…menulis untuk mencicil ketidaktahuan

Pilkada Makassar: Kubungkus Janjimu di Pasar Pannampu

Posted in Indonesia, Renungan by daengrusle on October 27, 2008

copy-of-1-pasar-pannampu.JPG

note: Tulisan ini juga dimuat di Panyingkul.

Bapak saya, Haji Muhammad Nur, 67 tahun terlihat gelisah ketika sore itu duduk mengaso bersama anak-anaknya di ruang tetirah di salah satu rumah di bilangan Cibinong, Bogor. Sudah sepuluh hari ini ia berada di Bogor untuk berlibur dari akitiftas hariannya sebagai pedagang di Pannampu Makassar. Liburan ini juga dimanfaatkannya untuk menghadiri pesta aqiqah cucunya yang ke-12 yang dilangsungkan sepekan lalu. Sepuluh hari dilaluinya dengan bercengkerama bersama anak dan cucu-cucunya yang lucu, ia masih diminta untuk berlama-lama di Bogor, paling tidak sepekan lagi demi menuntaskan rindu. Tidak setiap tahun mereka bisa berkumpul bersama, begitu alasan utamanya.

Sebenarnya dia masih betah berlama-lama, namun ada satu hal yang membuatnya berat meluluskan keinginan anak-anak yang disayanginya itu. Pasalnya, pemilihan Walikota Makassar akan dilangsungkan Rabu depan, 29 Oktober 2008. Dia sudah mengikat janji dengan rekan-rekannya sesama pedagang di Pasar Pannampu untuk meramaikan pesta demokrasi ini. Di benak mereka semua, sudah ada satu nama kandidat yang akan mereka coblos di hari itu. Dan Aji, demikian beliau disapa oleh anak-anaknya, tentu tak ingin suara nya hilang begitu saja di hari ‘mattoddo’ itu. Satu suara beliau dianggap turut menentukan apakah kandidat pilihannya bisa menang atau kalah menuju kursi walikota Makassar.

“Apakah Aji khawatir dianggap warga kota yang tercela karena tidak menggunakan hak pilih? Ini kan sudah bukan jaman Soeharto, ketika Golput dianggap kriminal” cetus salah seorang anaknya. Anak yang lain menimpali, “Lagian, sewaktu semalam menonton acara debat kandidat di salah satu statiun TV kelihatannya tidak ada yang bagus tuh. Semuanya meragukan”. Meski jauh ribuan kilometer dari Makassar, mereka masih tetap setia mengikuti perkembangan kota tempat mereka tumbuh berkembang itu. Anaknya yang tertua ikutan menimpali, “Iya, kehilangan satu suara kan tidak berpengaruh juga”.

Diberondong pertanyaan bernada protes itu, Aji bergeming. “Bukan begitu, saya sudah janji dengan teman-teman pedagang Pasar Pannampu untuk bersama-sama mencoblos si Anu – sambil menyebut nama kandidat yang nama famnya cukup terkenal terutama karena salah satu saudaranya adalah bekas Kepala Polisi Daerah Sulsel yang dipecat oleh pemerintah Megawati akibat peristiwa demonstrasi brutal di UMI tahun 2004 silam. “Dia kelihatannya baik – demikian lanjutnya. Dan hanya dia yang menjanjikan untuk memberikan sertifikat kepemilikan rumah dan tanah kepada para pedagang penghuni Pasar Pannampu. Sertifikat ini dari dulu kita perjuangkan, karena walikota yang sekarang tidak mau memberikan, malah mau menggusur kita semua.”

“Ah, Aji termakan janji kandidat itu. Belum tentu nanti janjinya diwujudkan, apalagi menurut berita dia pernah terlibat masalah korupsi juga.” timpal salah seorang dari anak-anaknya yang sedari tadi belum bersuara. Aji kali ini diam saja, mungkin beliau tak merisaukan soal masa lalu si kandidat. Dalam benak beliau, hanya ada satu harapan yang mungkin bisa tertunaikan meski masih sebatas janji.

Dari semua kandidat, hanya ada satu calon yang pernah berjanji secara langsung untuk memperjuangkan kepentingan mereka, para pedagang Pasar Pannampu. Sejak empat tahun silam, para pedagang ini selalu khawatir bakal tergusur oleh rencana besar pemerintah Kota untuk menyulap pasar tradisional itu menjadi pasar modern sebagaimana yang telah terjadi di tempat lainnya semisal Pasar Maricaya dan Pabangbaeng. Apalagi sudah berkali-kali Pasar ini terbakar, yang menurut para pedagang adalah tindakan yang disengaja oleh oknum aparat PD Pasar Makassar Raya. Terakhir, pasar tradisional yang berdiri tahun 1980 itu terbakar di awal Januari 2008, menghanguskan sekitar 34 kios pedagang. Peristiwa kebakaran yang kejadiannya sudah sering terkadang dijadikan alasan pembenaran bagi PD Pasar Makassar Raya untuk membongkar pasar tradisional yang menghampar seluas 4,8 hektar di pusat kecamatan Tallo.

Oleh Pemerintah Kota Makassar, Pasar Pannampu sudah lama menjadi prioritas pembenahan karena alasan kesemrawutan yang sangat parah dan dianggap sudah tidak layak lagi dijadikan sebagai pasar tradisional.

Nun jauh di Pannampu, Wawan 20 tahun, anak bungsu pak Aji yang masih berstatus mahasiswa perguruan tinggi negeri di Makassar, bersama pemuda pasar Pannampu juga sedang bersiap-siap menghadapi pemilihan walikota Makassar. Mereka, para pemuda pasar Pannampu, telah juga menetapkan hati untuk bersepakat memilih kandidat yang sama. Rupanya telah terbentuk kesepakatan massal di pasar Pannampu untuk mengusung hanya satu kandidat dalam pemilihan kali ini. Ditangan mereka, ada tersimpan rapi Kontrak Politik yang ditandatangani oleh sang kandidat, yang isinya persis sebagaimana harapan para pedagang Pasar Pannampu yang menginginkan penggusuran tidak dilakukan lengkap dengan butir-butir konsekuensi yang akan diambil oleh para pedagang bilamana kontrak tak tertunaikan.

“Bagaimana bila sang kandidat tidak terpilih? Melihat hitung-hitungan politik memperkirakan incumbent akan terpilih lagi? tanya saya suatu kali kepada si bungsu. “Betul kecenderungan incumbent menang lagi ada. Tapi kami berharap bahwa akan ada pemilihan putaran kedua, mudah2an di putaran kedua sang kandidat bisa menang!

Kini kontrak politik itu seperti menunggu takdirnya, apakah akan bermetamorfosa menjadi tuntutan realisasi ataukah hanya menjadi sekedar lembaran kertas yang tak memiliki makna karena kehilangan konteks dan kekuatan politik. Dan warga pasar Pannampu kini cemas berhitung nasib.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: