…menulis untuk mencicil ketidaktahuan

Kapan Pulang Ke Kampung?

Posted in Kenangan by daengrusle on August 19, 2008

kaelomang.JPGPertanyaan ini mengusik saya sekelebat siang ini, di sela kemalasan luar biasa menyelesaikan clearance pekerjaan tersisa.

Pertanyaan sederhana ini menjadi luar biasa ketika saya berhadapan dengan sesuatu yang bernama idealisme, atau pertanyaan usang yang sering kita dengar: untuk apa ilmu dan pengalaman yang kau dapatkan?

Kapan Pulang ke Kampung ini buat saya tidak menjadi sederhana kemudian. Bukan sekedar pulang ke kampung untuk berlibur, mempertontonkan diri yang berasal dari kota besar, pulau besar, ibukota negara yang buat sebahagian orang kampung hanya bisa diterawang melalui layar kaca.

Kapan pulang ke kampung, tapi tidak untuk sehari sepekan sebulan, tapi selamanya?

Kenapa harus ke Kampung? Buat saya pribadi, kampung bukan sekedar romantika tentang udara yang segar, sawah yang menguning, hentakan mesin tenun saban subuh hingga matahari sepenggalah, pegunungan yang membiru dan menyebarkan aroma alam dan kehangatan handai taulan sahaja.Kampung adalah utang yang setiap saat datang menagih. Utang yang tak lunas meski senantiasa kita cicil dengan berbagai donasi gelontoran duit atau sekedar berjam-jam pulsa dihabiskan. Utang itu tak akan impas jika kita tak mengembalikan sesuatu yang kita pinjam dari mereka. Apa yang kita ambil, bawa pergi dan tak jua dikembalikan? Kampung menagih ‘kelahiran’ dan ‘masa tumbuh kembang’ yang telah kita seruput dari mereka. Kampung mengawal tangis awal kita, menyelimuti ketelanjangan kita dari dingin pegunungan atau lolongan anjing yang menakutkan. Ia minta kita membayar sesuatu untuk itu.

Kampung ibarat punya dua tangan yang melambai. Tangan pertama adalah tangan yang memanggil pulang. Bukan memanggil singgah. Pulang dan singgah adalah dua kata yang beda. Tangan kedua adalah tangan yang meminta. Ia meminta kita mengembalikan jiwa yang kita pinjamkan. Kembalikanlah ia, pulanglah ke kampung. Luruhkan semua kecintaanmu padanya, pada suasananya. Romantisme kampung tentu jauh lebih mewah daripada rekreasi di dunia fantasi. Bebunyian mesin tenun bahkan lebih syahdu dibanding parau para pesinetron yang seperti belingsatan menjadi penyanyi.

Kampung, adalah ibarat lahan yang lama tak tergarap, dan menunggu untuk disiangi. Bukan ia perlu duit seperti yang kau kepayahan mencarinya di kota besar. Dengan ilmu mu, dengan pengalaman mu. Habiskan hidupmu yang tersisa padanya.

Saya punya impian muluk, bahwa Sengkang, Impa-impa, Sempangnge, akan menjadi petirahan saya nantinya…menjadi tempat saya pensiun dan menghabiskan sisa hidup dengan bertani, berkebun atau beternak sapi…sambil men-share pengalaman dengan saudara sekampung disana….

Jadi pada kampung saya hendak mengembalikan utang yang belum lunas…disana kita berasal, dan kemudian pergi menghilang hingga berbilang tahun, dan akhirnya ke sana pula kita nanti kembali…..

pendekatan-pertama.JPG

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: