…menulis untuk mencicil ketidaktahuan

Pantaskah Pilkada Mengorbankan Hari Sekolah?

Posted in Kenangan by daengrusle on October 28, 2008

anak-sekolah.jpgIrul, siswa kelas 8 salah satu SMP di kota Bogor, sebenarnya tak ingin libur di hari itu, 25 Oktober 2008. Sesuai jadwal, matematika dan prakarya – dua pelajaran kegemarannya sejak SD, disandingkan di hari sabtu itu. Tapi agenda politik kota Bogor merumahkan dirinya hari itu, bersama ratusan ribu siswa di kota Bogor; 152 Taman Kanak-Kanak, 285 Sekolah Dasar, 112 Sekolah Menengah Pertama, 52 Sekolah Menengah Atas, dan 62 Sekolah Menengah Kejuruan serempak meliburkan aktifitas pendidikannya demi pesta demokrasi ini. Sejatinya, ia dan teman-teman sekolahnya tak turut secara langsung dalam keramaian ini, namun dengan alasan kepraktisan dan ketertiban pemerintah kota berketetapan untuk menghapuskan enam jam pelajaran sekolah demi kesuksesan pemilihan langsung pertama ini.

Pemilihan walikota itu kemudian memang dianggap sukses, tidak ada kerusuhan, juga hal-hal lain yang memaksa aparat keamanan mengeluarkan pentungannya. Ketegangan hanya terjadi di bilik perhitungan suara, itupun hanya tergambar di kening pendukung calon yang resah suaranya jeblok. Merujuk hasil hitung cepat beberapa lembaga survei independen, kota Buitenzorg ini bakal diperintah lagi oleh incumbent walikota Bogor dengan keunggulan mutlak diatas 60 persen. Artinya, lebih dari setengah pemilih di Kota Bogor menyatakan keinginannya untuk dipimpin oleh sang Walikota untuk kedua kalinya, menyisihkan empat pasang kandidat lain yang punya hasrat politik yang sama. Satu hari kemenangan itu dirayakan meriah oleh sang calon terpilih dan para pendukungnya, namun satu hari itu juga menghilangkan kesempatan Irul dan teman-temannya untuk meraup ilmu yang sejatinya tidak murah itu.

Irul, dirumahnya yang tenang di Cibinong, tentu ingin mengisi hari lowongnya itu dengan bermain-main di luar rumah bersama teman sebayanya. Namun seperti pemerintah, ia juga khawatir kalau hari itu bakal rusuh. Dari pemberitaan yang disaksikannya di televisi, pilkada pertama ini cukup riuh dengan aksi para pendukung kandidat yang bertarung dan berpotensi menghasilkan konflik horizontal. Pilihan terbaik hari itu adalah dengan menjejak mata di ranah maya, browsing dan chatting dengan teman-temannya. Sempat pula dia menengok blognya yang lama tidak terupdate. Blog itu sejatinya hanya digunakan untuk meng-upload tugas-tugas sekolahnya. Ingin juga rasanya dia mencari tulisan atau berita yang bisa menukar keinginannya belajar matematika dan prakarya, atau paling tidak mencari postingan yang sejalan dengan aspirasinya, mengapa hari pemilihan harus dilaksanakan di hari yang semestinya dia bersekolah?

Lewat mesin pencari google, Irul hanya bersua dengan blog-blog yang mengkampanyekan kandidat pilihannya. Blog-blog lainnya hanya mengungkapkan sikap kritisnya terhadap program-program yang dijanjikan para kandidat, selebihnya hanya menyoroti soal klenik yang mungkin ada hubungannya dengan salah satu kandidat. Irul tidak menemukan satupun blog yang bersuara beda soal hari pelaksanaan pemilihan ini. Padahal, lewat blog lah Irul dan para pengelana dunia maya bisa menikmati tulisan-tulisan dengan nuansa berbeda, tapi pesan yang kuat tanpa perlu mengikuti arus utama issue yang digencarkan media massa yang ada.

Blogger, sejatinya adalah pewarta warga. Mereka, yang berasal dari beragam latar demografis, hadir menyuarakan interest pribadi melalui ranah publik, internet. Di Indonesia saja, tahun ini ada sekitar 600 ribu blog yang muncul. Dengan mengesampingkan kemungkinan kepemilikan ganda oleh seorang blogger, pertumbuhan blog di negeri ini sangat pesat. Di tahun 2007 saja, jumlah blog sudah mencapai 300 ribu, dan tahun depan diproyeksikan angka ini sudah mencapai angka jutaan blog. Apa arti dari angka-angka ini? Bahwa di tahun-tahun ini, masyarakat bisa disuapi jutaan informasi-informasi di sekitar dirinya yang umumnya luput dari perhatian media massa utama (media mainstream). Mulai dari soal remeh temeh perihal lirik lagu yang digandrungi, curhatan, keluhan soal layanan publik sampai analisis pribadi menyoal krisis finansial global yang meluluhlantakkan perekonomian amerika dan eropa bisa dinikmati masyarakat umum secara murah. Secara tidak langsung, blogger juga berpartisipasi mendorong tingkat pemahaman masyarakat melalui penyediaan informasi beragam dan berbeda.

Kota Bogor, yang hanya seluas 118,5 km persegi dengan jumlah penduduk 800ribu jiwa (2003) tentu menjadi obyek asupan informasi yang potensial bagi para blogger. Blogger, yang umumnya masih tergolong pemuda, bisa berperan aktif dalam dua ranah yang saling menguatkan. Pertama, Blogger bisa menjadi penyedia informasi yang layak bagi warga terutama dalam rangka penyampaian perspektif yang bersumber dari warga sendiri. Perspektif informasi yang bersumber dari tangan pertama ini tentu menyumbangkan kerekatan bagi sesama warga yang berpikiran sama, meski berlatar belakang berbeda. Fungsi ini akan menghadirkan sebuah komunitas yang kolektif dan kohesif karena dijalin dengan kepentingan dan tujuan yang sama. Komunitas yang kuat ini, tentu dengan tingkat toleransi yang tinggi, bisa jadi menjadi kekuatan gerak sosial yang mampu melakukan perubahan di lingkungannya. Perkumpulan-perkumpulan blogger di beberapa daerah di Indonesia kini bertumbuh, dan paguyuban ini sering turut berpartisipasi dalam kegiatan sosial dan pendidikan (edu-social) di masyarakat, misalnya pelatihan IT, pendirian sekolah rakyat, aksi sumbang sosial dan sebagainya. Komunitas ini juga sangat berpotensi menunjukkan kreatifitasnya menciptakan peluang berusaha, misalnya dengan menyediakan ruang iklan di blog mereka melalui adsense, atau yang lebih menarik membukukan blog mereka secara komersial.

Fungsi kedua, Blogger juga bisa berlaku sebagai alat kontrol langsung dari dan oleh masyarakat terhadap kondisi-kondisi yang ada, termasuk kebijakan pemerintah lokal. Tanpa perlu menyuarakan aspirasinya secara demonstratif mengacung-acungkan poster dan spanduk di depan lembaga pemerintahan, Blogger bisa melakukannya dengan cara yang lebih elegan dan praktis. Salah satunya adalah dengan menghadirkan Tema Postingan yang sama untuk satu masalah, yang mungkin kemudian dielaborasi menjadi sebuah petisi bersama. Suara ini, tentu tak akan begitu saja disepelekan oleh pihak terkait, mengingat kekuatan potensial blogger sebagai sebuah komunitas yang berbasis pada asupan informasi. Mungkin masih lekat dalam ingatan kita di akhir Januari 2007 pemerintah Malaysia memprotes postingan blogger Indonesia yang kecewa atas layanan pariwisata negeri jiran itu. Karena isi positngan yang memang menyudutkan itu, pemerintah Malaysia sempat mengajukna protes resmi lewat media massanya. Juga, ketika Myanmar dilanda demonstrasi massal oleh warga dan bhiksu yang berujung kepada kerusuhan, akhir September 2007 lalu, ketika tidak ada berita yang dirilis oleh media massa Myanmar, maka blog muncul memberi informasi lengkap seputar kejadian dan korban yang jatuh. Dunia internasional kemudian bereaksi mengecam tindakan brutal pemerintah Myanmar, dengan merujuk informasi yang diasup oleh para blogger yang independen tersebut.

Blogger, memang terkadang sering dikritik sebagai berdiam di menara gading ketika persentuhan langsungnya dengan masyarakat sekitar sangat jarang. Mereka, para blogger itu secara stereotyp dianggap tak punya sense of society, hanya bersemayam hanya di bilik-bilik warnet, di kamar-kamar pribadi. Selepas mengalami peristiwa tertentu di jalanan, mereka kemudian kembali ke bilik-bilik itu menyuarakan aspirasinya. Apakah terhenti hanya sampai sebatas postingan di blog? Melalui dua fungsi diatas, blogger mungkin bisa menjawab pertanyaan ini. Tepat di hadapan mereka, setiap hari terpampang fragmen kehidupan yang nyata, asli, dan sangat bertautan dengan nasib mereka. Termasuk kegundahan Irul dan teman-temannya yang harus kehilangan jam belajarnya di sekolah demi untuk mensukseskan sebuah ajang demokrasi lokal yang berbiaya milyaran rupiah.

Blogger bisa saja memberikan pandangan merakyat soal yang menyentuh pendidikan secara substansial, apakah pemilihan pemimpin kota hujan ini sebanding dengan pengorbanan peserta didik merelakan satu hari belajar. Kita mungkin tidak akan pernah tahu, karena dua hal yang berdetak di awal yang sama ini akan beradu hasil di dimensi waktu yang berbeda. Kehilangan jam pelajaran ada di dimensi kekinian, sedang kebijakan politis suatu pemerintahan yang dihasilkan oleh pemilihan ini hadir di dimensi masa depan, yang berjarak lima tahun dari masa kini. Ketika kebijakan politis memberikan hantaran nya, maka Irul dan teman-temannya tentu sudah berada pada konteks politik-kewargaan yang berbeda dengan kepentingan dan kebutuhan yang sudah menyesuaikan zamannya. Dan mungkin kita akan segera lupa menghitung korelasinya, secepat euforia menyiram warga kota Bogor.

Pendidikan, memang hanya menjadi sebuah sub-komoditas dalam sebuah paket kebijakan pemerintah. Dia hadir secara kuantitatif dalam tabel sebelah kanan neraca anggaran pemerintah, atau masuk ke kolom pengeluaran, yang dalam bahasa londo dinamai sebagai liability atau beban dalam bahasa Indonesia. Hitungan ekonomi matematis di bangku sekolah menganjurkan untuk mengurangi beban, demi untuk meningkat saldo kekayaan yang dihasilkan dari selisih antara aset yang dimiliki dikurangi beban yang diderita. Beban, sejatinya hanya akan menghasilkan penderitaan bagi yang menanggungnya. Alih-alih kenikmatan, tambahan tenaga, waktu dan biaya mesti digelontorkan untuk menghilangkan beban ini. Logika ekonomi sederhana ini mungkin sekali keliru sebagai sebuah teori, dan sekiranya keliru maka teramat mungkin kalau kenyataannya memang tidak demikian. Pembuktian logika ini sama sederhananya, sesederhana matematika ekonomi keluarga Irul yang setiap tahun mesti menambah kuota biaya pendidikan dalam neraca anggarannya.

Apa kata blogger tentang logika sederhana ini? Mari kita tanyakan diri sendiri, karena sesungguhnya semua warga sejatinya adalah pewarta juga. Hanya ranah yang digunakan adalah ranah nurani, tempat mereka mewartakan semua persoalan dalam kediam-an yang hening, tanpa suara. Tugas blogger lah yang menyuarakan lewat tulisan.

Credit Foto: Diunduh dari web kinderhulpindonesia.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: