…menulis untuk mencicil ketidaktahuan

Faisal Riza – Seorang Kawan Yang Pergi Meninggalkan Senyum

Posted in Kenangan by daengrusle on November 2, 2008

ical97.jpgSetiap kali saya kehilangan seorang kawan yang pergi terlebih dahulu, saya selalu berusaha menuliskannya. Terutama karena saya ingin mengabadikan kenangan tentangnya melalui tulisan, apalagi kalau ia mati muda. Mati muda tentu bukan pilihan, dan bukan juga sesuatu yang harus disesali, karena ia adalah domain Sang Maha Penentu. Namun saya mencoba mengiringi kepergian para sahabat, keluarga dekat dan orang-orang yang patut dicintai itu dengan mengenang-ngenang hal yang indah tentangnya.

Semoga dengan begitu, Allah Sang Maha Penentu berkenan menghapuskan dosa-dosanya, dan melipatgandakan pahala kebaikan-kebaikannya. Dan dengan tulisan, saya berharap, saya masih akan mengenang nya hingga waktu menjadi abai, dan saya melebur bersama kenangan itu di hadapanNya.

Saya ingat, dan hanya itu yang melekat dalam kepala saya ketika pertama kali bersua, kawan saya ini datang dengan senyum. Ketika itu pertengahan 1997, dia muncul di pintu kost saya di Gerlong Girang Bandung, mencari adik saya, teman seangkatannya di SMAN 1 Makassar. Ya, kawan ini datang dengan sopannya, tersenyum dan ramah menyapa. Juga matanya yang mungkin tersenyum juga. Kalau tersenyum matanya menjadi sipit, rambutnya yang lurus kemudian seperti melambai di depan mata yang sipit itu. Dan saya yakin, senyum yang dikemas bersama mata yang sipit tentu senyum yang polos, mengajak bersahabat dengan tulus. Dia datang dengan senyum, dan senyum itu tentu punya banyak cerita. Cerita yang jalin menjalin mengantar hidupnya dari Makassar hingga ke Bandung yang, kalau bisa dibilang, begitu singkat.

Faisal Riza, nama kawan saya itu. Usianya tiga angkatan di bawah saya, waktu itu baru saja terdaftar sebagai mahasiswa baru jurusan Astronomi ITB. Tak banyak yang bisa ‘tembus’ perguruan tinggi teknik terbaik di Indonesia itu, terutama dari daerah timur semisal Makassar. Paling banyak hanya sepuluh diantara seribu mahasiswa baru. Dan dia bisa. Kami pun mencatatnya ke dalam daftar pendek mahasiswa ITB asal Makassar, yang memang cuman segelintir itu. Juga para alumni SMAN 1 Makassar, ikut bangga tentu.

Satu pencapaian luar biasa buat kawan ini dan kebanggaan buat kami, adalah Ical atau Paccala begitu panggilannya – sempat menjadi ketua Himpunan Astronomi (1999). Aktifitasnya ini sempat menjadi bahan guyonan saya,” Ah, kamu ini bisa terpilih jadi KaHimp kan karena di jurusanmu orang nya dikit. Setiap angkatan cuman 15 orang, itupun banyak ceweknya”. Ichal hanya tersenyum saja membalas candaan saya. Belakangan dia membuktikan, bahwa kapasitasnya sebagai pemimpin jauh melebihi sangkaan saya. Dari situs-situs yang saya telusuri, dan informasi di milis, Ichal sangat aktif di PSIK ITB, think tank mahasiswa ITB. Ichal juga sempat menjadi sutradara Film documenter “Atjech Humanitarian”. Luar biasa, dan saya menjadi cemburu tentu saja!

icalunicef.jpgHingga kemudian senyumnya seperti digambar lagi di benak saya ketika malam jumat lalu (30/10/2008) seorang kawan, adik kelas saya juga, melalui layanan pesan singkat memohon doa atas kesembuhannya. Iwan, teman seangkatan Ichal, mengabarkan kalau Faisal terbaring kritis di UGD Makassar. “Sadarkah dia?” saya buru-buru menelpon si pemberi kabar sehabis membaca pesan singkatnya. “Tidak kanda, sejak dari Bandung dia sudah tidak sadar”. Hati saya perih mendengarnya. Dilanjutkan lagi informasinya,” waktu di Bandung, Ical sempat mengeluh sakit kepala, kemudian muntah-muntah. Setelah itu tak sadarkan diri, pingsan dan kemudian dilarikan ke Rumah Sakit. Oleh keluarganya di Makassar, Ichal diminta untuk dikirim pulang. Menurut dokter disini, ada semacam massa bercokol di kepalanya, mungkin tumor!” Masya Allah. Kemudian saya tak bisa bertutur lagi. Selepas mengucapkan terimakasih, saya terkenang kembali kawan ini. Senyumnya, riangnya, candanya. Sambil sesekali memanjatkan doa kepada Sang Penyembuh untuk kebaikannya.

Dalam satu kesempatan, saya sempat berbalas email dengan kawan saya ini. Secara tak sengaja saya menemukan alamat emailnya pada sebuah milis, kalau tak salah ingat milis Ikatan Alumni ITB. Alamat emailnya khas, dan itu yang membuat saya yakin bahwa ia lah pemilik email itu; paccala_astro97 atau ichal_astro97! Ketika itu saya langsung mengiriminya email karena lama tak bertukar kabar. Menanyakan kabarnya, menanyakan kegiatannya. Rupanya selama ini dia masih mukim di Bandung bahkan selepas menuntaskan kuliah di Astronomi ITB, sambil sesekali mudik ke Makassar atau bepergian ke tempat lain. Ketika kutanyakan kerja dimana, dia hanya menjawab polos, „belum nih“, cariin dong! Belakangan saya ketahui bahwa Faisal juga menjadi relawan di beberapa bencana alam; Tsunami Aceh 2004, Gempa Yogya 2006, dan lain-lain. Ya, Faisal yang sejak di SMA aktif di kegiatan Palang Merah Remaja, rupanya setelah kuliah aktif juga menyalurkan tenaganya untuk sesama yang sedang membutuhkan.

Kemudian, di jumat pagi, saya menerima pesan singkat lagi. Kali ini dari adik saya, Rustam, yang sedang PTT di Bau-bau. Isi pesannya membuat hati saya luruh, Faisal telah tiada.

Terkenang lagi saya kepada sosok muda yang periang itu, ah segitu muda nya. Mungkin masih 28 atau 29 tahun. Sebegitu banyak kesempatan yang mungkin bisa diraihnya. Ical, menurut beberapa kawan, adalah sahabat yang tangguh, setia kawan, dan pekerja keras. tnetu prinsip-prinsip hidup yang diyakininya membawa dirinya masuk ke pusaran aktifitas yang mengusung moralitas dan semangat untuk membangun bangsanya bersama yang lain. Saya salut, dan cemburu atas beberapa pencapaiannya.

Dari perkawanan saya yang singkat, saya yakin ada banyak cerita yang telah dituliskan di kitab hidupnya. Kitab hidupnya yang, entah tebal atau tipis, munkgin telah penuh dengan coretan baik yang telah selesai ataupun yang masih menunggu diselesaikan, atau malah yang baru di angan-angan, menunggu untuk dituliskan. Tapi takdir Tuhan mungkin jauh lebih baik, dan Tuhanlah yang punya domain untuk merampungkan kitab itu, insya Allah.

Selamat jalan kawan, engkau pergi meninggalkan senyum di pekarangan kenangan hati saya. Mata saya tak sempat sembab, namun hati saya penuh dengan kenangan tentangmu.

Sampaikan salamku untuk Tuhan!

Post note:
Ketika mengupload tulisan ini, aku tak sengaja menemukan blogmu! Blog yang mana kamu menamakan dirimu Lelaki Senja, dengan postingan terakhir di April 25, 2008; Curhatku Kepada-Mu ya Allah. Meski postingan ini kiriman seorang temannya di Makassar, tp rupanya Curhat ini menjadi doa akhir Ical di dunia maya.

Obituari tentang Faisal Riza dari kawan lainnya (dicari lewat google)
Faisal Riza (1979 – 2008) – ditulis oleh Anzarra, kawan lama nya, juga kawan saya ketika di Bandung. Dua foto diatas di copy paste dari blognya in. Maaf tidak sempat izin dulu.
Selamat Jalan Ical – ditulis oleh Ebonk, rekan sesama aktifisnya asal ITB
Remembering Ical – dari kawan sesama aktifisnya.
Sebuah Lagu untuk Ical – no-one-but-you-only-the-good-die-young-by-queen.
Tanpa Judul – dari rekannya alumni ITB
Selamat Jalan Ical
In-Memoriam Faisal Riza (Ical)
Friend – dari teman SMA nya – Pido Nesta, saya kembali teringat cerita Paccala yang terjatuh dari lantai 3. Saat Paccala menceritakan kisah itu, kami bahkan terpingkal terbahak-bahak menertawakan cerita itu…
Selamat Jalan Septerra
Selamat Jalan Pejuang – In Memoriam Ical
In Memoriam Seorang Pejuang
In Memoriam Faisal Riza – Ical
Sumpah Pemuda, Mati Muda

Banyaknya postingan yang saya ‘temukan’ di dunia maya menunjukkan betapa seorang Faisal Riza abadi dalam kenangan teman-teman dekatnya.

Ya, Selamat berlibur kawan di samudera kenangan itu!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: