…menulis untuk mencicil ketidaktahuan

Hati Rombeng

Posted in Kenangan by daengrusle on October 21, 2008

haru.JPG

Seberapa kuat tangan kita melakukan perubahan – ke arah yang lebih baik, meski sekecil hempasan riak ombak di samudera lepas? Jawabnya standard: sekuat usaha Anda mengubah ide baik menjadi gerak laku. Transformasi ini sebenarnya mudah sahaja, hanya dibutuhkan momentum di awal. Momentum ini adalah semisal hidayah dari Tuhan. Tuhan mungkin sudah membisikkan banyak hal baik dan penting, namun bisikan ini hanya akan menjadi energi yang statis sekiranya tidak ada loncatan spirit dari manusia untuk memulainya.

Selepas makan siang yang lahap dengan paru goreng dan sebotol teh dingin segar di sebuah warung Padang depan Masjid belakang kantor, mata saya kembali tertumbuk pada sesosok perempuan paruh baya berwajah dekil, berbusana rombeng dan oleng, menenteng belas kasihan dalam sebuah kantong keresek hitam. Ia menengadahkan mulut kantongan itu kepada siapapun yang berlalu di hadapan mereka. Dari mulutnya yang hitam dan kering, tak lupa diselipkan senyum tersisa yang seperti dipaksakan, lirih ucapan baku yang dilagukannya setiap saat “Den, bagi rezeki nya Den“.

Di lengan perempuan yang dibalut sehelai kain sarung berwarna pudar kusam, menggelayut diam bayi hitam yang terpapar terik siang. Jika tak sedang asik menetek pada botol berisi air, sesekali bayi hitam ini menatap tegun tepat ke wajah perempuan yang mungkin ibunya itu. Tak jauh dari keduanya, asik bermain dua bocah kecil di pelataran mesjid. Keasikan mereka seakan menyiratkan pesan dunia lain yang bukan bagian dari fragmen miris yang diputar stripping saban hari di mesjid itu. Dua bocah itu, bersama sang bayi hitam mungkin tak sadar bahwa nasib mereka sedang bergulat dengan isi kantong keresek hitam yang ditengadahkan sang perempuan.

Semenjak saya pindah di kantor baru ini, sejak awal ramadhan kemaren, perempuan ini bersama ketiga anaknya selalu rajin berdiri di depan pintu pagar mesjid. Sesekali ia ditemani perempuan lain yang tak kalah rombengnya, juga lengkap dengan ‘pengikut’ yang jumlahnya sama, tiga anak kecil; satu di pelukan, dua dilepas bermain di pelataran mesjid. Secara tak sengaja, saya pernah menjumpai perempuan ini di stasiun Tanjung Barat, bersama-sama menunggu KRL menuju selatan Jakarta.

Saya tak sempat mengikuti hingga perempuan itu turun dari kereta, tapi hati saya berbisik masygul, perempuan ini menjejak langkah yang cukup jauh demi untuk mengemis. Bahkan, menurut pandangan ekonomi, perempuan ini menjalankan fungsi positioning dan segmentasi yang cukup baik. Dia mangkal di lokasi yang cukup menjanjikan bagi ‘produk’ jualannya. Mesjid tempat dia ber’jual’an adalah gerbang terluar dua perusahaan multinasional; Big-Four Oil World Producer dan World Leading Manufacturer in Food Industry, yang memanfaatkan gerbang itu untuk tetirah makan siang, sholat atau sekedar pulang ke kontrakan. Tentunya penghasilan karyawan2 itu lebih dari cukup untuk menyisihkan sebagian rezeki di jalan mulia, apatah lagi mesjid yang berdiri adem di sisinya tentu selalu mengingatkan untuk berlomba-lomba menenggak ibadah dunia untuk bekal pahala akherat kelak.

Mata saya mungkin tak awas, tapi setidaknya saya tak pernah melihat ada yang lalu lalang, singgah barang sejenak untuk mengisi kantongan rombeng itu. Meski saya sering mencuri duga isi kantongan itu, saya kira isinya hanya recehan pemberat saja, atau mungkin isinya selalu dikeluarkan dan dipindahkan ke tempat yang lebih aman dan nyaman.

Jiwa pragmatis saya berusaha mengerti alasan mereka, para karyawan bergaji tinggi itu untuk melewatkan kesempatan mendulang pahala. Saban hari memberi berkah, memberi donasi kepada si perempuan sungguh bukan cara yang baik untuk membantu dia bangkit melawan ketakberdayaan ekonomi. Melihat postur si perempuan, dan daya tahannya berdiri dibawah terik selama lebih kurang tiga jam, dari sebelum duhur hingga ashar lewat, tentu menimbulkan rasa penasaran. Apakah tak sia-sia daya yang dianugerahkan Tuhan dengan tubuh sempurna itu dihabiskan hanya untuk menengadahkan tangan, merenggang waktu yang kiranya bisa lebih produktif dan mungkin menghasilkan lebih banyak?

Namun adakah yang lebih baik daripada memaki sebuah ketakberdayaan materi, yang mungkin berimbas kepada keterpurukan kreatifitas memanusiakan dirinya? Mungkin karyawan-karyawan itu sedang menjalankan ritual ‘mendidik’ si perempuan untuk mencari kail yang lain – yang lebih terhormat dibanding hanya sekantong keresek lusuh. Mengharap ikan tanpa kail, mungkin hanya bisa dipenuhi di pasar saja. Sedang pasar dipenuhi hukum yang jauh lebih rimba daripada masjid.

Ah, saya tak mampu berpikir serumit itu sekarang. Di benak saya hanya terngiang wajah kakanda saya – Rusdiana, yang padanya saya banyak berjanji untuk mengirimkannya banyak cahaya untuk alamnya kini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: