…menulis untuk mencicil ketidaktahuan

Sapu Kotor itu

Posted in Random by daengrusle on March 4, 2008

Apa jadinya kalau orang yang kita serahi amanah untuk menyapu rumah tapi malah berperilaku sebaliknya, mengotori rumah dengan sampah yang tak kalah busuknya? Malu dan kecewa tentu. Indonesia, hal itu lumrah adanya. Sepertinya rasa malu sudah hilang dari kepribadian kita. Perilaku tak terpuji dianggap biasa, bahkan oleh aparat yang seharusnya punya integritas untuk memberikan keteladanan atau menghukum para pelaku bejat. Tapi itulah Indonesia, negeri dengan perilaku ironis, kontradiktif plus malu-maluin.

Para aparat yang berfungsi sebagai tukang sapu itu, rupanya membawa sapu kotor di tangannya. Alhasil, lantai bukannya malah bersih tapi justru makin kotor saja. Terutama oleh kekotoran perilaku mereka.

Inilah para sapu kotor itu;

1. Penyidik KPK: Ajun Komisaris Polisi Suparman.
Penyidik KPK ini mempermalukan jagad para pendekar anti korupsi. Seharusnya, di pundaknya lah amanah membersihkan negeri dari korupsi ini diemban. Namun bukannya giat melakukan bersih-bersih, sang penyidik malah melakukan pemerasan terhadap pengusaha yang disidiknya.

Ajun Komisaris Polisi Suparman (46) didakwa menyalahgunakan wewenang sebagai penyidik KPK, karena melakukan tindakan menguntungkan diri sendiri, dengan meminta sejumlah uang kepada korban Tintin Surtini.”Terdakwa ditugaskan untuk melakukan penyidikan perkara tindak pidana korupsi di PT Industri Sandang Nusantrara, ia telah memaksa saksi Tintin Surtini untuk memberikan sesuatu atau membayar sesuatu. Tintin Surtini merupakan salah satu saksi dalam kasus korupsi di PT Industri Sandang Nusantara dengan terdakwa Kuntjoro Hendrartono dan Lim Kian Yin.

Dalam catatan Jaksa yang menyidiknya, yang disampaikan saat membacakan dakwaan setidaknya Suparman telah 14 kali bertemu dengan korban untuk meminta sejumlah uang selain itu terdapat dua kali pertemuan terdakwa dengan korban yang mana meminta sejumlah barang yaitu tiga buah handphone Nokia 9500, dalam kurun waktu antara 14 juni 2005 hingga Februari 2006. Suparman sebenarnya adalah pelapor kasus korupsi di PT ISN ke KPK. Sebelum bertugas di KPK, Suparman bertugas di divisi reserse Polda Jawa Barat. Saat di Polda Jawa Barat, Suparman sudah menangani kasus korupsi di PT ISN, namun penanganannya macet. Sumber: http://www.gatra.com/2006-05-30/artikel.php?id=94902

2. Anggota Komisi Yudisial; Irawady Joenoes
Anggota Komisi Yudisial atau KY, Irawady Joenoes, Rabu (26/9/2007), tertangkap tangan menerima uang dari rekanan KY dalam pengadaan tanah. Ia didapati penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi menerima uang Rp 600 juta dan 30.000 dollar AS dari Direktur PT Persada Sembada Freddy Santoso.

KY berencana membeli tanah seluas 5.720 meter persegi di Jalan Kramat Raya Nomor 57, Jakarta Pusat, untuk Gedung KY. Tanah itu dibeli KY dengan harga Rp 8,13 juta per meter persegi, atau total Rp 46,991 miliar. “Saya tidak menyesali tindakan saya karena saya menjalankan perintah dalam jabatan surat tugas. Tapi saya menyesali tidak bisa menuntaskan tugas,” kata Irawady dalam pembelaannya di persidangan yang dipimpin Ketua Majelis Hakim Masrurdin Chaniago di Pengadilan Tipikor Jakarta, Senin (3/3).

Irawady menegaskan dia bertindak sebagai agen provokator dalam kapasitas sebagai koordinator pengawasan tersebut dan bukan sebagai Koordinator Bidang Keluhuran Martabat dan Perilaku Hakim KY. Irawady dituntut 6 tahun penjara, denda Rp200 juta subsider 6 bulan kurungan. Jaksa yang dipimpin Rudi Margono dalam tuntutannya menilai Irawady tidak berhak bertindak sebagai agen provokator karena hal itu merupakan wewenang penyidik KPK atau kejaksaan untuk kepentingan penyidikan (projustisia). Sumber: http://www.mediaindonesia.com/berita.asp?id=161540

3. Jaksa Urip Tri Gunawan, Ketua Tim Penanganan Kasus Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) Kejaksaan Agung
Urip Tri Gunawan, Ketua Tim Kejaksaan Agung yang menangani kasus Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) ditangkap penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi di rumah milik pengusaha Syamsul Nursalim di Jalan Hang Lekir, Jakarta Selatan, Ahad (2/3) petang. Dari tangan jaksa itu penyidik KPK menyita uang sebesar US$ 660 ribu atau sekitar Rp 6 miliar. KPK juga menahan Artalita Suryani, Bendahara Umum PKB yang juga terlibat dalam kasus penyuapan itu dan seorang penjaga rumah Syamsul Nursalim.

Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus Kemas Yahya Rahman mengaku prihatin dengan tertangkapnya jaksa Urip Tri Gunawan karena diduga terima suap. ”Kami prihatin, sedih dan kecewa. Ini di luar dugaan,” kata Kemas di Gedung Bundar Kejaksaan Agung, Senin (3/3). Selama enam bulan menjadi Ketua Tim Penyelidikan kasus Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) untuk obligor Sjamsul Nursalim, Kemas menilai kinerja jaksa Urip Tri Gunawan baik-baik saja. ”Tapi namanya manusia, kami tak tahu begini jadinya,” kata dia.

Gebrakan KPK menangkap jaksa pemeriksa kasus BLBI dinilai mencoreng wajah Kejaksaan Agung karena kasus BLBI sudah dihentikan penyidikannya pada 29 Februari lalu. Jaksa Agung Hendarman Supandji mengaku sedih dan terpukul oleh ulah Urip. Namun Hendarman menegaskan kejadian tersebut tak terkait dengan pembekuan kasus BLBI. Sumber: http://www.tempointeraktif.com/hg/nasional/2008/03/03/brk,20080303-118446,id.html

4. Hakim dan Polisi
Sungguh banyak kasus mencoreng muka instansi ini, mulai dari kasus ekstasi, pemerasan, penganiayaan dan sebagainya. Sayang tak cukup tempat untuk menampilkan tindak tanduk mereka disini. Coba baca opini ini: http://www2.kompas.com/kompas-cetak/0403/06/Fokus/893863.htm

5. Mudah2an tidak ada lagi tambahan list ini. Amin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: