…menulis untuk mencicil ketidaktahuan

[Buku] Makkunrai: Ada Api di Mata Perempuan

Posted in Random by daengrusle on March 28, 2008

makunrai

Judul: Makkunrai – dan 10 Kisah Perempuan Lainnya
Pengarang: Lily Yulianti Farid
Penerbit: Nala Cipta Litera, 2008
Halaman: 152 halaman, 13x19cm

Anda tergolong lelaki bejat, atau perempuan yang menjadi simpanan lelaki bejat? Berkacalah pada buku ini. Di buku yang merangkum sebelas cerita pendek tentang perempuan dan semua unek-uneknya, mimpinya, dan -terutama – perasaannya, anda akan berhadapan dengan vonis menyakitkan, seumpama cap ‘neraka’ ditempelkan di jidat. Anda tergolong lelaki baik? Waspadalah, buku ini bercerita bahwa ada banyak mata perempuan yang menyimpan api di dalamnya, sanggup memata-matai ke’baik’an Anda. Sedikit Anda terpeleset dalam lubang pengkhianatan – yang tidak melulu berarti selingkuh mesum, juga selingkuh moral, maka serta merta Anda akan terperosok ke neraka ciptaan perempuan; menjadi lelaki bejat – yang harganya mungkin tidak lebih mahal dari upil. Dicari, dikorek dan dibuang atau ditindaskan ke bawah meja – tempat yang tidak akan pernah terlihat, kecuali oleh sarang laba-laba.

Sebelas kumpulan cerpen di dalam buku ini mengusung tema khas feminisme; perlawanan perempuan melawan simbol-simbol yang terlanjur dipelihara oleh kaum lelaki; kekuasaan atas gender. Bahwa dalam dunia yang ‘normal’, lelaki adalah penguasa, karenanya bisa berbuat semaunya dan semuanya. Lelaki dipuja kejantanannya bila istri dan anaknya bertebaran – dimana saja kapan saja, tapi perempuan haram bersuami banyak. Lelaki dianggap ‘biasa’ meninggalkan istri dan keluarga tanpa alasan, tapi seorang perempuan dianggap hina dina apabila meninggalkan rumah. Bahkan ada pemeo yang sangat stereotip, Lelaki pulang pagi disebut Arjuna, sedang perempuan yang pulang pagi disebut kupu-kupu malam. Sama indah sebutannya, tapi beda ‘rasa’ dan martabat sosialnya. Itulah, dunia yang ironis. Dunia yang kadang sering lupa menyadari ada kata ‘adil’ yang mesti ditegakkan atas semua hal. Terutama gender.

Sebelas cerita pendek disini bukan sekedar fiksi, bahkan saya yakin – terutama setelah membaca halaman “Daftar Inspirasi dan Catatan Lainnya” muncul karena tema-tema yang diungkap dalam cerita ini nyata adanya. Karenanya, cerita-cerita yang dikemas dengan tutur yang kadang runut dan kadang melompat-lompat, mampu menghidangkan cerita yang seumpama berkaca pada pengalaman diri, lumrah terjadi di masyarakat. Kadang merupakan tesis yang dicaplok dan dipindahkan ke ruang baca, kadang juga merupakan antitesis dari ketimpangan yang dihadapi – karenanya perlu dilempangkan, diluruskan.

Itulah Lily, penulis kreatif yang menginspirasi banyak penulis pemula di panyingkul, mengabarkan pandangannya tentang hal ihwal perempuan dan permasalahannya. Dia hadir dalam bahasa tutur tulisan untuk membela perempuan, dan dengan demikian mengutuk lelaki bejat. Di saat yang sama lelaki bejat sama jahatnya dengan perempuan simpanan – karenanya perlu juga dilempar rumahnya, tanpa kecuali. “Gila! Dari bahan apa sih lelaki tercipta? Tahunya hanya kawin lagi, kawin lagi. Brengsek Semua! (Nua, Diani dan Lelaki Bejat). Hasilnya, dia mengundang kita untuk turut menghukum para lelaki tukang kawin itu dengan melempari rumah istri simpanannya. Namun Lily kadang menutup kisahnya dengan teramat bijak, bahwa memendam dendam dan terus menerus menyalakan mesin perang tanpa batas waktu tidaklah lebih baik daripada kebejatan itu sendiri, sebagaimana dalam cerita Nua, Diani dan Lelaki Bejat. Toh drama itu akan terus menerus bergulir, selama lelaki masih dilahirkan. Dan anehnya juga, perempuan pun tak bosan-bosannya menjadi korban, walaun contoh sudah ribuan dibacakan, diceritakan dan disaksikan. Perempuan mungkin memang seperti padang pasir, meresap semua air hujan yang tumpah tanpa sanggup menahannya. Terutama ketika para lelaki bejat sudah lunglai oleh usia, dan memohon kembali ke pelukan perempuan-perempuan yang dulu dikhianatinya. Tragis.

Lily sesungguhnya tidak sedang hendak mengatakan bahwa semua lelaki bejat, hanya sebahagian. Lelaki kadang menjadi sosok yang dirindukan, yang dijadikan tempat pulang untuk kemudian bersandar, menjadi teman rbagi hidup. Kita semua tahu, Lily kini sedang me’nikmati’ hidup bersama dua lelaki yang cinta nya diungkapkan dengan indah..”butuh bertahun-tahun belajar menulis sajak sendiri untuk membalas sajak cinta keduanya” (Bertiga Sajak Sekeluarga, 2007). Dan kami, para anggota milis yang celoteh nya rajin diposting – untuk menyemangati, tentu bangga menjadi sahabatnya.

Ada dua catatan kecil sehabis membacanya yang sedikit membingungkan tapi bisa dimaklumi. Pertama, sosok Jenifer dalam cerpen “Api” membuat saya sedikit bingung. Di awal cerita tempat lahirnya disebutkan di Luwu 1946, namun kemudian terjadi duplikasi informasi yang hiperkorek di bagian akhir cerita; …pindah ke Surabaya, dan setelah ibu melahirkan aku, kami pindah ke Jakarta (Api). Dimana sebenarnya Jenifer di lahirkan; Luwu kah, atau Surabaya? Tentu kalau memikirkan nama tokoh “Jenifer”, saya bisa saja menyimpulkan yang benar adalah Surabaya, yang mana bapaknya adalah lelaki keturunan, bukan lelaki bugis yang menetap di Luwu. Nama Jenifer jarang ditemukan dalam daftar nama perempuan Bugis – beda dengan Mardiah, Dahlia, Marayya. Kedua, ini sebenarnya sangat sepele. Istilah bathup di cerita pendel bertajuk Pembenci Jakarta membuat saya perlu membuka kamus. Sependek ingatan saya, yang benar adalah bath-tub, atau bath-tube. Bukan bathup. Tapi sekali lagi, ini sepele saja. Mudah diabaikan, dan tentu saja tidak mengurangi kedalaman dan kedahsyatan cerita-cerita yang mengalir di buku ini.

Terakhir, saya hendak bernarsis ria. Lily Yulianti adalah sahabat saya. Di buku yang saya miliki ada tandatangan dan tandahati nya. He2. Kuru Sumange kak Lily! Lanjutkan bersedekah ilmu untuk kami yang kadang bebal dan pemalas. Dan kami tentu tak bosan membaca dan mendengar celotehmu.

Advertisements

3 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. gerakjalanesq said, on May 9, 2008 at 2:26 pm

    ikutan gerak jalan esq menyambut 100 th kebangkitan nasional yaa, sebar luaskan juga!

  2. mriz sidah said, on May 20, 2008 at 1:50 pm

    hello rusle

    i read your post regarding the Bugis Bissus and I am very interested to know more about it. do you know where i can get information with regards to the Bugis people, tradition and history? I am quarter Bugis ( my dad is half bugis) but I’m born in Singapore and have been living here since. Growing up in a multi racial country like SIngapore made it easy to slowly forget about a person’s roots and therefore I am trying to discover a part of myself with the little clues that my ancestors have left me.
    I apologise for not being to write in Bahasa because my Bahasa is weak but I hope you can understand what I ‘m trying to say.

    terima kasih
    mriz

  3. Sinar said, on June 30, 2008 at 12:21 pm

    salam……
    saya mahasiswa dari UNM…..
    saya pernah ikut bedah buku mangkunrai yang diadkan di gedung seni UNM parangtambung….
    pertama kali ku melihat smpul buku mangkunrai, saya sangat tertarik untuk membacanya…..

    dan saya sangat berharap, semoga di lain waktu bisa berdiskusi kembali dengan kanda Lily dalam membahas tentang Perempuan…

    karena perempuan sampai saat ini masih saja dalam sorotan bebagai Pihak….


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: