Syahrir, Natsir, Agus Salim, dan beberapa tokoh yang benar mengabdikan hidupnya hanya untuk perjuangan bangsa ini, atau tokoh terkini yang sangat pantas di’guru’kan semisal Baharuddin Lopa, Munir. Mereka tidak punya cacat sejarah sehingga kepahlawanan mereka melintas di jalur tol kebanggan kita sebagai bangsa. Mereka jauh lebih layak dijadikan pahlawan bangsa. Kalau tujuan nya adalah menjaring massa, maka justru guru bangsa yang bersih lah yang akan membantu partai menggiring suara dalam pemilu nanti. Kecuali kalau memang penyakit lupa sejarah bangsa ini sudah sedemikian kronisnya, yang saya yakin PKS tentu tak berharap demikian. Karenanya, adalah tidak pantas partai yang mengaku bersih dan peduli ini justru menanggalkan dua pokok penting ini dalam menilai sosok tertentu dan menjadikannya guru bangsa.

PKS, cobalah dewasa dalam mendidik masyarakat. Jangan sepah yang dijilat kembali. Tak elok mengecewakan banyak (calon) pemilihmu.

Foto atas diunduh dari sini dan sini.

Advertisements

One Response

Subscribe to comments with RSS.

  1. yaniesbe said, on February 8, 2009 at 6:45 pm

    Memaafkan adalah “kewajiban” ummat islam, tapi bukan berarti setelah memaafkan terus “membina hubungan” hanya untuk kepentingan sesaat..

    Motto bersih, menurut saya, harus mendukukng juga tokoh yang bersih…. juga..

    Banyak yang belum cerita dengan benar, PKS maunya apa kok mengusung Soeharta menjadi pahlawan… Tapi kayaknya sekarnag cukup arif, nggak gembar-gembor lagi.

    (ijin link blognya yah, yaniesbe.wordpress.com)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: